Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
249. Rencana Adrian untuk kembali ke pondok



Mari kita tengok kehidupan Adrian yang sudah sangat lama kita tinggalkan.


Adrian yang sekarang sudah masuk usia sekolah SMA, kini sedang meminta kepada kedua orang tuanya untuk kembali mondok di Jawa Timur di pondok pesantren Kyai Ilham yang dulu sempat menjadi idolanya.


" Kalau kau pergi ke Jawa Timur kami pasti akan merindukanmu!" ucap Kesya sambil mendekat kepada putranya yang sekarang sudah menjadi remaja tanggung.


Adrian tampak tersenyum kepada ibunya yang selalu memberikan kedamaian untuk hatinya disetiap situasi dan kondisi apapun.


" Tapi Mah, Adrian rindu dengan Fathu, sahabatku sewaktu SD dulu. Kami dulu telah berjanji akan bersama lagi dikala SMA!" ucap Adrian sambil memohon kepada ibu dan ayahnya untuk diizinkan kembali ke Jawa Timur.


Andika menata putranya yang sekarang semakin tampan dan gagah dengan penampilannya yang tetap bersahaja.


" Papa tidak keberatan, kalau kau ingin mondok lagi di Jawa Timur bersama dengan Kyai Ilham. Hanya saja, apa kau yakin bisa berpisah dengan teman-temanmu yang ada di Dubai? Bukankah mereka juga sudah menjadi bagian dari hidupmu?" tanya Andika kepada putra pertamanya.


Tampak Adrian terdiam sebelum dia mampu menjawab pertanyaan ayahnya yang lumayan sulit baginya.


Kesya memeluk tubuh putranya dengan Lembut. " Halo bagaimana dengan Cakra? Apa kau yakin kalau kau tidak akan pernah merindukan adikmu itu?" tanya Kesya sambil memperhatikan putranya yang tampak sedih.


Tampak Adrian bangkit dari duduknya, kemudian Dia mendekati adiknya yang saat ini sedang bermain robot-robotan bersama dengan Amanda yang kebetulan sedang bermain ke rumah mereka.


" Cakra pasti lebih senang bermain dengan Ka Amanda daripada denganku. Dia selalu rewel dan ribut kalau selalu bermain denganku. Lihatlah kalau dia bermain dengan Kak Amanda sangat anteng!" ucap Adrian dengan nada seperti merasa sedih.


Kesya tahu kalau selama ini Adrian dan Cakra memang saling menyayangi. Hanya saja cara mereka untuk menunjukkan kasih sayang terhadap saudaranya berbeda satu dengan yang lainnya.


Andika memeluk istrinya yang tampak sudah memikirkan keinginan Putra pertamanya untuk kembali mondok di Jawa Timur bersama dengan Kyai Ilham yang sudah lama tidak pernah berkomunikasi lagi dengan mereka semenjak Adrian kembali ke Dubai bersama dengan keluarga mereka.


" Kalau misalkan Adrian memang lebih bahagia dengan mondok di sana. Biarkanlah saja sayang. Tidak apa-apa kita ijinkan saja. Semoga saja itu akan menjadi suatu tempat untuk Adrian menjadi lebih dewasa dan memupuk kepribadiannya lebih baik!" ucap Andika memberikan dukungan kepada Putra pertamanya yang masih merajut ingin pergi ke Jawa Timur untuk memenuhi janjinya kepada Fathu sahabatnya sewaktu mereka bersama-sama duduk di bangku SD.


Demi mendengarkan apa yang dikatakan oleh ayahnya Adrian seketika memeluk sang ayah dengan perasaan penuh kebahagiaan.


Sementara Kesya tampak matanya berderai air mata karena tidak kuasa memikirkan bahwa dirinya akan menanggung rindu untuk bertemu dengan putranya yang telah dibentangkan oleh jarak dan waktu yang pastinya akan sangat panjang dan jauh.


" Sabarlah Mah! Orang yang tidak pernah merasakan getirnya perpisahan karena mencari ilmu, maka suatu saat tidak akan pernah merasakan manisnya karena keberkahan sebuah ilmu yang bermanfaat!" ucap Andika.


" Salah itu pah! Bukan kayak gitu!" protes Adrian kepada ayahnya yang asal mengutip kata mutiara.


" Ah, biarkan saja. Salah atau benar, yang penting kan maknanya sama. Intinya Papa ingin bilang kepada Mamamu untuk bisa mengikhlaskanmu untuk pergi mencari ilmu di tanah Jawa. Supaya kau bisa menjadi makhluk yang mengagungkan asma Allah di muka bumi ini!" ucapkan nikah dengan memasang wajah serius menatap kepada Adrian yang mulai misuh-misuh karena ayahnya yang selalu saja ngotot dan tidak mau disalahkan oleh orang lain.


" Cucu kakek sudah pintar. Semoga nanti kalau sudah menjadi orang berilmu, ilmunya bermanfaat bagi umat dan tidak menyalahgunakan ilmunya untuk sesuatu yang unfaedah!" ucap Farhan sambil tersenyum menatap Adrian yang saat ini memeluknya.


