Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
65. Fakta seorang Merry Abimana



Ayo kita menengok Merry dan Alvian, sudah lama kita tidak mendengarkan kabar dari mereka.


Setelah Merry kembali dari menghadiri pemakaman Abahnya Ilham di Jawa timur, Merry dan Alvian pergi ke Pontianak. Dengan perasaan marah tentu saja. Karena Andika yang mengusirnya dari rumah sakit, ketika Merry mengkritik gaya hidup kakaknya sebelum menikah dengan Kesya. Merry yang kaget sang kakak mempunyai anak di luar nikah tanpa sepengetahuan kakaknya sendiri.


Kisah hidup kakaknya ini sudah mirip kaya cina drama saja, kalau di pikiran sungguh kesal sekali Merry terhadap kakaknya. Merry bisa membayangkan bagaimana perasaan Kesya, sebagai istri sang kakak, yang harus menerima kenyataan pahit tersebut


"Sudahlah, sayang! Mas Dika gak ada niat seperti itu. Pikirannya sedang kalut, tolong kamu bisa menerima dan mencoba memahami hal itu!" nasehat Alvian kepada istrinya yang masih kesal dengan sang Kakak.


"Aku cuma kesal, Mas! Mba Kesya sedang berjuang dengan maut, Mas Dika malah sibuk ngurusin wanita lain dan anak haramnya yang gak jelas itu!" ucap Merry penuh dengan kemarahan.


"Sayang, kita marah sama seseorang boleh, tapi tolong, jangan berlebihan. Ok? Jangan merusak hatimu dengan membenci orang lain, apalagi itu adalah saudara kita sendiri! Mas yakin, Kak Dika juga tidak ada niat melakukan hal semacam itu. Buktinya, Kak Dika tidak mengingat perempuan itu sama sekali!" ucap Alvian sambil memegang tangan istrinya.


"Karena itu aku marah, Mas?! Memang dasar laki-laki buaya, gak punya akhlak! Seenaknya merusak masa depan anak gadis orang lain, eh, habis manis sepah di buang! Bikin kesal tahu gak sih?" Merry malah makin berapi-api. Alvian jadi hilang akal untuk membujuk sang istri agar tidak marah-marah terus.


"Sayang, udah, dong! Kasihan dede bayi kita! Nanti jadi stress loh! Dan kamu harus ingat, kata orang tua zaman dulu, kalau kita sedang hamil, lalu membenci seseorang berlebihan, nanti anak yang lahir jadi mirip sama yang di benci, loh! Apa kamu mau nanti anak kita jadi mirip sama Kak Dika? Bukannya mirip kita berdua?" ucap Alvian lesu.


"Amit-amit jabang bayi! Jangan sampai anak kita mirip Mas Dika!" Merry getok kepalanya dan juga meja di depan kepalanya berkali-kali, sambil mengelus perutnya yang mulai membuncit. Alvian menatap kelakuan istrinya yang lecu dengan senyuman tersungging di bibirnya.


"Lucu banget, sih! Jadi pengen ucul-ucel! Istri siapa, sih?" Dengan gemas Alvian mengacak-acak rambutnya.


"Ih, kamu apa-apa an, sih? Aku jadi jelek nih!" cicit Merry dengan memonyongkan bibirnya. Karena gemas, Alvian langsung menarik tangan Merry dan tanpa aba-aba mencium bibir istrinya tercinta.


"Mas kebiasaan, curi-curi kesempatan kayak gitu!" protes Merry sambil memukul dada suaminya. Alvian hanya tersenyum melihat tingkahnya Merry yang sampai sekarang selalu sukses membuat hatinya tambah cinta.


"Sayang, kita nengok mamah sama papah, yuk? Mas kangen sama apartemen Mas di Dubai!" ajak Alvian.


"Ogah! Aku gak mau ketemu sama Kak Dika! Aku mau kita fokus disini aja, Mas! Bilang sama papah, kalau disewakan saja apartemen kita. Daripada kosong, nanti malah di jaga sama setan! Ih, serem?!!" ucap Merry dengan mimik ketakutan. Alvian malah tersenyum.


"Emang jaman modern kaya gini, masih ada setan?" tanya Alvian dengan tatapan mata yang menusuk hati Merry.


"Adalah, Mas! Setan dan jin itu akan terus ada sampai hari kiamat tiba! Dimanapun kita berada mereka akan selalu ada, menghembuskan perselisihan dan kebencian terhadap sesama manusia dengan manusia yang lainnya!" ucap Merry antusias.


