
Pagi itu Kesya sudah bersiap untuk pergi ke butik, niatnya mau mencoba gaun dan kebaya pengantin tapi di tengah jalan, tiba-tiba saja ada sebuah mobil dan beberapa orang berpakaian jas dan celana hitam, menarik dirinya ke dalam sebuah mobil. Lalu membawa pergi dirinya.
Ilham yang niatnya akan mencoba pakaian pengantin bersama Kesya kebingungan karena sejak tadi adiknya menghilang tanpa jejak. Dirinya sudah menunggu sejak jam 08.00 dan sekarang sudah mau jam 10.00 adiknya belum juga datang ke butik yang sudah disepakati pihak keluarga.
"Kesya ke mana sih? Sudah dua jam di tungguin belum datang juga." Ilham sudah mulai gelisah. Ilham lalu mencoba menelpon Rasyid, tapi nomornya tidak aktif. Mencoba menelpon mamahnya Kesya, baru ada jawaban.
"Maafkan Ilham, Mah. Kesya kemana yah? Ko lama sekali belum sampai ke butik?" Mamah Kesya yang mendengar kabar tersebut malah bingung dengan pertanyaan Ilham.
"Kesya sudah berangkat dari jam 7.30 apa belum sampai Nak Ilham?"
"Belum, Mah. Ilham sudah menunggu dua jam, tapi Kesya belum juga datang. Ilham ko jadi kwatir ya. Jangan-jangan ada hal buruk yang terjadi sama Kesya?" Ilham sudah tidak kuasa memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi pada Kesya, calon istrinya.
"Ya sudah, Mamah coba hubungi Kesya. Nak Ilham sabar dulu, jangan kwatir ya." Setelah menutup telpon dari Ilham, Mamahnya Kesya langsung menghubungi Kesya. Namun di hubungi selama hampir setengah jam, nomornya masih saja non Aktif. Perasaan mamahnya Kesya sudah sangat kwatir. Setahu dia, Kesya sudah berangkat dari jam 7.30, menggunakan taxi. Kenapa kata Ilham belum sampai ke butik?
Sementara itu, di Indramayu, Rasyid yang akan berangkat untuk mengantarkan sang istri dan anaknya ke rumah sakit, tiba-tiba di cegat oleh orang-orang berpakaian hitam-hitam. Memaksa mereka untuk masuk ke mobil mereka.
Di sebuah villa, yang jauh dari hiruk pikuk kota, di puncak, tampak kesibukan disana. Andika dan semua anggota keluarga sudah hadir di sana.
"Apakah semuanya sudah siap?" tanya Farhan Abimana. Ayahnya Andika.
"Semua sudah siap, tuan. Tinggal menunggu mempelai wanita yang sedang di rias." ucap kepala pelayan yang menjaga villa tersebut.
Sementara itu, di ruangan tertutup. Istri dan mamahnya Rasyid di sekap di sana. Rasyid dan Kesya yang ada di kamar pengantin, kini duduk pasrah ketika mereka di rias layaknya pengantin. Rasyid sebagai wali juga di bawa ke Villa tersebut oleh ayahnya Andika.
"Kalian harus menurut, kalau mau mamah dan istri kalian selamat!" Laki-laki berbadan besar itu lalu membuka layar televisi di hadapan mereka. Di sana, kelihatan istrinya dan juga mamahnya duduk di sebuah kasur, bersama dua orang bodyguard yang mengarahkan pistolnya di kepala mereka.
"Jangan macam-macam! Aku tidak akan pernah melepaskan kalian!" Rasyid sangat marah melihat hal tersebut. Anaknya yang baru berusia sebulan, kini sedang sakit, niatnya mau di periksa ke rumah sakit, malah di culik mereka. Saat sampai malah ada Kesya juga di sana.
"Mas, apa yang harus Kesya lakukan? Kasihan Mas Ilham, dia sudah menyiapkan segalanya untuk pernikahan kami. Kalau Kesya menikah dengan Mas Dika, dia pasti kecewa sama Kesya."
"Mas juga bingung, Dek. Tapi bagaimana dengan istri dan anak Mas Rasyid? Bagaimana dengan Mamah kita?" Rasyid tampak mondar-mandir di ruangan itu.
