
Ayana dengan terpaksa tidur di depan sebuah toko kecil yang dilewati.
" Biarlah tidak apa-apa. Malam ini aku akan tidur di sini. Besok pagi aku akan mencari kontrakan agar aku bisa hidup lebih layak di negara ini!" ucap Ayana bermonolog dengan dirinya sendiri.
" Benar-benar hari yang berat dan benar-benar kenekatan yang gila." ucap Ayana kepada dirinya sendiri.
Akhirnya karena kelelahan yang luar biasa Ayana pun terlelap dengan berbantalkan koper yang dia bawa dari Jakarta.
Uang dan juga dokumen-dokumen resminya sudah dia sembunyikan di balik tubuhnya, berjaga-jaga untuk keamanan. Jangan sampai apabila koper maupun tasnya dicuri orang dia tidak akan mengalami kesulitan.
Hal itu dipelajari dari banyaknya kasus para pelancong. Apabila mereka menaruh barang-barangnya di dalam koper kemudian dicuri orang. Pasti akan mengalami kesulitan yang sangat luar biasa. Dari situlah Ayana belajar untuk mengamankan ponsel, dokumen-dokumen resmi maupun uang yang dia miliki dengan melekat di dalam dirinya. Artinya Ayana menyimpan itu semua tersembunyi di bagian tubuhnya yaitu di sepatu boot yang dia kenakan.
Ayana tidak mengetahui. Apabila bibinya telah mengirimkan beberapa Bodyguard untuk mencari keberadaannya di Australia. Bahkan ponselnya pun sudah di lacak keberadaannya oleh Humairoh.
Sejak semalam Humaira sebenarnya sudah mengetahui keberadaan Ayana. Hanya saja dia ingin melihat seberapa hebat kemampuan Ayana dalam menghadapi kejamnya dunia luar, sehingga dia bisa belajar dan bersikap lebih dewasa dalam menanggapi segala permasalahan hidupnya saat ini.
" Nyonya Ayana sudah kami temukan keberadaannya. Bagaimana apa yang harus kamu lakukan?" ucap salah satu Bodyguard.
" Kau ikuti saja dulu dan kita lihat seberapa hebat Ayana menghadapi masalah yang menimpa dirinya!" titah Humairoh.
" Baiklah Nyonya kami akan memantaunya dari kejauhan dan akan kami pastikan bahwa keberadaannya aman!" ucapnya.
" Billy pastikan kau berada di jarak jauh dengan Ayana dan jangan sampai dia merasa curiga dengan Keberadaanmu!" perintah Humairoh kemarin siang.
Billy mengangguk dan kemudian dia pun meninggalkan Humairoh di kantornya.
Humairoh datang ke Australia sekalian untuk mencari Ayana dan juga memantau perusahaan miliknya yang ada di Australia.
" Aku akan bertanya kepada Ayana tentang alasan dia kabur dari Agus. Kalau misalkan alasannya masuk akal. Maka akan ku biarkan Ayana untuk mengurus perusahaan ini sehingga dia tidak lontang-lantung di Australia!" ucap Humairoh sambil mengawasi Ayana di CCTV yang sudah dipasang oleh anak buahnya di tempat Ayana saat ini berada.
" Kau cukup hebat Ayana! Kau bisa tidur di depan toko itu tanpa merasa takut apapun!" Puji Humairoh menatap Ayana yang sudah mulai terlelap.
" Billy sekarang Ayana sudah mulai terlelap segera kau bawa dia ke hadapanku!" perintah Humairoh di dalam ponselnya kepada Billy.
" Baik nyonya akan segera saya bawa Nona Ayana ke hadapan anda!" ucap Billy kemudian dia langsung menutup panggilan teleponnya.
" Ayo kita bawa Nona Ayana ke hadapan Nyonya Humairoh!" perintah Billy kepada anak buahnya yang sejak tadi sudah stand by di dekat Ayana.
" Ingat lakukan dengan hati-hati dan jangan sampai membuat Nona Ayana kaget dan akhirnya membuat keributan di tempat ini!" bisik Billy ke arah rekannya dan mereka hanya mengangguk saja mematuhi segala perintah Billy sebagai kapten mereka.
Dengan perlahan Mereka pun kemudian mendekati Ayana yang tampak terlelap dalam tidurnya.
" Sungguh kasihan seorang Nona besar seperti dia, harus mengalami kehidupan seperti ini hanya karena cinta!" ucap salah satu rekan Billy ketika dia melihat Ayana yang tertidur dengan beralaskan koper miliknya.