"Ya, Merry tahu, Mas! Kalau gak ada Mas Dika, yang dahulu begitu sabar, Nerima keberadaan Merry di keluarga Abimana, Merry pasti masih jadi seorang gadis miskin, yang kesepian di panti asuhan, tanpa keluarga, tanpa siapapun juga! Hiks hiks!" hati Merry tiba-tiba menjadi sedih ketika mengingat kejadian di masa lalunya.


Flass back on


"Dika, ayo sini, sayang! Sambut adik baru kamu, namanya Merry Anjani. Mulai sekarang namanya Merry Abimana. Mamah sama papah sudah resmi mengadopsi Merry sejak hari ini, agar Andika tidak kesepian lagi!" Mamahnya hari itu membawa pulang seorang anak berusia tujuh tahun, dan Andika berusia 12 tahun. Penampilan Merry lusuh dan lecek. Sungguh tidak mencerminkan bahwa dia layak jadi anggota keluarga Abimana. Keluarga ningrat yang sudah kaya sejak dari sananya. Keluarga konglomerat yang berharta dan ternama. Tapi Andika sama sekali tidak sombong.


Andika mendekati anak gadis itu, lalu memeluknya. "Selamat datang, adikku! Semoga kamu betah, disini!" Andika lalu mengajak adik kecilnya yang tampak masih belum bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya.


Andika kecil memperkenalkan semua pegawai dan membawa berkeliling ke setiap penjuru rumahnya. "Kak, aku cape! Ayo kita istirahat dulu!" Merry kecil memanggil kakak barunya yang sangat tampan dan baik hati.


"Ayo, kakak gendong! Kita akan istirahat di rumah kaca itu, di sana ada sebuah kasur dan ranjang. Biasanya aku kalau kesepian, akan tidur di sana, sambil melihat bintang dan bulan! Disana juga banyak bunga dan tanaman yang cantik! Kamu pasti suka!" Adrian lalu jongkok di depan Merry, tanpa takut, Merry langsung melompat ke punggung kakak barunya tersebut.


"Anak pintar!" puji Andika lalu mereka bersama-sama masuk ke dalam rumah kaca milik sang mamah.


Ketika mereka membuka-buka buku di atas meja yang ada di rumah kaca tersebut, Andika menemukan sebuah buku yang sudah usang. Buku itu milik sang mamah.


Andika yang sudah besar,dia pintar membaca dan juga menulis. Disana tertulis curhat dari sang mamah.


"Oh, Tuhanku! Apa yang harus aku lakukan? Kenapa hidupku harus seperti ini? Apakah aku akan sanggup, menerima anak.dari suamiku bersama selingkuhannya? Walaupun wanita itu sudah meninggal, tapi sungguh, hati ini tidak sanggup menahan derita ini! Apa yang harus aku lakukan, ketika anak haram itu tinggal bersama kami? Aku sungguh tidak sudi membagi cintaku untuk putra kesayanganku dengan anak haram dari suamiku bersama pelacur itu!" Andika menjatuhkan buku harian itu. Lalu Merry memungut dan ikut membaca. Walaupun tertatih-tatih, tapi Merry bisa memahami apa yang tertulis dalam buku tersebut. Sedikit banyak, Merry pernah belajar membaca dan menulis.


"Kak, apa benar, yang tertulis dalam buku harian ini? Kalau aku adalah anak haram dari papah kita? Bersama seorang pelacur?" tanya Merry kecil, dengan air mata yang mulai menetes. Adrian sudah menangis, tidak tega melihat Merry yang kini mulai menangis sedih.


"Tidak, kau adikku! Jangan sedih! Kakak akan selalu bersama kamu! Kakak tidak akan pernah meninggalkan kamu!" janji Andika saat itu.


flash back off


"Sayang, ayo kita masuk ke kamar saja, disini dingin! Nanti kamu masuk angin, bahaya bagi bayi kita!" ajakan Alvian membuat segala lamunan masa lalu datang kembali. Merry menangis sesenggukan, hingga membuat Alvian bmenjadi heran dan aneh.


"Hormon kehamilan kayanya, emosinya menjadi tidak stabil! Aku harus banyak bersabar!" ucap Alvian dalam hatinya, lalu membawa Merry ke dalam kamar dan menyelimuti seluruh tubuhnya.