
Pov Ilham
"Kamu lihat mereka, tampak begitu romantis. Pantas saja Kesya lebih memilih menikah dengan Andika, dia sultannya Abimana Group!" ucap Laila sinis. Aku tidak paham dengan sifat istriku yang sekarang berubah 180°. Sekarang dia tidak seperti Laila yang pertama aku lihat. Rasanya seperti melihat wanita yang berbeda.
Laila yang dulu membuat aku yakin menikahi dia, wanita Sholehah yang baik kelakuannya. Tapi sekarang, Laila berubah jadi perempuan julid, yang suka ghibahin orang dan suka iri melihat kebahagiaan orang lain. Aku jadi dilema dengan rumah tangga yang kini aku jalani.
Sudah hampir satu tahun, pernikahan kami. Tapi rasanya cinta itu semakin sulit aku pupuk. Sifat Laila yang membuat aku rasa ilfell. Aku tidak suka orang yang suka iri dengan orang lain.
Aku tahu kalau istriku merasa iri dengan kehidupan Kesya yang di katanya sangat Wah dan mewah! Orang-orang itu hanya melihat kemilau kehidupan Kesya, tapi mereka tidak melihat penderitaan Kesya demi meraih itu semua.
Yang aku dengar, Kesya bahkan harus menerima anak suaminya dari perempuan lain, sebelum menikah dengan Kesya. Aku sebenarnya sangat kasihan dengan Kesya. Tapi aku bisa apa? Aku hanya bisa membantu dengan doa. Merawat Adrian sebaik mungkin, karena aku tahu, Adrian pasti belum bisa menerima kenyataan bahwa Papahnya ternyata memiliki anak lain selain dirinya dan adiknya.
"Ayo bersiap pulang ke Indonesia! Kasihan para santri kalau kita berlama-lama disini!" ucapku.
"Kalau aku tinggal di apartemen yang diberikan oleh Andika, apakah boleh?" tanya Laila tampak ragu. Aku menggeleng kepalaku, merasa heran dengan isi kepala istriku.
"Aku akan mengembalikan apartemen itu! Kamu pikir, aku tidak punya harga diri, huh? Menerima apartemen dari laki-laki yang telah merebut calon istriku? Jangan pernah bermimpi kamu!" ucapku kesal, aku meninggalkan istriku sendiri di sana.
Aku Memilih pergi dari sana, menghentikan taxi yang melintas, lalu pergi ke taman yang sangat indah dalam balutan lampu-lampu kota yang begitu mempesona.
"Kesya, aku akan selalu mendoakan kebahagiaan kamu. Biarkanlah, hati ini menyimpan namamu. Hanya sebatas itu, gak lebih!" monologku dengan perasaan sedih dan kalut.
Setelah merasa lebih tenang, aku memutuskan untuk kembali ke apartemen yang dihadiahkan oleh Kesya. Mereka mengundang kami berdua ke Dubai dalam rangka memberikan hadiah honey moon untukku dan istriku, tapi rasanya gagal. Hatiku yang sudah ilfell melihat kelakuan istriku yang selalu julid dengan kehidupan Kesya, tidak ada selera sama sekali untuk menyentuh dirinya.
"Ya Allah, aku tidak ingin menitipkan benihku kepada wanita seperti Laila. Maafkan hamba ya Allah, apabila hamba zhalim terhadap istri dan diri hamba sendiri." Doa Ilham dengan sendu.
"Ilham, kok sudah pulang? Mana Laila?" tanya Umy tampak terkejut dengan kepulangan Ilham tanpa istrinya.
"Laila masih asyik bergaul dengan orang-orang kaya di manstion mertuanya Kesya." jawaban Ilham sukses membuat Umy mengelus dada.
"Umy tidak tahu harus bagaimana lagi terhadap istri kamu, Ilham! Maafkan Umy, kalau terkesan seperti mertua yang jahat!" Ilham menatap Umy dengan sendu.
"Tidak, Umy! Ilham yang minta maaf, karena telah salah memberikan menantu untuk Umy. Maafkan Ilham, Umy! Hiks hiks!" Ilham mulai menangis, bulir demi bulir air matanya menetes.
"Kalau ada Abah, pasti tidak akan seberat ini. Abah selalu bisa menenangkan hati Umy!"
