
Ilham hanya diam saja, mendengar sindiran yang diberikan oleh Laila. Malas berdebat dan lelah jiwa raga. Rasanya Ilham sudah tidak bisa mentolerir lagi sifat Laila. Ilham sudah bulat, setelah kembali ke Indonesia, dirinya akan bercerai dengan Laila.
Tidak ada lagi rasa nyaman yang dirinya rasakan saat bersama dengan Laila. Umy juga merasakan hal yang sama. Tidak ingin berlarut dalam pernikahan yang salah. Setelah selesai berkemas, Ilham melihat pemandangan kota yang terlihat di atas balkon apartemennya. Kota Dubai yang eksotis dan sungguh luar biasa. Kota yang hampir tidak pernah mati, siang malam selalu sibuk dengan berbagai aktivitas para warganya.
Ilham menarik nafas dalam-dalam, sudah hampir tengah malam, tapi Adrian belum juga datang, "Apakah Kesya tidak jadi datang, untuk membawa Adrian kemari?" monolog Ilham.
Tak lama kemudian, terdengar bel berbunyi. Ah, Kesya selalu saja penuh dengan sopan santun, padahal apartemen ini miliknya, dia juga tahu sandi pintunya, masih juga memencet bel.
Ilham segera membuka pintu dan melihat Adrian yang langsung menghambur dalam pelukannya. Adrian wajahnya tampak bengkak, sepertinya Adrian menangis cukup lama. "Kamu kenapa jagoan?" tanya Ilham merasa heran karena melihat Adrian menangis.
"Kenapa Om pergi begitu saja di pesta? Adrian pikir Om sudah pulang ke Indonesia dan tidak mau bertemu dengan Adrian lagi, Hiks hiks!" Adrian memeluk leher Ilham dan menangis lagi.
"Maaf ya, Mas Ilham, Adrian jadi merepotkan begini!" ucap Andika dengan raut muka bersalah.
Ilham lalu menggendong Adrian untuk masuk ke dalam apartemen, "Ayo masuk, ada hal yang ingin saya bicarakan!" pinta Ilham kepada Andika.
"Baiklah, maaf sekali lagi, tengah malam datang mengganggu!" Andika sungkan sekali.
"Tidak apa-apa, kebetulan saya memang belum tidur. Oh ya, Mas Dika, sebelumnya saya mohon maaf, dan mengucapkan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya atas berkah dan kebaikan keluarga Abimana terhadap keluarga saya, selama kami tinggal di Dubai. Mengenai apartemen ini, saya mohon maaf, saya merasa bahwa saya tidak merasa berhak menerimanya, saya mohon dengan sangat, kepada Andika untuk mau menerima kembali!" ucap Ilham sambil menyodorkan surat-surat yang kemarin di berikan oleh Andika.
"Apartemen ini adalah hadiah Adrian untuk guru dan juga Om nya, saya tidak berhak untuk menerima kembali, coba kita tanya, apakah Adrian bersedia untuk menerima kembali atau tidak?" ucap Andika sambil melihat ke arah putranya yang masih menggelendot manja dalam pelukan Ilham.
"Sayang, Om Ilham mau mengembalikan hadiah yang sudah diberikan oleh Adrian, apakah Adrian mau menerima nya kembali?" tanya Andika.
"Apa yang sudah kita berikan tidak boleh di tarik kembali. Kalau Om tidak mau, jual saja atau sewakan apartemen ini.Nanti uangnya di kirim ke rekening Om Ilham!" ucap Adrian pasih, Adrian kecil sudah memiliki aura seorang pemimpin, Andika sungguh bangga sekali.
Bagi Ilham, kata-kata Adrian dan Kesya itu sudah seperti undang-undang baginya. Enggan menolak dan enggan membantah. Ilham menarik nafas dalam-dalam, lalu melihat Adrian yang menatap dirinya dengan tulus.
"Baiklah, Om akan menerima pemberian Adrian, nanti boleh apartemen ini di sewakan. Uang sewanya nanti tolong langsung di transfer ke yayasan kanker Indonesia, agar uang tersebut bisa menolong para penderita kanker yang tidak mampu. Semoga apartemen ini bisa menjadi ladang amal bagi Om, bagi Adrian, bagi Papah dan juga Mamahnya Adrian!" ucap Ilham pelan.
