
"Apa kamu yakin, kalau kamu tidak mencintainya?" tanya Kesya dengan menatap wajah Manda. Saat ini Andika sedang ke kamar perawatan, menemani Baby Cakra yang mulai tidak nyaman berlama-lama di luar ruangan. Andika mengajak Amanda juga ke sana.
"Ayah, Dede Cakra tampan sekali," gadis kecil tersebut tampak antusias menatap bayi mungil yang tampan tersebut.
"Ya, dede Cakra tampan, kakak Amanda juga cantik. Sini, ayah gendong kakak!" Andika kemudian mengangkat tubuh Amanda dalam pelukannya. Hati Andika merasa pilu seketika. Dalam hitungan hari, dirinya akan berpisah dengan Amanda. Putri kecil yang baru dia tahu keberadaan dirinya.
Di pintu, Kesya dan Manda terus memperhatikan interaksi antara Andika dan Amanda. Hati Kesya merasa miris melihat keduanya. Apalagi saat Andika menangis sambil memeluk dan mencium gadis mungil tersebut.
"Pikirkanlah tawaran ku, kami tunggu besok, karena pesawat kami terbang jam 13.00 " ucap Kesya sambil menatap lembut ke arah Manda.
"Baiklah, aku pamit. Aku akan kesini kalau aku berubah pikiran. Kalau tidak, kalian bisa pergi." Manda kemudian masuk ke dalam ruangan. Memanggil Manda yang sedang asyik bermain dengan Andika dan adiknya, baby Cakra.
"Amanda sayang, ayo kita pulang! Kasihan Dede bayinua mau istirahat!" Manda lalu meraih jemari mungilnya, lalu berpamitan pada Andika dan Kesya.
"Ayah, Amanda pulang ya, besok Amanda kesini lagi, jenguk dedenya Amanda!" Amanda mencium pipi Andika dan Cakra, wajah polos tanpa dosa yang menjadi korban keegoisan orang dewasa.
"Hati-hati sayang, maaf, ayah belum sempat menemani kakak buat jalan-jalan, Dede Cakra masih sakit, gak bisa ayah tinggal!" Andika memeluk dan mencium Amanda untuk yang terakhir kalinya. Dadanya terasa sesak dan air mata tanpa permisi berderai terus.
"Kami pamit!" Amanda dan Manda lalu pergi dari ruangan dan kembali ke apartemennya.
Disana, Manda terus memikirkan pembicaraan dirinya bersama Kesya. Hatinya mulai bimbang sekarang. Di tatapnya Putri cantiknya.
"Sayang, apa kau sayang dengan Dede Cakra?" tanya Manda sendu. Amanda mengangguk, lalu dia mendekat pada Manda.
"Kata ayah, Amanda masih memiliki seorang adik lagi, namanya Adrian Abimana. Dia kakaknya adik Cakra. Dia tampan sekali, Mah! Lihatlah, Mah!" kemudian gadis kecil itu mengambil ponselnya, memperlihatkan potret keluarga besar Abimana.
Hati Manda begitu sakit, dirinya juga mencintai Andika, tapi Andika sama sekali tidak mengingat dirinya. Jangankan untuk bisa bersanding bersama dengan Andika. Sesuatu yang sangat mustahil.
Manda mengingat kembali pembicaraan dirinya dengan Kesya tadi siang.
"Apa kamu yakin, kalau kamu tidak mencintainya?"
"Aku mencintainya, tapi dia sama sekali tidak mengingat ku. Baginya, aku hanyalah butiran debu yang tidak penting." ucap Manda sedih.
"Apakah kamu ingin menikah dengan suamiku?" tanya Kesya lagi. Manda dilema, tidak tahu apa yang harus dia katakan. Kalau bilang tidak, dia pasti munafik. Siapa yang bisa menolak pesona seorang Andika Abimana? Pria itu sudah menjadi impiannya sejak lama. Bahkan alasan dirinya bekerja di perusahaan adalah karena Andika. Manda tidak sengaja berpapasan dengan Andika saat dia menemui sahabatnya yang kerja disana. Sehingga dia pun melamar kerja di perusahaan yang Andika pimpin. Keberuntungan berpihak pada Manda, sehingga dia ditempatkan sebagai sekretarisnya Andika yang membutuhkan seorang sekretaris. Andika baru datang dari Dubai saat itu dan masih asing dengan keadaan perusahaan.
"Kalau aku mengadopsi dan merawat Amanda seperti anakku sendiri, apa pendapatmu?" tanya Kesya lagi, Manda tampak terkejut. Tidak percaya bahwa hal tersebut keluar dari mulut Kesya. Keluarga besar Abimana memang pernah mengusulkan hal tersebut, tapi Manda menolak mentah-mentah hal tersebut.
