
Rahmat menatap Humairoh dengan tatapan penuh pertanyaan. Karena jujur, saat ini dia benar-benar sangat bingung bagaimana harus bersikap terhadap istrinya yang selama masa pernikahannya penuh dengan kebohongan dan selalu menipunya.
" Katakan padaku bagaimana aku harus menyikapi hal ini?" tanya Rahmat sambil menatap wajah istrinya yang tampak mulai menitikkan air mata.
Banyak hal yang ingin ditanyakan oleh Rahmat. Akan tetapi dia benar-benar kehilangan akal untuk bertanya lagi karena hatinya seakan merasa kelu.
" Aku bisa menjelaskan semuanya!" ucap Humairoh dengan suara serak.
" Menjelaskan apalagi yang kau maksud, huh? Menjelaskan betapa selama masa pernikahan kita sudah banyak kebohongan yang kau ciptakan untukku? Sudah berapa banyak penipuan yang kau lakukan terhadapku, huh? Apa itu yang akan kau jelaskan kepadaku?" tanya Rahmat dengan amarah yang saat ini membuncah di dadanya.
Untung saja para tamu dan Ustadz sudah meninggalkan tempat tinggal Ayana sehingga keributan itu tidak menarik perhatian mereka.
Sekarang yang bingung adalah Agus. Karena dialah yang sudah menjadi pemicu keributan tersebut.
Melihat Agus yang tampak bengong memperhatikan keduanya. Ayana pun lalu masuk ke dalam ruangan di mana Agus, Humairah dan Rahmat terlihat sedang bersitegang tanpa mengatakan apapun lagi, ketika mereka melihat kedatangan Ayana.
" Ada apa dengan kalian semua? Kenapa begitu aku datang kalian semua diam membeku seperti itu?" tanya Ayana menatap mereka yang hanya bisa menatapnya dengan sendu.
Agus terlihat mendekati istrinya dan berusaha untuk menarik tangan Ayana untuk meninggalkan Humairo dan rahmat yang saat ini sedang membutuhkan banyak waktu untuk berbicara.
" Ayo kita lihat Axel! Apakah dia sudah tidur?" tanya Agus kepada istrinya yang terlihat bingung.
" Ada apa Bibi? Kenapa Paman Rahmat seperti yang marah kepadamu?" tanya Ayana sambil menatap Humairoh dengan lekat.
Ayana tidak memperdulikan Agus yang terus menarik tangannya untuk menjauh dari sana.
" Bibi Kenapa kau diam saja? Jawablah pertanyaanku!" ucap Ayana sambil menatap kepada Humairoh yang tampak menggelengkan kepalanya.
Melihat Humairoh yang terus diam saja dan tidak mau menjawab pertanyaan Ayana maupun pertanyaannya. Rahmat pun memutuskan untuk meninggalkan istrinya bersama dengan Ayana.
" Ayana, maafkan Paman. Tiba-tiba saja Paman harus kembali ke Indonesia. Karena Putri Paman tampaknya sedang sakit jadi Paman akan menjenguknya di pondok pesantren!" ucap Rahmat sambil melewati Humairoh yang seperti membeku di tempatnya.
Ingin sekali Humairo mengejar suaminya tetapi saat ini dia benar-benar sedang lemas tubuhnya dan tidak memiliki tenaga untuk berdebat dengan siapapun.
Rahasia puluhan tahun yang selama ini telah dia jaga dengan sangat rapat. Kini harus terbongkar hanya karena kecebohan sesaat.
" Apakah Bibi juga akan pulang ke Indonesia bersama dengan paman?" tanya Ayana kepada Humairoh.
" Maafkan Bibi Ayana. Bibi tampaknya sangat kelelahan gara-gara acara untuk Axel. Bibi ingin beristirahat dulu. Selamat malam!" ucap Humairoh tampak Limbung dan seperti hendak jatuh Ayana hendak menolongnya tetapi Humairo langsung menepisnya dan berusaha dengan sekolah tenaga untuk mencapai dalam kamarnya.
" Maafkan aku Mas. Atas segala kesalahanku kepadamu. Sekarang aku tidak punya lagi alibi lagi untuk membela dosa-dosaku kepadamu!" ucap Humairoh dengan mata berkaca-kaca, sambil menundukkan kepalanya dihadapan suaminya.