Ilham memeluk Umy dengan erat. Merasa bersalah, di usia Umy nya yang sudah sepuh, masih belum bisa memberikan kebahagiaan untuk Umy nya. Bahkan seorang cucu yang sangat di inginkan Umy belum sanggup Ilham berikan.
"Mas kok kamu ninggalin aku sendirian, sih? Aku tadi kebingungan di sana!" Laila langsung marah kepada suaminya.
"Bukankah kamu sibuk kenalan dengan orang-orang kaya asal Dubai itu?" sinis Ilham.
"Mereka bicara pakai bahasa Arab, aku gak ngerti! Aku coba komunikasi dengan bahasa Inggris, mereka yang tidak paham. Aku jadi seperti kambing congek di sana. Mana si Kesya lebih asyik bercakap-cakap dengan tamu mereka, dari pada denganku. Adrian juga, disana sama sekali tidak mau menemani aku! Aku tadi pulang saja harus mencari taxi sendiri. Tidak ada yang mau mengantarkan aku! Mereka tidak menghargai aku, kalau kamu tidak bersamaku!" keluh Laila panjang kali lebar. Ilham hanya mendengarkan saja.
"Umy, ayo kita berkemas, besok kita akan pulang!" ucap Ilham tanpa perduli dengan keluhan istrinya.
Pada saat Ilham sedang sibuk berkemas tiba-tiba ponselnya berdering, ada nama Kesya di sana, Ilham lalu mengangkat. Terdengar suara seorang wanita di sana, "Assalamualaikum ustadz, Ustadz dimana sekarang?" tanya seseorang di sana.
"Saya di apartemen, ini siapa ya?" tanya Ilham keheranan, yang menelpon dirinya bukan Kesya.
"Saya maid yang mengasuh Den Adrian, ini Tuan muda Adrian dari tadi menangis terus, minta bertemu dengan Ustadz Ilham, Nyonya Kesya meminta saya menelpon Ustaz apakah di perbolehkan kalau Ilham ke apartemen sekarang?" tanya maid di seberang sana.
Ilham melihat jam tangannya, 'sekarang sudah jam 22.30 sudah malam ternyata, kenapa Adrian belum tidur jam segini?' bathin Iljam.
"Saya sekarang sedang bersiap-siap mau kembali ke Indonesia, rencananya besok saya mau pulang, bagaimana ya?" Ilham jadi bingung sendiri.
"Mas Ilham, ini Adrian nangis terus. Bagaimana ini Mas?" tanya Kesya panik, Ilham jadi bengong, ini pertama kalinya Kesya memanggil namanya lagi.
"Mas Ilham, kamu di sana?" tanya Kesya panik.
"Iya, Kesya! Mas disini. Baiklah, Kirim Adrian kesini. Besok kamu bisa ambil Adrian saat menghantar Kami ke bandara!" ucap Ilham pelan.
"Mas mau pulang ke Indonesia besok?" Kesya kaget bukan main. Soalnya berdasarkan jadwal yang sudah di sepakati, mereka akan di Dubai Dua minggu. Ilham dan keluarganya baru satu Minggu di Dubai. "Tapi masih ada satu Minggu lagi, Mas!" ucap Kesya berusaha merubah pikiran Ilham.
"Mas gak tenang, meninggalkan santri terlalu lama. Sementara Mas disini juga waktunya tidak bermanfaat. Lebih baik Mas pulang saja ke Indonesia!" Ilham keukeuh dengan keputusan yang sudah dia ambil.
"Ya sudah, nanti Kesya akan diskusi bersama Mas Dika, Mas Ilham tidak usah pesan tiket, kami nanti akan mengantarkan kalian ke Indonesia!" Ilham menarik nafasnya. Kesya selalu seperti itu, mengambil keputusan tanpa bertanya.
"Baiklah, terserah kepadamu! Aku tunggu kalau Adrian mau kau bawa kesini!" Ilham lalu menutup ponselnya, walaupun hatinya masih ingin berlama-lama, tapi nuraninya tidak mengijinkan hal itu.
Laila yang melihat suaminya bicara dengan Kesya, menatap Ilham tidak senang. "Mas selalu seperti kerbau yang di cucuk hidungnya, kalau berhadapan dengan Kesya!" sindir Laila, lalu meninggalkan Ilham sendiri di ruang tamu.