
Laila pergi ke luar, untuk membeli makanan, sejak mereka datang ke rumah sakit, belum ada satu orangpun yang makan.
"Permisi ayah, Laila cari makanan dulu ya, pasti kalian pada kelaparan saat ini!" Laila lalu pergi, Ilham hanya tersenyum sekilas kepada nya.
Setelah membeli makanan, Ilham memberikan satu kresek untuk Ilham dan satu dia pegang. Makanan miliknya dan ayahnya di tangannya dan Laila mendekati ayahnya.
"Ayah ayo makan dulu!" Nadya lalu menyerahkan bungkusan dan satu botol minuman mineral kepada Ayahnya.
"Gus Ilham dan Ibu Nyai, ayo makan dulu. Pasti kalian sudah lapar, sejak siang kita belum makan. Dokter tidak tahu kapan selesainya. Makan dulu, biar ada tenaga untuk mengurus Pak Kiai nanti!" ucap ayahnya Laila.
"Terima kasih, Pak! Atas kebaikan nya, mau menemani kami di sini, tadi saya sangat panik dan buru-buru mendengar Abahnya Ilham pingsan. Jadi tidak ingat membawa apapun. Ilham, Umy juga lupa tidak membawa pakaian Abah dan kamu! Maafkan Umy, ya?" Ucap Umy dengan parau, sejak datang tadi, beliau memang terus menangis dan khawatir dengan suaminya.
"Gak apa-apa Umy, tenanglah. Nanti Ilham akan menelpon santri untuk membawakan keperluan kita selama di rumah sakit. Saat ini, yang penting kita tahu keadaan Abah dulu!" lalu mereka berdua makan makanan yang tadi diberikan oleh Laila.
Laila menatap Ilham dengan intens. Interaksi ibu dan anak tersebut benar-benar sangat menyentuh hatinya. Pembawaan Ilham yang tenang dan bersahaja, sungguh telah mencuri hatinya.
"Laila, ayah gak bisa lama-lama disini. Upacara kakakmu masih berlangsung. Gak tahu Paman kamu bisa dipercaya atau tidak!" ucap ayah Laila.
Mereka sudah selesai makan. "Pak, bapak dengan Laila boleh pulang dulu, mohon maaf sudah merepotkan. Nanti kalau Abah saya sudah bangun, akan saya kabari!" ucap Ilham.
"Benar, Pak! Bapak sama Laila boleh pulang dulu. Kami berdua akan disini menunggu kabar Abahnya Ilham! Semoga semuanya baik-baik saja!" tak lama, keluar dokter yang tadi menangani Kiai Maulana. Tampak letih sekali.
"Maafkan saya, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi memang penyakit Pak Kiai sudah kronis, kanker bahkan sekarang sudah menjalar. Untuk operasi saat ini sungguh sangat beresiko, apalagi Pak Kiai usianya sudah tua dan fisiknya sangat lemah." Dokter menjeda ucapannya.
"Pak Kiai sudah sadar, meminta kalian untuk masuk. Bersabar dan kuatkan hati kalian untuk menerima apapun yang akan terjadi." ucap Dokter lalu permisi ke ruangan nya.
Ilham dan Umy sudah syock dengan kabar yang diberikan oleh dokter. Umy bahkan hampir pingsan karena sedih dan tidak kuat.
"Umy, ayo Ilham papah ke dalam dulu. Kuatkan hati Umy, jangan menangis depan Abah. Kasihan Abah, nanti jadi sedih juga. Kita harus kuat Umi, agar Abah juga kuat melawan penyakit ini!" Ilham memeluk Umy dengan air mata berlinang.
'Ya Allah, maafkan hamba yang lemah ini!' bathin Ilham sambil menyusut air matanya.
"Ayah, Laila gak tega rasanya melihat Pak Kiai. Kasihan mereka, ayah!" Laila juga menangis melihat pria pujaan hatinya menangis sedih.
"Kamu jangan nangis, ayo kita masuk, sekaligus pamit sama Pak Kiai, kita gak bisa berlama-lama disini. Kasihan kakak kamu di sana, kita sudah terlalu lama meninggalkan acara kakak kamu!" Laila menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ayah, bisakah, Laila disini? Calon suami Laila lagi sedih, gak tahu apa yang akan terjadi dengan Pak Kiai, Laila sungguh khawatir!" ucap Laila.
"Kamu itu, perempuan bersikap macam itu! Kamu ingat! Gus Ilham itu anak Kiai besar, santrinya puluhan ribu. Apa mau nerima kamu yang slengean kaya gitu? Perbaiki dirimu, kalau memang ingin berjodoh dengan Gus Ilham!" ucap Ayahnya sambil menggetok kepala Laila.
"Ayah selalu saja begitu! Aku sebenarnya anak ayah bukan sih? Kok ayah selalu menistakan Laila?" rajut Laila gak terima.
"Udah, ayo masuk!" ajak ayahnya sambil menarik tangan anaknya yang selalu manja.
"Bagaimana keadaan Pak Kiai?" tanya Ayahnya Laila pelan, takut ganggu Pak Kiai yang tampak menahan sakitnya, Ilham dan Bu Nyai duduk di samping kasur Pak Kiai.
