
"Lagi?" ya Rasya sambil menatap tajam ke arah Thomas yang sekarang sedang menatapnya dengan mata elang miliknya.
" Apa maksudmu lagi?" tanya Thomas seakan tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Rasya.
"Iya, lagi! Kau selalu mencampuri urusanku. Apa sih senangmu?" tanya Rasya sambil menatap tajam ke arah Thomas.
Thomas jadi salah tingkah karena ditatap terus seperti itu. Thomaspun kemudian meninggalkan Rasya seorang diri di sana.
"Dasar orang aneh!" ucap Rasya kemudian dia kembali ke kelas karena bel sudah berbunyi, tanda bahwa waktu istirahat telah usai sekarang. Waktu belajar kembali.
Rasya hanya menatap saja kepada Thomas yang duduk di sampingnya tidak peduli apa yang dia lakukan.
Setelah pelajaran berakhir. Mereka pun kemudian langsung pulang ke rumah mereka masing-masing.
Rasya merasa terkejut ketika sampai di depan gerbang sekolah, dia mendapatkan ayahnya sudah melambaikan tangannya ke arahnya.
"Apa yang Papa lakukan di sini?" tanya Rasya seakan tidak percaya dengan pandangannya sendiri. Firman tersenyum menata putranya.
"Apakah salah kalau Papa menjemputmu? Kau putraku! Bukankah mamamu masih mabuk di rumah, jadi pasti tidak ada waktu untuk menjemputmu!" ucap Firman sambil tersenyum kepada Rasya.
Rasya kemudian mengikuti ayahnya masuk ke dalam mobil dan kemudian mobil pun melaju ke arah rumah kediaman Rasya dan ibunya. Sampai di rumah Rasya masih mendapati ibunya tergeletak di sofa, tampak tidak sadarkan diri. Syafa masih mabuk!
Firman hanya menggeleng saja, ketika melihat Syafa yang masih belum juga bangun sejak tadi pagi. " Papa merasa lebih baik kau tinggal bersama Papa saja, Rasya! Tidak sehat. Kalau kau harus terus melihat pemandangan semacam ini!" ucap Firman menggeram karena marah.
"Tidak, Pah! Rasya tidak akan pernah meninggalkan mama. Saat ini hanya Rasya yang dimiliki Mama. Rasya bisa mengerti perasaan Mama saat ini. Papa pulang saja sekarang. Jangan khawatirkan Rasya dan Mama Bukankah itu adalah pilihan Papa untuk hidup bersama tante Laila?" ucap Rasya kemudian dia naik ke lantai atas meninggal ayahnya sendiri.
Firman kemudian pergi meninggalkan kediaman itu, tanpa mengatakan apapun. Karena dia sedang malas untuk ribut bersama dengan Syafa.
Begitu melihat ayahnya pergi, Rasya pun kemudian turun ke lantai bawah, untuk membangunkan ibunya. Rasya berusaha untuk menyuruh ibunya untuk makan.
Firman membawakan makanan kesukaan Rasya sehingga sekarang rasa bisa menyuapi ibunya yang mulai terbangun dan sadar.
"Kamu sudah pulang dari sekolah?" tanya siapa sambil memicingkan matanya yang terasa silau karena cahaya.
"Mamah makan dulu ya? Ini, tadi Rasya membelinya di jalan, ketika perjalanan pulang dari sekolah!" ucap Rasya kemudian menyerahkan bungkusan makanan yang dia bawa kepada ibunya.
Tampak Rasya mulai menangis tersedu-sedu sehingga membuat rasa merasa keheranan.
"Kenapa Mama bukannya makan, malah menangis?" tanya Rasya sambil menatap tajam ke arah ibunya.
Kesalahan keluarganya, membuat Rasya kini semakin matang dalam sikap maupun pribadinya. Kedewasaan yang terlalu dipaksakan karena keadaan.
"Sudaah, Mah! Jangan memikirkan hal yang aneh-aneh. Ayo Mama makan atau ingin rasa Suapin Mama?" tanya Rasya kepada mamanya.
Syafa tampak menggeleng pelan, kemudian dia mulai menyuapkan makanan ke mulutnya mengunyahnya dengan pelan dengan air mata yang terus bercucuran.
