Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
123. Kepribadian ganda



Pagi-pagi sekali Arman sudah bersiap untuk wisudanya. Windy pun tanpa bersemangat menemani Arman. Ya, selama ini, Windy adalah satu-satunya perempuan yang pernah dekat bersama dengan pemuda itu.


Pemuda lembut bersahaja yang tidak tahu kalau dia adalah anak orang kaya. Entah apa yang akan dia lakukan, kalau dia tahu wanita penolong yang selama ini dia hormati ternyata adalah orang yang telah memisahkan dirinya bersama dengan ibu dan ayahnya.


Tetapi ibunya Firman hingga saat ini masih bertanggung jawab dengan pembiayaan ibunya Arman di rumah sakit jiwa. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh wanita tua itu, sehingga dia masih mau ambil peduli dengan perempuan yang dulu pernah hampir saja menghancurkan rumah tangganya.


Dulu ibunya Arman adalah sekretaris suaminya. Dia seorang wanita yang cantik dan pintar. Tetapi tergoda oleh rayuan ayahnya Firman yang memabukkan.


Ketika sang istri, pada akhirnya mengetahui perselingkuhannya. Dia pun akhirnya meninggalkan ibunya Arman yang sedang hamil besar dan menghilang begitu saja.


Ibunya Firman yang kala itu merasakan kesedihan, dia mendatangi Sintia. Tetapi ternyata Sintia sedang berusaha untuk melahirkan seorang diri. Akhirnya dia pun membawa Sintia ke rumah sakit, sebagai bentuk rasa kemanusiaannya sebagai seorang perempuan.


Selama 2 bulan Sintia di sembunyikan oleh ibunya Firman. Di sebuah rumah lengkap dengan baby sitter dan juga pembantu. Dan semua pembiayaan di biayai olehnya.


Tetapi tiba-tiba saja rasa amarah dan cemburunya datang. Sehingga dia mengambil Arman kecil dan menaruhnya di sebuah panti asuhan. Dia memisahkan ibu dan anak itu dalam satu malam.


Ibunya Firman selalu memantau keberadaan Arman dan memberikan semua pembiayaan untuk bocah kecil itu. Wajah Arman yang setiap hari semakin menampakkan kemiripan dengan wajah suaminya membuat hatinya merasa kesakitan.


Pada suatu hari, di usia Arman di sekitar 5 tahun. Tiba-tiba ada seorang penculik yang membawa pergi bocah mungil itu. Selama dua hari ibunya Firman mencari keberadaan Arman. Dan akhirnya menemukan bocah itu di jalanan. Kemudian dia membawa bocah kecil ke sebuah rumah yang berada di pinggiran kota dan memberikan seorang pelayan untuk melayaninya dan membiayai semua kehidupannya.


Entah kita harus menyebut ibunya Firman sebagai malaikat atau sebagai iblis. Tetapi yang jelas, wanita itu menunjukkan kemarahan dan cintanya di satu waktu.


Ya apabila rasa cemburunya terhadap ibunya Arman datang, maka dia berubah menjadi seorang wanita yang dingin dan menyiksa dirinya sendiri. Tapi ketika kelembutannya datang, dia berubah menjadi seorang perempuan yang berhati emas yang memperdulikan semua kebutuhan Arman.


Begitu besar luka di hati ibunya Firman, akibat perbuatan suaminya. Sehingga membuatnya berkepribadian ganda di satu waktu.


Seperti saat ini, ibunya Firman sedang menangis seorang diri di ruangan rahasia yang hanya dia ketahui sendiri. Suaminya masih sibuk di kantor. Tetapi dia sudah pulang duluan karena tidak enak badan.


"Hari ini anakmu akan di wisuda. Kau pasti sangat bahagia, karena memiliki seorang anak yang pintar dan tampan seperti Arman." ucapin banyak Firman sambil melihat sebuah foto Sintia bersama suaminya.


Hatinya saat ini sedang berdarah. Karena melihat rumah tangga putranya yang hancur berantakan. Entah saat itu, kalau dirinya juga bersikap gegabah seperti Syafa. Mungkin saat ini rumah tangganya pun sudah hancur.


"Nindya kau bawalah Sintia untuk menghadiri wisudanya Arman. Biarkan mereka bertemu. Apabila mereka saling mengenali kau ceritakan saja tentang kehidupan mereka yang sebenarnya." ucap ibunya Firman dengan suara serak karena terlalu banyak menangis hari itu.


