Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
48. Akhirnya, Sah juga!



Keesokan harinya, sekitar jam 10. Laila dan keluarganya datang ke rumah sakit. Ada tiga mobil yang menyertai Laila. Laila saat ini menggunakan kebaya putih dan bermake up sangat cantik. Pernikahan yang direncanakan tadi malam sudah siap dilaksanakan.


Mereka masuk ke ruangan Kiai Maulana. Di sana tampak Kiai Maulana masih memejamkan mata. Umi Hasanah tampaknya sedang pergi ke luar, Ilham tampak tertidur di sofa. Keadaan Ilham sungguh mengenaskan. Lusuh dan lecek. Semalaman Ilham tidak bisa tidur, karena keadaan Kiai Maulana tadi malam sangat kritis.


Baru selepas shubuh tadi, Ilham baru bisa tidur. Laila tadinya akan membangunkan Ilham, tapi di cegah oleh ayahnya. Keluarga Laila yang mau menghadiri pernikahan sekarang duduk di luar, menunggu kedatangan Umy Hasanah, yang entah sedang pergi kemana.


"Laila, biarkan Gus Ilham tidur dulu. Kasihan, tampaknya semalaman dia gak bisa tidur. Kita tunggu dulu di luar. Ayo!" ajak ayahnya lalu pergi membawa Laila ke luar. Laila meletakkan makanan dan beberapa keperluan untuk di rumah sakit, seperti tikar, bantal, termos air panas, dll.


"Umy, assalamualaikum!" ucap Laila saat melihat calon mertuanya tergopoh-gopoh dari arah apotik rumah sakit. Semua keluarga Laila yang tadi datang dengan ayahnya menyalami Umi Hasanah.


"Maafkan, ya! Ini masih belum kondusif keadaan disini. Sebentar, saya bangunkan Ilham dahulu." Umi Hasanah segera masuk ke ruangan setelah menyalami semua keperluan Laila yang berniat untuk menghadiri pernikahan Ilham dan Laila.


"Ilham, sayang! Ayo bangun! Itu calon istrimu dan penghulu sudah datang!" Umi Hasanah menggoncang tubuh Ilham, agar bangun. Ilham yang memang masih ngantuk dan lelah, hanya menguap dan masih belum ada tanda-tanda mau bangun. Laila yang melihat calon suaminya saat itu terlihat sangat tampan, wajah khas baru bangun tidur, hatinya kebat kebit.


'Ya Allah, punya amal apa diriku, dimasa lalu?. Sehingga di jodohkan dengan pria tampan dan Sholeh ini? Terima kasih, ya Allah!' doa laila.



Visualisasi Ilhamuddin El Fahrizi


Laila masih terpesona dengan ketampanan calon suaminya. Ilham tampak membuka matanya, masih berusaha mengumpulkan nyawanya yang masih beterbangan di alam mimpi.


"Umi, Ilham ngantuk banget!" ujar Ilham sambil menguap dan meregangkan tubuhnya.


'Ya Allah, ini calon laki gue, baru bangun tidur aja, gantengnya gak ketulungan. Pantesan aja banyak cewek-cewek pada keedanan sama calon laki gue!' bathin Laila makin jatuh dalam pesona Ilham yang tidak terbantahkan.


"Maaf, ya, Pak, Laila! Tadi malam kondisi Abah sangat kritis, kami jadi tidak bisa tidur. Ilham baru tadi selepas shubuh baru bisa tidur, harap maklum, ya?" ujar Umy Hasanah merasa gak enak.


"Iya, Bu Nyai, tidak apa-apa. Kami paham dengan kondisi di sini. Biar kami menunggu kesiapan Gus Ilham!" ujar ayahnya Laila sambil tersenyum.


"Astagfirullah, maafkan saya, Pak!" Ilham yang mulai ingat tentang rencana pernikahan nya dengan Laila, auto melek. Merasa malu dengan keadaannya. Ilham langsung bangkit dan pergi ke kamar mandi yang kebetulan ada di samping Laila. Laila hanya tersenyum melihat kegugupan calon suaminya.


"Santai saja, Gus! Kami bisa menunggu kok!" goda Laila sambil mengeringkan matanya ke arah Ilham yang gugup dan salah tingkah.


"Maaf, saya ke kamar mandi dulu!" Ilham langsung lari setelah mengambil handuk dan juga pakaian ganti. "Gus, ini pakailah!" Laila menyodorkan sebuah paper Bag ke arah Ilham.


"Apa ini?" tanya Ilham bingung.


"Pakaian untuk pernikahan kita!" jawab Laila dengan tersipu. Ilham auto memerah wajahnya. Umy Hasanah hanya bisa tersenyum melihat interaksi anaknya dan calon mantunya.


"Cepatlah mandi, Ilham! Itu penghulu dan tamu sudah pada datang dari tadi." ucap Umy Hasanah mengingatkan Ilham.


"Iya, Umy!" Ilham langsung masuk ke kamar mandi setelah mengambil paperbag yang Laila berikan.


"Sebentar, ya!" Umi Hasanah kemudian tampak sibuk menelpon.


"Ridwan, tolong kamu belikan seperangkat alat sholat, Al-Quran, lalu seperangkat perhiasan. Oh ya, jangan lupa belikan cincin pernikahan juga. Sebentar, saya tanya dulu ukuran jari menantu saya!" Umy Hasanah lalu mendekati Laila.


