
Firman terus menatap foto yang dikirimkan oleh sopir pribadi Laila. Sopir yang sengaja dia tempatkan untuk selalu memata-matai kegiatan istrinya.
"Apa jangan-jangan, ketika tadi Laila menelponku adalah saat Dia melihatku sedang memeluk Ayana?" Firman bermonolog kepada dirinya sendiri dia sangat takut sekali kalau sampai Laila benar-benar melihat kejadian itu.
"Aku harus bertanya kepada sopir pribadi istriku. Apakah istriku melihat kejadian ketika aku memeluk Ayana di mobil tadi?" lalu Firman langsung mencari ponselnya dan dia segera menghubungi sopir pribadi Laila.
"Hardi! Apakah tadi istriku melihat ketika aku memeluk Ayana di dalam mobilku?" tanya Firman dengan nafas yang memburu saat ini dia benar-benar sedang kalut dan gelisah.
"Betul Tuan! Nyonya melihat semua yang Tuan lakukan bersama non Ayana di dalam mobil Tuan. Nyonya bahkan membuat beberapa video dan foto di ponselnya. Setelah itu Nyonya baru menghubungi anda Tuan, untuk mengetahui lokasi anda saat itu!" jawab Hardi menerangkan Semua yang dia lihat ketika pertama kali dia datang bersama Laila ke mall itu dan menyaksikan Firman yang sedang memeluk Ayahnya di dalam mobilnya Firman.
"Kenapa kau tidak mengatakan padaku sejak tadi, huh? Kau betul-betul tidak becus bekerja!" teriak Firman kesal.
Firman langsung melemparkan ponselnya sampai pecah ke dinding. Sangking kesalnya dia terhadap sopir pribadi istrinya yang bernama Hardi. Sopir yang tidak langsung memberitahukan kepadanya bahwa istrinya telah melihat dirinya bersama Ayana di dalam mobilnya tadi.
"Sial! Apa yang harus kulakukan sekarang? Pasti Laila akan salah paham ketika dia melihat adegan itu. Ya Tuhan? Kenapa sampai sekarang Ayana terus saja berusaba untuk memberikan masalah dalam hidupku? Apakah dia tidak bisa melepaskanku untuk hidup tenang bersama istri dan anakku?" ucap Firman dengan frustasi.
Dia sangat kesal sekali ketika mengingat Ayana yang tadi tiba-tiba saja datang ke kantornya dan mengajaknya untuk berbelanja ke sebuah Mall yang dekat dengan kantornya.
Ketika dirinya akan keluar dari mobil, tiba-tiba saja Ayana menangis dan terisak sambil memeluk dirinya. Sehingga mau tidak mau Firman mengelus rambut Ayana untuk menghibur wanita itu agar tidak menangis lagi. Bagaimanapun Firman tidak bisa membiarkan seorang wanita menangis di hadapannya. Di akui atau tidak, hatinya lemah tentang air mata seorang wanita.
Ayana sangat tahu tentang kelemahan Firman itu. Oleh karena itu, dia menggunakan air matanya yang sejak di kediaman Firman sudah beranak pinak, ketika dia memikirkan tentang janin yang pernah dia gugurkan saat kejadian malam terkutuk itu.
"Lihat saja Ayana! Kalau sampai istriku meninggalkanku gara-gara kejadian gila itu! Akan kupastikan kau akan menyesali yang sudah kau lakukan padaku! Aku akan hancurkan perusahaanmu dalam satu hari!" ucap Firman dengan geram.
Firman kemudian langsung pergi keluar ruangannya. Firman berniat untuk kembali ke rumahnya dan mau bertemu dengan Laila. Firman berniat untuk menjelaskan semua hal yang terjadi di parkiran Mall tersebut.
"Aku harus menjelaskan semuanya kepada Laila. Jangan sampai Laila berpikiran yang tidak tidak tentang hubunganku dengan Ayana!" dengan kecepatan maksimal Firman langsung melajukan mobilnya menuju kediaman pribadinya bersama Laila.
"Ah, sial! Kenapa tadi aku lupa tidak bertanya kepada Hardi di mana sekarang Laila berada ? Dasar Firman bodoh! Hah mana ponselku sudah hancur gara-gara aku banting tadi!" Firman berteriak frustasi dengan keadaannya saat ini. Dia terus merutuki kebodohannya yang terlalu emosional dalam segala hal.