"Apa kamu bisa, mencintai anak dari suami kamu, yang lahir dari wanita lain?" tanya Manda ragu.
"Amanda tidak berdosa, aku tidak bisa membencinya, lagi pula, kalian memiliki Manda sebelum aku menikah dengan Mas Dika. Mas Dika juga tidak pernah mencintaimu. Aku hanya tidak tega, memisahkan seorang ayah dengan anaknya." jawab Kesya diplomatis. Sambil menatap lurus ke arah Manda.
"Kamu benar, Pak Dika bahkan tidak ingat siapa saya. Kalaupun saya ingin menikah dengan dia, saya yakin suami kamu akan menolak!" ucap Manda sambil menatap interaksi putrinya dengan mantan bosnya tersebut.
Seketika hati Manda merasa pedih. Amanda selalu bersedih karena selalu di olok-olok teman-teman nya di sekolah, karena tak berayah. Amanda adalah seorang wanita, kelak dia membutuhkan ayahnya disaat akan menikah. Manda terus berpikir. Apa yang harus dia lakukan.
"Pikirkanlah, kalau Amanda bersama kami, dia akan mendapatkan segala fasilitas yang sama dengan Adrian maupun Cakra, anakku bersama Mas Dika. Kamu bisa menikah dengan orang yang kamu cintai. Saya rasa, apa yang saya tawarkan adalah win win solution bagi kita semua." ucap Kesya sambil menggenggam tangan Manda.
"Apa kamu yakin, kamu bisa mencintai putriku?" tanya Manda lagi, air mata sudah tidak mampu dia bendung lagi. Pedih hatinya memikirkan akan berpisah dengan putrinya.
"Kamu tidak usah khawatir, apapun yang sudah diberikan oleh mertuaku kepadamu, tidak akan ditarik lagi, Walaupun kamu menyerahkan Amanda dalam pengasuhan kami. Mobil, apartemen maupun tabungan pendidikan 2 M itu, semuanya akan menjadi milik kamu. Yang perlu kamu lakukan hanya satu. Melepaskan dan melupakan Amanda sebagai putri kamu. Setelah Amanda masuk ke keluarga Abimana, maka dia akan aku didik agar menjadi Abimana sejati. Aku tidak akan membiarkan orang luar mengatakan bahwa Amanda adalah anak haram dari suamiku!" ucap Kesya tegas dan yakin. Seketika Manda merining, tidak menyangka bisa bertemu dengan seorang wanita yang keras hati seperti Kesya.
"Sekarang aku mengerti. Kenapa Pak Dika dan keluarga besar Abimana memilih kamu sebagai Nyonya Abimana. Kamu wanita yang luar biasa!" puji Manda dengan senyuman getir di wajahnya.
"Kamu tahu, untuk aku sampai ke titik ini, bukanlah hal yang mudah. Aku tidak akan membiarkan kebahagiaan keluarga ku hancur oleh masa lalu yang sama sekali tidak penting bagi kami!" jawab Kesya dengan mata penuh kebijakan.
"Ya, kami memang tidak penting dalam kehidupan Pak Dika. Mungkin, cinta yang dia miliki untuk Amanda juga hanya sebatas tanggung jawab sebagai seorang ayah saja. Tidak lebih!" miris hati Manda mendengar apa yang dirinya katakan.
"Oleh karena itu, lebih baik kamu menyerahkan Amanda kepada kami, aku berjanji akan memperlakukan Amanda sebagai putriku sendiri. Kau tahu sendiri bukan? Kedua anakku adalah laki-laki. Rahimku sudah di angkat, karena kemarin ada kanker di sana. Jadi kamu bisa percaya bahwa aku akan merawat anakmu seperti anakku sendiri." Kesya berusaha meyakinkan Manda.
"Saya baru bertemu seorang wanita hebat seperti kamu. Yang mau merawat anak dari suaminya dengan wanita lain. Bahkan memberikan banyak hadiah untuk diriku." Manda tersenyum getir.
"Aku hanya tidak mau, suamiku bersedih karena memikirkan anaknya yang lain. Percayalah kepadaku, aku pasti akan memberikan apapun yang dimiliki oleh anakku kepada Amanda. Jangan ragukan ketulusan hatiku!" ucap Kesya.
"Baiklah, berikan aku waktu untuk berpikir. Aku tidak mau nantinya keputusan yang aku buat malah aku sesali di kemudian hari!" Mereka kemudian kembali ke ruangan Kesya dan di sana mereka mendapatkan pemandangan interaksi antara Amanda, Andika dan Cakra.
Hati Manda sangat pedih. Dirinya juga ingin memiliki kehidupan layaknya wanita lain, memiliki seorang suami yang mencintai dirinya, dan kehidupan normal lainnya. Tapi berpisah dengan Amanda juga sangat sulit baginya.