
Tampak Ayana sedang menatap langit-langit kamarnya. Sebenarnya dia ingin pulang ke apartemennya tetapi belum Agus pergi meninggalkannya Agus berpesan kepadanya untuk tinggal di rumah kedua orang tuanya sampai dia siap untuk menjemput Ayana ke kediaman pribadi milik mereka berdua.
" Sebenarnya apa yang direncanakan oleh Agus? Kenapa dia harus berputar-putar seperti ini?" tanya Ayana si akan tidak mempercayai dengan apa yang diperintahkan oleh Agus kepadanya.
" Bagaimanapun Agus memang adalah suamiku saat ini. Dia laki-laki yang harus kutaati sekarang!" ucap Ayana sambil tersenyum ketika mengucapkan kata suami.
"Suami?" Ayana mengulangi kata itu.
" Aku tidak percaya kalau ternyata sekarang statusku adalah sebagai seorang istri!" ucap Ayana kepada dirinya sendiri.
Saat Ayana sedang memikirkan tentang pernikahan yang bersama Agus, tiba-tiba saja ponselnya berdering.
" Halo siapa ini?" tanya Ayana.
" Ini Agus! Suami kamu!" ucap Agus di seberang sana.
" Suami? Oh ya Tuhan!" ucap Ayana sambil tersenyum mendengarkan Agus mengatakan bahwa dia adalah suaminya.
" Kenapa kita baru menikah tadi pagi dan kau sudah mengingkariku sebagai suamimu?" tanya Agus kepada Ayana.
" Kita memang baru menikah hanya sekedar resmi saja. Nanti setelah kita menemukan tempat untuk kita bisa hidup sebagai suami istri. Maka aku akan menyiapkan resepsi untuk pernikahan kita!" ucap Agus kepada Ayana.
Ayah Ayana sudah meninggal sangat lama sehingga pernikahan Ayana dan Agus hanya diserahkan kepada wali hakim dan disaksikan oleh Humairoh dan rahmat sebagai pihak keluarga dari mempelai wanita.
Agus yang saat ini sedang dalam pelarian. Dia sengaja tidak mendatangkan pihak keluarganya. Karena tidak ingin Ayana mengetahui tentang identitasnya yang sesungguhnya.
" Baiklah kau bersiap-siaplah besok pagi aku akan menjemputmu ke rumah baru kita!" ucap Agus pada akhirnya sehingga membuat Ayana merasa terheran.
" Kita tinggal di apartemenku saja kau tidak usah memaksakan diri untuk menyediakan hunian untuk kita berdua!" ucap Ayana kepada Agus.
" Tidak apa-apa. Jangan khawatir tentang itu. Hunian kita berdua memang kewajibanku sebagai suamimu. Kau bersiap saja. Besok aku akan menjemputmu!" ucap Agus dengan penuh keyakinan.
Ayana kemudian hanya bisa menyetujui apa yang diinginkan oleh suaminya.
" Baiklah kalau begitu aku sekarang akan bersiap-siap!" ucap Ayana pada akhirnya mengalah kepada Agus karena tidak mau untuk berdebat lagi.
" Selamat malam beristirahatlah!" ucap Agus kemudian menutup panggilan teleponnya.
Ayana kemudian langsung menyiapkan dirinya untuk pindah ke kediaman yang disiapkan oleh Agus sebagai suaminya.
Ayana hanya membawa beberapa helai pakaian yang ada di rumah orang tuanya.
Karena pada hakekatnya, semua barangnya ada di apartemen yang selama ini dia tempati sendiri di sana.
Memang sejak Ayana dipilih menjadi direktur utama di perusahaan keluarganya. Ayana lebih memilih untuk tinggal di departemennya saat ini yang lokasinya lebih dekat dengan perusahaan. Sehingga dia bisa pulang pergi dengan mudah tanpa harus takut terlambat ataupun pulang kemalaman.
" Baiklah kita lihat! Apa yang bisa dilakukan oleh Agus!" ucap Ayana sambil menatap wajahnya di cermin besar di dalam kamarnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selama pelariannya Agus memang tidak pernah mendatangi penthouse tersebut karena dia berusaha untuk menghindari ayahnya yang terus memintanya untuk mengambil alih perusahaan.
