
Elena lalu menutup telepon dari suaminya.
"Aneh, tiba-tiba menyuruh memecat ART?" ucap Elena sambil bersiap untuk pemotretan.
"Mungkin laki loe di goda sama ART loe? Kan Shine itu cantik dan masih muda! Makanya laki loe marah dan mau pecat dia!" ucap Mandi managernya
"Setahuku, Mark itu seorang playboy. Aku emang sengaja kasih ART cantik dan sexy di rumah. Biar kalau aku gak ada, suamiku masih bisa jajan di rumah. Mending yang jelas-jelas aja toh, dari pada suamiku jajan di luar, pakai barang bekas gak jelas. Nanti malah gue ketularan penyakit kelamin lagi. Amit-amit!" ucap Elena bergidik.
.
"Gila loe ya, sengaja umpanin laki loe sama pelayan seksi, gak takut nanti laki loe nyangkut ma tuh pelayan?" tanya managernya lagi.
"Gue emang sengaja, mau menguji cinta laki gue!" ucap Elena dengan santai.
"Serah loe! Nanti kalau laki loe kecantol noh pelayan, jangan nangis ya!" ucap manager Elena.
"Gue tinggal cari laki baru! Masih banyak cowok tajir yang siap jadi laki gue?!" ucap Elena.
"Ayo kita mulai pemotretan lagi!" ucap fotografer.
Setelah pemotretan selesai, Elena lalu melakukan apa yang tadi di pesan oleh suaminya. Memecat Shine dan mencari pembantu baru yang berusia paruh baya. Elena juga mentransfer uang sesuai yang dikatakan oleh suaminya.
"Maaf, shine?! Aku memberhentikan kamu untuk kerja di rumah saya. Suami saya yang meminta. Saya juga tidak tahu alasannya apa. Tadi aku sudah mentransfer gaji kamu dan juga bonus 10 bulan gaji buat kamu. Semoga kamu bisa segera mendapatkan kerjaan yang baru. Maaf sekali lagi." Elena lalu mengirim pesan tersebut untuk Shine.
Elena sekarang ada di luar kota, makanya dia kirim Chat kepada Shine. Memang kesannya tidak sopan, tapi mau bagaimana lagi? Dirinya sangat sibuk dengan pemotretan.
Anaknya dia serahkan dalam pengasuhan Baby sitter. Jadi Elena bisa tenang dengan pekerjaan yang dia kerjakan. Mark setiap hari selalu menelpon Elena, untuk mengecek kondisi istrinya.
Pembantu baru juga sudah sampai, seorang ibu paruh baya yang sangat ahli dalam pekerjaan dan profesional. Mark sangat puas dengan pekerjaan pembantu baru di rumahnya.
Mulai saat ini, Mark tidak mengijinkan siapapun masuk lagi ke kamarnya. Dirinya lebih memilih membersihkan dan membereskan kamarnya. Mark takut kalau kejadian dengan Shine kembali terulang. Mark bersyukur dirinya tidak sampai khilap waktu itu.
"Sayang! Aku pulang!" ucap Elena sambil berlari ke pelukan Mark, tentu Suaminya sangat senang dengan kemanjaan Istrinya.
"Aku kangen sama kamu, sayang!" ucap Elena sambil mencium bibir suaminya.
"Sayang, ayo di kamar saja! Malu kalau kelihatan orang lain!" ucap Mark sambil menarik tangan istrinya. Seminggu tidak bertemu, tentu dirinya sangat rindu.
"Aku rindu sekali!" manja Elena di pelukan sang suami. Mark membelai lembut punggung Istrinya.
Mark tahu semua kegiatan Elena, karena Mark memasang bodyguard bayangan untuk sang istri. Jadi Elena walaupun jauh, tidak lepas dari pengawasan Mark. Mark sangat tahu semua kesibukan Istrinya di luar. Mark tahu kalau istrinya setia selama menjalani pernikahan bersamanya.
"Bagaimana kabar anak kita? Aku rindu dia, sayang!" Elena hendak bangun dari kasur, tapi di halangi suaminya. "Kenapa?"
"Anak kita baik-baik saja dengan Baby sitter nya. Tugas kamu hanya urus aku, aku kangen sekali sama kamu!" Mark mulai mencium sang istri.
Seminggu tak bertemu, wajar kalau suami istri itu saling melepaskan rindu.
Ayo kita lihat keadaan Kesya di Indonesia
" Tes DNA sudah keluar, hasilnya memang anak perempuan itu adalah anak kamu! Apa yang selama ini kamu lakukan Andika? Sampai punya anak di luar nikah begini! " Papah Farhan sungguh hilang akal dengan kelakuan anaknya di masa lalu sampai punya anak tanpa sepengetahuan dirinya.
