Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
153. Sabar dan Tawakal



"Ustadz, tinggalkan saja saya di sini. Saya memang layak menerima hukuman ini!" ucap ibunya Arman dengan suara yang begitu memelas.


"Tidak! Saya pasti bisa membawa anda untuk keluar dari tempat ini. Dengarkan perkataan saya bu! Anak anda sedang menunggu Anda di luar sana. Anda harus bersabar dan tawakal kepada Allah. Lepaskanlah segala nafsu dan Ambisi Anda terhadap dunia agar jiwa Anda terbebas dari belenggu kemaksiatan dan juga dosa yang tiada akhir!" ucap Ustad Fahri sambil menatap wajah ibunya Arman yang pucat pasi.


"Sepanjang hidup saya, hanya demi mendapatkan apa yang saya inginkan. Saya telah mengorbankan nyawa anak orang Ustaz! Ustaz dosa saya tidak terampuni lagi!Mungkin dengan saya berada di sini, akan menjadi penebus dosa saya selama hidup di dunia!" ibunya Arman dengan suara yang lemah dan menghiba.


"Dengarkan saya Ibu! Anda berada di sini bukan untuk menebus dosa anda! Tetapi anda berada di sini untuk mengabdi kepada setan-setan itu sampai hari kiamat. Apakah anda akan rela? Ayo ikut bersamaku agar kau bisa kembali ke jalan Allah dan bertobat. Sehingga kau bisa beristirahat dengan tenang di sisi Allah!" ibunya Arman menetap Ustad Fahri dengan lekat kemudian dia pun mengangguk pelan.


"Sekarang lepaskanlah ambisi dan nafsu yang ada di dalam hati ibu dan bacakanlah ayat-ayat suci Alquran dan juga dua kalimat syahadat. Lafalkan itu terus secara berulang-ulang di dalam hati ibu! Saya juga akan membantu ibu agar ibu bisa dengan mudah melepaskan rantai-rantai baja itu!" ucap ustadz Fahri.


Kemudian Ustad Fahri duduk bersila dihadapan ibunya Arman. Dia membacakan ayat-ayat Alquran dengan suara lantang sehingga banyak suara jeritan di dalam sana yang meminta kepada Ustad Fahri untuk menghentikan aktivitasnya.


"Hentikan wahai manusia! Apa yang kau lakukan di istanaku? Hentikan hoiiiii! Dasar kurang ajar! Kau hampir saja menghancurkan istanaku ini! Kau bawalah makhluk bodoh itu dari istanaku sekarang juga, aku tidak butuh dia!" suara itu terus bergema di dalam ruangan hampa udara itu.


Ustad Fahri tidak bergeming sama sekali. Dia terus mengucapkan kalimat-kalimat Allah dengan penuh keyakinan dan kekuatan.


Hatinya sangat yakin dengan kekuatan dan ilmu Allah. Ustadz Fahri penuh akan kepercayaannya terhadap Allah yang akan selalu melindunginya dalam segala mara dan bahaya yang menghadang dalam langkahnya saat ini.


Ibunya Arman terus membacakan al-fatihah dan tertatih-tatih mengucapkan kalimat syahadat yang sudah lama tidak dia ucapkan dengan berderai air mata dan penuh rasa penyesalan di dalam hatinya saat ini.


"Astaghfirullahaladzim astaghfirullahaladzim astaghfirullahaladzim astaghfirullahaladzim astaghfirullahaladzim astaghfirullahaladzim!" ibunya Arman terus mengucapkan istighfar dengan mulutnya yang tertatih dan dengan air mata yang mengalir di pipinya.


Sehingga akhirnya, secara ajaib rantai-rantai baja itu pun terlepas dan kemudian tubuh ibunya Arman jatuh lunglai ke tanah dan langsung ditangkap oleh Ustad Fahri.


"Mari Ibu saya akan membawa anda untuk kembali ke dalam jasadmu!" ucap Ustad Fahri sambil memegang tangan ibunya Arman.


Ibunya Arman masih menangis dan berderai air mata penuh rasa penyesalan.


"Ustadz! Tolong sampaikan kepada anakku untuk mendatangi ayahnya dan katakan bahwa aku meminta maaf kepada dia. Karena aku telah merusak rumah tangganya. Tolong mintakan maaf kepada ayahnya Arman. Tolong ustadz! Tolong ustadz, sampaikan kepada Putraku untuk datang kepada ayahnya dan sampaikan maaf ku kepadanya!" ucap ibunya Arman dengan berderai air mata.


Sampai akhirnya dia sampai di hadapan jenazahnya yang saat ini sudah di kerubungi oleh para tetangga Arman.


