Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
41. Bermain Cantik



Aku mengambil ponsel suamiku, lalu membalas pesan Elena tadi.


"Jangan ganggu aku lagi. Aku sudah punya istri dan anak. Aku gak yakin anak dalam kandungan kamu adalah benihku. Kamu selama ini berhubungan bukan hanya denganku. Aku punya semua buktinya. Jangan coba-coba main-main denganku. Keluarga Abimana bukan bahan lelucon kamu. Pergi menjauh dari hidupku. Aku mencintai istriku dan tidak akan pernah mau meninggalkan dia demi kamu. Aku akan bilang orang tuaku, kalau kamu ganggu hidupku lagi. Kamu yang paling tahu apa yang akan terjadi sama kamu. Block nomorku sekarang juga! Jangan ganggu hidupku lagi!"


Lalu aku mengirimkan semua bukti perselingkuhan Elena bersama seorang pria saat dirinya berhubungan dengan suamiku. Setelah membuka semua foto yang aku kiriman, Elena langsung mengirimkan pesan untuk suamiku.


"Kamu benar, Mas. Anak yang aku kandung memang bukan anak kamu. Tapi anak Mark. Kekasihku asal Jerman. Maafkan aku sudah mengganggu hidup kamu. Mulai sekarang aku tidak akan ganggu hidup kamu lagi. Selamat tinggal!" Lalu Elena ngeblock nomor suamiku.


Aku sangat bahagia. Aku langsung menghapus semua jejak chatting kami, kecuali pesan terakhir Elena yang mengakui bahwa bayinya bukan milik suamiku. Aku juga menghapus foto-foto perselingkuhan Elena di ponsel suamiku yang tadi aku kirim dari ponselku. Agar dia tidak curiga.


"Ya Allah! Andai yang aku lakukan ini adalah dosa, ampunilah hamba. Hamba hanya berusaha agar pernikahan kami terjaga. Hamba tidak mau mengecewakan keluarga kami, yang berharap banyak dengan pernikahan kami. Ampunilah hamba, ya Allah!" isakku dalam tangis. Sungguh berat cobaan yang aku hadapi menjadi istri seorang Andika Abimana. Godaan silih berganti. Aku harus kuat dan tegar dengan semua godaan yang mencoba menghancurkan rumah tangga kami. Bukanlah, semakin tinggi pohon, akan semakin kencang angin menggoncang juga? Akar pohon harus kuat agar tidak roboh terkena guncangan angin dan badai kehidupan.


Filosofi itulah yang selalu menguatkan hatimu di saat rapuh dan hampir menyerah dengan pernikahan kami. Cinta mertuaku dan masa depan anak-anak ku, aku selalu berusaha menguatkan hatiku untuk berjuang dan terus berusaha.


Bukti-bukti perselingkuhan Elena akan aku simpan rapat. Akan aku gunakan kalau suamiku suatu saat nanti berniat meninggalkan aku demi Elena yang tidak setia kepadanya dan bersikap khianat.


Aku meletakkan ponsel suamiku lalu bersiap untuk sholat isya. Setelah itu aku berdoa.


"Ya Allah, bantulah hamba mempertahankan rumah tangga kami. Kuatkan hati hamba dari segala cobaan yang datang. Bentengi hati kami dengan iman dan Islam. Agar selalu berada di jalan-Mu. Amien!" setelah sholat, aku membangunkan suamiku, agar dia juga sholat isya. Dia juga harus makan malam dan minum obatnya kembali.


"Mas, sholat isya dulu." aku mencium bibir suamiku. Dia mengulet, meluruskan otot-otot di tubuhnya. Lalu perlahan membuka mata.


"Sudah malam ternyata, sayang?" ucapnya masih terlihat mengantuk.


"Sholat isya dulu, lalu makan malam dan minum obat lagi. Semoga besok Mas sudah fit lagi." aku meninggalkan suamiku sendiri, aku berniat akan turun ke bawah guna mengambil makan malam dan minum untuk suamiku.


Saat aku menoleh, aku melihat suamiku membuka ponselnya. Aku hanya mengintip di balik pintu yang aku buka sedikit. Aku lihat dia menarik nafas lega, lalu tersenyum.


"Alhamdulillah ya Allah! Akhirnya kau berikan terang pada masalah hamba!" ucap suamiku sambil bersujud syukur. Aku terharu saat melihatnya. Berarti suamiku sakit karena memikirkan masalah Elena. Untung aku tadi berhasil membereskan Elena dan berhasil membuat dia menyerah dan mengakui kesalahan dia. Berjanji tidak akan lagi mengganggu suamiku.


"Sudah sholat, sayang?" tanyaku sambil membawa makanan ke arahnya.


Suamiku langsung memeluk dengan erat.


"Maafkan, Mas! Mas janji akan berusaha menjadi suami lebih baik lagi. Maafkan, Mas!" ucapnya sambil sesenggukan dan menangis pilu.


