
Setelah menerima telepon dari Rasyid, Kesya memutuskan untuk membawakan makan siang untuk sang suami di kantornya.
Kesya sudah siap dengan bekal yang tadi disiapkan oleh pembantu di rumahnya. Dengan di antar oleh supir, Kesya menuju ke kantor Andika. Kesya sengaja mau memberikan surprise buat sang suami. Sengaja tidak memberitahukan kedatangannya ke kantor suaminya. Kesya memang jarang datang ke sana. Kesibukan yang padat, membuat Kesya hanya bertemu Andika kalau malam saja. Setelah Andika pulang kerja dan Kesya pulang dari kampusnya.
Kesya sudah sampai di loby kantor suaminya yang sangat megah. Mertua Kesya memang bisa dikatakan seorang konglomerat. Perusahaan dia dimana-mana. Di Indonesia saja ada hampir 10 perusahaan yang dibawah komando sang suami. Tidak heran kalau Andika hidupnya bergelimang harta dunia. Banyak artis dan model yang selalu mendekati sang suami. Kesya sudah kebal dengan Mereka. Selama sang suami tidak menanggapi rayuan mereka.
Kesya sudah ada di depan pintu ruangan suaminya. Tapi langkahnya terhenti, saat tanpa sengaja Kesya mendengar ******* saling bersahutan di ruangan suaminya. Kesya menguatkan hatinya, sebelum membuka gagang pintu ruangan itu.
kreek
Suara gagang pintu di buka. Mata Kesya langsung tertutup, saat di sana. Disofa, Kesya melihat suaminya sedang bergumul dengan seorang wanita tanpa busana. Kesya tahu itu adalah sekretaris suaminya. Sekuat tenaga Kesya menahan linangan air mata yang hampir terjatuh.
Mereka fokus dengan kegiatan mereka, jadi tidak sadar dengan kehadiran Kesya. Andika tampak memimpin permainan itu, tampak sangat bersemangat. Hingga lolongan pelepasan terdengar menggema di ruangan itu. Kesya merekam hubungan zina sang suami. Kesya akan menggunakan rekaman itu kalau suatu saat membutuhkan nya. Tanpa banyak bicara, Kesya langsung pergi dari ruangan suaminya. Tidak mau kalau mereka tahu kedatangannya.
Setelah sampai di loby perusahaan, Kesya memberikan bekal makan siang yang dia bawa kepada satpam perusahaan. Lalu berpesan.
"Jangan katakan kepada suami saya, kalau tadi saya kesini!" satpam yang bingung hanya mengangguk saja. Berterima kasih dengan bekal makan siang yang tadi diberikan Kesya.
"Pak, kita ke mall ya. Saya mau beli keperluan untuk Adrian. Oh ya Pak. Tolong jangan katakan kepada siapapun, tentang kedatangan saya ke kantornya Tuan ya." pesan Kesya kepada Pak Anto, supir yang sudah setia bekerja di rumahnya.
Tidak ada air mata sama sekali yang menetes di pelupuk mata Kesya setelah menyaksikan Live, pergumulan sang suami dengan sekretarisnya.
"Kenapa aku baru tahu kalau Mas Dika seperti itu ya? Kemana aja aku selama ini? Aku benar-benar seorang istri yang gagal!" bathin Kesya.
Setelah berbelanja hal yang dibutuhkan, Kesya langsung pulang ke rumahnya. Kesya lalu menelpon suaminya.
"Assalamualaikum, Mas. Kamu pulang malam ini?" tanya Kesya bergetar suaranya.
"Waalaikum salam, tentu sayang. Bukankah aku selalu pulang ke rumah?" tanya Andika bingung.
"Jam berapa Mas pulang?"
"Seperti biasanya, kamu mau titip sesuatu? Nanti Mas bawakan kalau mau." tawar Andika disebrang sana. Kesya tampak mengerutkan keningnya.
"Ah...... ah... ya sudah sayang, nanti Mas hubungi lagi!" Andika langsung menutup panggilan tanpa menunggu jawaban Kesya.
"Sayang, kamu nakal ya. Mas lagi terima telpon malah kamu jahilin!" Andika menatap wajah kekasihnya yang tadi menggodanya. Wajah kekasihnya sedang ada di bawah meja kerjanya.
Elena memang sekretaris plus plus Andika. Sudah dua bulan Andika dimanjakan olehnya. Sehingga membuat Andika jadi lupa istri dan anak di rumah.
Elena adalah mantan kekasih yang belum berhasil dilupakan oleh Andika. Dua bulan lalu mereka bertemu tanpa sengaja. Andika yang merasa kasihan kepada Elena yang lagi butuh kerjaan dan butuh biaya pengobatan adiknya, lalu menawarkan kerjaan sebagai sekretarisnya.