"Masuklah ke dalam wadagmu dan tunggulah penjemputan dari malaikat yang akan membawamu menghadap Allah!" ucap Ustadz Fahri yang membimbing ibunya Arman untuk masuk ke dalam tubuhnya yang telah membeku dan kaku.


"Terima kasih ustad karena anda telah menolong saya. Tolong sampaikan wasiat saya kepada Putra saya untuk dia mendatangi ayahnya dan mintakan maaf atas nama saya!" kemudian roh ibunya Arman langsung melesat masuk ke dalam jenazah ibunya Arman. Tidak lama kemudian, roh itu kembali melesat naik ke atas langit.


Dia bisa melihat semua proses itu dan dia tersenyum ketika melihat ibunya Arman kini telah bercahaya wajahnya.


Karena dia telah bertobat kepada Allah Sebelum akhirnya malaikat menjemputnya menuju sisi Allah.


Setelah semua proses itu selesai. Ustad Fahri Langsung kembali ke dalam wadag aslinya dan langsung mendatangi Arman yang saat ini sedang bersimpuh di samping jenazah ibunya yang sedang di kafani oleh ibu ibu majlis taklim di tempat Arman tinggal saat ini.


"Arman, saya ingin berbicara denganmu!" ucap Ustad Fahri sambil menepuk bahu Arman yang saat ini sedang menundukkan kepalanya.


Arman langsung mengikuti Ustad Fahri.


"Ada apa Ustad? Apakah ada hal yang penting?" tanya Arman sambil menatap tajam kepada Ustad Fahri.


"Arman, saya mempunyai sebuah wasiat dari ibumu. Ibumu meminta agar kamu menemui ayahmu dan kau mau meminta maaf kepada ayahmu. Sekarang kau pergilah temuilah ayahmu minta dia untuk datang ke sini. Dan minta beliau agar bisa memaafkan ibumu!" Ustad Fahri kepada Arman.


"Aku tidak ingin bertemu dengan ayahku ustad! Dia tidak pernah menganggapku ada di dunia ini. Bagaimana mungkin aku bisa menemui dia?" Arman menolak untuk menemui ayahnya. Karena Arman tidak pernah merasa bahwa dia memiliki seorang ayah selama hidupnya.


"Demi ibumu Arman! Kau harus pergi dan melakukannya! Apakah kau tega kalau ibumu masih memiliki urusan dengan manusia di atas dunia ini? Ibu memiliki dosa yang besar terhadap ayahmu! Karena dia telah menggunakan ilmu sihir dan pelet demi menghancurkan rumah tangga ayahmu!" ucap Ustadz Fahri dengan tegas dan tidak mau di bantah oleh Arman.


Arman diam sejenak memikirkan apa yang dikatakan oleh Ustad Fahri. Kemudian dia menatap lekat Ustaz Fahri.


"Baiklah Ustad saya akan menemui ayah saya dan saya akan meminta beliau untuk datang ke sini!"Arman kemudian bangkit dari duduknya dan langsung mengambil kunci mobilnya dan segera meninggalkan apartemennya menuju kediaman ayahnya.


Di sepanjang perjalanan Arman terus menangis. Dia meratapi hari-harinya selama ini. Hidup tanpa seorang ayah tanpa seorang ibu. Kalau ibunya Firman tidak berbaik hati merawat dan juga mengasuhnya melalui sekretarisnya. Mungkin Arman tidak akan pernah tahu dunia pendidikan ataupun hidup dengan layak seperti manusia lainnya.


"Ibu semoga anda bisa tenang di alam sana. Terima kasih atas kebaikan anda selama ini yang sudah memanusiakan saya. Yang sudah memuliakan saya. Tolong maafkan Ibu saya yang sudah memberikan neraka dalam kehidupan Ibu!" ucap Arman lirih dengan air mata yang terus berderai di kelopak matanya.


Mata Arman sembab karena semalaman ini dia terus menangis dan sedih. Karena telah melihat akhir dari hidup ibunya yang begitu mengenaskan.


"Betulah nasib manusia yang menyekutukan Allah. Yang di akhir hidupnya akan berakhir dengan penyesalan. Masih beruntung Ibuku masih diberikan kesempatan untuk bertobat kepada Allah. Sehingga dia bisa meninggal dalam Khusnul Khotimah!" ucap Arman pelan sambil mengelus dadanya yang terasa begitu sesak dan pilu.


Rumah ayahnya semakin dekat. Tetapi hati Arman semakin ciut. Dia tidak berani untuk menghadapi ayahnya saat ini.