"Sudahlah, Mas! Lupakan semua masa lalu. Kita sekarang fokus dengan masa depan kita. Oh ya, aku juga punya berita baik, Mas." ucapku.


"Berita apa, sayang?" suamiku tampak berbinar menunggu kabar baik yang akan aku sampaikan.


Aku lalu melepas pelukannya lalu mengambil sesuatu di laci nakas yang ada di samping tempat tidur kami. Aku mengambil sesuatu di sana, lalu memberikan kepada suamiku.


"Tada... surprise!" ucapku bahagia.


"Kamu hamil lagi, sayang? Ya Allah, terima kasih!"


"Sudah jalan dua Minggu. Kemarin baru aku cek ke dokter. Ini foto USG nya!" aku lalu memberikan buku rekam medis dan sebuah foto USG.


Suamiku sangat bahagia. "Sayang, itu artinya malam pertama kita di Indonesia kemarin langsung jadi, ya? Wah.. aku memang hebat ya!" ucap suamiku sangat bangga.


"Makanya, sayang! Kamu harus jaga diri kamu! Jangan sembarangan naruh benih di mana-mana. Benih unggul kamu, hanya halal kamu tanam sama aku. Istri kamu!" ucapku sambil cemberut.


"Iya, sayang! Maafkan Mas. Mas janji mulai sekarang akan selalu berhati-hati dan menjaga hati Mas buat kamu." janji suamiku.


"Janji ya, Mas! Kalau sampai aku mendapati hal seperti kemarin lagi, aku gak akan pernah maafin kamu! Aku akan pergi dari hidup kamu. Dan kamu gak akan pernah bertemu dengan semua anak kita selama sisa hidupmu!" ancamku serius.


"Iya, sayang! Mas janji! Hidup Mas hanya untuk kamu dan juga anak-anak kita. Percayalah, sayang!" suamiku lalu mencium ku dengan lembut. Aku bahagia karena kembali berhasil menyelamatkan rumah tanggaku dari kehancuran.


"Terima kasih, ya Allah! Sudah mengembalikan suamiku kepada hamba dan anak-anak kami!" doaku dalam hati. Tanpa terasa air mata jatuh di pelupuk mataku, sangking harunya.


"Sayang, kamu menangis?" tanya suamiku kaget. Dia langsung memelukku dan mencium kening ku, malam ini dia sangat lembut dan romantis kepadaku. Apapun alasannya, aku bahagia dia memperlakukan diriku dengan baik.


"Gak, ini air mata kebahagiaan, Mas! Aku bahagia Mas kembali kepadaku. Aku bahagia Mas memilih mempertahankan rumah tangga kita. Terima kasih, Mas!" ucapku penuh haru dan mencium suamiku dengan penuh hasrat.


Bawaan hamil mungkin ya, bawaannya mau dekat dengan suami terus. Malam itu kami lewati dengan penuh cinta. Jadi lupa dengan sholat dan makan malamnya. Cinta memang selalu menjadi segala sakit. Setelah selesai dengan percintaan kami, suamiku langsung mandi dan sholat isya.


"Sayang, habis Sholat jangan lupa kamu makan ya. Jangan lupa minum obatnya juga!" pesanku di balik kamar mandi.


Besok mertua dan Merry akan pulang dari Perancis. Karena mengurus kuliah Merry, mereka jadi lama tinggal di sana. Ada hampir satu bulan.


Merry pulang dulu karena akan mempersiapkan semua berkas yang dibutuhkan. Di sana Merry akan kuliah fashion. Merry memang punya cita-cita ingin menjadi seorang desainer.


Kebetulan mertuaku juga punya perusahaan bergerak di bidang fashion. Nantinya perusahaan itu di persiapkan untuk Merry kelola.


Mertuaku bahkan sudah menyiapkan sebuah rumah sakit mewah dan lengkap di Dubai untuk nantinya bisa aku kelola kalau sudah lulus kuliahku. Alhamdulillah semua berjalan lancar.


Bulan depan Adrian akan aku masukan ke sekolah play Group. Agar dia bisa belajar sejak dini. Hal.itu berguna untuk menggali potensi dalam diri anakku. Apalagi anakku adalah calon pewaris Abimana Group, dia harus dipersiapkan sejak dini. Agar layak dan pantas jika waktunya tiba nanti.


Setelah mandi, Mas Dika aku lihat memainkan ponselnya, aku lihat dia senyum bahagia sekali.


"Kamu kenapa, sayang?" tanyaku heran.


"Tidak apa-apa sayang! Terima kasih karena sudah mencintaiku dengan tulus. Aku sangat mencintaimu, sayang!" suamiku sangat aneh. Dia menciumi perutku dan juga bibirku. Matanya sudah berkabut lagi. Alamat bakal ada ronde dua lagi kayaknya. Suamiku sungguh menggemaskan malam ini. Aku jadi tambah cinta sama dia. Semoga rumah tangga kami selalu Allah jaga dan dilindungi dari segala kehancuran dan kejahatan manusia maupun mahluk tak kasat mata. Amien!