Kisah cinta mereka yang memang belum usai, akhirnya berlanjut menjadi hubungan terlarang. Andika memang selalu pulang tepat waktu. Tetapi Mereka berdua mengisi waktu bekerja untuk berbuat hal yang tidak senonoh di kantor Andika.
"Kapan Mas pulang ke apartemen aku?" tanya Elena sambil bergelayut manja di lengan Andika.
"Mas gak bisa. Mas cuma bisa kasih kamu waktu selama kita di kantor. Pulang kerja adalah waktu bagi anak dan istri Mas. Pahami itu!" Andika langsung keluar dari kantornya tanpa memperdulikan Elena yang ngambek padanya.
"Awas kamu ya, Mas! Hanya masalah waktu, kamu pasti akan bertekuk lutut kembali padaku!" ucap Elena penuh semangat.
Kesya langsung menutup telepon setelah Andika menutupnya tanpa permisi.
"Sejak siang tadi, bahkan sampai jam kerja selesai, mereka masih begituan? Astagfirullah! Ya Allah jagalah hamba dan keluarga hamba dari godaan jin danshim, yang selalu meniupkan perselisihan dalam rumah tangga setiap umat Muhammad!" Kesya memutuskan untuk sholat sunah dan murajaah hafalannya.
Saat Andika sampai ke rumah, melihat Kesya masih asyik masyuk bermesraan dengan sajadah dan Alquran. Andika menatap sang istri yang masih belum menyadari kehadiran dirinya.
"Ya Allah, selalu kuatkan hamba dalam menjalani rumah tangga ini. Lindungi kami ya Allah! Sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pelindung. Amien!" Kesya lalu membuka mukena dan melipat sajadah. Mencium Alquran dan meletakkan di meja nakas di samping tempat tidurnya. Kesya terkejut saat mengangkat kepalanya, Andika tengah menatapnya dengan tatapan sendu dan terlihat ada linangan air mata.
"Assalamualaikum, Mas!" Kesya lalu mencium tangan Andika lalu membantunya melepaskan jas dan dasinya. Kesya memberikan air minum untuk suaminya. Semua dilakukan dalam diam.
"Waalaikum salam, sayang!" Andika mendekati Kesya dan berniat akan mencium bibir sang istri. Namun Kesya langsung ke luar kamar.
"Maaf, Mas! Kesya siapkan makan malam dulu!" Andika terkesiap dengan Kesya yang menghindari dirinya saat akan mencium bibirnya. Tidak biasanya. Kesya selalu bersikap romantis kepadanya. Setelah pulang kerja, biasanya akan menghabiskan waktu berdua di ranjang mereka. Sambil menunggu Adrian bangun dan makan malam selesai di siapkan oleh pelayan.
"Sudahlah, mungkin istriku sedang lelah setelah kuliah seharian dan ngurus anak serta rumah sebesar ini!" Andika lalu pergi ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Setelah selesai, Andika menggunakan pakaian yang sudah disiapkan oleh istrinya.
"Kok tumben, Kesya gak kembali-kembali. Aku padahal kangen banget sama dia. Aku susul aja kali ya di bawah!" Andika lalu menuju lift yang akan membawa dirinya ke lantai dasar.
Rumah Andika memiliki lima lantai. Setiap lantainya memiliki fungsi berbeda. Kesya yang merancang desain rumah mereka. Andika selalu menuruti apapun permintaan sang istri.
"Sayangnya Papah! Papah kangen sekali!" Andika langsung menggendong Adrian yang sudah rapi dan wangi. Jam makan malam memang sudah tiba. Kesya masih sibuk di dapur, tampak dia akan naik ke atas. 'Mau mandi mungkin' bathin Andika.
Andika sebenarnya heran dengan sikap istrinya hari ini. Dia tampak pendiam sekali. Dari dirinya pulang sampai makan malam selesai, Kesya tetap diam dan tidak menyapanya. Kesya hanya fokus bermain bersama Adrian. Mengacuhkan Andika yang bingung, tidak mengerti dengan Kesya yang tidak biasa. Andika ingin mendekati tapi Kesya selalu menghindari dirinya. "Aneh sekali! "
"BI, tadi Nyonya pergi kemana saja?" tanya Andika kepada pembantu dirumahnya. Pembantu Andika sudah tua, di bawa dari Indonesia oleh orang tua Andika, untuk melayani anak dan menantunya.
"Tadi siang Nyonya bilang mau ke kantor Tuan. Mau mengantarkan makan siang katanya. Tapi pas pulang Nyonya langsung ke kamarnya dan tidak mau keluar, baru pas Tuan pulang, Nyonya mau keluar kamar!" ucap sang pembantu.
"Nyonya tadi ke kantor?" ulang Andika. Seketika jantungnya mencelos. Hatinya tak tenang. Nafas Andika jadi tak beraturan.
"Ya Allah! Apa Kesya melihat perbuatanku dengan Elena tadi di kantor?" Andika seketika lemas kedua kakinya, badannya seakan tak bertulang. Hatinya mulai cemas