"18 Umy!" jawab Laila.


"Ridwan, Carikan Cincin pernikahan ukuran cincin 18 dan 20! Cepatlah, ajak beberapa santri untuk membeli semua perlengkapan pernikahan, seperti Make up, dll. Kamu paham bukan? Cepat yah, gak pakai lama. Umy tunggu di rumah sakit!" perintah Umy Hasanah lalu menutup telponnya.


"Maaf, pernikahan ini begitu mendadak, jadi tolong saya beri waktu sebentar, santri saya sedang membeli beberapa perlengkapan dan keperluan untuk pernikahan ini!" Umy Hasanah lalu mengajak calon menantunya untuk duduk di sofa di sebelahnya.


"Laila, mohon maaf, ya! Kalau pernikahan kalian jadi kaya begini. Aduh, Umy sungguh malu sekali. Nanti setelah Abahnya Ilham bisa keluar dari rumah sakit, kita adakan resepai walimah yang megah, kita undang banyak tokoh dan ulama. Ok, sayang?" ucap Umy Hasanah.


"Tidak apa-apa, Umy. Laila paham, ko! Situasi dan kondisinya memang tidak memungkinkan. Jangan khawatir, Laila bisa menerima semuanya dengan baik, Umy jangan cemaskan Laila maupun keluarga Laila." pada saat itu, Kiai Maulana juga tampak bangun dari tidurnya.


"Umy, apakah pernikahan Ilham benar-benar akan dilaksanakan sekarang?" tanya Kiai Maulana terbata-bata. Masih tampak pucat wajah beliau.


"Alhamdulillah, Pak Kiai! Kami pihak perempuan sudah siap, hanya tinggal menunggu mempelai pria saja!" ucap Ayahnya Laila dengan sumringah.


"Alhamdulillah, mohon maaf dengan ketidaknyamanan ini Pak Burhan, seharusnya pernikahan dengan kondisi sakral dan khidmat. Laila, maafkan kami, ya?" ucap Kiai Maulana dengan menitikan air mata, tanda haru dan sedih.


"Tidak apa-apa, Pak Kiai. Jangan cemaskan saya!" ucap Laila sambil tersenyum manis.


'Duh, Ya Allah, kalau gak dalam kondisi kaya gini, mana mau Gus Ilham menikah sama gue? Memang benar ya, di balik musibah selalu ada hikmah!' bathin Laila.


Belum apa-apa Laila sudah bucin dengan calon suaminya, yang sudah terkenal selalu menolah pinangan para gadis dan para Kiai yang ingin menjadi mertuanya. Ya, Ilham dan kisah cintanya dengan Kesya, bukan rahasia umum di Jawa Timur. Bagaimana tidak? Ilham gagal menikah dua kali dengan Kesya. Bagaimana tidak heboh coba? Pria the most wanted dengan pesonanya gagal menikah sampai dua kali.


Ilham keluar dari kamar mandi, wajahnya segar sekarang. Dengan tuksedo yang tadi di berikan oleh Laila, kini Ilham terlihat tambah keren saja. Laila auto melongo melihat calon suaminya yang begitu tampan. Bertepatan dengan itu, para santri yang tadi diperintahkan oleh Bu Nyai juga datang dengan pesanan tadi.


Akhirnya pernikahan akan segera dilangsungkan. Ilham sudah siap di depan penghulu, Laila sudah siap juga. Mereka duduk bersebelahan di depan ranjang Kiai Maulana. Untung ruangan itu kelas VVIP, jadi luas ukurannya. Beberapa orang bisa masuk dan menyaksikan pernikahan mereka berdua. Pak Burhan menikahkan anaknya sendiri tanpa perwakilan wali hakim.


"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Ilhamuddin El Fahrizi bin KH. Maulana dengan Putri kandung saya, Laila bingung Burhan dengan Mas Kawin seperangkat alat sholat dan Alquran. Serta seperangkat perhiasan seberat 30 gram dan uang 10 juta, di bayar tunai!" ucap pak Burhan khusuk.


"Saya terima nikah dan kawinnya. Laila binti Burhan dengan Mas Kawin tersebut di bayar tunai!" ucap Ilham dengan satu tarikan nafas.


"Bagaimana saksi? Sah?" tanya penghulu.


"Sah!" teriak semua yang hadir di sana.


"Alhamdulillah,akhirnya sah!" teriak Laila sangat bahagia. Ilham tersenyum dengan kekonyolan istrinya. Laila sangat cantik dengan balutan kebaya brokat khas Jawa timur.


Akhirnya Ilham menikah juga, Alhamdulillah.


Season satu ini, mengajarkan kepada kita, bahwa cinta itu tak selalu berakhir saling memiliki. Jodoh ada di tangan Allah, cinta tertinggi adalah ketika kita mengikhlaskan orang yang kita cintai untuk bahagia bersama orang lain. Jangan menghalalkan segala cara demi keegoisan cinta.


Memaafkan dan berdamai dengan masa lalu. Barulah kita bisa meraih kebahagiaan yang hakiki.


Season satu, tamat ya. Nanti kita lanjut ke season dua, kehidupan setelah Ilham menikah dengan Laila. Terima kasih kepada pembaca yang sudah setia dan selalu mendukung karya author.


Jangan lupa buat baca Karyo author yang lain, terima kasih sekali lagi.