"Apakah pernikahan seperti ini akan bahagia, Pak? Pernikahan seharusnya di lakukan secara suka rela. Bukan dengan paksaan semacam ini!" geram sekali Rasyid dengan perbuatan keluarga Andika yang menculik keluarganya dan memaksa Kesya agar menikahi Andika.
"Kami sudah datang melamar baik-baik, tapi kalian yang banyak tingkah! Pantang bagi keluarga Abimana mendapatkan hinaan dari manusia-manusia seperti kalian!" Farhan menatap Kesya dengan geram.
"Kamu salahkan dirimu sendiri, kalau terpaksa kami melakukan hal ini kepadamu. Cepat! Itu penghulu sudah datang!" Kesya sudah berderai air mata. Sakit rasanya, dirinya di paksa menikahi laki-laki yang tidak dia cintai. Walaupun selama satu tahun hidup bersama Andika, selama dia mengalami amnesia, tetapi perasaan Kesya hanya sebagai adik kakak, bukan sebagai seorang perempuan terhadap laki-laki yang dia cintai.
Rasa cintanya hanya untuk Ilham. "Ya Allah, kenapa begitu banyak cobaan bagi cinta Kami?" tanpa terasa air mata mengalir di kelopak mata Kesya. Rasyid sudah di bawa ke tempat di laksanakan ijab Qabul.
Para tamu sudah hadir, penghulu juga sudah di panggil. "Ingat! Jangan buat masalah, kalau kamu masih berharap melihat istri dan anak kamu, juga mamah dan adik kamu!" Farhan berbisik di telinga Rasyid. Tidak ada pilihan lain, dirinya hanya bisa mengikuti skenario yang sudah di atur oleh Farhan Abimana, ayahnya Andika.
Rasyid menjadi wali nikah bagi Kesya, dan menikahkan Kesya dan Andika secara hukum negara dan agama. Andika memberikan mahar sebuah apartemen mewah di Dubai beserta yang senilai Rp. 400.000.000, karena memang, niat dari Andika dan keluarganya, setelah pernikahan selesai, akan langsung memboyong Kesya ke Dubai dan menetap di sana. Mereka tidak mau Kesya mendapatkan gangguan dari Ilham ataupun dari keluarga Kesya.
Sementara itu, di kamarnya Kesya, Mamah Andin dan Zahra, istrinya Rasyid beserta bayinya yang sedang sakit demam, kini mereka di pertemukan dalam satu ruangan. Kesya yang merasa sangat merindukan Mamahnya, langsung memeluk dengan berderai air mata.
"Maafkan Kesya, gara-gara Kesya, kalian jadi terkurung di sini, hiks hiks... " Kesya menangis karena merasa tidak tega melihat keponakannya, bukannya di rumah sakit, malah terkurung disana.
Cinta sudah membutakan Andika, sehingga dia melakukan hal gila dan nekat seperti itu. Memaksa Kesya untuk menikah dengannya. Menculik semua anggota keluarganya. Benar-benar tidak masuk akal.
"Sudahlah sayang, yang penting kita baik-baik saja. Kamu harus sabar ya, semua ini ujian yang harus kita lewati." Mamah Andin memeluk Kesya dengan erat, tidak tahu lagi kapan akan berkumpul bersama Putri tercintanya. Setelah pernikahan selesai, tentu Kesya akan mengikuti suaminya.
Keluarga Andika juga memberikan sebuah rumah mewah untuk Rasyid dan Mamahnya, tetapi mereka menolak, mereka tidak mau merasa menjual Kesya kepada Andika.
"Kamu sekarang sudah resmi sebagai istri Nak Andika, baik-baik jadi seorang istri. Terlepas ini pernikahan paksaan ataupun suka rela, kamu harus ikhlas menjalani semua ini. Mungkin memang ini jalan takdir hidup kamu, Nak!" Mamah Andin tidak mampu lagi mengucapkan kata-kata untuk Kesya. Sungguh berat sekali rasanya.
"Kasihan Nak Ilham, dia pasti sangat kecewa dengan kenyataan ini." mendengarkan hal itu, hati Kesya rasanya seakan di tusuk ribuan pedang. Bagaimana kisah cintanya bersama Ilham, harus melewati begitu banyak rintangan.
Sekarang, kisah cinta itu harus karam, karena perbuatan Andika, yang menculik seluruh keluarga dan memaksakan pernikahan dengannya.