
Manda langsung menonaktifkan ponselnya setelah membaca pesan dari Johan.
Hati Manda yang sudah terlanjur sakit dengan perlakuan Johan terhadap Amanda, membuatnya merasa sudah final untuk meninggalkan laki-laki yang belum juga mau menerima masa lalunya setelah pernikahan mereka yang lebih dari 10 tahun.
" Ya Allah semoga apa yang kulakukan ini adalah benar. Aku tidak mau kalau sampai menjalani pernikahan yang hanya akan menjadi bumerang bagi kehidupanku sendiri dan juga anakku. Aku akan menghubungi Amanda agar aku bisa tinggal bersamanya. Aku tidak ingin berpisah lagi dengan putriku hanya karena seorang laki-laki yang tidak pernah mau menerima keberadaan anakku!" Manda sudah memutuskan dengan hati bulat bahwa dia akan menyusul Amanda di manapun putrinya berada saat ini.
Setelah proses jual beli apartemen miliknya selesai, Manda langsung mempersiapkan dirinya untuk pergi mencari putrinya.
" Aku harus menelpon dulu Amanda. Aku harus memastikan keberadaannya saat ini!" kemudian Manda pun kembali mengaktifkan ponselnya hanya untuk menelpon putrinya yang saat ini sedang berada di Dubai.
" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" ucap Manda mengawali percakapannya dengan sang putri tercinta.
" Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh!" jawab Amanda dengan suara gemetar setelah mendengarkan kembali suara ibunya. Setelah satu bulan mereka berpisah.
Saat ini Amanda sedang mempersiapkan kepergiannya ke Perancis untuk mendaftar dirinya kuliah di sana.
" Kamu sekarang di mana sayang? Mama ingin bertemu denganmu!" ucap Manda langsung bertanya kepada putrinya.
Tampak Amanda kesulitan untuk menjawab pertanyaan ibunya. Karena dia tidak ingin sampai hatinya kembali terluka. Kalau bertemu lagi dengan sang ibu yang selalu menorehkan luka di dalam hatinya setiap pertemuan mereka.
" Kenapa Mama ingin bertemu denganku? Aku tidak mau kalau sampai nanti suami mama marah lagi karena pertemuan kita!" ucap Amanda dengan suara gemetar.
Manda sampai terisak mendengarkan perkataan putrinya sendiri.
" Maafkan Mama sayang yang sudah membuatmu tidak nyaman setiap kali datang untuk bertemu dengan Mama. Mama sudah meninggalkan Om Johan. Mama berniat untuk tinggal denganmu. Kamu di mana sekarang? Mama akan segera menyusulmu!" ucapkan dah dengan suara yang gemetar karena menahan rasa sedih di hatinya yang sedang bergejolak.
" Tolong Mama jangan lakukan itu Mah! Bagaimanapun Mama sekarang adalah seorang istri. Tugas Mama adalah di samping suami mama dan membesarkan putra-putri kalian. Jangan jadikan saya sebagai orang yang berdosa di antara pernikahan kalian berdua. Amanda di sini baik-baik saja Mah. Papah dan Kakek sangat menyayangiku. Mama Kesya pun selalu memuliakanku dan menganggapku sebagai putrinya sendiri. Mama tidak usah berpikir untuk meninggalkan suami dan keluarga baru Mama karena sekarang tugas Mama adalah di sampingnya bukan di sampingku!" ucap Amanda berusaha untuk menasehati ibunya untuk tidak berbuat nekat.
Terdengar Manda yang menangis sedih karena mendapatkan penolakan dari putrinya sendiri.
" Tapi mama tidak bahagia di sini sayang. Karena ternyata suami Mama tidak pernah bisa menerima masa lalu Mama bersama ayahmu. Hal itulah yang membuat dia tidak pernah mau menerimamu sebagai putrinya!" ucap Manda dengan suara yang begitu menyayat hati.
Amanda di seberang sana pun berlinangan Air mata. Amanda tidak tahan dengan apa yang dikatakan oleh ibunya. Apalagi dia tahu kalau saat ini ibunya sedang menangis.
" Maafkan Amanda Mah, tetapi Amanda tidak mau menanggung dosa untuk kepergian Mama begitu saja dari suami Mama. Mereka adalah tanggung jawab Mama saat ini. Apalagi dedek bayi Axel, pasti membutuhkan Mama sebagai ibunya! Dede Axel lebih membutuhkan Mama daripada saya. Saya di sini banyak yang menjaga dan mencintai tetapi dede Axel sekarang hanya memiliki Mama sebagai ibunya. Tolong jangan tinggalkan dia mah. Kasihan adik-adikku. Cukuplah Amanda yang kehilangan kasih sayang mama selama ini!" ucap Amanda dengan suara gemetar dan air mata yang terus mengalir.