"Wah, Mas Ilham memang sangat hebat. Baiklah, besok saya akan membuat sebuah yayasan pusat kanker bagi para pakir miskin. Nanti Mas Ilham dan para asatizh bisa mengelola yayasan tersebut. Setiap bulan Abimana Group akan menjadi donatur tetapnya." Andika merasa sangat bahagia dengan ide yang diberikan oleh Ilham.
Ah, dua lelaki hebat yang mencintai Kesya ini sekarang malah terlibat pembicaraan serius dalam membangun yayasan bagi penderita kanker bagi para pakir miskin. Adrian sendiri sudah terlelap sejak tadi. Setelah sepakat, Ilham bersedia menunggu sampai yayasan yang mereka diskusikan malam ini terealisasi.
"Baiklah, Mas Ilham, sungguh, malam ini adalah malam terhebat saya, bisa berdiskusi dengan tokoh seperti Mas Ilham, yang berwawasan luas dan berhati emas. Saya sungguh sangat tersanjung sekali, malam ini akan menjadi malam paling bersejarah dalam hidup saya. Kita berdua membicarakan pembangunan yayasan yang akan memberikan banyak harapan untuk mereka yang tengah menderita di luar sana. Kesya sendiri menderita kanker rahim, sewaktu melahirkan Cakra, penyakit itu baru terdeteksi, saya meminta kepada dokter untuk mengangkat rahim Kesya, agar penyakit itu tidak kembali menyerang istri saya. Tapi saya belum memeriksa kembali kondisi istri saya saat ini." ucap Andika mulai sedih ketika mengingat penderitaan yang istri apabila penyakit itu kembali menyerang.
Ilham baru mendengar hal ini, hatinya mencelos dan terasa sedih. "Jadi ini yang mengakibatkan Kesya sampai koma begitu lama ketika melahirkan Cakra?" tanya Ilham dengan suara bergetar. Dua pria hebat yang mencintai Kesya tampak berkaca-kaca matanya, memikirkan nasib wanita yang mereka cintai.
Sungguh, apa yang ada di apartemen itu adalah pemandangan langka. Dua pria yang sama-sama mencintai Kesya, duduk berdua selama berjam-jam, berdiskusi tentang pembangunan yayasan dan sekarang menangis bersama untuk hal yang sama, kondisi kesehatan Kesya.
Kalau orang di luar sana, pasti pada gondok ketika melihat pria lain yang mencintai istrinya, atau ketika bertemu dengan orang yang telah merebut calon istrinya. Tapi mereka? Mereka malah tampak seperti teman lama yang tidak pernah bertemu. Ya, Kesya beruntung dicinta oleh pria hebat seperti mereka.
"Semoga kondisi Kesya membaik, dan tidak akan kembali penyakit itu dalam tubuh Kesya." Ilham berdoa dengan berderai air mata.
"Seharusnya, sejak awal mengandung Cakra, seharusnya digugurkan, karena itu sangat berbahaya bagi Kesya, tapi Kesya bersikeras untuk tetap mengandung dan melahirkan anak kami. Itulah yang membuat saya begitu bersyukur memiliki istri Kesya. Dia wanita yang sangat kuat dan hebat. Dia bahkan bisa menerima Amanda dan sekian banyak masa lalu kelam dalam hidup saya. Bahkan saya pribadi tidak mampu memaafkan diri saya sendiri. Tapi Kesya mampu menerima saya tanpa banyak keluhan maupun penolakan. Kesya mau membukakan pintu maaf dan keikhlasan merawat Putri kecilku yang baru aku ketahui keberadaan dirinya seperti anaknya sendiri, Saya sungguh takluk dalam kesabaran yang Kesya miliki." ucap Andika dalam keheningan malam yang semakin larut.
Setelah itu mereka berjanji akan bertemu di kantor Andika keesokan harinya. "Nanti sekretaris dan sopir saya akan menjemput Mas Ilham untuk datang ke kantor saya, baiklah, saya permisi dan mohon maaf, Adrian sudah merepotkan malam-malam begini!" Andika lalu pergi dan Ilham menggendong tubuh Adrian masuk ke kamar tamu, lalu tidur bersama dengan memeluk tubuh mungil Adrian yang tidak mau lepas darinya.