Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
275. Firman Memang sesuatu



Keesokan paginya Firman bangun dari tidurnya dan membangunkan sang istri untuk salat subuh bersama.


" Sayang, disini kan ga ada siapa-siapa. Apa kau tidak mau bermesraan sedikit saja denganku? Aku sangat rindu dengan kamu tahu ga sih? Dari kemarin kamu cuma janji aja sama aku!" rajut Firman kepada Laila ketika mereka selesai salat shubuh.


Laila menggelengkan kepalanya kemudian dia melipat mukenanya.


" Ayolah sayang. Sebentar saja ya? Aku akan kunci kamarnya dan kita bisa bercinta sejenak. Setidaknya sampe Yuke bangun!" Firman masih berusaha membujuk istrinya.


Laila mendekati Yuke yang masih terlelap tidur. " Anak kita sedang sakit Mas! Bisakah kau memiliki sedikit empati terhadap anakmu sendiri?" tanya Laila menatap tajam kepada suaminya yang mulai salah tingkah.


Firman mendekati Laila dan berusaha untuk memeluknya. Terlihat Firman sudah mulai mengelus-ngelus leher sang istri.


" Itu karena aku rindu sama kamu sayang!" ucap Firman masih berusaha membujuk.


" Sekarang Mas jemputlah papa dan juga pembantu yang ada di rumah untuk menjaga Yuke. Nanti setelah itu aku akan ikut denganmu pulang ke rumah. Aku akan mengatakan kepada Papah untuk mengambil kebutuhan Yuke di rumah!" ucap Laila yang akhirnya menyerah kepada sang suami yang langsung tersenyum dan segera mengambil kunci mobil untuk menjemput ayahnya.


Laila hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah laku suaminya.


Setelah meninggalkan Laila di rumah sakit, Firman kemudian menelepon ayahnya untuk segera bersiap-siap karena dia sedang dalam perjalanan untuk menjemput.


" Setelah ini akan ada rapat lagi dengan team dari Arman. Ah, benar-benar hari yang sangat melelahkan! Minggu depan kami harus segera berangkat Amsterdam rasanya akan sangat berat kalau harus berpisah dengan anak istri di rumah. Kalaupun mengajak Laila nanti Yuke, itu pun pasti amat sangat berabe!" ucap Firman tampak berpikir keras.


Setelah sampai di rumah ayahnya, Firman langsung berbicara dengan ayahnya mengenai rencananya untuk berangkat ke Amsterdam dalam rangka menggoldkan proyek baru yang dia terima dari perusahaan Humairah.


" Papa hanya berpesan kepadamu untuk selalu berhati-hati di sana. Tampaknya proyek itu memiliki banyak masalah dan kau tidak boleh terjebak di dalamnya!" ucap sang ayah ketika mereka sudah berada di dalam mobil dan bersiap untuk pergi ke rumah sakit.


Firman sangat tahu apa yang dibicarakan oleh ayahnya adalah sesuatu yang benar bahwa proyek itu memang bukanlah proyek seperti biasanya.


Firman bisa merasakan bahwa banyak sekali masalah yang terjadi di dalam proyek itu.


Akan tetapi Humairoh sudah menjanjikan bahwa semua masalah di sana akan segera beres sebelum mereka memulai proyeknya.


Jadi saat ini Firman dan Arman hanya mengkoordinasikan apa-apa saja yang harus mereka lakukan setelah masalah yang digantikan oleh Humaira beres semuanya.


" Tante Humairoh berjanji bahwa semua masalah itu akan dia bereskan bersama dengan tim yang sudah dia bentuk. Jadi nanti Firman dan Arman hanya menjadi eksekutor dari proyek tersebut." ucap Firman menenangkan ayahnya yang tampaknya khawatir dengan proyek tersebut.


Firman sangat mengetahui bahwa Ayahnya adalah seorang bisnisman yang handal di masa mudanya dulu. Perusahaan ayahnya yang sekarang sudah besar dan mendunia dan diserahkan kepada Putra dan cucunya.


