Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
67. Saling percaya



Alfian menatap sang istri dengan penuh permohonan. Hatinya sangat takut kalau istrinya akan berpikir yang tidak-tidak dan tidak bisa memaafkan dirinya yang bahkan tidak tahu sekarang harus berbuat apa.


Ariana yang kini duduk di sudut kamar, matanya mulai menatap waspada ke arah Merry. Perempuan yang sedang hamil tersebut menatapnya dengan sorot mata yang sangat tajam membuat Ariana merasa ketakutan sementara di sudut kamar lain, Alfian sudah merasa khawatir dengan keadaan istrinya.


"Sayang, sayang! Percayalah hanya kamu wanita yang aku cintai! Aku sama sekali tidak tahu, kenapa dia tiba-tiba ada di antara kasur kita! Kamu tadi sudah lihat sendiri di CCTV, dia masuk ke dalam kamar kita ketika aku terlelap! Aku benar-benar tidak tahu sayang! Please, jangan diam saja! Aku, aku nggak sanggup melihat kamu begini! Please, Sayang jangan kayak gini! Aku takut melihatnya! Aku mohon Sayang! Aku mohon! Please, aku nggak bisa melihat kebencian di matamu! Aku hanya mencintai kamu, sayang! Percayalah itu! Perempuan itu nggak berarti apa-apa dalam hidupku! Dia hanyalah orang asing yang pernah singgah sejenak dalam hidupku! Nggak penting! Hanya kamu dan calon anak kita yang sangat penting dalam hidupku saat ini! Please sayang, bicara sama aku! Aku nggak bisa melihat kamu seperti ini, please Sayang! Aku mohon!" Merry masih diam tidak bergeming.


Alvian kemudian menarik tangan Ariani dan menyuruh perempuan itu pergi dari rumahnya. "Pergi kamu! Jangan pernah datang lagi dalam hidupku! Aku gak butuh kamu! Percayalah satu kali lagi kamu datang ke rumah ini, dan mengganggu kehidupanku dan istriku. Akan Aku pastikan kamu menyesalinya! Camkan itu baik-baik dalam kepala kamu! Perempuan tidak tahu malu, pergi kau! Aku sudah muak melihat mukamu!" Alfian melemparkan semua barang-barang Ariani keluar rumahnya kemudian menutup pintu rumahnya dengan keras, sangking marahnya. Alvian kemudian mengunci pintunya dan memanggil semua orang yang bekerja di rumahnya.


"Dengarkan perintahku! Apabila kalian mengizinkan perempuan itu datang lagi ke rumah ini, maka bersiaplah untuk pergi dari rumah ini tanpa sepeserpun uang pesangon dari saya, Kalian paham?" tanya Alvian dengan wajah garang dan kemarahan yang luar biasa.


Merry kemudian keluar dari kamarnya dan melihat suaminya yang sedang marah-marah serta memperingatkan karyawannya untuk tidak membiarkan perempuan itu masuk kembali ke dalam rumahnya. Ada perasaan hangat yang dirasakan oleh Merry melihat begitu besarnya suaminya memperhatikan tentang perasaannya, betapa suaminya tidak memperdulikan masa lalunya yang kembali hadir dan berusaha menarik perhatiannya lagi. Ya, masa lalu yang mungkin bagi Ariani belum selesai tetapi bagi Alvian masa lalu itu kini sudah layaknya seperti pakaian usang yang tidak layak dipakai kembali.


"Sudahlah jangan marah lagi! Kasihan mereka, mereka tidak tahu apa-apa dengan masalah ini, sudah! Yang penting perempuan itu sudah nggak ada lagi di rumah kita. Aku baik-baik aja kok! Aku tadi hanya merasa syok saja, ketika melihat kamu bersama perempuan itu. Tapi CCTV itu sudah jelas membuktikan, bahwa kamu tidak bersalah. Sudahlah enggak usah diperpanjang lagi! Aku lelah, gimana kalau kita pergi refreshing saja? Bukankah kamu bilang kamu merindukan apartemen kita yang di Dubai? Ayo kita ke Dubai, tidak perlu ketemu dengan keluargaku sih kita happy-happy berdua aja, anggap aja bulan madu kita yang kedua gimana Mas?" Alfian langsung memeluk tubuh Merry ketika melihat istrinya sudah mulai normal lagi dan wajahnya sudah rileks.


