Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
187. Ulah Agus Menakuti Ayana



Agus tampak terheran melihat Ayana yang sekarang mulai berkaca-kaca matanya sambil menatapnya dengan putus asa.


"Berhentilah menangis kau membuat orang berpikir bahwa aku sudah menganiayamu! Padahal aku tidak ngapa-ngapain terhadap kamu sejak tadi!" ucap Agus berusaha untuk menenangkan Ayana yang Malah semakin terisak dalam tangisnya.


"Ya ampun! Berarti benar kata orang kalau perempuan itu hanya memberikan kerepotan saja!" ucap Agus kesal dan berusaha pergi untuk meninggalkan Ayana yang tidak mau diam juga sejak tadi.


"Ya ampun Gus! Apa yang kau lakukan sama pacarmu sih? Kau itu, punya pacar begitu cantik. Malah kau bikin dia nangis. Tolong itu diemin dong. Kan kasihan nanti make up nya luntur kalau sudah jelek kan tidak menarik lagi. Di peluk kek, atau di apa gitu! Biar pacarnya diam, gak nangis lagi!" ucap Paijo tetangganya Agus.


"Dia bukan pacarku!" ucap Agus dan Ayana bersamaan ambil menatap tajam kepada PaIjo yang langsung lari ketakutan melihat ekspresi wajah mereka berdua yang tampak menebarkan aura pembunuhan dan juga aura permusuhan yang sangat kental.


"Udah cepat naik ke mobilku! Ayo kita pergi dari sini dan cari tempat yang aman untuk kita bisa bicara dengan empat mata!" ucap Agus akhirnya mengalah kepada Ayana karena dia tidak mau dicap sebagai laki-laki brengsek yang membuat seorang perempuan menangis di hadapannya.


"Aku nggak mau naik mobil butut mu! Ayo kau saja yang masuk dan naik mobilku!" ucap Ayana keberatan untuk masuk ke dalam taksi milik Agus yang selama 10 tahun telah menjadi teman setianya dan menjadi ladang untuk dia mengais rezeki bagi dirinya dan seluruh keluarganya di kampung.


"Ya sudah kalau kau tidak mau pergi dengan Pedro! Lebih baik kita tidak usah bertemu saja. Dari tadi kau sudah mengganggu waktuku untuk bekerja! Sekarang aku pergi!" Agus merasa jengkel dan kesal mendapatkan penghinaan Ayana yang mengatakan bahwa mobil kesayangannya adalah mobil butut dan dia tidak Sudi untuk menaikinya.


"Pedro? Siapa itu Pedro?" tanya Ayana sambil clingak clinguk ke sana kemari. Berusaha untuk mencari seseorang yang dipanggil oleh Agus sebagai Pedro.


"Kau mencari siapa? Pedro itu adalah nama mobil kesayanganku! Dasar perempuan aneh!" ucap Agus dengan jengkel melihat kelakuan ayahnya yang sejak tadi selalu membuatnya marah dan terhina.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Agus, seketika Ayana langsung tertawa terbahak-bahak. Agus mengerutkan keningnya merasa heran kenapa Ayana tertawa begitu lepas ketika mendengarkan perkataannya tengang Pedronya.


"Eh apa yang lucu? Kenapa kau dari tadi tertawa terus?" ucap Agus sambil mencolek pinggang Ayana agar dia berhenti untuk tertawa dan bisa mendengarkan apa yang dia tanyakan kepada Ayana.


"Ya ampun aku merasa sangat kasihan sekali dengan orang bernama Pedro yang ada di Meksiko dan Eropa. Hahaha. Karena mereka harusnya di sama ratakan dengan mobil butut kamu ini! Ya Allah kenapa Ada hal sekejam ini di dunia ini?" ucap Ayana dengan tertawa terpingkal-pingkal sambil dia terus memegangi perutnya yang sangat sakit gara-gara mendengarkan nama mobil yang dimiliki oleh Agus.


"Kau diam tidak? Jangan coba-coba kau menghina mobil kesayanganku!" ucap Agus sambil bertolak pinggang di hadapan Ayana yang masih juga tertawa.


