Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
247. Sungguh Mengesalkan



Dengan cepat Andini langsung menyambar flash disk dari tangan Humairoh yang tadi diserahkan kepada Pradipta.


" Jangan mempercayai apapun yang dikatakan oleh perempuan itu! Karena semua itu adalah kebohongan!" ucap Andini dengan mata berapi-api.


Pradipta menatap istrinya yang bersikap terlalu berlebihan baginya. Bagaimana mungkin dengan tidak sopan ya dia telah merebut flash disk dari tangan Humairoh yang akan diberikan kepadanya?


" Berikan flashdisk itu padaku! Kalau kau memang tidak merasa bersalah, maka kau tidak perlu saya takut itu!! Aku ingin melihat bukti apa yang diberikan oleh Humairoh kepadaku untuk menjelaskan semua yang dia ceritakan padaku tentang masa lalu kita!" ucap Pradipta sambil melirik sekilas kepada Humairoh yang hanya tersenyum simpul.


Andini tampak serba salah dan gugup. Karena dia merasa bingung untuk mengatakan alasannya kenapa dia merebut flash disk dari tangan Humairoh.


" Aku hanya tidak suka kalau otakmu diracuni oleh perempuan itu dia hanya ingin kita berpisah dan merebutmu dariku!" ucap Andini dengan suara gemetar.


Humairah malah tertawa terbahak-bahak mendengarkan perkataan Andini yang menurutnya sangat absurd dan tidak masuk akal.


" Kalau aku berniat untuk merebut Pradipta dari tanganmu, maka pasti sudah kulakukan sejak dulu. Tidak perlu menunggu sampai 25 tahun! Sudahlah Pradipta! Nanti suatu saat kau juga akan tahu tentang semua kebenaran yang disembunyikan oleh istrimu. Sedalam apapun seseorang menyembunyikan bangkai, pasti akan tercium juga baunya pada suatu saat nanti. Itu semua hanyalah masalah waktu!" ucap Humairoh yang akhirnya memutuskan untuk meninggalkan mereka dan pergi ke dalam ruangan Ayana.


Ayana yang melihat keadaan ibunya tampak tidak baik-baik saja pun akhirnya tergelitik hatinya untuk bertanya.


" Siapa di luar Mah? Kenapa berisik sekali?" Ayana melihat ibunya yang duduk di sofa sambil memijat pelipisnya.


Humairoh menarik nafasnya dengan dalam kemudian dia melihat kepada putrinya yang tampak berusaha untuk bangun dari ranjangnya, tetapi tampak kesulitan.


" Kau mau pergi ke mana? Kau beristirahatlah dengan baik agar bisa segera pulang. Semua sudah Mama urus dengan baik." ucap Humairoh sambil mendekati putrinya yang seperti berusaha untuk turun dari ranjangnya.


" Aku ingin mencari Agus mah Aku ingin dia bertanggung jawab atas meninggalnya Axel!" ucap Ayana dengan air mata yang mulai berderai kembali.


Humairoh kemudian memeluk putrinya yang terus terisak dan merasakan kesedihan yang saat ini dirasakan olehnya.


" Agus menghilang sayang. Mamah pun tidak mengetahui dia ada di mana sekarang. Nanti setelah kau sembuh, Mama akan berusaha untuk mencari dia di mana! sekarang kau beristirahatlah dan pulihkan kondisimu agar kita bisa menemukan Agus secepatnya!" ucap Humairoh.


Ayana yang merasa bahwa tubuhnya sudah mulai membaik dia bersikeras untuk meninggalkan rumah sakit dan mencari Agus ke apartemennya.


" Mama yakin Agus tidak ada di sana sayang Percayalah sama mama. Dia saat ini dalam kondisi sangat kritis. Tidak akan mungkin bisa keluar dari rumah sakit secepat itu!" ucap Humairoh berusaha untuk meyakinkan Ayana.


Akan tetapi Ayana yang benar-benar sedang pilu hatinya tidak bisa mendengarkan kata-kata dari ibunya. Saat ini dalam pikirannya hanyalah ingin segera bertemu dengan Agus walau apapun yang terjadi.


" Bagaimana mungkin Agus bisa menghilang begitu saja? Dia pasti berada di sekitar sini. Kenapa Mama tidak berusaha untuk mencari Agus huh? Bukankah kata mama dia dalam keadaan kritis? Pasti dia berada di salah satu ruangan di rumah sakit ini!" ucap Ayana dengan istri karena benar-benar sangat penasaran dengan keberadaan Agus yang selama dua minggu ini menghilang bagai ditelan bumi.


" Waktu itu pihak rumah sakit mengeluarkan Agus dari ruangan ini tanpa sepengetahuan Mama. Jadi Mama pun tidak mengerti sekarang Agus ada di mana. Yang Mama ketahui hanyalah bibinya yang sudah memindahkan Agus dari ruangan ini!" ucap Humairoh menjelaskan kepada Ayana.


" Bertanyalah kepada papa Mah. Kalau memang benar adalah Bibi Agus yang memindahkannya, itu berarti tante Andini yang telah melakukannya!" ucap Ayana memberitahukan kepada Humairah.


" Jadi maksudmu Bibi Agus adalah Andini? Istri dari ayahmu?" tanya Humairoh kepada Ayana yang langsung mengangguk dengan pasti.


Ayana kemudian menceritakan semua kejadian ketika dirinya diantarkan oleh Agus ke rumah Pradipta dan Andini yang akhirnya mereka berkenalan satu sama lain. Hingga akhirnya terjadilah kecelakaan yang telah mengakibatkan Axel meninggal dunia.