" Baiklah kalau begitu nak. Mama tutup dulu teleponnya. Mama akan kembali memikirkan apa yang sudah kau katakan!" Amanda pun kemudian menutup telepon tersebut dan dia menangis sejadinya setelah mendengarkan semua penjelasan dari putrinya.
" Ya Allah putriku menolakku dia tidak menginginkan aku sebagai ibunya! Dia pasti sangat terluka atas semua kejadian yang dialami ketika dia berada di rumahku. Aku sungguh seorang ibu yang buruk!" tidak terasa Manda pun terus menangis terisak seorang diri di apartemen yang sudah dia jual kepada seseorang yang dulu pernah menyewa apartemen itu kepadanya.
Seorang laki-laki mapan yang berusia sekitar 30 tahun. Memiliki wajah yang tampan dan karir yang cemerlang.
Dia akan menempati apartemen itu kembali setelah perjalanan bisnisnya dari Swiss.
Oleh karena itu Manda masih bisa menempati apartemen itu, walaupun sudah dijual kepadanya. Setidaknya sampai pemilik baru datang dan menempati apartemen tersebut.
Selama seharian Manda hanya tidur di tempat tidurnya. Dia benar-benar tidak memiliki semangat apapun untuk melakukan aktivitas hariannya. Semangatnya seakan terbetut dan menghilang jauh sejak putrinya tidak menginginkan untuk tinggal bersamanya.
" Amanda saat ini pasti membenciku Oleh karena itu dia tidak menginginkan untuk hidup bersamaku. Ya Tuhan lalu apa artinya hidupku saat ini kalau tidak ada orang yang mau menerima aku? Hiks hiks!" ucap Manda dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.
" Jelaslah putriku lebih memilih keluarga Abimana grup, daripada diriku seorang wanita yang hanya bisa menjadi beban bagi kehidupannya di masa depan! Dasar kau Manda bodoh! Kenapa kau tidak bisa berpikir dengan jernih sebelum mengambil keputusan? Sekarang untuk kau kembali ke mas Johan pun itu sungguh akan sangat memalukan sekali!" ucap Manda dengan air mata yang terus mengalir tanpa henti.
Perjalanan hidupnya yang penuh dengan onak duri telah membuatnya benar-benar Rapuh dan kehilangan semangat untuk melanjutkan kembali hidupnya.
" Sebaiknya besok aku pergi meninggalkan Apartemen ini dab mulai menata hidupku yang baru! Aku akan melupakan semua masa lalu ini yang hanya mengiris hatiku sampai berkeping-keping tak bersisa!" Manda pun kemudian membereskan barang-barangnya dari apartemen itu dan bersiap untuk meninggalkan apartemen yang sudah dijual.
" Entahlah aku akan pergi ke mana. Tapi yang jelas, aku pasti harus meninggalkan Indonesia. Jarena aku tidak mau kembali menengok kehidupanku yang begitu buruk dan tidak bahagia!" ucap Manda mengambil keputusan untuk masa depannya sendiri.
Setelah semua barang-barangnya siap, Manda pun kemudian langsung meninggalkan apartemen tersebut. Setelah dia menyerahkan kunci kepemilikan apartemen kepada pengelola gedung untuk nantinya diserahkan kepada pemilik baru.
Manda pergi ke bandara dan bersiap untuk memilih negara yang akan dia jadikan tempat tinggal baru.
Di saat Manda sedang kebingungan, tiba-tiba saja ada seorang wanita yang menabraknya.
" Maafkan saya, saya tidak sengaja!" ucap Manda sambil menundukkan wajahnya.
" Manda?" tanya perempuan itu sambil menatap Manda dengan lekat.
" Maaf anda siapa ya? Kenapa mengetahui siapa saya?" tanya Manda sambil mengerutkan keningnya.
" Ya ampun! Masa kau tidak kenal saya?" tanya wanita itu tampak kecewa karena ternyata Manda tidak mengenal ini lagi.
" Maafkan saya mungkin karena sudah terlalu lama kita tidak bertemu membuat saya tidak mengingat anda lagi. Apakah anda tidak keberatan untuk menyebutkan nama anda?" tanya Manda dengan sopan.
" Aku Elena! Ya ampun! Masa kau bisa lupa denganku sih? Jahat deh!" ucap Elena sambil memasang wajah sedihnya di hadapan Manda.
Manda tampak berpikir sangat lama untuk bisa mengenali siapa Elena yang saat ini berdiri di hadapannya.
" Aku mantan kekasihnya Andika Abimana! Saat itu kita bertemu saat kau bertugas sebagai sekretarisnya di kantor cabang Jakarta. Apa sekarang kau ingat?" tanya Elena sambil mengguncangkan kedua tangan Manda.
" Elena?" pulang Manda seperti sedang merecovery kembali ingatannya tentang wanita cantik yang saat ini berdiri di depannya.