"Ya ampun nama mobilmu benar-benar sangat lucu. Mana ada nama sekeren Pedro, dijadikan sebagai nama mobilmu yang butut dan sangat menjijikkan itu? Hahaha!" kembali Ayana menghina mobil Agus sehingga membuat Agus sangat marah.


Ayana Malah semakin tertawa dan semakin membuat Agus merasa terhina dengan kelakuan calon istrinya yang sangat menyebalkan baginya.


Dengan perasaan yang sangat jengkel dan kesal. Agus kemudian langsung mengangkat tubuh Ayana dan membawanya ke dalam kontrakannya yang sempit.


"Lepaskan aku apa yang kau lakukan? Agus sialan! Berani-beraninya kau berbuat semacam ini padaku!" Ayana terus berusaha memberontak dari tangan kekar Agus yang menggendongnya seperti karung beras kemudian langsung melemparkan tubuhnya ke atas ranjang.


Nampak Agus mengunci kamar kontrakannya dan langsung menatap Ayana dengan mata tajam dan penuh amarah yang membuncah di dadanya.


"Perempuan seperti kamu memang harus diberikan pelajaran yang sangat keras agar kau berusaha untuk menghargai orang lain!" sambil menatap tajam kepada Ayana dan mendekatinya.


Ayana yang sudah ketakutan seketika langsung menutup matanya ketika melihat Agus sudah bersiap untuk membuka pakaiannya satu persatu.


"Apa yang akan kau lakukan kepadaku? Awas kau! Agus, jangan coba-coba kau berbuat tidak senonoh padaku! Aku pasti akan segera melaporkanmu kepada Bibiku!" ancam Ayana sambil menatap ketakutan kepada Agus.


"Dengar ya nona besar! Bibimu sudah menyerahkanmu kepadaku agar aku bisa mendidikmu menjadi seorang wanita yang menghargai orang lain. Bahkan Bibimu itu juga mengatakan padaku menyerahkan segala urusan tentangmu kepadaku! akan kupastikan mulai hari ini kau bisa menghargai apa saja yang ada di hadapanmu dan tidak selalu menghina orang lain!" ucap Agus dengan mendekati Ayana yang saat ini tubuhnya sudah gemetar karena ketakutan melihat mata Agus yang sayu dan juga terus menatap tajam padanya.


"Agus tolong maafkan aku! Aku janji aku tidak akan pernah mengulanginya lagi. Tolong lepaskan aku Agus. Please kamu nggak bisa ngelakuin ini sama aku! Aku mohon!" ucap Ayana dengan berderai air mata. Kini telah hilang segala kesombongan yang tadi dia perlihatkan ketika menghina Agus maupun kendaraannya yang selama ini telah menemani Agus dalam suka dan duka.


"Lihatlah aku tidak melakukan apa-apa padamu. Tetapi kau sudah menangis histeris seperti itu. Apa kau bisa merasakan bagaimana rasanya dihina oleh orang lain?" ucap Agus kemudian mengambil kembali kemejanya dan meninggalkan Ayana sendiri di dalam kamarnya.


"Dasar pria gila! Awas saja aku tidak akan pernah mengampunimu!" maki Ayana saking kesalnya dengan kelakuan Agus yang ternyata hanya menakut-nakuti dirinya.


"Kenapa? Apakah kau berharap aku ingin menyentuhmu? Seujung kuku pun aku tidak sudi untuk menyentuhmu!" ucap Agus dengan tatapan sinis dan juga kebencian di matanya terhadap ayahnya yang Sejak pertama kali bertemu dengannya selalu menghinanya dan merendahkan dirinya.


Sebagai seorang laki-laki yang normal tentu Agus merasakan juga desiran hebat ketika dia berdekatan dengan Ayana. Apalagi bersentuhan secara fisik dengan wanita secantik dan seanggun Ayana.


Kalau mau jujur kepada dirinya sendiri. Sejak tadi Agus ingin sekali menyerang Ayana dan membuatnya takluk di dalam kuasanya. Hanya saja harga diri dan juga martabatnya sebagai seorang lelaki, yang telah di hina dan diinjak-injak oleh Ayana jauh lebih tinggi daripada nafsu setan yang terus membisiki kepalanya untuk menggagahi Ayana.