" Papa ingin pergi berlibur ke Amerika bersama Laila dan Yuke, kalau nanti kau pergi ke Amsterdam. Sekalian papa menunjukkan kediaman dan perusahaan kita di sana kepada Laila dan Yuke. Bukankah mereka tidak pernah mengunjungi rumah kita yang di Amerika!?" Firman tampak menganggukkan kepalanya.


Firman tahu bahwa ayahnya sangat kesepian di rumah. Kalau sampai nanti dia membawa pergi Laila dan putrinya ke Amsterdam untuk ikut petugas dengannya di sana.


" Lakukan saja semua yang menurut Papah baik. Firman pasti akan mendukung selama itu untuk kebahagiaan papa!" ucap Firman sambil tersenyum kepada ayahnya.


Pembantu yang mengikuti mereka hanya melirik saja kepada ayahnya Firman yang seperti begitu bersemangat dengan rencananya untuk berangkat ke Amerika.


" Nanti kalau Tuan besar berangkat ke Amerika. Sepertinya saya lebih baik pulang kampung saja ya Tuan? Karena saya pun takut kalau tinggal di kediaman hanya sendiri saja!" ucap sang pembantu melirik kepada Firman yang saat ini sedang fokus menyetir.


Ayahnya Firman melirik kepada putranya dengan wajah serius, " Kalau kami berangkat ke Amerika. Saya pasti akan membawamu juga. Memangnya nanti di Amerika siapa yang akan melayani kami semua? Kalau kau tidak kami bawa?" tanyanya sambil tersenyum kepada pembantunya yang sudah sangat lama mengabdi di dalam rumahnya.


Ayahnya Firman sangat cocok dengan pekerjaannya yang rafi dan bersih. Tidak banyak neko dan tidak banyak membuat masalah. Si Bibi hidup hanya sendiri dan tidak punya saudara. Hidupnya hanya dia abdikan kepada keluarga ayahnya Firman.


" Kalau tuan membawa saya juga saya pasti senang! Karena saya juga tidak tenang kalau sampai membiarkan Tuan pergi ke manapun tanpa pengawasan saya!" ucapnya.


Firman hanya tersenyum mendengarkannya.


Setelah mereka sampai di rumah sakit, Firman langsung membawa ayahnya untuk menemui Laila dan Yuke di ruangannya.


" Pah Laila mau pulang dulu ke rumah sebentar ada sesuatu yang ingin diambil di sana tadi lupa tidak minta kepada mas Firman!" ucap Laila sambil melirik kepada suaminya yang sejak tadi terus memberikan kode kepadanya untuk berpamitan kepada ayahnya agar pulang ke rumah bersamanya.


Ayahnya Firman hanya menganggukkan kepala dan langsung mendekati cucunya yang sedang tertidur di ranjangnya.


Sejak menerima pernikahan Firman dan Laila hatinya merasa damai karena tidak lagi harus menahan amarah dan emosi. Hubungannya dengan Laila pun semakin membaik dan untungnya Laila termasuk wanita yang baik hati dan memaafkan ayahnya Firman dengan lapang dada.


Setelah berhasil keluar dari rumah sakit Firman sangat bahagia.


" Sayang kita ke hotel aja ya? Terlalu jauh kalau ke rumah kita. Soalnya aku harus segera ke kantor setelah ini!" ucap Firman sambil melirik kepada Laila yang hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan suaminya yang benar-benar sangat absurd.


Sebagai seorang istri yang baik dia tahu bahwa memang kewajibannya adalah memenuhi kebutuhan suaminya lahir dan batin. Jadi Laila hanya mengangguk saja menuruti keinginan suaminya.


Ketika mereka sudah mendapatkan kunci kamar hotel bintang lima, Laila merasa bahwa dia seperti seorang perselingkuh saja rasanya. Mereka pergi menyelinap dari sang ayah di pagi hari, hanya untuk menyewa sebuah kamar hotel demi menyenangkan sang suami yang sedang rindu bercinta dengannya. Benar-benar sangat absird dan sangat lucu bagi Laila.


Sepanjang perjalanan tidak ada habisnya Laila tersenyum, ketika dia melihat kelakuan suaminya yang seperti remaja yang sedang dimabuk cinta. Ga bisa sabar menunggu lagi, walau cuma nunggu sampe kamar yang tadi di sewa Firman untuk mereka bercinta.