" Ya, Elena! dulu aku sering memberikanmu uang bulanan karena kau selalu memberikan laporan tentang kegiatan Andika kepadaku selama dia bekerja di kantor. Apa sekarang kau ingat denganku?" tanya Elena berharap bahwa Manda kembali mengingatnya.
Tampak Manda yang terus mengerutkan keningnya dan berusaha untuk mengingat sosok Elena yang sangat lama tidak dia temui dan akhirnya secara perlahan Manda bisa mengingatnya kembali.
" Oh ya ampun! Ternyata anda adalah Nona Elena, mantan kekasih Tuan Andika Abimana? Maafkan saya Nona karena tidak ingat anda lagi. Maklumlah sudah lebih dari 10 tahun kita tidak bertemu!" ucap Manda dengan wajah berbinar dan senang.
Elena tampak memperhatikan koper dan juga barang-barang yang menyertai Manda di sampingnya.
" Kau mau pergi ke mana?" tanya Elena mengerutkan keningnya.
" Entahlah aku juga belum mempunyai tujuan untuk pergi karena aku pun masih bingung akan pergi ke mana." ucap Manda sambil mendudukkan pantatnya di kursi yang tidak jauh dari posisi Mereka berdiri saat ini.
" Apakah kau sedang berantem dengan suamimu?" tebak Elena.
" Dari mana Nona tahu?" tanya Manda merasa heran.
Elena tertawa mendengarkan pertanyaannya.
" Seorang wanita mau pergi ke suatu tempat, tetapi tidak mengetahui tujuannya pergi. Coba, apalagi kalau bukan karena berantem dengan suaminya?" tanya Elena sambil tersenyum kepada Manda.
" Anda benar! Ya ampun! Sejak dulu anda selalu pintar Nona!" ucap Manda dengan wajah berbinar.
" Begini saja! Bagaimana kalau kau bekerja sebagai asistenku?" tanya Elena sambil menatap tajam kepada Manda.
" Apakah benar kalau anda mau menerima saya sebagai Asisten Anda?" tanya Manda mencoba untuk mengkonfirmasi kembali kepada Elena.
" Memangnya kapan aku pernah padamu? Aku serius! Bekerjalah denganku dan aku akan memberikanmu rumah dan juga gaji yang besar asal kau bisa menuruti semua perintahku tanpa banyak membantah!" ucap Elena sambil tersenyum kepada Manda yang sangat bahagia karena mendapatkan pekerjaan itu tanpa harus bersusah payah.
NB: di masa depan kolaborasi antara Manda dan Elena yang suatu saat akan membunuh Kesya dengan racun arsenik di sebuah hotel. Kisah ini bisa di baca di novel author yang berjudul:
" Terpaksa Menikah Dengan Anak Kyai"
Manda dan Elena kemudian terbang menuju negara tempat kediaman Elena bersama dengan suaminya.
Sementara itu, Amanda yang saatnya ini sedang menangis setelah mendapatkan telepon dari ibunya tampak sedang dipeluk oleh Kesya.
" Sabarlah sayang. Ibumu pasti akan mengerti dengan apa yang kau lakukan saat ini. Mama yakin kalau dia pasti mengerti!" ucap Kesya berusaha untuk menghibur Amanda yang merasa bersalah karena sudah menolak ibunya untuk tinggal bersamanya di Prancis.
" Mama pasti berpikir bahwa aku adalah anak yang jahat yang tidak mau menerima kehadirannya dan menolak dirinya. Aku hanya tidak mau kalau sampai adik Axel tidak memiliki Mama kandung seperti aku. Cukup aku yang merasakan sakit dan pedih jangan sampai adik-adikku juga mengalami hal yang sama!" ucap Amanda dengan terisak sedih di dalam pelukan Kesya.
" Apa yang kau lakukan sudah benar sayang. Sudahlah jam nangis lagi. Bukankah besok kalian akan pergi ke kedutaan untuk mempersiapkan kepergianmu ke Perancis? jangan sampai nanti wajah cantikmu menjadi jelek karena bengkak karena terlalu banyak menangis!" ucap Kesya berusaha menggoda Amanda agar tidak menangis lagi.
" Memangnya apa hubungannya dengan wajahku bengkak dengan pergi ke kedutaan?" tanya Amanda tampak keheranan.
" Siapa tahu kan, nanti di kedutaan ada laki-laki tampan yang akan tertarik dengan anaknya Mama yang cantik ini!" ucap Kesya sambil mengelus pipi Manda dengan kasih sayang yang tulus.
" Ih, Mama ada-ada aja! Amanda ingin fokus untuk belajar dan tidak ingin mengecewakan kalian!" ucap Amanda dengan wajah serius sambil menatap ibu tiri yang selama ini selalu sayang sekali kepadanya.