"Ilham, Abah tidak tahu, berapa lama lagi, umur Abah di dunia ini. Abah hanya ingin melihat pernikahan kamu, apa Abah bisa beruntung Ilham?" tanya Pak Kiai dengan terbata-bata, menahan sakit di tubuhnya.
"Abah, jangan memaksakan bicara, istirahatlah. Ilham pasti akan memenuhi harapan Abah untuk segera menikah. Percaya sama Ilham, Abah!" ucap Ilham sambil mencium kening Abahnya.
"Abah hanya ingin melihat kamu menikah, melupakan cinta kamu untuk Kesya. Kesya sudah bahagia bersama keluarga kecilnya. Tapi kenapa kamu masih bersedih disini? Hati Abah sungguh tidak rela, Ilham!" ucap Abah sambil menangis.
"Ilham, anak Abah satu-satunya! Tanggung jawab di pundak kamu besar, Nak! Perjuangan Abah mungkin sebentar lagi berakhir dengan panggilan Allah untuk Abah, menjadi giliran kamu, melanjutkan perjuangan Abah dalam hal dakwah dan kepemimpinan pondok pesantren yang dipercaya kan Kakek Kamu sama Abahmu." Kiai Maulana sudah payah sekali.
"Ilham, ketahuilah Nak! Tingkat tertinggi dari mencintai seseorang adalah mengikhlaskan orang yang kita cintai, berbahagia tanpa kita. Pahami itu, Nak! Mulailah hidupmu yang baru. Buka hatimu untuk menerima cinta yang baru. Masa depan masih panjang, perjuangan masih harus di lanjutkan. Jangan menyerah dengan cinta. Abah mohon!" Kiai Maulana sampai berkeringat dingin.
"Ilham akan menuruti kemauan Abah." Ilham lalu mendekati Laila, memberikan kode kepada Laila.
"Pak Kiai, perkenalan, nama saya Laila Rohmawati. Saya calon istrinya Gus Ilham!" ucap Laila dengan hati-hati.
"Iya Umy, Laila adalah calon istriku. Setelah Abah pulih dan kita kembali ke rumah, kita akan meminang Laila." ucap Ilham mantap.
"Alhamdulillah, Abah sangat senang dan lega. Persiapan pernikahan kalian besok. Abah tidak tahu umur Abah berapa lama lagi. Abah hanya ingin melihat kamu menikah! Itu satu-satunya harapan Abah sebelum meninggal!" ucap Kiai Maulana dengan terbata-bata.
Umy sudah menangis sambil memeluk suaminya.
"Umy, umur adalah kuasa Allah, jangan menangis. Abah sungguh tidak apa-apa. Abah sudah menikmati hidup Abah dengan penuh kebanggaan dan kecintaan. Umy selama ini selalu setia dampingi Abah. Abah sungguh sangat bersyukur sekali. Percayalah, Allah pasti akan memberi segala yang terbaik untuk kita!" Abah meneteskan air mata. Rasa sakit yang sejak tadi di tahannya sungguh menyiksa dirinya.
"Abah, sudah malam. Tidurlah dulu. Besok Ilham akan mengurus segala keperluan unw pernikahan Ilham dan Laila." Ilham lalu mengajak Ayahnya Laila dan Laila untuk keluar ruangan.
"Maafkan saya Laila, bisakah kalian pulang sekw? Nanti tolong urus segala keperluan untuk pernikahan besok, Abah mungkin tidak akan mampu melewati hari esok." ucap Ilham parau.
"Baiklah, Gus Ilham. Jangan khawatir, saya akan menyiapkan segala sesuatunya. Gus disini saja, jaga Pak Kiai, saya akan pulang malam ini bersama Laila, besok akan saya pastikan pernikahan kalian." janji Ayahnya Laila.
Ilham lalu memberikan kunci mobilnya, "Pakailah mobil saya untuk pulang. Jam segini pasti sulit mendapatkan kendaraan." Laila dan ayahnya lalu pulang, berjanji besok akan datang dengan penghulu dan para saksi untuk pernikahan Ilham dan Laila.
Bagaimana pernikahan mereka ya?
Jangan lupa, like, vote, favoritnya, dan gift semampu kalian, terima kasih.
Jangan lupa untuk mampir di novel author lainnya yang berjudul:
Apa kabar sayang
Qiara udah mau melahirkan anaknya kevin, kira-kira nanti Qiar bercerai tidak ya, sama Kevin? dan menikah dengan David? yang memang sudah dijodohkan dengan Qiara? Yuk cari tahu kisah mereka berempat. Qiara, Kevin, David dan Susan.
Thanks FOR always be here with me
Bagaimana kisah cinta Reynaldi dan Arini? Apakah perjuangan cinta mereka berhasil? Ayo jangan sampai ketinggalan dengan kisah mereka yang tambah seru tentu saja!
Lurah pondokku calon suamiku yang sudah masuk season 2 yang pastinya tambah seru dengan kehadiran seorang pelakor dalam pernikahan Ali dan Nur.
Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai
Bagaimana kisah perjalanan cinta Fathu dan Amira? Apakah rumah tangga mereka mulus mulus saja, tanpa rintangan? Jadilah saksi cinta mereka yang mengharu biru.