"Maafkan Dika, Pah! Dika juga bingung, sama sekali tidak ingat, bagaimana kenal dan bersama wanita itu. Bagaimanapun di ingat, sama sekali gak ingat!" ucap Andika frustasi.
"Kesya pasti meninggalkan aku. Kalau aku jujur tentang Amanda! Aku harus bagaimana, Pah?" Isak Andika benar-benar hilang ide sama sekali.
"Kesya sampai sekarang masih belum sadar, kemarin papah sudah diskusi dengan dokter disini. Besok kita akan pindahkan Kesya ke rumah sakit kita di Dubai. Papah gak bisa berlama-lama di Indonesia, kerjaan papah menumpuk! Banyak proyek besar yang di panding!" ucap Pak Farhan.
"Kita lakukan sesuai pengaturan papah saja." ucap Andika pasrah.
"Bagaimana dengan Amanda, pah?" tanya Andika.
"Nanti papah dan mamah akan menemui Manda. Kamu tenang saja. Kami akan handle masalah itu! kamu fokus urus Kesya saja.
Saat itu, Ilham dan Adrian datang menjenguk Kesya. " Papah!" ucap Adrian lalu lari ke pelukan Andika yang kini makin kurus saja. Semenjak Kesya jatuh koma, Andika memang hanya sibuk di rumah sakit. Anak mereka masih di inkubator. Lahir prematur. Jadi harus intensif perawatannya.
"Bagaimana keadaan Kesya?" tanya Ilham.
"Masih koma, tapi keadaan nya baik. Hanya masih perlu waktu lama buat tidur, mungkin!" ucap Andika lesu.
"Yang sabar dan tetap bertawakal ya, semoga Allah segera menyembuhkan penyakit Kesya sehingga kalian bisa berkumpul kembali!" doa tulus dari Ilham.
"Terima kasih, bro!" ucap Andika.
"Besok Kesya akan kami pindahkan di rumah sakit milik Abimana Group yang ada di Dubai!" ucap Pak Farhan sambil mencium Adrian. Rindu dengan cucunya, karena selama Kesya sakit, Adrian tinggal bersama Ilham di pondok.
"Adrian, biar tinggal bersama saya saja. Biar kalian bisa fokus dengan Kesya dan Cakra. Insyaallah aku akan mendidik Adrian seperti anak kandungku sendiri. Aku sayang sama Adrian!" Ucap Ilham dengan suara bergetar. Haru dan sendu.
"Bagaimana menurut papah?" tanya Andika.
"Kalau papah setuju saja. Biar Adrian belajar ilmu agama di pondok pesantren sejak dini. Nanti kita berkunjung ke Indonesia kalau rindu dengan Adrian!" Pak Farhan setuju dengan permintaan Ilham yang ingin merawat Adrian di pondok.
Adrian memang sudah lengket dengan Ilham. Ilham sangat menyayangi Adrian, makanya Adrian juga sayang dengan Ilham.
"Kapan kalian berangkat ke Dubai?" tanya Ilham.
"Besok, setelah dhuhur." ucap Andika.
Ilham melihat Kesya dari kaca pintu, Kesya yang masih betah tertidur di ruangan itu. Tanpa terasa Ilham menangis.
"Apa aku boleh bertemu Kesya, untuk yang terakhir kali?" tanya Ilham dengan suara serak.
"Ya, silahkan." ucap Andika lalu membuka pintu kamar Kesya. Badan Ilham di sterilisasi dulu. Mengunakan baju steril dan juga masker.
"Kesya, cepatlah bangun! Kasihan anak dan suami kamu! Mereka merindukan kamu, aku mohon Kesya!" Ilham menggenggam telapak tangan Kesya lalu menciumnya dengan lembut. Hatinya sangat sedih melihat wanita yang dia cintai dalam keadaan koma, sudah hampir satu bulan lamanya.
Air mata Ilham jatuh ke telapak tangan Kesya. Secara ajaib, tangan itu bergerak, lalu kelopak mata Kesya terbuka pelan-pelan.
"Mas Ilham, kenapa kamu menangis, Mas? Aku ada di mana?" tanya Kesya masih terbata-bata.
Andika langsung masuk, saat dari kaca di lihatnya sang istri sudah siuman. Andika melihat semua yang Ilham lakukan kepada istrinya, tapi Andika sama sekali tidak marah.
Andika paham dengan perasaan Ilham untuk istrinya. Dirinya yang telah jahat, merampas Kesya dari hidup Ilham. Ilham sangat baik, sehingga tidak pernah menunjukkan permusuhan atau kebencian kepadanya maupun kepada keluarga besarnya. Bahkan Ilham merawat Adrian dengan penuh kasih sayang, disaat dirinya sibuk mengurus Cakra dan Kesya di rumah sakit. Hati Ilham sungguh terbuat dari emas.