" Sudahlah! Lupakan saja kejadian itu. Tidak penting juga bukan? Yang penting sekarang kalian berdua bisa hidup layaknya ibu dan anak. Akan tetapi aku minta maaf. Aku tidak bisa berada di antara kalian. Setelah sampai di Indonesia aku akan mengurus surat perceraian kita berdua! Anak-anak semuanya akan ikut denganku. Kalau kau suatu saat ingin menjenguknya. Aku ijinkan. Akan tetapi aku tidak akan mengizinkan mereka untuk tinggal denganmu. Aku takut kalau nanti mereka akan tertular hobimu yang suka menipu orang dan juga berbohong!" ucap Rahmat sambil meninggalkan Humairoh dalam isak tangis dan kesedihan yang luar biasa menyayat hati.
Rahmat sebenarnya merasakan kesedihan yang saat ini dirasakan oleh Humairah. Hanya saja dia sudah tidak bisa lagi memaafkan istrinya yang ternyata telah menyimpan begitu banyak rahasia adalah hidupnya.
" Paman Apakah kita bisa bicara berdua?" tiba-tiba saja Agus sudah berdiri di hadapan Rahmat yang sudah bersiap untuk meninggalkan kediaman Ayana.
" Maafkan Paman Agus. Paman harus segera mengajar pesawat!" ucap Rahmat tanpa menggubris Agus sama sekali.
" Tolonglah Paman pertimbangkanlah rencana Paman untuk bercerai dengan Bibi. Saya yakin Bibi pun pasti menderita juga ketika dia menyembunyikan fakta tentang Ayana kepada paman!" ucap Agus dengan suara lembut kepada Rahmat.
" Kau juga sama-sama penipu seperti Humairoh. Oleh karena itu kau bisa memahami perasaan dia saat ini! Aku pergi dulu. Oh, ya! Sebaiknya kau segeralah mengaku kepada Ayana, sebelum dia mengetahui tentang kebenaran identitasmu dari orang lain dan dia akan meninggalkanmu seperti aku meninggalkan Humairah!" ucap Agus sambil tersenyum pedih kemudian dia pun meninggalkan kediaman Ayana dengan air mata yang mengalir di pipinya.
' Ya Tuhan ampunilah hambamu kalau yang kulakukan ini adalah perbuatan yang salah. Tapi hamba sungguh benar-benar tidak mampu lagi untuk hidup bersama seorang wanita yang bahkan tidak pernah menghargai pernikahan kami.' batin Rahmat ketika dia berada di dalam taksi dan bersiap untuk pergi ke bandara.
Tetapi malang. Sebelum mereka sampai di nandara, tiba-tiba saja taksi yang ditumpangi oleh Rahmat tertabrak oleh mobil tronton yang tampaknya oleng karena sang sopir yang mabuk ketika dia menyetir.
Seketika lokasi kejadian menjadi sorotan berbagai media lokal. Karena kebetulan hari itu kecelakaan terjadi di sekitar bandara. Sehingga menarik berbagai macam media untuk meliput. Antrian panjang kendaraan menuju bandara pun menjadi pusat perhatian dari pemberitaan media lokal.
Tampak Rahmat yang sudah memejamkan matanya karena sudah kehilangan kesadaran.
Sopir taksi itu meninggal di tempat. Karena mengalami benturan di kepalanya yang fatal karena dia langsung berhadapan dengan mobil tronton tersebut. Pihak keluarga merasa sangat sedih dengan kondisi sang sopir yang sangat mengerikan.
Saat ini Rahmat sudah dibawa oleh paramedis ke rumah sakit terdekat dan berusaha untuk diberikan pertolongan kepadanya.
Sementara itu Humairoh yang saat ini berada di kediaman Ayana yang tampak sedang menonton televisi. Sia merasa terkejut ketika melihat berita kecelakaan tersebut.
Mata Humairoh terbelalak kaget ketika dia melihat koper milik Rahmat yang tergeletak di samping serpihan taksi yang hancur terbelah dua dan berantakan kemana-mana.
Nasib Rahmat sungguh beruntung. Karena dia masih bisa keluar dari mobil taksi sebelum mobil taksi itu benar-benar meledak diakibatkan oleh tangki bensin yang terkena percikan api.
Akan tetapi saat ini kondisi Rahmat sangat menyedihkan. Rahmat masuk ke dalam fase koma dan tidak sadarkan sudah lebih dari dua hari.
Humairoh menatap Rahmat yang saat ini sedang dirawat di rumah sakit. Rahmat yang masih memejamkan matanya dan terlelap dalam komanya.
Seketika Humairoh merasakan begitu banyaknya dosa yang telah dia lakukan kepada sang suami. Selama perjalanan pernikahan mereka berdua. Berapa banyak dia telah menipu sang suami dan berapa banyak rahasia yang telah dia sembunyikan selama pernikahan mereka berdua.