Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
124. Kesedihan



"Maafkan saya Pak! Tetapi istri anda sudah meninggal!" ucap suster yang bertugas malam itu, untuk memeriksa ibunya Firman.


"Meninggal? Bagaimana mungkin, Suster? Coba anda periksa lagi!" ucap ayahnya Firman seakan tidak percaya dengan keterangan sang suster.


"Saya sudah memeriksanya beberapa kali, pak! Istri Anda memang sudah meninggal!" ucapnya, kemudian meninggalkan ayahnya Firman yang kini menangis seorang diri di lantai rumah sakit.


"Kenapa kamu melakukan ini, Aurora? Apa salahku? Bukankah aku sudah minta maaf kepadamu dan memintamu untuk melupakan kejadian Masa lalu itu. Kenapa kau masih menyimpan itu semua di dalam hatimu?" ucapnya dengan derai air mata.


"Aku sama sekali sudah tidak peduli dengan keberadaan anak itu maupun ibunya. Aku hanya peduli denganmu, Aurora? Karena kamu adalah wanita yang kucintai!" ucapnya dengan kesedihan yang luar biasa.


Kemudian datang Seorang perawat laki-laki yang menemui ayahnya Firman. Yang masih bersedih hatinya mengetahui kematian istrinya.


"Pak! Anda harus segera mengurus jenazah istri anda. Jangan dibiarkan begitu saja. Kasihan dia, Pak!" ucapnya.


Seketika ayahnya Firman tersadar dan dia bangkit dari duduknya. "Sebentar Pak, saya akan menghubungi Putra saya dulu!" ayahnya Firman pun mencari ponselnya dan kemudian dia menghubungi Firman yang saat ini berada di rumah Laila.


"Firman! Cepatlah kau datang ke rumah sakit. Kita harus mengurus jenazah ibumu!" ucap ayahnya Firman dengan terbata-bata.


"Apa Pah? Jenazahnya mama? Bagaimana mungkin? Tadi siang, bukankah Mama masih sehat-sehat saja? Bagaimana mungkin tiba-tiba mama meninggal?" tanya Firman seakan-akan tidak percaya dengan berita yang disampaikan oleh ayahnya.


"Ibumu meminum obat tidur hingga overdosis itulah yang menjadi penyebab meninggal ibumu!" ucap ayahnya Firman dengan gugup.


"Ya sudah, Firman ke situ sekarang. Papa jangan ke mana-mana ya?" setelah itu Firman langsung menutup panggilan telepon dan langsung menuju ke rumah sakit.


" Ada apa mas Kenapa tampak terburu-buru?" tanya Laila melihat Firman yang tampak buru-buru hendak pergi ke luar rumah.


" Aku mau ke rumah sakit. Papaku bilang, Mamaku meninggal. Aku harus mengurusi jenazahnya untuk pemakaman!" ucap Firman langsung pergi dari rumah tersebut.


"Aku ikut Mas! Aku ingin menemanimu!" ucap Laila sambil mengejar Firman.


"Kau tidak boleh ikut. Kau sedang hamil. Wanita hamil tidak boleh berdekatan dengan orang meninggal. Bisa sawan nantinya. Kau Diamlah di rumah oke? Nanti aku segera pulang!" ucap Firman sambil mencium kening istrinya dan kemudian langsung berlari menuju mobilnya.


Malam itu terasa begitu panjang. Karena Firman yang tidak kunjung pulang. Sehingga membuat Laila tidak bisa tidur.


Sementara itu, Firman sudah berada di rumah sakit dan di sana terdapat Syafa dan Rasya yang mendampingi ayah dan jenazah ibunya.


"Ayo kita bawa jenazah Mama ke rumah. Tadi saya sudah menghubungi beberapa orang lingkungan rumah kita, untuk mempersiapkan pemakamannya besok!" ucap firman kepada ayahnya.


Begitu melihat Firman, Syafa langsung berlari ke pelukan laki-laki yang dia cintai. Awalnya Firman ingin menolak tetapi demi menjaga perasaan ayahnya, Firman pun tidak ingin mencari ribut.


" Ayo Syafa kau bawalah Rasya untuk pulang ke rumah utama!" ucap Firman sambil menyerahkan kunci mobilnya kepada Syafa. Karena dia akan ikut dengan ambulans untuk menyertai jenazah ibunya.


Setelah jenazah sampai di kediaman utama, mereka langsung mengurus jenazah ibunya Firman untuk persiapan dimakamkan.


