Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
238. Pertemuan pertama



" Masuklah kemari Agus. Kenapa kau dari tadi berdiri saja?" ucap ayahnya Ayana yang belum mengenali putrinya sendiri.


Ayana tampak terpaku di tempatnya ketika dia mendengarkan suara sang ayah yang sudah sangat lama dia rindukan.


' Ya Allah! Ternyata Ayah kandungku sangat tampan. Pantas saja aku memiliki wajah secantik ini!' batin Ayana ketika dia bertemu dengan ayahnya.


" Assalamualaikum! Paman dan bibi!" ucap Agus menyapa dengan agak canggung.


Maklum saja, karena mereka jarang sekali bertemu. Kalau bukan karena ada acara besar tidak mungkin mereka sempat untuk memiliki waktu bercengkrama.


" Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh. Akhirnya kamu datang juga ke kediaman kami yang sederhana ini!" ucap Bibirnya Agus dengan senyum ramahnya.


" Maaf Bibi karena kesibukan yang luar biasa di kantor membuat saya jadi kesulitan mencari waktu untuk mengunjungi saudara!" ucap Agus sambil tersenyum.


" Siapa wanita yang datang bersamamu? Kenapa kau tidak memperkenalkannya kepada kami?" tanya ayahnya Ayana sambil menatap wajah Ayana dengan lekat.


" Perkenalkan dia adalah istriku. Namanya adalah Ayana Sugandi!" ucap Agus memperkenalkan sang istri kepada keluarga pamannya.


" Apakah bayi yang tampan itu adalah putramu?" tanya bibinya Agus merasa sangat excited dengan kedatangan Agus dan juga keluarga kecilnya.


" Benar Bibi dia bernama Axel Mahendra Dinata!" ucap Agus dengan bangga.


" Apakah Bibi boleh menggendong bayimu?" tanya bb-nya Agus sambil mendekat kepada keponakannya yang saat ini sedang menggendong Axel di dalam pelukannya.


" Halo Axel tampan, perkenalkan Aku adalah nenekmu!" tampak bibirnya Agus sangat menyukai bayi tampan tersebut.


Mendengar nama Ayana seketika ayahnya terdiam terus memperhatikan Ayana dengan intens.


' Ya Allah kenapa nama keluarganya sama seperti Humaira? Apa hubungan keduanya dan wajahnya benar-benar mirip seperti Humairoh ketika dulu dia masih muda.' bathin Pradipta tampak penasaran dengan identitas yang menyertai Ayana yang memiliki wajah hampir sama dengan Humairah ketika masih muda.


' Nanti kalau ada kesempatan, aku akan bertanya kepadanya tentang hubungannya dengan Humairah!' batin Pradipta sambil terus memperhatikan Ayana yang sedang sibuk mengurus putranya yang dari tadi terus menangis.


" Coba saya gendong dia. Siapa tahu saya bisa mendiamkannya!" ucap Pradipta mendekati Ayana yang sedang bingung karena tiba-tiba saja Axel menangis histeris. Tidak seperti biasanya selalu anteng.


Aneh bin ajaib. Setelah digendong oleh Pradipta. Axel langsung diam dan tersenyum kepada laki-laki paruh baya yang sangat tampan itu.


" Oh kok ingin dipeluk oleh kakek ternyata? Anak pintar! Ayo kita sekarang bermain bersama!" ucap Pradita merasa bahagia melihat Axel yang sekarang bisa tersenyum lagi setelah dia menggendongnya.


" Tampaknya Putra kita ingin diakui oleh kakeknya!" bisik Agus di telinga Ayana yang tampak sedang menatap putranya yang saat ini sedang bahagia karena digendong oleh Pradipta.


Agus bisa melihat mata Ayana yang berkaca-kaca. " Sabarlah sayang! Saya yakin suatu saat nanti ayahmu pasti akan menyadari bahwa kau adalah putrinya." ucap Agus sambil meremas telapak tangan Ayana yang terasa begitu dingin.


" Ada apa Ayana, kenapa kau menangis?" tanya bibinya Agus ketika melihat Ayana yang mulai berderai air mata karena merasa terharu melihat putranya yang saat ini sedang bermain dengan ayah kandungnya.


