
Setelah mempersiapkan segala kebutuhan Rasya, untuk pergi ke Amerika. Syafa dan Rasya kemudian langsung bertolak ke Amerika untuk menemui kedua orang tua Firman. Syafa sudah bertekad bahwa dia akan kembali membawa suaminya ke sisinya, untuk hidup bersama lagi.
"Mama tenang aja! Oma sama Opa, pasti belain kita. Oma sama Opa kan, paling tidak suka, kalau Papa berbuat kesalahan! Tenang aja, Mah! Rasya pasti akan bantu Mama untuk membuat Papah kembali ke kita lagi!" dengan mata berkaca-kaca, Syafa memeluk putranya yang masih berusia 10 tahun itu. Hatinya terasa sedih dan pilu karena mendapatkan kenyataan, suaminya tertangkap basah oleh anaknya sendiri bersama istri mudanya.
Ya, beberapa hari lalu, Rasya melihat dengan mata kepalanya sendiri. Ayahnya sedang bermesraan dengan seorang wanita, di rumah yang biasa dikunjungi oleh mereka di pagi hari, sebelum mengantarkan Rasya ke sekolah. Rasya sangat marah ketika itu dan langsung melabrak mereka berdua.
"Papa tuh betul-betul keterlaluan! Di rumah, Mama sedang menangisi Papa, tapi di sini, Papa malah senang-senang dengan perempuan itu! Papa tahu tidak? Papa itu adalah manusia paling jahat yang pernah Rasya kenal!" Rasya berteriak histeris melihat Papanya di rumah tersebut sedang memeluk istri mudanya.
Firman yang tidak mengetahui kedatangan Rasya sebelumnya, auto meloncat kaget, karena tiba-tiba Rasya sudah berdiri di hadapannya dan marah-marah tidak jelas.
"Tante! Apakah tante tidak malu? Sudah merebut suami orang lain, huh? Apakah laki-laki di dunia ini sudah habis? Sehingga Tante merebut Papahku? Apakah Tante tahu, Mamaku di rumah sedang menangis karena perbuatan Tante, yang tidak tahu malu ini? Sebaiknya Tante segera tinggalkan Papaku! Sebelum aku melaporkan Tante ke polisi dengan perbuatan yang tidak menyenangkan!" mata Rasya berapi-api, menunjuk kepada Laila dan Firman. Yang saat ini sedang menatap Rasya dengan bengong telongong, merasa terkejut, melihat seorang anak kecil bisa mengatakan hal-hal seperti itu.
"Rasya lancang sekali mulutmu kepada Papahmu! Hah, itu yang diajarkan Mamahmu, huh? Benar-benar kau bikin Papa malu!" Firman kemudian menarik tangan Rasya, untuk keluar dari rumahnya. Firman menyuruh pergi Rasya serta mengancam Rasya agar tidak kembali lagi ke rumah itu. Firman benar-benar sudah gelap mata.
"Pergi kamu dari rumah Papa! Jangan coba-coba lagi kamu kembali ke sini! Kalau sekali lagi, Papa menemukan kamu di sini, percayalah! Papa akan menghentikan semua fasilitas yang dimiliki oleh kamu dan Mamamu!" Firman benar-benar kalap hari itu. Sudah tidak memperhatikan dan sudah tidak memperdulikan lagi, hubungan anak dan ayah. Hatinya kecewa karena melihat Rasya yang begitu keras menyikapi hubungannya dengan Laila.
"Mas kamu tenang! Jangan kayak gitu! Bagaimanapun juga, dia itu anak kamu! Kamu nggak boleh seperti itu! Itu tidak baik untuk mental dia! Udah, kamu tenang! Sekarang, kamu masuk aja ke dalam, biar aku yang hadapi Rasya, oke?" Laila yang melihat perlakuan kasar Firman terhadap anaknya, merasa tidak tega. Akhirnya Laila mengajukan diri untuk berbicara dengan Rasya.
