
Zahra saat ini berada di bandara untuk menjemput kakaknya yang datang dari Mesir setelah tiga jam menunggu akhirnya Zahra bertemu dengan kakaknya beserta seluruh keluarganya.
Kak Ahmad, Kak Meisya beserta tiga orang anak mereka, juga ikut dengan mereka untuk pulang ke Indonesia. Ketiga keponakan Zahra itu bernama Ahsan Maulana (10 tahun) Amirul Maulana (8 tahun) dan Aulia Maulana (4 tahun) satu lagi di dalam kandungan Meisya yang sekarang sudah masuk angka 4.
Zahra sangat bahagia sekali melihat kedatangan kakaknya yang saat ini tampak sangat kelelahan. Mungkin karena pesawat mereka delay sangat lama di Qatar. Sehingga mereka jadi terlambat sampai ke Indonesia.
"Asalamualaikum, Kak! Bagaimana kabar kalian?" Zahra begitu dia bertemu dengan Ahmad dan keluarganya.
"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh! Alhamdulillah kami baik-baik saja!" ucap Ahmad sambil menyalami adiknya yang tampak sedih. Sehingga membuat Ahmad menjadi keheranan dengan Zahra.
"Ada apa denganmu, Zahra? Kenapa kamu tampak sedih? Apakah ada masalah?" tanya Ahmad kepada adiknya.
"Aby, Aby saat ini sedang dirawat di rumah sakit! Aby, Abi dalam bahaya nyawanya, Kak!" ucap Zahra dengan suara yang sudah tersekat di tenggorokan. Karena sejak tadi dia menahan kesedihan di hatinya.
Ahmad dan semua yang ada di sana, terkejut ketika mendengarkan berita tersebut.
"Apa? Abi sedang dirawat di rumah sakit? Ya sudah! Ayo cepat kita segera ke sana!" ucap Ahmad yang sudah panik, ketika mendengarkan kabar tentang ayahnya yang saat ini sedang ada di rumah sakit.
"Seharusnya tadi kamu tidak usah menjemput Kami, Aby saat ini lebih membutuhkanmu!" ucap Meisya istrinya Ahmad. Kakak iparnya Zahra.
"Umi tidak tega, kalau kalian datang dari jauh. Tetapi tidak dijemput oleh kami. Sekarang Umi dan Mas Rasyid yang sedang menunggu Abi di rumah sakit!" ucap Zahra dengan tersedu-sedu.
"Ya sudah, cepat! Kita harus segera ke rumah sakit. Entah kenapa perasaan Kakak rasanya tidak tenang dari tadi!" ucap Ahmad kepada supir yang menjemputnya dan keluarganya. Untuk mereka segera berangkat ke rumah sakit, untuk menemui ayahnya.
Mereka pun kemudian langsung pergi menuju rumah sakit dan ketika di sana, mereka sangat terkejut. Ketika melihat ibu mereka sedang menangis tersedu-sedu.
Hati mereka seakan langsung berpikir yang tidak-tidak. Hati mereka sudah panik, seakan-akan takut terjadi apa-apa dengan ayah mereka.
" Assalamualaikum, Umi!" ucap Ahmad sambil mencium tangan dan pipi Uminya. Tidak lama kemudian, Ahmad juga mencium kaki ibunya dengan bersimbah air mata.
Sudah hampir 10 tahun Ahmad beserta keluarganya tidak pernah pulang ke Indonesia. Oleh karena itu, tidak heran kalau sampai Ahmad melakukan hal tersebut terhadap ibunya.
"Waalaikumsalam, anaknya umi! Bagaimana kabar kalian semua? Alhamdulillah akhirnya kalian sampai juga di sini!" Umi sambil mencium putranya dan mengusaha membangunkan Ahmad yang masih mencium kakinya dengan penuh takzim.
"Umi, Bagaimana kabar Abi? Kenapa Umi menangis? Di mana Mas Rasyid Umi?" tanya Zahra karena tidak melihat suaminya di sana.
Ibunya Zahra menangis sesegukan, sambil memeluk Zahra. Zahra kini mulai panik melihat reaksi Uminya yang terasa sangat membingungkan dirinya.
"Di mana Mas Rasyid, Umi? Bagaimana kabar Abi?" Tanya Zahra sudah semakin ketakutan hatinya. Zahra sudah berpikir macam-macam tentang Abinya.
"Rasyid, Rasyid, dia kini sedang mengurus jenazah Abi!" ucap Om ibunya Zahra kemudian tangisnya pecah seketika.
"Apa, Abi meninggal? Innalillahi wa inna ilaihi rojiun!" ucap mereka semua yang ada di tempat itu serentak. Mereka merasa terkejut dengan berita yang disampaikan oleh ibu mereka.
