
Sementara itu Cakra yang saat ini sedang berada di gudang yang tadi ditunjukkan oleh Edmundo sebagai rumahnya. Dia mulai heran dengan tempat yang diakui sebagai rumah Edmundo kepada dirinya.
" Ed, Kenapa rumahmu seperti ini? Ini seperti gudang tua yang tidak dirawat sama sekali!" tanya Cakra sambil terus menatap ke sekeliling yang tampak begitu sunyi.
Entah kenapa Cakra seperti mencium bau anyir darah di sekitar tempat yang saat ini Dia sedang berdiri di dalam gudang tersebut.
" Ed, kenapa aku seperti mencium bau darah di sekitar sini?" tanya Cakra kepada Edmundo yang sejak tadi terus menundukkan kepalanya dan tidak sanggup untuk menatap Cakra yang terus menghujani dirinya dengan banyak pertanyaan.
Cakra pun tampak heran melihat sahabatnya yang juga bertugas sebagai asistennya. Ed sekarang malah menitikkan air matanya di hadapan dirinya.
" Kamu kenapa Ed? Kenapa kamu malah menangis? Hmm? Yaa sudah Ed. Aku tidak akan bertanya lagi keladamu. Aku akan diam dan menunggu ibumu datang kemari untuk bertemu dengan kamu!" ucap Cakra sambil mengulas senyum kepada Ed yang malahan semakin terisak dan air matanya semakin deras mengalir di kelopak matanya.
Cakra menjadi bingung sendiri. Karena dia tidak mengerti kenapa Ed menangis seperti itu. Padahal dia hanya bertanya saja dan itupun hanya pertanyaan simpel yang tidak menyinggung perasaan siapapun.
Cakra kemudian memeluk Ed dengan penuh kehangatan sebagai seorang sahabat.
" Maafkan aku Ed. Aku tidak akan bertanya lagi kalau semua pertanyaanku membuat hatimu sedih!" ucap Cakra sambil memeluk Ed dan menepuk bahunya.
" Maafkan aku Cakra yang terpaksa melakukan ini semua kepadamu. Ayah tiriku mengancam akan membunuh Ibuku kalau sampai aku tidak mau membawamu kemari! Hiks hiks!" ucap Ed dengan suara seraknya.
Cakra mengerutkan keningnya karena dia bingung dengan perkataan Ed yang tidak Dia mengerti.
" Maksud kamu apa Ed?" tanyanya.
Edmundo kemudian menceritakan semuanya tentang kehidupannya dengan jujur.
" Jadi benar apa yang dikatakan oleh Ayahku bahwa kau adalah komplotan dari para penculik anak-anak? Yang selalu meminta tebusan dan menjual organ tubuh mereka kalau orang tua mereka tidak mau menebus keselamatan mereka?" tanya Cakra yang mulai menjauh dari Edmundo yang sekarang tambah terisak semakin sedih.
" Aku terpaksa melakukan semua itu Cakra. Karena Ayah tiriku yang selalu mengancam akan membunuh Ibuku kalau aku tidak menuruti semua keinginannya! Aku tidak berdaya sama sekali. Bahkan ketika aku tidak mau mengikuti rencananya, maka dia pasti akan mengancam dan juga menyiksa ibuku di depan mataku sendiri! Aku tidak sanggup harus melihat Ibuku dalam kesakitan dan juga penderitaan!" ucap Edmundo menceritakan segalanya kepada Cakra.
Cakra terus menggelengkan kepalanya. Marah dan sedih. Bagaimanapun dia tidak bisa menerima semua alasan yang telah dikatakan oleh Ed yang ternyata adalah komplotan mafia yang selalu menculik anak-anak untuk dijual organ tubuhnya ataupun dijual kepada orang-orang yang membutuhkan anak dengan harga mahal ke luar negeri apabila orang tua mereka tidak mau menebus mereka. Entah karna alasan tidak sanggup bayar atau memang mereka yang sudah tidak menginginkan anak tersebut dalam kehidupan mereka.
" Tenanglah Cakra. Aku pasti akan membantumu untuk keluar dari tempat ini. Sekarang cepatlah kau lari dari tempat ini. Sebelum Ayah tiriku nanti datang dan menyekapmu di ruangan bawah tanah gudang ini bersama dengan anak-anak lainnya!" perintah Ed yang langsung menarik tangan Cakra untuk segera keluar dari gudang yang masih sepi dari anak buah ayah tirinya.