" Jangan sembarangan mengambil argumen sendiri. Sebelum kau mengerti permasalahan apa yang dihadapi oleh Nona Ayana dan Tuan Agus!" tegur Billy tidak senang dengan pendapat teman-temannya tadi.
" Benar apa yang kita lihat belum tentu adalah suatu kebenaran. Jangan selalu menilai sesuatu dari covernya!" ucap yang lainnya
Mereka bertiga kemudian langsung mengangkat tubuh Ayana yang tampak terlelap dan tidak terganggu dengan aktivitas yang mereka lakukan.
Sementara Billy segera mengangkat koper yang dibawa oleh Ayana dan segera memasukkannya ke dalam bagasi.
" Ayo kita harus segera membawa Nona Ayana ke kediaman Nyonya Humaira!" ucap Billy memberikan perintah kepada sopir yang sedang bertugas hari ini.
" Siap Tuan Billy!" ucap sopir tersebut.
Mereka semua kemudian langsung menutup pintu mobil dan segera menuju ke kediaman Humairoh yang berada di Australia.
Begitu mereka sampai, mereka langsung mengangkat tubuh Ayana yang seperti pingsan. Padahal mereka tidak memberikan obat bius kepada perempuan itu.
Begitu mereka keluar dari mobil. Tiba-tiba saja Ayana membuka matanya dan langsung menghajar salah satu di antara mereka.
" Ayana hentikan semua kegilaanmu!" ucap Humairoh dengan berkacak pinggang melihat Ayana yang saat ini sedang menghajar anak buahnya.
" Bibi Bagaimana bibi bisa ada di sini?" tanya Ayana gugup.
" Tentu saja Bibi datang kemari untuk mencari kamu Ayana! Kau kira mau ngapain Bibi ke sini hm?" tanya Humairoh sambil menatap tajam ke arah Ayana yang sekarang menunjukkan kepalanya.
" Ayo sekarang masuk ke dalam karena Bibi ingin bicara denganmu!" perintah Humairoh kepada keponakannya.
Karena merasa sungkan dan takut kepada Humairoh. Akhirnya Ayana pun mengikuti perintah bibinya dan mengikuti Humairoh tanpa banyak cakap.
" Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan Ayana? Kau benar-benar mengecewakan bibi!" tegur Humairoh begitu mereka berdua duduk berhadapan di ruang tamu di mansion milik Humairoh yang ada di Australia.
Ayana menundukkan kepalanya merasa takut kepada bibinya. Sementara itu Humairoh terus menatap tajam kepadanya.
" Cepat katakan Ayana! Katakan semua dengan sejujurnya. Apa alasanmu pergi dari Indonesia dan meninggalkan suamimu begitu saja?" tanya Humairoh lagi dengan penuh kesabaran menunggu Ayana untuk siap menceritakan segalanya kepada dirinya.
" Karena saat ini Ayana sedang hamil!" ucap Ayana dengan suara serak.
" Bukannya seharusnya kau bahagia kalau kau sedang hamil? Kenapa kau malah pergi meninggalkan suamimu? Sungguh aneh!" ucap Humairoh sambil menggelengkan kepalanya.
" Masalahnya aku tidak tahu siapa ayah dari anak yang saat ini ku kandung! Hiks hiks!" ucap Ayana sambil meraup wajahnya dengan kedua tangannya. Kemudian dia menangis pilu.
" Bagaimana bisa kau hamil dan tidak mengetahui siapa ayahnya?" tanya Humairoh dengan menggelengkan kepalanya.
" Selama ini Ayana tidak pernah berhubungan dengan Agus Bi! Kami berhubungan cuman satu kali. Satu bulan yang lalu. Waktu itu di apartemen Ayana. Tetapi kehamilan Ayana sudah 2 bulan Bi. Ayana sangat bingung bagaimana mungkin Ayana bisa hamil 2 bulan, sementara kami berhubungan satu bulan yang lalu?" ucap Ayana dengan berderai air mata.
" Dengan siapa saja kau pernah berhubungan badan?" tanya Humairoh langsung menatap manik mata Ayana.
" Tidak pernah dengan siapapun Bi! Ayana buka perempuan semacam itu yang bisa tidur dengan siapapun!" jawab Ayana dengan sengit.
" Bukan begitu maksud bibi Ayana. Maksudnya, selama ini kau berhubungan dengan siapa saja? Maksudnya Bibi kau dekat dengan siapa saja? Mungkin di antara mereka ada yang menjebakmu tanpa kau sadari kau tidur dengan mereka!" ucap Humairoh menjelaskan kepada ayahnya agar tidak salah paham dengan pertanyaannya.