Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
265. Memaafkan?



Setelah menghubungi ibunya, Ayana pun langsung mendatangi Agus yang masih berbaring di atas ranjang.


" Sebentar ya aku masak dulu untukmu. Aku yakin kau pasti sangat lapar kan?" tanya Ayana kepada Agus yang masih menangis dalam diamnya.


" Kau di sini saja, tolong temani aku!" ucap Agus tidak mau melepaskan tangan Ayana.


" Tapi aku lihat di dapur belum ada apa-apa. Aku yakin dari pagi kau belum sarapan kan?" tanya Ayana dengan suara lembut bertanya kepada Agus.


" Tolonglah aku sayang. Aku benar-benar membutuhkanmu saat ini. Kita bisa memesan makanan lewat aplikasi. Kalau kau memang ingin makan!" ucap Agus.


" Bukan aku yang ingin makan. Tapi Kau! Kau pasti yang lapar karena belum makan setiap pagi. Sementara ini sudah hampir jam 11.00 siang. Aku tadi sudah makan di rumahku!" ucap Ayana dengan wajah cemberut.


Agus benar-benar sangat merindukan kebersamaannya bersama dengan Ayana. Oleh karena itu dia tidak merasakan lapar sama sekali walaupun dia belum memakan apapun sejak tadi malam. Karena yang saat ini dia inginkan hanyalah ingin bersama dan selalu dekat dengan Ayana.


" Baiklah kita pesan makanan lewat aplikasi saja. Setelah kau makan kita akan pergi ke rumah sakit terdekat. Kita harus segera memeriksakan kembali kondisimu. Aku khawatir kalau kau bermasalah dengan otakmu!" ucap Ayana.


Setelah mendapatkan persetujuan dari Agus Ayana pun kemudian langsung mencari ponselnya kembali yang tadi dia letakkan di ruang tamu.


Ayana membeli beberapa makanan yang disukai oleh Agus sekalian memesannya untuk makan siang dan juga makan malam.


Setelah makanan-makanan yang dia pesan datang. Ayana pun menemani Agus untuk makan siang bersama.


" Aku senang sekali akhirnya kita berdua bisa kembali makan bersama. Sayang, ini sungguh benar-benar sesuatu yang sangat ajaib bagiku dan sangat luar biasa!" ucap Agus sambil menggenggam tangan Ayana dengan erat. Terlihat sekali bahwa Agus tidak ingin kehilangan Ayana sekali lagi dalam hidupnya.


Ayana hanya menatap Agus dengan lekat sangat sulit untuk dia berkata-kata karena sejujurnya hatinya belum terlalu berdamai dengan masa lalunya bersama Agus.


Tetapi Ayana sadar bahwa hidup dengan masa lalu yang pahit hanya membuat luka tidak akan pernah sembuh. Melihat hidup Agus yang tampak menderita membuat Ayana pun tersadar bahwa bersama jauh lebih indah dan mereka akan sama-sama melewati masa yang sulit itu berdua dengan cinta yang masih tersisa di antara mereka.


" Cepatlah kita selesaikan makan. Setelah itu kita pergi ke rumah sakit kita harus memeriksakan kondisimu." ucap Ayana sambil menundukkan kepalanya.


Ayana sungguh malu sama dirinya sendiri. Di hari pertama dia bertemu lagi dengan Agus ternyata dia tetap tidak bisa menolak pesona suaminya yang ternyata masih begitu kuat bercokol di hatinya.


' Dasar Ayana bodoh! Kau selalu saja kalah kalau harus berhadapan dengan Agus!' tidak ada habisnya Ayana merutuki dirinya sendiri.


Kegagahannya menyatakan perang kepada Agus ternyata tidak bertahan lama. Pada akhurnya, tetap saja hatinya lemah dan tidak mampu mengalahkan pesona sang suami.


" Ayo kita ke rumah sakit!" ucap Agus sambil tersenyum ketika melihat Ayana yang tampak masih asik melamun di meja makan.


Melihat Ayana yang belum merespon apapun perkataannya. Agus pun kemudian mendekati istrinya dan mengecup bibir Ayana yang ranum dan sangat dia rindukan.


Ayana sontak terkejut dan terbangun dari lamunannya.


" Maafkan aku. Kau tadi bilang apa?" tanya Ayana dengan gugup. Ketika kecupan Agus berhasil menyadarkannya kembali dari lamunannya.


" Kau sedang melamun apa?" tanya Agus sambil tersenyum kepada Ayana.


Ayana bangkit dari duduknya, kemudian dia pun masuk ke dalam kamar Agus berniat untuk mengambil ponselnya yang tadi dia letakkan di atas nakas di samping tempat tidur milik Agus. Agus mengikuti Ayana sampai di kamarnya.


" Sayang, aku benar- benar merindukan kamu. Apakah kita bisa melanjutkan yang tadi tertunda gara-gara penyakitku yang kumat?" tanya Agus sambil memeluk Ayana yang langsung memerah wajahnya karena Agus mengingatkan kembali kejadian yang sangat memalukan baginya tadi.


" Ayo kita ke rumah sakit. Bagaimanapun kondisimu harus diperiksa dulu. Aku tidak mau kalau ada hal-hal yang buruk terjadi lagi padamu." ucap Ayana gugup.


Ayana berusaha untuk melangkahkan kakinya dan keluar dari kamar. Akan tetapi Agus benar-benar tidak mengizinkannya untuk keluar dari sana.


