
Setelah kepergian Kesya, Ilham memulai hidupnya yang baru. Patah hati memang berat. Pertama jatuh cinta dan mengalami beberapa kali rasa kehilangan. Membuat Ilham kesulitan membuka diri untuk menerima cinta baru dalam hidupnya.
"Abah, mau sampai kapan, Ilham murung terus? Umi rasanya gak tega!" sore itu Umi berbincang bersama sang suami. Di aula, Ilham tengah mengajar santri baru.
"Abah akan berusaha mencari calon istri untuk Ilham. Obat patah hati, tentu harus dengan cinta yang baru." ucap Abah sambil menyeruput kopi.
"Tapi, Bah! Umi ragu. Kelihatannya Ilham masih belum bisa move on dari Kesya. Kasihan sekali anak kita, Bah!" Umi menangis tersedu-sedu. Sedih melihat keadaan anaknya.
Sementara itu, di Jakarta, Silvia Hajar. Wanita yang tergila-gila kepada Ilham sejak kecil. Wanita yang bahkan tega merencanakan pembunuhan Kesya, demi membatalkan pernikahan Kesya dan Ilham. Silvia saat ini sedang terbaring di rumah sakit.
Kemarin malam, Kesya mengiris nadinya sendiri. Kesya meminta ayah dan ibunya untuk melamar Ilham, tetapi di tolak. Jadilah dia berbuat nekat.
"Bagaimana ini, Pah? Silvia akan semakin nekat!" bagaimanapun nakal dan jahat prilaku silvia, tetap saja, Silvia itu anak mereka satu-satunya.
"Nanti Papah akan mencoba satu kali lagi, mendatangi Kiai Maulana, siapa tahu dia akan luluh hatinya. Bagaimanapun, Silvia ini masih termasuk santri beliau." akhirnya papah Silvia mengalah juga. Berusaha mewujudkan cinta Silvia terhadap Ilham. Cinta yang telah berubah obsesi.
"Assalamualaikum Pak Kiai, saya Papahnya Silvia Hajar. Saat ini anak saya sedang kritis di rumah sakit. Bisakah Pak Kiai sekeluarga untuk datang menjenguk ke mari? Nanti saya fasilitasi semua perjalanan Pak Kiai sekeluarga."
"Kenapa bisa di rawat di rumah sakit, Pak?"
"Anak saya, mengiris nadinya sendiri, Pak Kiai!"
"Astagfirullah, kok bisa begitu, Pak?"
"Iya, Pak Kiai. Silvia meminta ke pada saya, untuk melamar Ustadz Ilham, tapi kemarin saya tolak, karena tidak pantas seorang wanita datang untuk melamar pria. Tapi kami temukan, anak kami sudah bersimbah darah di kamar mandinya." Papah Silvia tidak mampu lagi menahan rasa sakit dan sedihnya. Sehingga telpon diambil alih oleh istrinya yang juga sudah berderai air mata.
"Saya alihkan panggilan video, Pak Kiai!" panggilan kemudian di alihkan ke video call. Memperlihatkan Silvia yang sampai sekarang masih belum sadarkan diri. Kedua tangannya di perban. Pak Kiai memanggil Ilham untuk melihat keadaan Silvia di layar ponselnya.
"Kenapa dengan Silvia, Abah?" tanya Ilham merasa prihatin. Ilham tahu Silvia memang sejak dulu selalu mencari perhatian dirinya. Tapi dia hanya menganggap Silvia sebagai adik, tidak lebih.
"Silvia memotong nadinya, Nak. Karena orang tuanya menolak untuk melamar kamu." Abah kemudian menutup panggilan telpon tanpa pamit.
"Apa? Ini gila!" Ilham sungguh tidak percaya. Ada orang yang rela mati demi dirinya.
"Nak, orang tuanya tadi minta agar kita menjenguk Silvia di rumah sakit." ucap Umi sambil duduk di hadapan Abah. Abah berkali-kali menarik nafas berat. Sungguh banyak masalah yang membuat pusing kepala. Masalah Ilham saja sudah berat.
"Baiklah, demi kemanusiaan. Kita akan datang untuk menjenguk. Sudah satu tahun, kita juga tidak menengok Pondok Ilham yang di Tangerang." Mereka sekeluarga kemudian bersiap-siap.
