
Keluarga besar Rasyid dan keluarga Ilham akhirnya berangkat ke Indramayu, ke rumah Kiai Hamid untuk melakukan lamaran secara resmi untuk Rasyid.
Kesya dan Ilham satu mobil, tadinya Kesya mau satu mobil bersama keluarga besarnya, tapi Ilham protes dan menarik Kesya masuk ke mobilnya. Jadilah sekarang Kesya duduk di samping Uminya dan Ilham duduk di bangku paling belakang bersama sepupunya yang lain. Andin dan Alan. Si kembar yang menggemaskan dan lucu, masih berusia sekitar 10 tahunan. Mereka ini nanti yang menjadi pendamping pengantin di acara pernikahannya dengan Kesya nanti.
Celotehan mereka berdua yang meramaikan mobil itu, Kesya selalu tersenyum kalau sudah melihat Ilham yang selalu berdebat dengan si kembar Andin dan Alan.
"Mas, kamu itu sudah besar tapi tidak mau mengalah sama anak kecil," Kesya mencoba menasehati tapi Ilham malah ngambek saat dengernya.
"Mereka kalau aku ngalah nanti jadi ngelunjak loh jangan tertipu sama umur mereka," protes Ilham gak terima dengan ucapan Kesya yang lebih belain si kembar dari pada dirinya. Calon suaminya sendiri.
"Ya ampun Mas, mereka itu cuma bercanda doang, jangan di tanggapi serius kenapa sih?" Kesya masih belum mau mengalah juga.
"Udah, semuanya benar, jangan berdebat lagi!" akhirnya Uminya Ilham jadi penengah dan semua akhirnya diam.
Si kembar juga berhenti dari godaan Kakak sepupu mereka yang sensitif banget, karena lelah mereka akhirnya tertidur juga, suasana mobil kembali sunyi. Kesya juga ngantuk dan akhirnya tertidur juga dan menyandarkan kepalanya di bahu Uminya Ilham.
"Umi, Ilham saja yang duduk di situ, nanti bahu Umi sakit loh," Ilham sedang bernegosiasi agar dibolehkan duduk di samping Kesya. Tapi di plototin sama Abahnya, Ilham langsung ciut lalu mencoba tidur juga. Uminya hanya tersenyum melihat kelakuan anak satu-satunya itu.
"Abah, setelah ini kita pulang yah, kan kita juga harus persiapan acara di pondok untuk menyambut pengantin wanita nantinya, di sana banyak hal yang harus kita urus juga," ucap Umi Hasanah, Ilham yang mendengar Abah sama Uminya akan pulang ke Jawa Timur merasa sangat senang, akhirnya dia bisa bebas berdekatan dengan Kesya, calon istrinya.
"Kenapa mas Ilham senyum-senyum hayo.. pasti mikir jorok-jorok ya, dengar Bu de sama Pak De mau pulang ke Jawa timur!" itu adalah suara Alan yang langsung dapat hadiah toyoran dari Ilham.
"Apaan sih, galak amat!" protes Alan gak terima.
"Anak kecil mending diam yah, ga usah ikut campur urusan orang dewasa!" ucap Ilham nyolot.
"Ilham, bicara sama adiknya kok kaya gitu, jangan ngajarin yang gak baik sama mereka!" Abahnya mengingatkan Ilham.
"Maaf, Abah" rupanya memang cuma Abahnya yang bisa jadi pawang buat keabsurdan Ilham. Kesya yang sebenarnya masih terjaga hanya bisa tersenyum di balik cadarnya. Dia memeluk erat sang calon ibu mertua dalam tidur nya. Uminya Ilham sangat sayang pada Kesya, dia membelalai kepala Kesya dengan lembut.
"Umi, Ilham juga mau. Umi pindah kesini yah?" bujuknya lagi.
Tanpa terasa mereka sudah mulai memasuki area pondok pesantren yang di pimpin oleh Kiai Hamid, semua rombongan yang berjumlah lima mobil ini mendapat sambutan yang meriah oleh para santri, ada pukulan rebana dan sholawatan yang bergema, sangat meriah sekali.