" Kalau begitu Mama akan mengikuti Andini untuk mengetahui keberadaan Agus. Mama sangat yakin Andini pasti tidak akan memindahkannya terlalu jauh dari rumah sakit ini mengingat kondisi Agus yang kritis. Setelah Mama mengetahui keberadaan Agus, Mama janji akan mengajakmu untuk menemuinya. Sekarang kau beristirahatlah dulu, tolong pulihkan dulu kondisimu sayang. Jangan sampai nanti kembali drop seperti kemarin!" ucap Humairoh berusaha untuk membujuk Ayana.


Ayanapun kemudian beringsut dari tempatnya berdiri menatap ibunya dengan lekat.


Saat ini yang dimiliki Ayana hanyalah ibunya yang selalu setia mendampinginya sejak kecelakaan itu terjadi.


Keluarga Sugandi yang lain sudah tidak memperdulikannya. Bahkan ibu yang selama hampir 20 tahun mengaku sebagai ibunya pun tidak pernah datang untuk menjenguknya di rumah sakit. Bahkan pemakaman Axelpun hanya dilaksanakan secara sederhana.


Ayana yang sudah menghilang dari keluarga Sugandi selama bertahun-tahun tanpa kabar berita, sudah dianggap mati oleh mereka.


Perusahaan Sugandi bahkan sekarang sudah go public dan dimiliki oleh umum dalam artian saham sudah menjadi milik publik, bukan hanya milik keluarga Sugandi. Ibu angkatnya Ayana telah menjual sebagian saham kepemilikan keluarga Sugandi kepada publik. Sehingga perusahaan itu sekarang telah menjadi terbuka bagi umum. Siapapun yang mampu membelinya maka dia bisa memiliki saham di dalam perusahaan tersebut.


Humairoh yang selama ini sangat sibuk mengurus kepentingan Ayana dan juga suaminya. Sehingga dia tidak mempunyai waktu untuk mengurus perusahaan Sugandi. Sehingga dia pun membiarkan saja kakaknya berbuat sesuka hatinya dengan perusahaan keluarga mereka.


Bahkan perusahaan miliknya pun sekarang sudah dia percayakan kepada manajemen profesional. Dia menunjuk salah satu pegawai terbaiknya untuk menjadi CEO dan memimpin perusahaannya.


Humairoh benar-benar ingin memfokuskan dirinya untuk menjadi seorang ibu yang baik bagi ayahnya Dengan menemani putrinya dalam kondisi terburuk dalam hidupnya saat ini. Humairoh ingin mengganti waktu-waktu yang telah hilang di mana dirinya telah melepaskan Ayana kepada kakaknya untuk diadopsi oleh mereka yang tidak bisa mempunyai keturunan.


Tetapi siapa yang menyangka, bahwa ternyata kakaknya tidak memperlakukan Ayana dengan terlalu baik. Kakaknya bahkan lebih cenderung cuek kepada putrinya. Oleh karena itu Humairah walaupun dengan status hanya sebagai Bibi dari Ayana, Humairah lebih memperhatikan Ayana lebih dari sang kakak yang secara legal menjadi orang tua dari Ayana di mata hukum.


" Tenanglah Ayana. Mama pasti akan selalu mendampingimu dan mendukung setiap apapun yang kau lakukan. Tapi yang saat ini, Mama mohon padamu beristirahatlah dan pulihkanlah kondisimu sayang! Kalau tidak mau sampai kehilanganmu saat ini kau yang sangat penting bagi Mama! Adik-adikmu sepertinya masih tidak bisa menerima tentang mama yang telah membohongi mereka sejak mereka masih kecil!" ucap Humairoh dengan berlinang air mata.


Ayana sangat tahu bagaimana perasaan ibunya saat ini. Ketika dia ditolak oleh kedua anaknya dari pernikahannya bersama dengan Rahmat. Ayana pun bisa mengerti Bagaimana perasaan dua remaja itu yang selama mereka menjadi anak Humairah ternyata telah ditipu mentah-mentah oleh ibu kandungnya sendiri yang ternyata adalah seorang miliarder bukanlah seorang ibu biasa yang hanya bekerja sebagai ibu rumah tangga yang miskin dan tak memiliki apapun.


Bagi mereka kehidupan mereka selama ini tidak lebih dari hanya sebuah dagelan yang diciptakan oleh ibunya yang telah membohongi mereka.


Oleh karena itu mereka berdua kesulitan untuk bisa beradaptasi dengan kehidupan baru yang ditunjukkan oleh Humairah kepada mereka. Mereka berdua lebih memilih untuk hidup di pondok pesantren dan mendalami ilmu agama untuk bisa menenangkan jiwa dan pikiran mereka yang sedang terluka karena kehilangan ayah kandung mereka dan juga mendapatkan kenyataan pahit bahwa ternyata mereka telah ditipu oleh ibu kandungnya sendiri selama belasan tahun.


" Mama akan selalu membuatmu merasa nyaman. Percayalah pada Mama Ayana!" ucap Humairoh sambil mengelus kepala Ayana dengan penuh kasih sayang.


Humairoh tidak memperdulikan keributan yang ada di luar sana. Antara Pradipta dan juga Andini. Suami istri itu kini ribut dan sedang membahas tentang apa yang di utarakan oleh Humairah kepada Pradipta tentang masa lalu Andini yang telah menipunya selama 25 tahun lebih.