"Ini minumannya, Mah!" Syafa terhenyak di tempat, dan Rasya melayani kebutuhan ibunya dengan telaten sekali, sehingga membuat Syafa semakin terhenyak. Hatinya semakin terenyuh, ketika melihat putranya yang begitu memperhatikan dirinya.
"Maafkan Mama, Rasya! Sekarang bukan mama yang mengurusmu, tetapi kamu yang sibuk mengurus mama. Mama betul-betul orang tua yang buruk untukmu! Hiks hiks!" siapa dengan terharu dan dengan suara yang tersedu-sedu, Syafa menangis terus.
Rasya menatap tajam kepada ibunya, kemudian dia memeluk tubuh ibunya yang seakan hendak ambruk. Keadaan ibunya saat ini memang sangat memprihatinkan.
"Mah, ada Rasya di sini, selalu bersama mama. Tolong berbahagialah, Mah! Jangan kau hancurkan hidupmu lagi seperti ini. Di sana papa bahagia, kenapa di sini mama harus hidup menderita? Itu tidak adil untuk kita, Mah!" ucap Rasya sambil terus memeluk tubuh ibunya yang semakin bergetar dalam tangis. Syafa sungguh tidak bisa meredam kesedihan yang dia rasakan saat ini.
"Segeralah tanda tangani surat perceraian itu, Mah! Agar semuanya segera beres dan kita bisa memulai Lembaran Baru hidup kita, dengan lebih bahagia!" ucap Rasya di tengah Isak tangisnya. Karena dia sudah tidak tahan melihat ibunya yang terus menyiksa dirinya sendiri seperti itu.
"Mama akan menandatanganinya, Rasya!Mama pasti akan menandatanganinya, kalau itu akan membuatmu tenang!" ucap Syafa dengan suara gemetar.
"Mulailah hidup baru, Mah! Dan tolong untuk berbahagia. Jangan lagi menyiksa hidup Mama seperti ini!" pintar Rasya kepada ibunya yang kini semakin tergugu dalam tangis penuh kesedihan.
"Mama akan berusaha, Rasya! Mama pasti akan berusaha demi kamu!" ucap Syafa kembali menangis.
Rasya kemudian membimbing ibunya untuk masuk ke dalam kamar. Rasya merasa sangat prihatin melihat keadaan ibunya. semakin hari semakin kurus dan nampak sangat tertekan.
"Mama tidur di ranjang dulu ya? Rasya akan menyiapkan air hangat untuk mama mandi!" Rasya pun masuk ke kamar mandi ibunya, dan mulai menyalakan air. Rasya berusaha menyesuaikan kehangatan air mandi untuk ibunya, agar Ibunya bisa merasakan nyaman saat berendam di sana.
Mata Rasya penuh derai air mata, saat Rasya melakukan semua itu. Hatinya berusaha untuk kuat, tetapi tetap saja, akhirnya runtuh juga. Ketika melihat keadaan ibunya yang begitu mengenaskan.
"Ayo, Mag! Mama mandi dulu, Rasya sudah menyiapkan air hangat untuk mama. Mama berendamlah, agar tubuh Mama lebih rileks, dan pikiran mama jadi lebih tenang!" ucap Rasya sambil membimbing ibunya masuk ke kamar mandi.
Rasya kemudian menutup pintu kamar mandi dan membiarkan ibunya mandi sendiri.
Sementara itu Rasya masuk ke kamarnya sendiri dan mengganti pakaian sekolahnya dengan pakaian santai.
Rasya kemudian mencari ponselnya dan menghubungi ayahnya lagi, "Halo Pah, mama sudah setuju untuk menandatangani surat itu. Besok Papa bisa membawanya lagi!" ucap Rasya dengan suara gemetar. Suaranya tercepat di tenggorokan, karena kesedihan yang begitu mendalam di hatinya.
Kasihan sekali Rasya saat ini, di usianya yang baru menginjak angka 12 tahun, dia harus menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, kehancuran rumah tangga kedua orang tuanya. Lebih kejam lagi, dia ikut ambil andil di dalamnya, dengan membujuk ibunya untuk mau menandatangani surat perceraian dari ayahnya. Hanya karena Rasya takut ibunya masuk penjara, karena usaha percobaan pembunuhan istri baru ayahnya beserta bayi dalam kandungan ibu tirinya.