Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
108. Firman Pulang



Keesokan harinya Firman dan Laila kembali ke Jakarta. Setelah satu malam menginap di kota Bandung. Setelah puas berjalan-jalan mengelilingi kota Bandung. Mereka pun kembali ke Jakarta dengan perasaan bahagia.


"Terima kasih ya, Mas! Sudah nemenin aku selama seharian! Mengelilingi kota Bandung yang cantik ini!" ucap Laila sambil mencium pipi sang suami.


"Iya, Sayang! Yang penting kamu bahagia!" ucap Firman, sambil mengelus perutnya Laila yang masih rata.


Mereka kembali ke Jakarta dengan perasaan yang berbunga-bunga, perasaan bahagia. Tanpa menyadari bahwa di Jakarta sedang menunggu bom waktu yang akan di jatuhkan oleh Syafa dan kedua orangtuanya Firman. Akankah Firman sanggup untuk memilih?


Setelah mereka berdua melakukan perjalanan selama berjam-jam. Akhirnya mereka pun sampai menuju rumah mereka berdua. Firman dan Laila segera masuk dan beristirahat karena sangat lelah sekali setelah seharian mengendarai mobil.


"Kamu mandi dulu, sayang! jangan mengajarkan kejorokan kepada anak kita cepat mandi biar seger dan wangi!" perintah Firman kepada Laila, yang kini cemberut dengan ketegasan sang suami.


"Tapi aku lelah banget, Mas! Aku pengen tidur! Mandinya nanti aja ya? Setelah bangun tidur!" Laila mencoba untuk negosiasi dengan sang suami. Tetapi Firman tetap kekeuh menginginkan istrinya untuk mandi segera. Karena dia risih dengan bau badan yang tidak sedap karena seharian beraktivitas di luar.


"Jorok Sayang! Cepat sana mandi! Biar seger kan enak, kalau badannya segar. Kan, kamu juga bisa tidur dengan nyenyak. Tuh, banyak kuman-kuman yang dibawa dari luar. Itu nanti jadi penyakit loh, buat kamu sendiri dan juga buat bayi kita. Udah, cepet sana mandi! Mas akan masak dulu sampai menunggu kamu mandi!" ucap Firman.


Laila akhirnya menurut juga dia mandi kilat asal segar dan wangi sesuai permintaan sang suami yang tidak suka kotor itu. Setelah mandi, Laila niatnya mau tidur. Tapi tiba-tiba saja ada suara bel, yang terus berbunyi. Tampaknya suaminya masih sibuk memasak, jadi mau tidak mau, Laila yang membukakan pintu.


"Siapa, sih, sore gini namu pakai GA sabaran kayak gini?" kesal Laila sambil setengah berlari ke arah pintu.


Ketika Laila membuka pintu, ternyata, di depan pintu rumahnya, telah berdiri tiga orang dewasa dan 1 orang yang Layla kenal adalah putra daripada suaminya, yaitu Rasya. Yang beberapa hari yang lalu pernah datang ke rumahnya, dan mengamuk kepada ayahnya.


"Mas, ada tamu untukmu!" ucap Laila, kemudian masuk ke dalam, sambil memberikan akses kepada tamunya untuk masuk ke ruang tamu.


Dari arah dapur, tampak Firman yang menggunakan celemek dan memegang pisau, tampak berlari ke arah Layla. "Tamu siapa, sayang? Apa kau tidak bisa menemui mereka dulu? Masakanku belum selesai!" jawab Firman.


"Temuilah mereka dulu, biar masakannya aku yang lanjutin!" ucap Laila, lalu membuka celemek yang di gunakan oleh Firman. Semua interaksi keduanya, di perhatikan oleh tamu yang kini sudah duduk di ruang tamu Laila dan Firman.


"Tamunya siapa sih? Nggak tahu waktu banget! Ini kan, sudah masuk waktunya buat makan malam. Aduh, ganggu banget sih! Ya udah, Mas temuin dulu! Sana, kau lanjutkan masaknya. Soalnya Mas sudah lapar sekali ini!" ucap Firman sambil mencium bibir istrinya sekilas. Syafa yang melihat kemesraan antara Firman dan Laila, hatinya sungguh panas seperti terbakar api.


"Siapa ya?" tanya Firman sambil berjalan ke arah Ruang tamu. Mata Firman langsung terbuka lebar, ketika menyaksikan. Siapa tamu yang datang saat ini, yaitu kedua orang tuanya. Yang setahu Firman, mereka berdua tinggal di Amerika. Entah kenapa bisa sekarang bisa ada di hadapannya.