"Sayang kamu benar-benar membuat aku ketakutan! Sungguh nggak ada yang lebih aku takuti di dunia ini, selain kehilangan kamu dan anak kita, aku rela kehilangan apapun kecuali kehilangan kalian!" Alvian lalu memeluk istrinya. Para pegawai kemudian membubarkan diri mereka sendiri, merasa malu melihat kemesraan majikan mereka. Tidak mau jadi obat nyamuk di antara manusia yang sedang mabuk asmara.


"Udah, Mas! Gak usah di bahas! Gak penting! Untung dulu kamu pernah pasang CCTV di kamar kita, kalau tidak, kita pasti sekarang sudah memakan hasutan wanita itu. Jujur Mas! Aku sangat sakit ketika melihat kulit kamu menempel dengan kulit dia. Aku gak rela, Mas!" ucap Merry sambil bergelayut manja di lengan suaminya.


"Baiklah, sayang! Mas mandi dulu, Mas bersihkan badan Mas dari kulit Ariani yang mungkin masih menempel di kulit, Mas!" Alvian langsung lari ke dalam kamar mandi.


Sementara Merry melihat ke luar rumah. Ariani sedang menggunakan pakaian dan memunguti semua barang-barang dia yang tadi dilemparkan oleh Alvian.


Sementara itu, Alvian di kamar mandi menggosok semua tubuhnya dengan spons keras-keras, tidak mau ada jejak apappun tentang Ariani. Alvian benar-benar membenci perempuan itu, sejak dahulu hanya memberi masalah dalam hidupnya.


Alvian masih sangat ingat, dahulu dirinya hampir kena DO karena skripsi yang dia kerjakan tiba-tiba saja sama dengan punya orang lain. Ternyata Ariani yang memberikan file skripsi miliknya kepada orang tersebut dan menjualnya. Alvian sampai sekarang masih ingat bagaimana sakitnya pengkhianatan itu.


" Sayang apakah sudah selesai mandinya? Cepatlah! Aku sudah lapar! Kenapa kok lama sekali di kamar mandi?! " Panggil Merry di luar pintu kamar mandi.


" Ya, sebentar lagi! Mas sedang keramas. Bentar ya, tunggu!" ucap Alfian dari dalam kamar mandi.


Alfian segera bergegas menyelesaikan ritual mandinya lalu keluar dan menggunakan pakaian yang sudah disiapkan oleh istrinya di atas kasur. Setelah merasa sempurna, Alfian pergi ke ruang makan dan duduk di samping istrinya dan mulai sarapan bersama. Tidak ada hal yang lebih membahagiakan dirinya selain bersama dengan istrinya saat ini. Ketakutan ditinggalkan Merry sudah bilang sekarang. Melihat istrinya yang tersenyum kepadanya tanpa beban dan amarah.


"Terima kasih ya sayang! Sudah memaafkan kesalahan Mas. Mas janji ini yang pertama dan terakhir! Mas tidak akan membiarkan Ariani masuk lagi ke dalam kehidupan kita, kamu bisa pegang janji Mas ini! Oke?" janji Alfian sambil memegang tangan Merry. Meri tersenyum bahagia melihat keseriusan suaminya dalam mempertahankan rumah tangganya.


"Iya Mas! Aku juga akan berusaha untuk menjaga keutuhan rumah tangga kita! Aku janji Mas, aku nggak akan mudah terprovokasi oleh aksi-aksi murahan semacam itu! Aku percaya sama kamu kok! Bahwa kamu hanya milikku seorang!" ucap Merry.


Alfian kemudian menarik nafas dalam-dalam, hatinya merasa sangat bahagia.


'Akhirnya masalah ini selesai! Aku berharap kami berdua akan selalu bisa saling mempercayai satu sama lain, sehingga cinta kami akan selalu bisa saling menguatkan tidak ada yang bisa memisahkan kami berdua!' bathin Alvian sambil menggenggam tangan Merry.