Santri-santri Kiai Hamid sangat antusias dan penasaran dengan sosok calon suami Zahra, anak Pak Kiai mereka, Zahra adalah anak satu-satunya Kiai Hamid, lulusan Mesir dan juga seorang Hafidzah. Sebenarnya banyak pinangan yang datang untuknya, tapi selalu di tolak halus oleh Zahra. Kiai Hamid sendiri merasa bingung kenapa putrinya itu tanpa pikir panjang mau menerima khitbah dari Rasyid waktu itu, hanya dalam hitungan menit sudah memutuskan.
" Zahra melihat bahwa Ustadz Rasyid bercahaya Aby, tubuhnya mengeluarkan aura yang menyilaukan mata Zahra, Zahra juga tidak tahu kenapa" Kiai Hamid mengerti dengan penuturan sang putri. Memang kalau orang berilmu tinggi dan tawadhu di jalan Allah, tubuhnya akan mengeluarkan semacam Aura positif dan memancarkan semacam cahaya yang hanya bisa di lihat oleh orang-orang tertentu yang paham saja
Menurut penuturan Kiai Maulana, sahabatnya, Rasyid memang seorang pemuda yang sangat taat dan selalu menjaga dirinya dari maksiat. Selama bertahun-tahun mondok di sana dia tidak pernah membuat masalah dan selalu memenangkan banyak lomba dan selalu membuat bangga sang Kiai dengan prestasinya yang menjulang.
Rombongan di sambut dengan meriah dan acara resmi akhirnya di Mila. acara lamaran itu hanya di hadiri keluarga inti saja, yang lain menunggu di luar. Para santri yang penasaran melihat calon suami Zahra juga hanya bisa terkagum-kagum dengan wajah teduh dan bersahaja Rasyid . Ketampanan yang menyejukkan mata.
Zahra masih di kamarnya, saat mendengar ucapan lamaran Rasyid dia sangat bahagia dan mengucapkan syukur pada Allah karena telah dikirimkan lelaki Sholeh sebagai calon imamnya kelak. Zahra di temani Kesya dan Andin di kamarnya, mereka sangat akrab dan banyak bercanda, khususnya Andin yang suka jahil itu. Tak ada hentinya menggoda Zahra dan Kesya.
"Saya melamar Az- Zahra Khairunnisa sebagai calon istri Saya, apakah pak Kiai menerima lamaran saya? " ucap Rasyid mantap dan tenang.
lSaya sebagai wali Az- Zahra Khairunnisa menerima lamaran ini dengan terbuka, adapun perihal pernikahan akan kita diskusikan bersama. Semua orang yang hadir merasa sangat lega. Ilham adalah orang yang paling bahagia, karena itu artinya pernikahan dia dengan Kesya tidak ada yang menghalangi lagi.
Sesuai diskusi seluruh keluarga besar, Akhirnyka Pernikahan akan diadakan di kediaman mempelai wanita, dua Minggu setalah acara lamaran.
Setelah acara lamaran selesai, mereka langsung berpamitan, keluarga Ilham langsung kembali ke Jawa timur, karena memang harus mempersiapkan acara pernikahan untuk Ilham dan Kesya disana. Mereka akan kembali pada acara pernikahan Rasyid dan Zahra.
Rasyid dan Zahra sama sekali tidak dipertemukan dalam acara lamaran ini, Zahra hanya melihat Rasyid dari jendela kamarnya, dan Rasyid hanya melihat Zahra saat tanpa sengaja dia melihat ke arah jendela kamar calon istrinya itu.
Ada desir bahagia di hati keduanya, akhirnya mereka hanya dalam hitungan Minggu akan resmi menjadi suami istri. Ibunda Rasyid langsung berpamitan, Kesya diminta untuk bergabung dengan rombongan keluarga besarnya.
Ilham protes sebenarnya, karena berharap Kesya kembali saja bersamanya ke Jawa timur. Tapi dilarang keras oleh Abah dan Uminya, calon pengantin harus di pingit dan tidak boleh bertemu sebelum hari pernikahan.
Abah dan Umi serta Ilham akhirnya berpamitan dan kembali ke Jawa Timur, mereka akan kembali ke Tanggerang saat acara pernikahan Rasyid nanti dan mempersiapkan acara pernikahan Ilham dan Kesya seminggu setelah pernikahan Rasyid dan Zahra.