" Apakah saya juga harus menceritakan tentang Anda nyonya?" tanya Nindya ragu.


Sementara di kantor, ayahnya Firman masih merenungkan pertemuannya dengan seorang pemuda yang wajahnya begitu mirip dengan dirinya. Dia masih penasaran dengan pemuda itu. "Siapa dia sebenarnya? Dan kenapa dia bisa berada di kantornya Aurora? Kenapa aku tidak bisa percaya, bahwa dia adalah keponakannya Nindya?" sepanjang malam itu Ayahnya Firman terus bermonolog dengan dirinya sendiri.


"Aku harus menyelidiki, apakah pemuda itu adalah putra Sintia atau bukan!" akhirnya ayahnya Firman mengambil keputusan, untuk menyewa sebuah detektif untuk menyelidiki tentang pemuda itu.


"Kau selidikilah tentang pemuda itu. Aku ingin semua detailnya. Kalau bisa bawakan aku juga sebuah tes DNA tentang kami berdua. Besok kau ambil sampel ku dan segera usahakan dapatkan hasilnya!" perintah ayahnya Firman kepada seorang detektif swasta yang sudah menjadi langganannya.


"Sebaiknya aku pulang sekarang. Jangan sampai nanti Aurora merasa curiga dengan apa yang aku lakukan sekarang!" Ayah Firman pun kemudian membereskan meja kerjanya, dan bergegas pulang ke rumah.


Begitu sampai di kediamannya, dia mendapati istrinya yang sedang meringkuk di ranjang mereka. Dengan tubuh yang demam dan menggigil. Ayahnya Firman tampak khawatir dengan keadaan istrinya.


"Ada apa denganmu? Kenapa kau tiba-tiba sakit seperti ini?" tanya ibunya ayahnya Firman dengan begitu khawatir.


Ibunya Firman tidak menjawab apapun, dia hanya terus menetap mata suaminya dengan mata berkaca-kaca.


"Ada apa denganmu Aurora? Jangan membuatku khawatir seperti ini!" ucapnya.


"Apakah kau tidak penasaran tentang putramu bersama perempuan itu?" tiba-tiba Emangnya Firman mengeluarkan suaranya yang pelan dan lirih. Suaminya terkejut mendengarkan apa yang diucapkan oleh sang istri.


"Apa maksudmu Aurora? Bukankah waktu itu putranya Sintia sudah meninggal? Itu yang dikatakan oleh dokter padaku." ucapnya ragu.


"Putramu masih hidup. Aku yang waktu itu menyelamatkannya. Ketika putramu sudah tidak bernafas lagi, aku membawanya dan secara ajaib putramu hidup kembali!" ucap Aurora dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ambillah berkas-berkas yang ada di atas nakas itu, semua yang ingin kau ketahui ada di sana!" ucap ibunya Firman dengan suara yang semakin lemah.


"Sebenarnya apa yang kau lakukan Aurora? Kenapa kau melakukan semua ini?" ayahnya Firman membaca semua berkas-berkas yang tertulis disana. Matanya nyalang melihat begitu banyak foto-foto seorang anak kecil, seorang pemuda dan seorang wanita yang ada di rumah sakit jiwa.


"Bukankah ini pemuda yang kemarin aku temui di kantormu? Jadi dia adalah anaknya Sintia?" ketika ayahnya Firman menoleh ke arah istrinya, tampak istrinya sudah memejamkan matanya. Dan sudah tidak bergeming lagi.


Ayahnya Firman mengkerutkan keningnya, dan mulai merasa khawatir. Diguncangnya tubuh istrinya, untuk membangunkan tetapi tidak berhasil sama sekali.


Dengan panik, kemudian dia menggotong tubuh istrinya yang sudah kaku, ke atas mobil dan membawanya ke rumah sakit. Tetapi malang, begitu sampai di rumah sakit istrinya sudah dinyatakan meninggal.


Ternyata istrinya sudah mengkonsumsi obat tidur yang sangat banyak, sehingga membuatnya tidak bisa bangun kembali karena overdosis. Hati ayahnya Firman terhiris begitu sedih, karena kepergian istrinya yang begitu mendadak.