Tampak di sana Arman dan Nindya yang hadir dalam pemakaman tersebut. Tampaknya Arman sudah dijelaskan oleh Nindya perihal dirinya yang masih merupakan keluarga dari ayahnya Firman.


Awalnya Arman merasa marah, terhadap ibunya Firman, tetapi kemudian setelah mengingat semua kebaikan yang sudah diberikan oleh Aurora dia pun kemudian secara bertahap mulai memaafkan wanita itu.


"Aapakah laki-laki yang berdiri di samping jenazah Nyonya Aurora adalah ayahku?" tanya Arman kepada Nindya. Nindya hanya mengangguk saja. Saat ini hatinya sangat sedih karena melihat atasannya meninggal secara mendadak.


Di ingatnya kembali percakapannya terakhir kali pada malam tadi. Yang mengatakan untuk menerangkan kepada Arman tentang identitasnya yang sesungguhnya.


"Nyonya Aurora itu sebenarnya seorang wanita yang sangat baik. Dia merasakan sakit hati ketika suaminya berselingkuh dengan ibumu. Malam itu, niat kedatangannya ke rumah ibumu adalah untuk melabrak wanita itu agar meninggalkan suaminya. Tetapi ternyata ibumu akan melahirkan kamu. Sehingga akhirnya dia pun tidak tega dan membantu ibumu!" ucapnya sambil menangis tersedu. Arman pun tampak meneteskan air matanya, merasakan kesedihan yang sama.


"Ketika membawamu ke panti asuhan pun niatnya adalah ingin membuangmu. Tetapi tetap saja, dia tidak tega meninggalkan kamu di sana. Dan akhirnya malah membiayai Panti Asuhan tersebut sehingga menjadi Panti Asuhan yang maju!" ucapnya lagi.


"Kalau kau ingin bertemu dengan ibumu. Aku bisa membawamu padanya. Karena sampai saat ini, Nyonya Aurora masih membiayai pembiayaan ibumu di rumah sakit jiwa!" ucapnya.


" Rumah Sakit Jiwa?" tampak terkejut mendengarkan sebuah kenyataan itu.


"Ya, ibumu jadi kehilangan kesadarannya setelah ditinggalkan oleh ayahmu. Tanpa kabar dan berita. Dia akhirnya ditempatkan di rumah sakit jiwa boleh Nyonya Aurora. Karena beberapa kali dia mencoba untuk bunuh diri dengan menyayat pergelangan tangannya sendiri!" hati Arman semakin teriris hatinya menerima kenyataan itu.


"Apakah, Ayahku tidak pernah menemui ibuku?" tanya Arman dengan berlinangan air matanya. Mengetahui kenyataan pahit hidupnya selama ini.


"Ayahmu mengira bahwa ibumu sudah kembali ke kampung halamannya. Karena waktu itu, ayahnya menyuruhnya untuk pergi ke sana!" ucap Nindya.


"Jadi maksud ibu, ayahku tidak tahu kalau Ibuku ada di rumah sakit jiwa?" tanya Arman terkejut. Nindya mengangguk pelan.


"Nyonya Aurora merahasiakan keberadaan ibumu dari suaminya!" ucap Nindya.


"Kau jangan terlalu berharap berlebihan terhadap Nyonya Aurora. Dia telah membiayai semua pembiayaan ibumu saja sudah sangat luar biasa. Apakah kau pikir wanita lain bisa melakukannya? Merawat wanita yang sudah mengganggu suaminya sendiri?" ucap Nindya dengan emosi yang membuncah.


"Saya sangat tahu berapa banyak ribuan malam yang dilalui oleh Nyonya Aurora dengan air mata. Apabila mengingat tentang perselingkuhan suaminya yang menghasilkan seorang anak seperti kamu!" ucapnya.


Tampak orang-orang sibuk mempersiapkan pemakaman ibunya Firman. Arman tidak tahu harus berbuat apa saat ini.


Apakah dia harus membenci wanita yang sudah memisahkannya bersama ibunya ataukah harus mengucapkan terima kasih atas kepeduliannya selama ini mengurus dirinya dan ibunya.


"Aku bingung harus bersikap apa sekarang!" ucap Arman kepada Nindya.


"Kau harus berterima kasih kepada Nyonya Nindya. Karena dia sudah berbesar hati meluangkan tenaga dan waktunya serta uangnya untuk merawat kamu dan juga ibumu!" ucap Nindya dengan sorot mata penuh emosi.