Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
82. Firman oh Firman



Keesokan harinya, Firman sudah mempersiapkan sarapan untuk mereka berdua. Firman juga sudah membereskan kekacauan yang dia buat tadi malam. Kini kamar utama tersebut, sudah rapi dan bersih. Kini, Firman mendekati Laila yang masih polos di atas kasur. Hanya berselimut kan selimut tebal untuk menutupi tubuh mulusnya.


"Sayang, ayo bangun! Kita sarapan, yuk!" ucap Firman berbisik mesra di telinga Laila, Laila yang memang kelelahan, setelah semalaman di gempur oleh suaminya, hanya bisa menggeliat, Firman, yang melihat selimut tersingkap, dan memperlihatkan kulit Laila yang sehalus porselen, malah naik lagi libidonya.


Firman nampak kesulitan menelan salivanya. Tubuh Laila seakan telah menjadi candu baginya. Tetapi ingatan dirinya bahwa punya janji dengan istri pertamanya, bahwa dia akan pulang setelah sarapan pagi, membuat otaknya bekerja dengan baik. Dibuangnya hasrat gila itu.


"Sayang, ayo kita sarapan! Mas harus segera pulang, loh!" ucap Firman, kini mencium bibir Laila yang membengkak karena perbuatan dirinya.


"Kamu pulang saja, Mas! Aku masih ngantuk dan lelah!" ucap Laila, kembali menutup matanya.


"Kalau gak mau bangun, nanti Mas ajak olahraga pagi, loh!" ancam Firman, sambil tangannya bergerilya di balik selimut Laila. Laila sampai mendes@h tidak karuan gara-gara perbuatan suami mesumnya tersebut.


"Semalaman, apa masih kurang, Mas?" tanya Laila, kini mulai membuka matanya sedikit. Tangan Firman sudah Laila singkirkan dari tubuhnya.


"Kalau mengenai kamu, Mas tidak akan pernah puas, sayang!" Firman kembali mencium bibir Laila. Laila hanya bisa pasrah dengan kelakuan suaminya.


'Ah, biarkan saja, nanti juga dia bosan sendiri. Aku nanti juga pasti dia buang juga!' Bathin Laila.


Setelah merasa puas ekplorasi tubuh Laila, Firman kemudian meminta Laila untuk segera mandi dan pergi sarapan bersama dirinya. Karena dia harus segera kembali ke rumah istri pertamanya.


"Cepetlah, Sayang! Apa kau ingin aku mandikan dirimu, huh? Aku harus segera pulang ini, tidak bisa berlama-lama lagi!" ucap Firman berteriak di luar pintu kamar mandi.


"Mas pulang saja! Kenapa kau berteriak-teriak di sana? Tubuhku masih lelah sekali! Aku ingin berendam beberapa saat lagi, pergilah!" ucap Laila tidak perduli dengan Firman.


Tiba-tiba saja, pintu kamar mandi dibuka dari luar. Sehingga Laila melotot sempurna matanya. Ketika mendapatkan suaminya itu, sudah berdiri berkaca pinggang di sana.


"Jadilah istri yang penurut dan mencintai aku!" ucapnya sambil menunggu Laila untuk keluar dari sana. Laila yang ketakutan dengan tatapan horor Firman, mau tidak mau, bangkit juga dari bathtub. Berjalan ke bawah shower dan membersihkan sabun yang melekat di Badannya.


Firman seakan hilang kewarasan, dia langsung menerjang Laila menciumnya secara membabi-buta, melepaskan pakaiannya yang sudah rapi, lalu menyerang Laila yang masih syock dengan perbuatan Firman yang menyerang tiba-tiba. Pergulatan panas terjadi lagi, Firman seperti kerasukan saja, tidak perduli lagi dengan janjinya dengan istri pertamanya yang mengatakan akan pulang sebelum jam berangkat ke kantor.


Sementara itu, istri pertamanya Firman, tampak gelisah menunggu sang suami. Yang sampai jam 08.00 siang, masih juga belum menampakkan batang hidungnya. Pikirannya sudah tak karuan, merasa khawatir dengan suaminya yang berada di luar semalaman.


"Papa Mana, Mah? Ini Kakak sudah terlambat berangkat sekolah! Kenapa Papa ndak datang juga? Aduh! Papa ini benar-benar menyebalkan sekali!" rajut Rasya mulai jengkel dengan Papanya.