"Tante nggak usah sok baik, di hadapanku! Di mataku, Tante adalah wanita paling jahat di dunia! Jangan pernah bermimpi Rasya akan memaafkan Tante maupun Papa!" hati Laila mencelos, mendengarkan semua ucapan Rasya. Hatinya merasa sakit, tetapi dia sadar, bahwa itu memang layak dia dapatkan. Karena dia sudah mau menerima Firman sebagai suaminya, walaupun tahu bahwa Firman sudah mempunyai seorang istri.
"Udah Laila! Nggak usah layani anak nakal itu! Tenang saja, Mas pasti akan mendidik dia menjadi anak yang tahu adat dan sopan santun terhadap orang yang lebih tua!" ucap Firman sambil memeluk Laila.
"Benar-benar anak kurang ajar! Kau memang pantas untuk di hajar!" Firman sudah bersiap untuk memukul Rasya, tetapi Laila langsung menarik tangan suaminya dan menahannya.
"Mas! Jangan berani-beraninya kau bermain tangan terhadap putramu! Kau tidak boleh melakukan itu! Cukup satu kali kau melakukan kesalahan terhadap putramu. Jangan kau buat dia semakin membencimu! Sudah sebaiknya kau masuk aja ke dalam, biarkan aku yang mengurusi ini semua!" Laila langsung mendorong tubuh Firman untuk masuk ke dalam rumah. Laila lalu menutup pintu. Kemudian Laila pergi ke hadapan Rasya yang kini menatapnya dengan penuh kebencian.
"Rasya, Papahmu mungkin melakukan kesalahan, tapi bukan sikap seperti itu, yang harus kamu tunjukkan terhadap Papa kamu! Kamu tetap harus menghormati dia sebagai seorang ayah! Apa yang kamu lakukan ini salah, Nak! Sekarang lebih baik kamu pulang dan temui Mama kamu, oke?" Laila berusaha untuk memegang tangan Rasya, tetapi Rasya langsung menepisnya dengan kasar.
"Jangan pernah berani-beraninya, Tante menyentuh saya!Kaarena saya tidak sudi disentuh oleh Tante! Seumur hidup saya, saya tidak akan pernah memaafkan Tante dan Papa! Camkan itu!" dengan kemarahan yang membuncah di dadanya Rasya pun kemudian meninggalkan rumah tersebut. Dan pergi ke sekolahnya. Tetapi di sekolah, Rasya bukannya masuk ke sekolahan, tetapi dia pergi ke warung internet dan bermain games di sana. Melepaskan kemarahan di dalam hatinya.
Sekarang kita kembali kepada Rasya dan Syafa yang kini berada di pesawat dan bersiap untuk pergi ke Amerika untuk menemui kedua orang tua Firman.
Setelah melakukan penerbangan yang melelahkan, akhirnya Syafa dan Rasya sampai juga ke Amerika. Mereka langsung naik ke taksi untuk diantarkan ke alamat Opa dan omannya. Ya, Syafa tidak memiliki nomor telepon mertuanya. Karena sudah dihapus oleh firman, yang takut kepergiannya ke Maldives bersama Laila, untuk honeymoon, akan dikonfirmasi oleh sang istri kepada orangtuanya di Amerika. Sehingga Firman melakukan hal tersebut.
"Opa sama Oma, pasti senang dengan kehadiran kamu!" ucap Syafa sambil mengelus rambut putranya.
"Iya, Mah! Rasya juga kangen sama Opa sama Oma, semoga saja mereka menyambut kedatangan kita ya, Mah?" Rasya memeluk Syafa dengan erat berusaha memberikan kekuatan kepada Mamahnya yang telah ditinggalkan oleh Papahnya.
"Mama sangat bersyukur, memilikimu Rasya! Kalau nggak ada kamu, Mama pasti tidak akan sanggup melewati ini semua! Terima kasih ya, Nak! Karena kamu selalu ada untuk Mama!" di dalam taksi itu, anak dan ibu itu menangis bersama. Meratapi nasib mereka berdua yang telah ditinggalkan oleh ayah dan suaminya demi wanita lain.