
Humairoh pulang ke rumahnya pada pukul 20.00 dia heran kenapa rumahnya begitu sepi padahal biasanya suaminya sudah ada di dalam rumah dan menyambut kedatangannya dengan senyumnya.
"Ke mana Mas Rahmat Kenapa tidak ada kehidupan di rumah ini?" tanya Humairoh merasa heran dalam keadaan rumahnya yang begitu sepi lengang dan tampak seperti tidak ada kehidupan di dalamnya.
Dengan langkah takut-takut, Humairah melangkahkan kakinya ke dalam kamarnya.
Humairoh mencari saklar lampu dan menghidupkan semua lampu yang ada di dalam rumahnya.
"Ya Allah sudah jam segini Kenapa Suamiku belum pulang?" tanya Humairah kepada dirinya sendiri kemudian dia pun masuk ke dalam kamar mereka.
Humaira melihat keranjang barangkali suaminya sedang tidur seperti kemarin. Tetapi dia melihat bahwa ranjang itu masih kosong bahkan belum tersentuh sama sekali. Terlihat dari ranjang yang masih begitu rapi seperti tadi pagi ketika dia meninggalkannya.
"Aneh banget seharian ini Mas Rahmat tidak menghubungiku sama sekali. Bahkan jam segini dia belum pulang ke mana dia ya?" Humairoh kemudian menelusuri semua rumahnya. Barangkali suaminya lagi di kamar mandi kah atau sedang mengangkut jemuran di belakang. Tetapi di setiap sudut rumahnya dia tidak melihat penampakan suaminya.
Perasaan Humairoh mulai tidak enak. Karena ini tidak biasa. Biasanya suaminya itu selalu menyambut kedatangannya. Tapi hari ini terasa berbeda. Entahlah! Pokoknya Humairoh merasa tidak nyaman dengan keadaan hari ini.
Humairoh kemudian mendudukkan tubuhnya di atas ranjang. Tanpa sengaja matanya melirik ke arah nakas. Dia merasa heran ada secarik kertas di atas sana.
Tiba-tiba saja jantung Humairah merasa berdetak lebih kencang ketika melihat secarik kertas yang ada di atas nakas itu.
"Apa ini? Tumben sekali Mas Rahmat meninggalkan catatan seperti ini!" ucap Humairoh keheranan.
Tetapi hatinya merasa ada yang salah dengan semua ini. Lalu dengan tangan gemetar Humairoh mulai membuka secarik kertas yang ditinggalkan oleh suaminya.
Secara perlahan Humairoh mulai membaca surat yang ditinggalkan oleh suaminya.
"Entah apa maksudnya kau menyembunyikan tentang identitas dan kehidupanmu. Tapi yang jelas, aku tidak bisa menerima semua kepalsuan ini. Tolong kau maafkan aku Humairah. Aku terpaksa meninggalkanmu! selamat tinggal istriku. Aku mencintaimu! Apabila kau ingin menikah lagi, aku membebaskanmu untuk melakukannya. Aku tidak mengekangmu untuk tetap menjadi istriku. Gunakanlah surat ini untuk meminta sigat taklik kepada pengadilan agama. Sehingga kau bisa menikah lagi dengan pasanganmu yang baru. Aku mendoakan semoga kehidupanmu bahagia bersama pasanganmu yang baru. Pasangan yang sepadan denganmu. Maafkan aku yang selama menjadi suaminya tidak bisa memberikan yang terbaik untukmu dan tidak bisa membuatmu bahagia. Satu yang Pasti bahwa aku sangat mencintaimu! 😠ðŸ˜
Seketika Humairoh menjatuhkan surat tersebut ada perasaan sesak di dadanya ketika dia membaca surat yang ditinggalkan oleh suaminya.
"Ya Allah apakah Mas Rahmat sudah mengetahui tentang identitasku? Apakh dia marah padaku? Bagaimana dia tahu tentang aku? Dari mana dia tahu?" begitu banyak pertanyaan yang ada di dalam kepala Humairoh tetapi tidak ada satupun yang berhasil dia temukan jawabannya.
"Ah, Ayana, Ayana! Aku harus bertanya kepada dia. Pasti Ayana tahu tentang Mas Rahmat!" dengan tangan gemetar ayahnya kemudian mencari ponsel dan segera menghubungi ayahnya untuk menanyakan tentang suaminya.
"Assalamualaikum! Ayana?' ucap Humairoh kepada keponakannya.
"Waalaikumsalam! Ada apa Bi? Malam-malam begini menelpon?" tanya Ayana kebingungan karena tidak biasanya bibinya menelpon pada jam seperti itu.
"Ayana? Apakah kau tahu di mana pamanmu kenapa sampai jam segini pamanmu belum pulang?" tanya Humairoh dengan suara gemetar.
"Tadi pagi om Rahmat datang ke apartemen Ayana. Dan dia minta izin katanya mau pergi ke luar kota bersama teman-temannya. Dia memberikan kunci mobil setelah itu langsung pergi. Memangnya Om Rahmat tidak bilang sama bibi kalau mau pergi?" tanya Ayana tampak keheranan.