"Kakak berangkat sama sopir dulu, ya? Mungkin Papa ada halangan di luar sana, sehingga membuat Papa tidak bisa pulang dengan cepat. Kakak baik-baik ya, di sekolah! Kaka nggak boleh nakal! Oke, sayang?" pesan istrinya Firman.


"Papa tuh heran, deh, Mah! Beberapa saat ini, kelakuannya aneh banget! Sering sekali terlambat menjemput Rasya! Berangkat sekolah juga, sering telat telat terus! Lama-lama, Rasya bisa dikeluarkan ini dari sekolah!" keluh putranya kepada sang Mamah yang kini menyapanya dengan heran. Syafa lalu mendekati putranya tersebut.


"Perasaan Mama, Kakak kalau berangkat sekolah dengan Papa, selalu tepat waktu! Kok, bisa sih? Datang terlambat ke sekolah? Gimana ceritanya itu, sayang?" tanya Syafa.


"Sebelum berangkat sekolah, Papa itu selalu berhenti di ujung Komplek sana, Mah! Katanya dia ingin menemui temannya! Entahlah, Mah! Kaka juga bingung! Kalau Kaka bilang untuk segera cepat-cepat, Papa pasti marah! Ya, jadilah akhirnya Kakak terlambat datang ke sekolah! Semua gara-gara Papa!" Rasya lalu berangkat bersama supir pribadi yang biasanya bertugas untuk mengantarkan dirinya kalau mau pergi ke luar rumah.


"Ada apa dengan mas Firman, ya? Kenapa akhir-akhir ini, kelakuan dia sangat aneh dan mencurigakan? Apakah mungkin, dia memiliki wanita lain di luar sana, Ya Allah? Ya Allah, kenapa hatiku rasanya tidak karuan begini?Berilah hambaMu petunjuk, ya Allah!" doanya penuh penghayatan.


Sampai jam 10, Firman tidak juga pulang ke rumahnya. Syafa lalu menelpon sekretaris suaminya di kantor.


"Hallo, Mba, apakah suami saya sudah datang?" tanyanya.


"Ya Bu, Bapak sudah datang dari tadi. Sekarang dia sedang berada di ruang meeting. Emangnya ada apa ya, Bu?" tanya sekretarisnya Firman, kemudian Shafa menutup teleponnya. Bernafas lega.


"Alhamdulillah! Mungkin Mas Firman, tadi berangkat dari rumah temannya kesiangan. Sehingga dia memutuskan untuk langsung pergi ke kantor. Alhamdulillah! Semoga suamiku tidak berbuat macam-macam di luar sana, ya Allah!" Syafa lalu melanjutkan kegiatan dirinya pagi itu.


Sementara itu, di rumahnya Laila,"Bagaimana, apa kamu sudah mengatakan apa yang saya katakan tadi?" tanya Firman sambil memeluk tubuh Laila yang tidak mau dia lepas dari pelukan hangatnya.


"Sudah, Pak! Saya bilang sama Ibu, bahwa Bapak sedang di ruang meeting." ucap sekretarisnya itu.


"Ya sudah! Terima kasih! Nanti saya akan transfer bonus untuk kamu! Saya puas dengan pekerjaan kamu! Saya akan datang ke kantor sebentar lagi, masih mengurus masalah lain, diluar kantor! setelah itu Firman menutup teleponnya. Laila tampak malas melihat percakapan Firman dengan sekretarisnya tersebut. Laila ingin sekali segera terlepas dari kekuasaan Firman, yang selalu berbuat sekehendak hatinya itu.


"Kalau kau berbuat seperti ini terus, lama-lama istrimu itu akan Curiga dengan keberadaanku di sini! Tahu, nggak? Kau sedang menggali kuburanmu sendiri!" ucap Laila dengan jengkel tetapi Firman tampaknya tidak peduli sama sekali dengan apa yang dikatakan oleh Laila tersebut.


"Kalau Syafa tidak bisa menerima kehadiranmu sebagai istriku, maka aku akan menceraikan dia! Aku jauh lebih mencintaimu dari perempuan itu!" ucap Firman terasa begitu ringan nyaris tiada beban sama sekali. Laila menarik nafas dalam-dalam. Merasa muak dengan Firman yang seakan tidak perduli dengan nasib rumah tangga nya sendiri dengan perempuan yang sudah memberi dia anak.