" Kamu mau pergi ke mana Ed?" tiba-tiba saja Ibu Ed Bundo keluar dari sebuah ruangan dengan senyumnya yang begitu menarik hati siapapun yang melihat nya.
" Mama apa kabarmu?" tanya Ed merasa senang ketika dia melihat ibunya yang ternyata baik-baik saja dan tidak sakit sama sekali seperti yang dikatakan oleh ayah tirinya tadi pagi. Ketika bertemu dengannya di kediaman Abimana.
Wanita yang dipanggil mama oleh Ed pun tampak mendekati Cakra dan memperhatikan bocah kecil itu dari ujung rambut hingga ujung kaki.
" Wah memang orang dari kalangan Sultan itu memang berbeda sekali. Kau pasti bisa di jual sangat mahal sekali. Kalau kami menjualmu kepada orang yang ingin punya anak. Wajahmu sangat tampan, kulit dan tubuhmu terawat begitu sangat baik. Kalau aku meminta tebusan tinggi kepada ayahmu pun pasti mereka tidak akan keberatan bukan?" tanya wanita yang ternyata adalah Maria.
Maria sepertinya sudah lupa tentang Cakra yang dulu pernah dia aniaya ketika Cakra masih kecil. Yang membuat dirinya masuk penjara karena perbuatan jahatnya dilaporkan oleh Andika dan Kesya.
Cakra tidak gentar sama sekali melihat Maria yang semakin mendekat ke arahnya dan bersiap mengikat kedua tangannya.
" Kau tidak usah mengingat diriku. Langsung saja hubungi kedua orang tuaku. Mintalah berapapun yang kau inginkan dari ayahku. Keluarga Abimana grup pasti tidak akan mengecewakan kalian semua! Oh ya apakah kau menginginkan aku untuk menghubungi ayahku sekarang?" tanya Cakra dengan penuh percaya diri.
Maria sangat terkejut mendengarkan nama Abimana grup yang kembali hadir dalam kehidupannya.
" Abimana grup? Eh bocah! Siapa nama kamu?" tanya Maria dengan wajah tidak bersahabat kepada Cakra.
Maria memang sudah sangat lama tidak bertemu dengan Cakra, jadi sangat wajar kalau dia tidak mengingat wajah Cakra. Karena sekarang Cakra yang sudah beranjak dewasa sementara dulu ketika dirinya menganiaya Chakra ketika Cakra masih kecil sekali dan masih butuh asuhan dirinya.
" Namaku adalah Cakra Abimana. Kenapa kau bertanya namaku?" tanya Cakra sambil menatap tajam ke arah Maria yang langsung melotot sempurna mendengarkan nama dia.
Maria kemudian mendekati Cakra dan menatap pemuda itu dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Sementara itu Ed yang sangat terkejut mendengarkan semua perkataan ibunya. Dia tampak begitu kaget dan tidak percaya bahwa ternyata ibunya selama ini telah menipu dia.
" Wah kau sudah besar sekarang semakin tampan dulu ketika kau masih kecil aku pernah menjadi baby sittermu. Apakah kau sudah melupakan aku?" tanya Maria kepada Cakra yang malah mengerutkan keningnya.
Ed kemudian menarik tangan Cakra untuk menjauh dari Maria.
" Cakra! Cepatlah kau lari dari sini sebelum Ayah tiriku datang dan menangkapmu!" ucap Ed berbisik di telinga Cakra yang masih melihat ke arah Maria yang tampak marah kepada Ed yang tadi menyuruh Cakra untuk lari dari gudang itu.
" Eh kamu! Anak ingusan! Kau dengarkan ya! Kalau sampai rencana ini gagal, maka kau yang akan dijadikan penggantinya! Paham kamu?" ancam Maria sambil menunjuk wajah Edmundo yang tampak gemetar ketakutan ketika dia melihat Maria yang tampak seperti iblis yang turun dari neraka.
Maria menebarkan terornya kepada Cakra dan Edmundo yang sekarang mulai berlindung dari tangan Maria yang hendak mengikat mereka dan membawa mereka ke ruang bawah tanah yang biasa di gunakan untuk menyekap anak-anak korban penculikan.