"Tadi pagi om kamu keluar rumah dari subuh. Tidak mengatakan apapun sama Bibi. Begitu Bibi pulang, tidak ada pun di rumah. Om kamu hanya meninggalkan secarik kertas di nakas. Mengatakan kalau dia akan pergi. Apakah kau menceritakan tentang bibi kepada pamanmu Ayana?" tanya Humairoh dengan histeris.
"Dia tidak pernah bertanya! Lalu apa yang mau bibi katakan? Apakah Bibi salah?" ucap Humairoh dengan nada tinggi.
"Tapi tetap saja Bi Paman pasti merasa marah Bayangkan saja 30 tahun menikah sama bibi. Paman berpikir kalau bibi itu orang miskin. Ternyata Bibi ini seorang konglomerat. Apa Bibi pernah memikirkan perasaan paman? Aih saya saja merasa jengkel memikirkannya!" ucap Ayana menerangkan perasaannya saat ini.
" Tapi dari mana pamanmu tahu tentang identitas Bibi yang sebenarnya selama ini kan dia selalu sibuk bekerja? Tidak pernah peduli dengan apapun yang Bibi lakukan!" ucap Humairoh menerangkan tentang kebingungannya.
"Tadi pagi Paman kan minta izin untuk tidak bekerja sama Ayana. Apa mungkin waktu itu digunakan oleh Paman untuk menyelidiki tentang bibi? Coba deh Bibi periksa aja CCTV di perusahaan. Siapa tahu Paman datang ke sana dan mengetahui tentang identitas Bibi sebenarnya!" ucap Ayana memberikan sebuah solusi kepada Humairah untuk mengetahui kejadian yang sebenarnya.
"Ah kau benar Ayana. Besok Bibi harus memeriksa semua CCTV di perusahaan. Kalau betul Pamanmu datang ke perusahaan pasti akan terekam di sana. Ya sudah kau Tidurlah Bini juga akan istirahat!" ucap Humairoh kemudian berniat untuk menutup panggilan telepon tersebut.
Tetapi Ayana menahan.
"Bi Sebentar dulu! Bagaimana tentang pembelian perusahaan Sugandi? Apakah sudah goal?" tanya Ayana kepada bibinya.
"Tadi pagi sudah Bibi urus semuanya. Besok bisa kau urus untuk serah terimanya Kok bisa Datang temui sekretaris bibi kena Bibi ingin mengurus masalah pamanmu ini!" ucap Humairoh kemudian dia langsung menutup panggilan tersebut.
Berkali-kali Humairah mencoba untuk memanggil nomor telepon suaminya. Tetapi ternyata dia mendapatkan kenyataan bahwa nomornya sudah diblokir.
" Ya ampun nih orang sudah tua aja gayanya seperti anak muda main blokir-blokir nomor segala!" rutuk Humairoh dengan kelakuan suaminya yang aneh bin ajaib.
Humairoh kemudian pergi ke ruang kerjanya mencari di ponselnya yang lain dan akan menelepon suaminya dengan menggunakan ponsel itu.
Berkali-kali dia terus menelepon Tetapi dia mendapatkan kenyataan bahwa nomor itu sudah tidak digunakan lagi.
"Mau apa pria tua ini? Sudah tua juga, masih saja bersikap seperti anak muda. Ada masalah bukannya di bicarakan baik-baik main kabur aja!" Humairo kesal sekali karena dia sudah kehilangan akal untuk bisa menghubungi suaminya.
Selama berjam-jam Humairoh hanya bolak-balik di kamarnya. Tidak bisa tidur tidak bisa melakukan apapun.
"Ah kenapa aku bodoh sekali? Seharusnya dari tadi aku menghubungi dia!" Humairoh kemudian mengambil ponselnya lagi dan menghubungi detektif yang biasa dia gunakan untuk menyelidiki perusahaan- perusahaan yang akan dia berikan investasi.
"Assalamualaikum!" Humairoh memberikan salam kepada detektif langganannya.
"Waalaikumsalam, Nyonya! Ada apa malam-malam begini menghubungi saya?" tanya detektif tersebut merasa bingung.
"Tolong kau selidiki tentang kepergian suamiku. Tepatnya kemarin. Kau bisa mencari informasi di sekitar rumah saya maupun di sekitar perusahaan!" ucap Humairoh memberikan perintah kepada detektif tersebut.
"Tolong Nyonya kirimkan foto suami Anda dan juga beberapa informasi detail lainnya supaya memudahkan saya untuk menyelidiki kasus ini!" ucap detektif tersebut.
"Kalau saya tahu detail-detailnya. Saya tidak akan mungkin menghubungimu. Dasar kau bodoh! Kau saya hubungi karena aku ingin kau mencari informasi tentang suamiku. Kenapa kau buat kepala saya pusing dengan apa yang kau minta itu, Dasar bodoh!" maki Humairo dan langsung membanting ponselnya karena sangking jengkelnya terhadap detektif bodoh tersebut.