Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
145. Diskusi



Setelah satu minggu meninggalnya Kyai Hamid. Maka dilakukanlah sebuah diskusi tertutup antara keluarga inti keluarga Kyai Hamid. Yaitu adik-adik serta kakak-kakak dari Zahra serta para menantu dari Kyai Hamid.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" ucap Ahmad mengawali diskusi hari ini.


"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh!" jawab serentak mereka semua yang ada di aula pertemuan itu.


"Pada hari ini, saya sebagai kakak sulung kalian semua. Saya ingin mendiskusikan perihal tentang tampuk kepemimpinan pondok pesantren. Setelah meninggalnya orang tua kita, Abi kita yang tercinta!" ucap Ahmad dengan suara gemetar karena saat ini memang hatinya sedang diliputi oleh kesedihan yang teramat sangat.


Bagaimana tidak? Dirinya selama 10 tahun tidak bertemu dengan ayahnya. Tiba-tiba pulang ke Indonesia karena ingin bertemu dengan ayahnya, malah beliau sudah meninggal sebelum kedatangannya.


Apakah ada rasa penyesalan yang lebih besar dari itu? Itulah yang saat ini sedang dirasakan oleh Ahmad. Dia merasa terlambat. Kenapa tidak sejak kemarin dia pulang ke Indonesia? Sehingga dia masih diberikan waktu untuk bisa bertatap muka dengan ayahnya.


Jadwal kepulangannya ke Indonesia, sebetulnya adalah seminggu yang lalu. Tetapi dia tunda-tunda terus karena urusan di Mesir yang tidak ada habisnya. Yang selalu memaksa dia untuk berlarian bersama ke sini, sehingga akhirnya menunda terus rencana kepulangannya ke Indonesia.


Selama di Mesir, Ahmad sering bermimpi bertemu dengan ayahnya. Yang meminta dia untuk kembali ke Indonesia. Mungkin itu adalah firasat atau pertanda yang diberikan oleh ayahnya kepada dirinya, karena ingin bertemu dengannya dan juga keluarganya.


Bisa dibayangkan bukan? Betapa banyak rasa penyesalan yang saat ini sedang diemban oleh Ahmad. Perihal meninggalnya Kyai Hamid. Ayahnya yang sudah mendidik dirinya, membesarkannya dengan setulus hati.


"Kak Ahmad kan Putra sulung di antara kami semua. Jadi saya rasa, kak Ahmad yang layak untuk menjadi pengganti dari Abi!" ucap Salman, anak nomor dua Kiai Hamid.


"Betul, Kak! Kami sepakat kalau Kak Ahmad saja yang akan melanjutkan tampuk kepemimpinan pondok pesantren ini. Mengingat Kak Ahmad adalah anak sulung, selain itu kami semua sudah memiliki pondok masing-masing!" ucap Fahri, anak nomor tiga.


"Benar Kak Ahmad, sebelum Abi meninggal, Abi berpesan agar kak Ahmad bersedia untuk mengambil tampuk kepemimpinan pondok pesantren ini!" ucap Zahra sambil menatap kakaknya itu.


"Tetapi, kakak tidak bisa untuk melakukan hal itu. Selain karena kami sudah berganti kewarganegaraan Mesir. Kakak dan seluruh keluarga sudah bertekad untuk tinggal di sana!" ucap Ahmad dengan suara pelan.


"Benar, Mas Ahmad juga sedang merintis universitas di Mesir dan kami semua juga sudah sangat mantap untuk menetap tinggal di sana!" ucap Meisya istrinya Ahmad.


"Rasyid, kakak rasa, di antara kita semua. Hanya kaulah yang paling mumpuni untuk memegang tampuk kepemimpinan pondok pesantren ini menggantikan Abi!" ucap Ahmad sambil melirik kepada Rasyid yang saat ini sedang menundukkan kepalanya.


"Benar! Aa yang dikatakan oleh kak Ahmad. Memang sekarang satu-satunya yang layak untuk menggantikan Abi adalah Rasyid. Apalagi selama sisa umur Aby, Aby selalu dekat dengan Rasyid. Dan selama ini pula, Rasyid yang selalu menggantikan tugas-tugas Abi. Apabila Abi berhalangan!" ucap Salman, mendukung usul Ahmad, kakak sulungnya.


"Saya pun mendukung apa yang dikatakan oleh kak Ahmad dan Kak Salman. Rasyid, kau terimalah tampuk kepemimpinan pondok pesantren ini. Kakak percaya kalau kamu pasti bisa untuk melanjutkan perjuangan Abi kita. Untuk memimpin pondok pesantren ini menuju lebih baik dan lebih besar!" ucap Fahri sambil menatap serius kepada Rasyid.