" Ayolah sayang!" bujuk Agus yang mulai kembali menggoda iman Ayana dengan bujukan maut nya yang selalu berhasil menaklukkan seorang Ayana walau sekeras apapun dia mencoba untuk menolak, Agus tetap menang dan bisa meluluhkan hati Ayana yang memang pada dasarnya masih mencintai Agus.


Setelah dua jam, disinilah mereka akhir nya berada. Di kamar mandi dan tampak berendam bersama. " Ayolah cepat. Kalau begini terus, akan membuat kita semakin lama untuk sampai ke rumah sakit. Apa kau tidak memikirkan kesehatanmu?" tanya Ayana mulai merasa tidak nyaman dalam situasi yang terasa masih canggung baginya. Ayana merasa malu karena terlalu lama mereka bersama dan telah menghabiskan banyak waktu berdua dalam kemesraan.


" Baiklah sayang. Ayo kita selesaikan dan kita segera berangkat ke rumah sakit. Setelah itu kita berdua akan bertemu dengan kedua orang tuamu. Aku akan melamarmu kembali untuk menjadi istriku lagi!" Ayana sangat terkejut mendengarkan perkataan Agus.


" Melamarku kembali? Pernikahan yang kemarin kan proses perceraiannya belum aku urus. Karena kemarin kau mengalami amnesia. Sehingga berkas yang aku masukkan tidak diterima oleh pengadilan. Sampai sekarang belum aku ajukan lagi ke pengadilan!" ucap Ayana menerangkan segalanya kepada Agus.


" Apakah kau masih berniat untuk bercerai denganku? Sungguh, sayang, aku benar-benar tidak bisa hidup tanpa kamu. Mari kita kembali membangun rumah tangga kita. Aku yakin Axel pun pasti akan setuju bahwa kita berdua kembali merajut rumah tangga kita." Agus kembali membujuk istrinya untuk kembali menjalani rumah tangga mereka.


" Ayo kita ke rumah sakit dulu. Kita periksakan keadaanmu. Aku benar-benar khawatir!" ucap Ayana yang langsung meninggalkan Agus dalam bengong nya.


" Ayo, ko malah melamun sih? Sebetulnya kau mau berangkat ke rumah sakit atau tidak sih?" Ayana sudah mulai kesal dibuatnya karena sudah hampir satu jam sejak mereka mengatakan akan berangkat ke rumah sakit tetapi Agus masih saja memperlama perjalanan mereka.


" Sebetulnya aku merasa baik-baik saja. Selain kepalaku yang sedikit pusing. Finally, semuanya aku rasakan baik." ucap Agus sambil tersenyum kepada Ayana.


" Kalau kau merasa kau mengerti tentang tubuhmu. Ya sudah kalau begitu, aku pergi saja sekarang. Percuma juga kan aku di sini, tidak kau anggap!" ucap Ayana yang bergegas berniat untuk keluar dari apartemen Agus.


Agus bergegas mengambil ponsel dan juga kunci mobilnya dan mengikuti Ayana yang saat ini sedang marah kepadanya.


" Maafkan aku sayang. Bukan niatku seperti itu! Jangan marah ya? Hmmm?" ucap Agus sambil menggelitik pinggang Ayana sehingga membuat Ayana akhirnya tertawa karena merasa geli dengan kelakuan Agus.


Sementara itu Humairoh dan juga suaminya yang sedang memperhatikan dua insan yang sedang jatuh cinta itu dari kejauhan. Mereka tampak merasa bahagia melihat keduanya sekarang sudah mulai akur lagi.


" Syukurlah kalau mereka berdua kembali akur. Semoga saja mereka bisa kembali rujuk dan melupakan tentang rencana perceraian mereka!" ucap Humairoh.


" Aku berharap semoga Agus bisa kembali menemukan kebahagiaannya. Aku tahu bahwa Agus pasti sangat mencintai Ayana. semoga saja kejadian amnesia itu bisa menjadi kesempatan kedua untuk mereka bisa memulai kembali kehidupan baru!" ucap Pradipta sambil tersenyum kepada Humairah.


" Apakah seperti kita berdua?"


" Yah seperti kita berdua yang walaupun sudah berpisah lebih dari 20 tahun. Tetapi pada akhirnya cintalah yang menyatukan kita kembali!" ucap Pradipta sambil menggenggam tangan Humairoh dengan erat.


" Bagaimana dengan kabar Agnes?"


" Kemarin baru saja dia meneleponku. Dia mengatakan kalau dia sebentar lagi akan wisuda. Dia berharap agar aku bisa datang ke Indonesia dan menghadiri wisudanya!"


" Datanglah kesana. Kasihan anak itu! Jangan sampai perceraianmu dengan istrimu akan menjadi trauma untuk anak-anakmu!" ucap Humairoh sambil tersenyum kepada Pradipta.


" Tetapi kalau aku pulang ke Indonesia, pasti akan bertemu dengan Andini. Apakah kau tidak akan cemburu?" Humairo tertawa mendengarkan pertanyaan konyol yang ditanyakan oleh suaminya.


" Untuk apa aku cemburu? Kalau Mas memang ingin kembali kepadanya, aku persilahkan kok. Aku toh juga sudah tua Mas. Sudah bukan saatnya untuk berebut laki-laki lagi! Aku yang penting melihat Ayana hidup bahagia sudah cukup bagiku!" ucap Humairoh sambil tersenyum kepada Pradipta.