Firman lalu mengarahkan mobilnya menuju sebuah counter ponsel yang ada di pinggir jalan. Firman membeli ponsel yang tersedia di counter itu. Dia tidak peduli dengan model maupun merk ponsel yang akan dia beli. Baginya yang penting dia butuh sebuah ponsel untuk bisa menghubungi Laila saat ini.
Saat ini, ponsel seharga 3 juta sudah ada di tangannya. Sekarang Firman mencoba untuk menghubungi Laila yang nomornya dia hafal di luar kepalanya.
"Hah! Kenapa Laila tidak mau mengangkatnya juga? Apa karena nomornya baru ya? Jadi Laila tidak mau mengangkatnya?" Firman menggeram dengan frustasi. Karena sudah hampir setengah jam dia berusaha untuk menghubungi istrinya, tetapi tidak diangkat sama sekali oleh Laila sang istri.
Firman berniat untuk menghubungi Hardi pun dia lupa, tidak mengingat nomor sopirnya tersebut. Karena nomornya ada di ponselnya yang sudah hancur karena dia banting.
"Dasar Firman bodoh!!! Kenapa tadi kau tidak mengambil nomor teleponnya? Padahal walaupun ponselnya hancur, kartu Sim pasti masih bisa saya gunakan!" Firman terus meretuki kebodohan dirinya sendiri yang selalu bertindak emosi dan tidak berpikir secara logika. Sehingga akhirnya kini dia menyesali apa yang sudah dia lakukan.
"Baiklah sekarang lebih baik aku kembali ke kantor dan mengambil SIM card lamaku. Siapa tahu Laila akan menghubungiku di nomor itu!" dengan penuh harapan. Akhirnya Firman Kembali menuju ke kantornya, untuk mengambil SIM card di hp-nya yang lama. Hape yang telah hancur berantakan dan tidak mungkin bisa diperbaiki lagi.
Kasihan sekali nasib ponsel seharga 20 juta milik Firman yang tidak berdosa itu, tetapi harus menjadi korban dari emosi Firman yang tak terkendali dan kini dia harus menerima nasibnya menjadi sampah yang tak berguna.
Firman hanya menatap ponsel itu dengan datar. Gak perduli sama sekali. Yang saat ini ada di kepalanya adalah dia menginginkan sim card dari ponselnya yang lama. Karena dia membutuhkannya untuk bisa dihubungi oleh Laila dan juga rekan-rekan bisnisnya yang sudah mengetahui nomor tersebut.
Setelah mendapatkan SIM card, kemudian Firman langsung menyuruh sekretarisnya untuk membereskan ponsel tersebut agar tidak merusak pemandangan di dalam ruangan miliknya.
"Kalau kau bisa menservisnya, service lah! Kau bisa memiliki ponsel sialan itu! Kalau tidak bisa di service, buang saja ponsel itu! Kau cukup amankan memory card yang ada di dalam ponsel itu dan kau letakkan saja di atas mejaku. Aku akan pulang mencari istriku dulu!" Perintah Firman kepada sekretarisnya yang saat ini sedang bingung melihat ponsel milik atasannya sekarang sudah hancur tak berbentuk.
"Apa yang terjadi dengan ponsel Itu Tuan? Kenapa nasibnya begitu mengenaskan?" tanya sekretarisnya Firman merasa iba dengan nasib ponsel mahal itu yang kini telah berubah menjadi sampah yang tak berguna.
"Kau tidak usah cerewet! Cukup lakukan saja perintahku! Aku tidak butuh omelanmu maupun ocehanmu! Sudah aku harus segera pergi! Aku tidak ada waktu untuk mendengar semua ocehanmu!" ucap Firman dengan kesal. Ketika dia melihat sekretarisnya tampak merasa pusing saat melihat nasib ponselnya yang kini sudah berubah menjadi sampah yang sungguh mengenaskan.
"Ya allah kasihan sekali nasibmu, wahai ponsel seharga 20 juta! Dirimu sekarang tak ada gunanya. Entah apa yang merasuki Tuanmu sehingga tega membantingmu sampai seperti ini!" sekretarisnya Firman meratapi nasib ponsel tersebut.
"Tadi Tuan Firman bilang, kalau aku bisa menservisnya, maka ponsel ini untukku. Baiklah! Ayo kita uji keberuntungan! Siapa tahu ponsel ini akan menjadi milikku!" ucap sekretarisnya Firman dengan semangat yang membara untuk bisa memperbaiki ponsel tersebut. Sehingga akan menjadi miliknya seperti yang sudah dijanjikan oleh Firman ketika dia meninggalkan ruangannya.