" Tidak apa-apa Bibi. Saya tiba-tiba merasa sedih karena mengingat ayah saya. Pasti anakku merasa rindu dengan sosok sang kakek. Oleh karena itu dia sangat senang ketika digendong oleh paman Pradipta!" ucap Ayana berusaha untuk tidak berbohong kepada bibinya Agus.


" Kau boleh datang kemari kalau kau merindukan ayahmu. Bawalah Axel juga bersamamu. Aku rasa suamiku sudah merasa senang dengan putramu. Lihatlah sejak tadi dia terus tertawa senang." ucap bibinya Agus sambil terus memperhatikan suaminya yang sedang bermain dengan Axel yang baru berusia sekitar 5 bulan.


" Mah aku sudah lapar apa Kita bisa mulai makan malamnya?" tiba-tiba saja Putra pertama Pradipta yang bernama Martin, berbicara sehingga mengejutkan semuanya.


Dari tadi dia sibuk dengan ponselnya. Begitu juga dengan Agnes, adiknya. Tampak sedang sibuk chatting dengan kekasihnya yang saat ini sedang berada di Amsterdam melanjutkan kuliahnya untuk mengambil gelar Masternya.


" Iya Mah Agnes juga sudah lapar!" Agnes ikut bergabung.


" Ya udah sebentar ya? Mama cek dulu ke dapur. Apakah masakannya sudah siap atau belum!" ucap bibinya Agus kemudian beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan mereka semua.


" Kak Ayana! Apakah sudah lama menikah dengan Kak Agus?" tanya Martin tampak tertarik dengan Ayana yang terlihat sangat cantik.


" Memangnya kenapa?" tanya Ayana.


" Tidak apa-apa kak. Hanya saja kepo! Kok Kak Ayana mau sih menikah dengan Kak Agus yang cupu sekali?" tanya Agnes sambil melirik ke arah Agus yang sudah memiliki banyak perubahan sekarang dalam hal penampilannya.


Agus yang sekarang tambah fashionable dan juga tampan karena Ayana yang sudah mendandaninya menjadi pria tampan dan gagah. Terlihat sangat macho!


" Walaupun dulu dia sangat cupu. Tapi kan dia sangat tampan. Dia hanya kurang sedikit sentuhan. Lihatlah! Aku sentuh sedikit dia langsung berubah menjadi pangeran yang sangat tampan!" ucap Ayana membanggakan kehebatan tangannya yang telah berubah Agus menjadi laki-laki yang keren dan juga hebat.


" Bagus Kak Ayana. Kakak sangat hebat!" ucap Agnes sangat bahagia melihat perubahan Agus yang sangat drastis dan sangat keren.


" Udah jangan bahas aku terus! Aku bukan artis ya!" ucap Agus misuh-misuh melihat dua orang wanita cantik yang sejak tadi terus membicarakan dirinya.


" Sayang kita pulang saja yuk!" ajak Agus sambil menarik tangan Ayana yang sejak tadi lebih mempedulikan untuk berbicara dengan Agnes daripada dirinya.


" Apaan kamu Agus?Itu loh! Makanan sudah siap. Kok kamu malah mau pulang sih? Saya kira lebih baik kita makan malam bersama dulu saja. Kau itu sudah lama tidak pernah main ke sini begitu main ke sini malah langsung mau pergi sebelum makan!" tegur istri ya Pradipta ya langsung menatap tajam kepada Agus yang memaksa istrinya untuk pulang dari kediamannya.


" Ayo Ayana ikutlah dengan Bibi biar Agus tidak banyak macam-macam denganmu! Untuk Axel, biarkan saja pamanmu yang mengurusnya. Dia itu paling pintar kalau sudah berurusan dengan bayi!" ucapnya sambil tersenyum kepada suaminya yang sudah mulai bangkit dan menggendong Axel bersamanya.


" Apakah Axel sudah boleh makan bubur atau masih ASI eksklusif?" tanya Pradipta kepada Ayana yang masih menetapnya dengan tajam.


" Axel masih menggunakan ASI eksklusif. Aku Ingin suatu saat Axel menjadi orang yang hebat dan juga kuat. Aku berharap air susu yang diminum oleh Excel akan menjadi imun bagi tubuhnya agar tidak terlalu mudah diserang oleh rasa sakit!" ucap Ayana.


Mereka semua kemudian pergi ke meja makan untuk memulai acara makan malam bersama di keluarga kediaman Handoyo.