" Nanti Kakek bisa ke Indonesia kalau rindu dengan Adrian atau satu bulan sekali aku akan minta izin untuk pulang supaya bisa bertemu dengan kalian kepada Om Ilham!" ucap Adrian sambil bergeloit manja di lengan sang kakek yang semakin hari semakin lemah kesehatannya karena termakan usia.


Sementara itu ibunya Andika yang sudah meninggal lama sudah tidak bersama dengan mereka lagi.


Amanda tinggal bersama Farhan untuk menghibur sang kakek yang hidup hanya sendirian di mansion mewahnya.


" Bagaimana kalau kakek pindah saja ke Indonesia? Supaya lebih mudah kalau misalkan Kakek ingin menjengukmu di Jawa Timur. Nanti kakak akan mengajak Amanda untuk tinggal bersama kakek. Biarlah bisnis keluarga kita di sini akan diurus oleh ayahmu!" ucap Fathan mengambil keputusan.


Tampak Andika dan Kesya saling menatap satu sama lain. Merasa berat kalau harus berpisah dengan ayahnya yang tinggal seorang saja.


" Kami tidak bisa jauh dari Papa. Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan Papa di sana? Kami akan sangat tidak tenang. Amanda masih kecil belum bisa mengurus papa secara detail seperti Kesya yang telat dan mengurus papa!" ucap Andika menyatakan keberatannya ketika Farhan meminta untuk pindah ke Indonesia menemani Adrian yang akan pergi mondok pesantren di Jawa Timur.


Tampak Andika terus membujuk dan memohon kepada ayahnya untuk mau menggagalkan keinginannya untuk pindah ke Indonesia mengikuti Adrian.


" Papa rindu dengan tanah air. Kalau bisa papah ingin dimakamkan di Indonesia bersama dengan Nenekmu, di samping makamnya! Sampai sekarang Papa masih menyesal karena tidak memenuhi keinginan ibumu untuk dimakamkan di Indonesia. Ibumu pasti juga ingin berkumpul dengan leluhurnya!" ucap Farhan dengan suara yang teramat sedih dan membuat hati Andika jadi merasa bersalah karena tidak mampu untuk mewujudkan keinginan terakhir ibunya untuk dimakamkan di Indonesia.


" Papa ingin memindahkan makam ibumu ke Indonesia dan memenuhi keinginannya!" ucap Farhan mengungkapkan keinginannya kepada putranya satu-satunya.


Andika tanpa keberatan dengan keinginan ayahnya Karena bagaimanapun pusat bisnis Abimana grup adalah di Dubai Bagaimana mungkin kalau mereka harus ke Indonesia akan sangat riskan untuk memindahkan segalanya ke Indonesia kalau mereka semua harus pindah ke Indonesia.


" Hanya Papah dan Amanda yang akan ke Indonesia. Kau dan Kesya akan tetap disini mengurus bisnis keluarga kita!" ucapan kepada putranya yang merasa tidak setuju.


" Tidak Pah! Saya tidak akan pernah mengizinkan Papah untuk tinggal sendirian dan jauh dari kami. Kalau Papa ke Indonesia, maka kita semua akan pindah ke Indonesia begitu pula dengan bisnis kita, semuanya akan Andika pindahkan pula! akhir-akhir ini kesehatan Papa semakin drop. Bagaimana mungkin Andika bisa menyerahkan kesehatan Papa kepada Amanda yang masih kecil? Tolonglah Pah mengertilah perasaan kami. Kami tidak akan bisa melakukan apapun kalau membiarkan Papa jauh dari kami! Tolong berikanlah kami kesempatan untuk merawat papa dan mengurus Papa di masa tua Papa saat ini. Di sini walaupun kita tinggal di rumah yang berbeda. Setidaknya masih bisa terjangkau mobil! Kesya pun bisa setiap hari datang ke kediaman Papa untuk selalu mengecek semua kebutuhan papa!" ucap Andika menerangkan segalanya kepada ayahnya yang akhirnya menyerah dan tidak merengek lagi untuk minta kembali ke Indonesia bersama dengan Adrian yang akan segera mereka antarkan ke Indonesia.


" Kalau Papa merasa rindu nanti ketika mengantarkan Adrian ikutlah bersama kami dan kita akan tinggal di Indonesia selama beberapa bulan. Mas Andika bisa mengecek dan menghandle pekerjaan melalui jarak jauh!" ucap Keisha mengungkapkan pendapatnya kepada mereka.


Andika setuju dengan apa yang dikatakan oleh istrinya dengan mengajak ayahnya untuk ikut berkunjung ke Indonesia. Sekaligus bernostalgia dengan kampung halaman yang sudah lama tidak mereka kunjungi semenjak Adrian kembali ke Dubai dan meninggalkan Jawa Timur.


Kesya pun sudah merindukan ibunya dan juga kakak kandungnya yang menetap di Indonesia.


" Banyak hal yang bisa kita lakukan nanti ketika mengantarkan Adrian ke pondok pesantren. Dan menitipkannya kepada Kyai Ilham untuk belajar ilmu agama!" ucap Andika sambil tersenyum kepada ayahnya yang sudah mulai setuju dengan apa yang diusulkan oleh Kesya.


" Papa memang hanya rindu dengan kampung halaman yang sudah sangat lama tidak pernah dikunjungi!" ucap Farhan.