Sekarang Agus tahu bahwa ayahnya dalam keadaan kritis di rumah sakit. Oleh karena itu, Dia memutuskan untuk menerima keinginan ayahnya untuk kembali ke perusahaan milik keluarga nya.
" Semoga keputusan yang kuambil sudah benar dan aku tidak akan menyesalinya!" ucap Agus sambil menatap kepada foto yang ada di dalam kamarnya.
Foto seorang wanita yang sangat cantik yang sedang menggendong seorang bayi yang sangat tampan.
" Semoga mama tenang di sana!" doa Agus untuk almarhum ibunya yang sudah lama meninggal.
" Agus akan mengalah sama papa dan menolongnya untuk kembali mengurus perusahaan. Karena sekarang Papa sedang dalam keadaan kritis di rumah sakit!" ucap Agus terus menatap wajah ibunya yang ada di dalam Potret yang ada di hadapannya.
Agus sangat mencintai ibunya. Dia rela melakukan apapun, asal ibunya merasa bahagia. Tetapi ibunya telah pergi sejak dia masih kecil.
"Semoga Mama bisa melihat kalau sekarang aku sudah memiliki seorang Istri. Walaupun dia tidak mencintaiku tapi tidak apa-apa suatu saat dia pasti akan mencintaiku!" ucap Agus sambil menatap potret ibunya.
Agus yang merasa lelah akhirnya dia jatuh tertidur sampai keesokan paginya, dia pun bersiap untuk menjemput Ayana untuk tinggal bersamanya di penthouse tersebut.
" Kalau nanti Ayana bertanya tentang tempat ini, maka aku akan menjawab bahwa ini adalah fasilitas yang diberikan oleh bibinya, yang di persiapkan agar aku tidak membuat Ayana hidup dalam penderitaan!" ucap Agus bermonolog dengan dirinya sendiri sebelum dia meninggalkan penthouse dan menjemput Ayana di kediaman orang tuanya.
Laki-laki yang pernah datang dan menemui Ayana adalah ayah tiri Ayana yang sudah ditinggalkan oleh ibunya dan selalu menteror ayahnya dengan meminta uang kepadanya. Ayah kandung Ayana sendiri sudah lama meninggal dunia.
Agus langsung masuk ke kediaman keluarga Ayana ketika dia sampai di sana.
Pembantu yang bekerja di kediamannya yang sudah mengetahui bahwa Agus adalah suami Nona mudanya. Mereka langsung pergi mengantarkan Agus ke kamar Ayana.
" Ini adalah kamar non Ayana. Saya permisi dulu Tuan!" ucap pembantu itu meninggalkan Agus di depan pintu kamar Ayana.
Agus yang saat ini berpenampilan seperti Tuan Muda membuat pembantu itu pun merasa sungkan dan juga takjub kepadanya.
" Wah suaminya Non Ayana sangat tampan sekali ya?" ucap salah seorang pembantu yang bekerja di kediaman keluarga Ayana.
Agus hanya tersenyum mendengarkan pujian dari pelayan yang bekerja di kediaman mertuanya.
Dahulu sebelum dia pergi dari perusahaan ayahnya, pujian-pujian seperti itu adalah makanan sehari-hari bagi Agus yang selalu menemaninya setiap hari.
Agus kabur dari ayahnya karena menolak untuk dijodohkan dengan putri dari sahabat ayahnya. Sehingga akhirnya dia nekat pergi untuk melarikan diri dan meninggalkan semua kemewahan yang diberikan oleh ayahnya dan bekerja sebagai seorang sopir taksi dan menyamar sebagai orang desa.
Kalau tidak bertemu dengan kepala pelayan yang bekerja di kediaman ayahnya. Mungkin Agus tidak pernah tahu tentang keadaan ayahnya yang saat ini sedang kritis di rumah sakit.
" Ayana bangunlah ini sudah siang apa kau tidak ingat untuk salat subuh?" Agus terus berusaha untuk membangunkan Ayana yang masih terlelap dalam tidur.
Siapa yang menyangka, bukannya bangun, Ayana malah menarik tangannya untuk tidur bersamanya di ranjangnya. Sehingga membuat Agus merasa terkejut.
" Dibangunkan malah ngajak orang lain tidur!" ucap Agus sambil mencubit hidung Ayana yang masih tampak memejamkan matanya.