"Mah, Pah! Kapan kalian datang dari Amerika? Kenapa tidak menghubungi Firman untuk menjemput? Bagaimana keadaan kalian? Apakah sehat-sehat saja?" tanya Firman dengan senang. Kembali bertemu dengan kedua orang tuanya. Setelah selama bertahun-tahun tidak bertemu.


"Memangnya, kalau kami menghubungimu, kau punya waktu untuk menjemput kami? Bahkan, telepon istrimu saja, tidak mau kau angkat! Apakah betul, kau akan datang menjemput kami? Bukankah kau sedang sibuk mengurus dan mengabdikan hidup kamu,demi istri mudamu itu, hah? iya begitu, Firman?" sarkas ayahnya.


"Kok Papa bilang begitu sih? Firman pastilah jemput Papa sama Mama. Kalau Papa mau hubungi Firman. Emangnya, kapan Syafa menghubungi Firman? Sejak kemarin, Firman tidak pernah memegang handphone. Karena tidak ada waktu sama sekali!" jawab Firman, sambil duduk di hadapan kedua orang tuanya.


" Sayang, tolong buatkan teh untuk tamu kita!" Teriak Firman kepada Laila. Syafa yang mendengar Firman memanggil sayang kepada Laila, dihadapannya, dia merasa sangat sakit hatinya. Hampir saja Syafa menonjok wajah Firman, kalau tidak dipegang tangannya oleh ibu mertuanya, yang terus membisikan kata sabar kepadanya.


" Tidak perlu repot-repot! Kami tidak butuh minuman di rumah ini. Kami langsung saja, Firman! Apa yang sudah kau lakukan terhadap istrimu? Kenapa kamu tidak meminta izin dulu, sebelum kau melakukan pernikahanmu dengan Laila? Apakah begitu sikap seorang suami yang bertanggung jawab terhadap istrinya? Kau jawablah pertanyaan Papa. Kalau kau memang masih menganggap Papa adalah ayahmu!" ucap ayahnya Firman to the point.


Ayahnya Firman tidak mau basa basi, karena hatinya saat ini memang sedang marah melihat kelakuan putranya. Yang seakan tidak menjaga perasaan menantunya, Syafa. Bahkan Firman tampaknya tidak mau menjaga perasaan cucunya, yang saat ini sedang geram menatap kepada Firman. Ayahnya sendiri.


"Masalah pernikahan Firman dengan Laila, itu adalah urusan pribadi Firman. Firman rasa, itu bukan urusan Papa maupun Mama. Firman sudah dewasa dan sudah bisa memutuskan apa yang baik dan buruk dalam hidup Firman. Firman mohon, Papa dan Mama menghargai keputusan Firman dan tidak ikut campur dalam kehidupan pribadi Firman!" ucap Firman dengan mantap dan tegas.


Laila yang sedang mendengarkan dibalik pintu dapur, hanya bisa mengelus dada. Ketika melihat penolakan dari kedua orang tuanya Firman terhadap dirinya. Tapi, sedikit banyak, Laila merasa bangga dengan jawaban yang diberikan oleh Firman sang suami.


"Apakah itu maksudnya, kalau kamu lebih memilih Laila daripada Syafa? Benar Siapa itu Firman?" tanya Ibunya Firman dengan suara parau, sedih sudah hatinya.


"Papa dan Mama jelas sangat tahu, kalau Firman sangat mencintai Laila. Sejak dulu bahkan sampai sekarang, tidak berkurang sedikitpun. Apalagi, sekarang Laila sedang hamil anakku. Papa dan Mama tidak bisa memisahkan kami berdua. Kami akan berjuang untuk mentahankan cinta kami!" ucap Firman tidak kalah tegas.


"Hamil? Wanita itu sedang hamil anakmu, Mas? Apa kamu yakin bahwa itu adalah anakmu? Saya yakin perempuan itu pasti bukan perempuan baik-baik. Apa kamu sudah meyakinkan dirimu, kalau hanya kamu laki-laki yang pernah tidur dengannya?" tanya Syafa histeris.


"Syafa Jaga mulutmu! Jangan kau kira semua wanita itu busuk seperti kau! Laila hanya mencintaiku dan dia hanya tidur bersamaku! Jadi, anak itu sudah pasti adalah anakku!" jawab Firman sangat marah, mendengar Syafa menghina Laila. Karena Firman sangat yakin, bahwa dirinya saja yang pernah tidur bersama dengan Laila.


Laila di Jakarta ini hanya mengenal dirinya. Tidak pernah mengenal siapapun. Bagaimana mungkin Laila bisa tidur bersama pria lain? Itu sungguh di luar Logika. Dan Firman sangat malas untuk memikirkan pikiran buruk yang tadi dilontarkan oleh Syafa terhadap Laila. Istrinya.