"Rasyid sebelum Abi meninggal, di nafas terakhirnya. Abi sudah memohon untuk menyampaikan wasiat terakhirnya. Aby mempercayakan pondok pesantren ini kepadamu, tolong kau pertimbangkan lagi! Jangan sampai perjuangan Abi berhenti hanya sampai di sini saja. Karena pondok pesantren tidak memiliki seorang pemimpin! Tolong, Rasyid! Kasihanilah Abi dan Umi. Tolonglah Rasyid! Terimalah, Nak. Tolong terimalah keinginan Abi! Agar dia bisa tenang di alam sana, karena meninggalkan pondok pesantren ini di tanganmu yang dia percaya. Jangan sampai pondok pesantren ini bubar hanya karena tidak memiliki pemimpin!" ucap Ibunya Zahra dengan berderai air mata.


Percaya nggak sih reader sayang? Kalau Author menangis sedih, saat menuliskan kalimat yang diucapkan oleh ibunya Rasyid itu? Author bisa merasakan kesedihan yang dirasakan oleh istrinya Kyai Haji saat ini. Ketika dia memikirkan pondok pesantren yang telah di rintis oleh suaminya dan dirinya, selama puluhan tahun akan bubar, hanya karena tidak memiliki seorang pemimpin. Bagaimana dengan reader semua? Ikut menitikkan air mata saat membaca kata-kata istrinya Kiai hamid di atas tidak? Jawab di komentar ya. Terimakasih 😘


"Sejujurnya kalau jauh dari lubuk hati saya, saya lebih memilih untuk membangun pondok pesantren saya sendiri. Karena sungguh, ini adalah amanah yang paling besar dalam hidup saya. Karena saya merasa sangat takut, kalau tidak mampu untuk memenuhi harapan Abi maupun Umi!" ucap Rasyid dengan berlinang air mata.


Saat ini Rasyid sedang mengingat kembali Kiai Hamid, mertuanya. Yang selama ini selalu baik kepadanya dan tidak pernah menganggap dia sebagai orang lain.


"Rasyid kami semua percaya dengan kemampuanmu dan juga ilmu yang kau miliki. Percayalah pada kami. Kami semua dari jauh pun pasti akan berusaha untuk membantumu kau, yakinlah pada dirimu sendiri. Kalau kamu akan bisa melakukan amanah dari Aby ini!" ucap Ahmad berusaha untuk membujuk Rasyid agar mau menggantikan Ayahnya yang sudah meninggal untuk menjadi pemimpin pondok pesantren.


"Mas Rasyid, tolong kau pertimbangkan lagi, saran dari kakak-kakak dan juga Umi. Zahra yakin, kalau Mas Rasyid pasti akan mampu untuk mengemban Amanah ini. Zahra akan selalu membantumu Mas!" ucap Zahra sambil memegang tangan suaminya. Zahra menatap mata Rasyid dengan lekat dan dalam.


Pandangan mata Zahra itu langsung menembus jantung Rasyid. Seketika Rasyid merasa seakan-akan, Kyai Hamid yang saat ini sedang menatapnya. Rasyid seketika merasa gemetar. Keringat dingin bercucuran membasahi keningnya saat ini.


"Rasyid! Tolonglah kau terima amanah dari Abi ini. Karena Abi hanya saat ini, hanya bisa mempercayakan pondok pesantren ini kepadamu. Kaulah yang selama 10 tahun ini, sudah mencurahkan cinta dan kasih sayangmu untuk pondok ini! Tolonglah Rasyid Jangan kecewakan kepercayaan Abi!" ucap Kiai Hamid seakan kini duduk di hadapan Rasyid dan menatapnya dengan lekat.


Rasyid menggoyang-goyangkan kepalanya. Berusaha untuk tidak mempercayai apa yang ada di hadapannya saat ini.


Tetapi bayangan Kyai Hamid yang ada di hadapannya semakin jelas. Dan kini bahkan menyentuh bahu Rasyid. Tampak air mata yang berlinang di wajah beliau, saat menatap mata Rasyid yang menatap beliau.


Rasyid jatuh ambruk seketika dan pingsan karena tidak mampu menahan energi yang begitu besar yang disalurkan oleh Kyai Hamid melalui tepukan tangannya di bahu Rasyid saat ini. Semua panik dan langsung membopong Rasyid ke dalam kamarnya.