Setelah siap, Abah mendelegasikan tugas kepada Paman Ilham, untuk menggantikan tugas beliau selama kepergian beliau ke Jakarta.
"Enggih, Pak Kiai. Saya pasti akan menjaga para santri baik-baik, Pak Kiai dan keluarga bisa tenang untuk menyelesaikan masalah di Jakarta." Pak Kiai lalu berangkat malam itu juga.
Ilham dan supir pribadi Abah bergantian menyetir selama perjalanan itu. Ilham menyarankan untuk naik pesawat, tapi Abah sama Umi menolak.
"Kami sudah dalam perjalanan, Pak!" terdengar suara Abah yang sedang menerima panggilan dari Papahnya Silvia.
"Silvia sudah siuman, Pak Kiai. Pertama bangun, langsung mencari Ustadz Ilham. Mengamuk, karena tidak ada yang di carinya." sungguh frustasi sekali orang tua Silvia, dengan kelakuan Putri semata wayangnya.
"Iya, kami akan segera ke rumah sakit kalau sudah sampai ke sana." Abah jadi ikut pusing.
"Abah sih, Ilham saranin pakai pesawat tidak mau. Ini masalah nyawa manusia, Abah!" Ilham mendengar kabar Silvia jadi ikut senewen juga.
Bagaimanapun juga Silvia itu teman masa kecilnya. Ada rasa ketakutan juga dalam hatinya, kalau sampai Silvia meninggal karena dirinya.
"Sudah, biarkan mereka menyelesaikan masalah anak mereka. Abah jadi tambah pusing saja." Abah memilih untuk tidur saja. Ponselnya di non aktifkan. Mau istirahat tanpa gangguan.
Silvia yang sudah siuman, mengamuk tanpa bisa di kontrol. Semua barang di rumah sakit dia lempar. Selang infus di tangannya saja dia cabut. Nekat ingin mati. Hatinya sangat kesal, karena orang tuanya tidak mampu membawa Ilham kepadanya. Ilham yang sangat dia cintai.
"Sabar sayang! Ustadz Ilham dan keluarganya sedang dalam perjalanan. Kamu harus tenang, jangan sampai nanti mereka malah jadi illfeel melihat kelakuan bar bar kamu!" Papahnya Silvia berusaha untuk menghibur anaknya yang kembali hilang kontrol.
"Apa benar, Pah? Mas Ilham akan datang kesini?" Silvia mulai tenang. Hatinya sangat bahagia. Pujaan hatinya akan datang.
Silvia mulai mau di urus dan di rawat. Dia juga mau makan dan mandi. Sudah selama seminggu dia menolak apapun. Makanan saja hanya masuk melalui infus. Itulah yang membuat Silvia sangat pucat wajahnya. Selain kekurangan darah, dia juga kekurangan nutrisi. Silvia sering mogok makan.
"Kamu harus mandi sayang. Apa kamu tidak malu, kalau Ustadz Ilham dan keluarganya melihat kamu jelek dan bau?" bujuk mamahnya Silvia.
"Iya, Mah. Ayo kita mandi. Berikan Silvia pakaian paling cantik. Silvia tidak mau Mas Ilham melihat Silvia jelek. Nanti dia tidak mau menikah dengan Silvia." Dengan girang Silvia pergi ke kamar mandi. Mamahnya terharu melihat semangat yang di perlihatkan Silvia.
Sudah sangat lama, mereka tidak melihat senyum di bibir Silvia. Silvia lebih banyak menangis karena cintanya pada Ilham.
Cinta memang tidak bisa di paksaan. Tetapi Silvia tidak mau perduli. Saat mendengar bahwa pernikahan Ilham dan Kesya gagal, betapa bahagianya Silvia saat itu. Seharian dia menari dan bernyanyi. Terus menerus meminta kedua orang tuanya untuk datang melamar Ilham. Tapi selalu di tolak oleh mereka.
Bagaimanapun itu sangat memalukan, melamar seorang pria. Mau di taruh dimana muka mereka? Walaupun bagaimana, nama keluarga harus tetap di jaga. Tentu hal itu akan menjadi bahan omongan dan olok-olok keluarga besarnya.
Tetapi melihat Silvia yang nekat memotong nadinya, akhirnya Papahnya tidak bisa menolak lagi. Akhirnya mengalah dan menghubungi keluarga Ilham untuk datang menjenguk Silvia. Biarlah, urusan lain-lain nanti menyusul saja.