"Apakah Umi sudah menghubungi Qonita dan Kyai Ilham?" tanya Zahra kepada ibunya.
"Belum! Karena kami masih sibuk untuk mengurus jenazah Abi, untuk bisa segera dipulangkan ke rumah!" ucap ibunya Zahra dengan suara yang parau. Karena terlalu banyak menangis hari ini.
"Biar Zahra menghubungi Qonita! Jangan sampai nanti ada penyesalan di hatinya. Karena tidak melihat pemakaman Abi!" Zahra kemudian menghubungi Qonita dan suaminya di jawa Timur, mengenai berita meninggalnya ayah mereka.
"Assalamualaikum, Qonita! Kakak hanya ingin mengabarkan kepadamu dan juga suamimu. Kalau hari ini Abi kita telah meninggal dunia. Apakah aku bisa segera datang ke sini?" ucap Zahra dengan suara yang parau, sangking menahan rasa sedih di hatinya saat ini.
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun! Bagaimana mungkin ada berita mendadak seperti ini Kak kemarin waktu Abi datang ke Jawa Timur dia baik-baik saja!" ucap Qonita seakan tidak percaya dengan berita yang disampaikan oleh Zahra kepadanya saat ini.
"Kami juga tidak percaya dengan ini semua. Kami juga masih syok mengetahui berita ini. Kapan kau bisa datang ke Indramayu?" ucap Zahra kepada Qonita yang di sana sedang menangis saat ini. Karena merasa sedih Ayah angkatnya telah dipanggil oleh Allah secara mendadak. Tanpa memberikan peringatan maupun pesan kepada keluarganya.
"Aekarang juga Zahra dan Mas Ilham akan segera berangkat ke Indramayu dengan menggunakan pesawat!" ucap Qonita. Kemudian dia pun menutup telepon tersebut. Karena dia harus segera mengabarkan hal itu kepada suami dan juga Ibu mertuanya.
Ilham yang sedang mengaji di ruang sholat, merasa heran melihat istrinya yang tiba-tiba saja menangis ketika menemuinya.
"Ada apa, sayang? Kenapa kau menangis? Apakah ada masalah?" tanya Kyai Ilham kepada istrinya.
Qonita langsung memeluk suaminya yang saat ini sedang menatapnya dengan keheranan. Qonita sampai saat ini, masih belum bisa mengatakan apa yang ingin dia sampaikan kepada suaminya. Karena perasaan di dadanya yang sangat begitu sakit dan sesak, sehingga dia tak bisa unyuk menyampaikan berita buruk itu kepada suaminya.
"Ada Sayang? Kenapa kau menangis terus? Katakanlah ada apa?" tanya Kyai Ilham mulai panik melihat istrinya yang malah tambah menangis sesegukan dalam pelukannya.
"Abi, Abi telah meninggal dunia!" ucap Qonita dengan sedih. Seketika Kyai Ilham merasa terkejut dengan yang dikatakan oleh istrinya.
"Innalillahiwainnailaihirojiun, Ya Allah! Ilmu di atas dunia ini dicabut adalah ketika para alim ulama meninggalkan dunia ini. Semoga beliau di ampunkan dosanya dan diterima segala amal dan kebaikannya!" kemudian Kyai Ilham meraupkan tangannya ke wajahnya, setelah merapalkan doa untuk sang mertua yang kini sudah meninggal dunia.
"Sekarang juga kita segera berangkat ke Indramayu!" ucap Kyai Ilham sambil membimbing istrinya segera mempersiapkan keberangkatan mereka ke Indramayu.
Kyai Ilham, Qonita beserta ibunya langsung berangkat hari itu juga ke Indramayu. Untuk menghadiri pemakaman Kyai Hamid.
Setelah mereka semua sampai di Indramayu, tampak pondok pesantren sudah ramai didatangi oleh para petakziah, mereka adalah para jamaah yang biasa menghadiri kajian di pondok pesantren tersebut.
Para wali santri yang rumahnya dekat dengan pondok dan warga sekitar yang merasa kehilangan sosok seorang kyai besar, Kiai Hamid yang menjadi teladan di daerahnya.
Aura kesedihan begitu besar menyelimuti pondok pesantren yang dipimpin oleh Kyai Hamid. Kyai Ilham beserta keluarganya sudah disambut oleh para santri yang sudah menunggu kedatangannya.
Qonita langsung memeluk Zahra ketika mereka berdua bertemu.
Kiai Ilham langsung menyalami dan memeluk Rasyid, ketika pertama kali mereka datang di pondok pesantren itu.
Aura kesedihan benar-benar melekat di tempat itu. Walaupun tidak ada tangis histeris, tetapi mereka rata-rata menitikan air mata kesedihan. Atas kepergian Kyai Hamid yang begitu mendadak siang itu.