
Setelah menjalani pengobatan dan penanganan khusus, akhirnya Cakra bisa diselamatkan dan mendapatkan perawatan terbaik dari dokter-dokter terbaik yang dipanggil dari rumah sakit milik keluarga Abimana grup.
"Kesya, Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa bisa, hal seperti ini menimpa keluarga kita? Dari mana asalnya pengasuh itu? Kenapa dia begitu tega melakukan hal seperti ini kepada Cakra? Seorang bayi yang tidak berdosa?" Mamanya Andika terus mencecar Kesya dengan berbagai pertanyaan yang membuat Kesya kebingungan untuk menjawab.
"Mah! Kalau Mama datang di sini, hanya untuk menambah kerisuhan. Lebih baik, Mama pulang saja! Kami berdua saat ini, sedang tidak ada mood untuk bertengkar ataupun melakukan apapun! Tolong Mah! Kami berdua betul-betul membutuhkan suasana yang kondusif untuk dapat segera menenangkan pikiran dan hati kami. Yang saat ini kacau balau!" ucap Andika sambil meraup wajahnya dengan kedua tangannya.
Kesya berusaha untuk menenangkan suaminya yang saat ini benar-benar kacau. Karena menerima kenyataan, bahwa putranya dalam bahaya. Kesya pun merasakan kesedihan yang sama dengan suaminya. Hanya saja, Kesya berusaha untuk bersikap tenang. Agar tidak terpengaruh dengan hal buruk itu. Sehingga malah semakin membuat suaminya tambah panik.
"Mah! Sudahlah! Jangan bertanya yag tidak-tidak kepada mereka. Mereka pasti saat ini sangat syock, dengan keadaan Cakra. Sudahlah! Sebaiknya Mama sekarang pergi ke kamarnya Cakra saja. Mama menjaga cucu Mama, Oke? Biar Papa di sini yang bersama dengan Andika dan Kesya!" bujuk Farhan kepada istrinya.
Amanda saat ini sedang menemani Cakra yang sudah mulai terbangun dan tampak mulai riang kembali. Ya! Bocah mungil itu, sudah tampak normal kembali. Setelah membuat hati kedua orang tuanya mencelos, jantung kedua orang tuanya, hampir copot karena ketakutan akan kehilangan dirinya.
"Cucu nenek! Alhamdulillah! Akhirnya kau baik-baik saja Nak! Nenek sudah ketakutan terjadi apa-apa dengan kamu!" Ibunya Andika Kemudian menggendong Cakra yang tampak masih lemah.
Kesya merasa lega melihat keadaan Cakra saat ini. Yang sudah mulai bisa bermain lagi. Walaupun tubuhnya masih tampak lemah, tetapi itu sudah membuat Kesya tenang.
Sementara itu, Maria yang dibawa oleh asistennya Andika ke kantor polisi. Masih tampak menangis dan histeris. Dia berusaha meminta untuk dibebaskan. Merasa dirinya tidak berbuat salah terhadap bayi mungil tersebut.
Walaupun jelas-jelas sudah diperlihatkan rekaman CCTV di depan matanya. Tetapi dia masih mengelak juga. Benar-benar, memang perempuan yang tidak tahu malu!
"Mengaku lah! Apa yang sudah kau lakukan terhadap anak itu? Kalau kau ingin mendapatkan keringanan hukuman. Kalau kau masih bersikeras juga, tidak mau mengakui perbuatanmu. Bersiap-siaplah untuk mendapatkan hukumanmu yang lebih berat. Pengacara Tuan Andika. Mereka bahkan menggandeng 10 pengacara handal, untuk bisa menjeratmu masuk penjara seumur hidup!" ucap penyelidik itu, dengan wajah serius.
Padahal, apa yang dia katakan itu, hanyalah karangan bebas, yang dipesan oleh Andika untuk menakut-nakuti Maria. Agar mau mengakui segala perbuatan busuknya, terhadap putranya, Cakra Abimana.
Mendengarkan kata hukuman seumur hidup, Maria langsung ketakutan. Wajahnya sudah pucat pasi dan berusaha terus memohon kepada penyelidik untuk membebaskan dirinya. Karena dia merasa tidak bersalah dalam kasus tersebut.
Penyelidik yang sudah kehabisan akal dan kesabaran pun, akhirnya menggebrak meja dengan kencang. Sehingga membuat Maria terkejut dan ketakutan.
"Kau ini benar-benar cari mati sekali! Tidak mengerti dengan situasi yang sedang saat ini kau hadapi. Apa kau tidak tahu? Siapa yang sedang berhadapan dengan kamu, huh?? Itu adalah Abimana grup! Kau tahu? Kau hampir mencelakai keturunan dari Abimana grup! Kau benar-benar cari mati!" ucapnya kesal.
"Terserah saja, kau mau mengakui atau tidak! Yang jelas, bukti-bukti dan saksi semuanya sudah tertuju kepadamu. Dan bersiaplah! Kau menerima hukumanmu yang sangat berat di persidangan nanti!" dengan perasaan mendongkol, penyelidik tersebut pun akhirnya meninggalkan ruangan tersebut. Sementara Maria, dia masih menggeleng-gelengkan kepalanya. Masih tidak percaya dengan apa yang saat ini sedang terjadi di dalam hidupnya.
"Pak! Tunggu Pak! Tunggu dulu! Apakah benar? Kalau saya mengakui perbuatan itu, maka hukuman saya akan diringankan? Apakah itu benar atau kalian hanya sedang menipuku saja?" tanya Maria dengan begitu lancangnya kepada penyelidik tersebut.
Penyelidik yang mendengarkan bahwa dirinya sedang menipu Maria, tanpa sadar melemparkan map yang ada di tangannya ke atas meja. Sehingga membuat Maria terkejut seketika. Ketakutan dengan mata garangnya.
"Sudah berbuat dosa! Sudah berbuat salah! Masih juga mulutmu itu tajam dan pedas! Kau benar-benar tidak tahu sedang berada dalam posisi apa saat ini!" ucap Penyelidik tanpa mempedulikan panggilan Maria yang meminta dirinya untuk kembali. Karena ingin membuat pengakuan tentang kasus tersebut.
"Kau sudah terlambat! Aku sudah tidak berminat dengan pengakuanmu! Kau bersiap-siaplah! Untuk menerima hukuman terberatmu! Memang orang semacam kau itu, harus mendapatkan hukuman yang berat! Agar menjadi pelajaran bagi orang lain, yang berperilaku seperti kamu!" ucap Penyelidik tersebut dengan emosi tingkat tinggi. Karena Maria sudah lancang, mengatakan dirinya akan menipu Maria. Penjahat itu benar-benar sudG bosan hidup!
Maria terus berteriak dengan putus asa. Tetapi penyelidik tersebut tidak mendengarkan sama sekali. Sehingga akhirnya, Maria pun menangis dan tersungkur di lantai. Maria menyesali apapun yang sudah dia perbuat sebelum itu. Ya, penyesalan memang selalu datang terlambat. Kalau datang di awal, itu namanya pendaftaran Betul apa tidak reader?
Sementara itu, Amanda yang sedang menemani Cakra kini mulai merasa tenang hatinya. Karena keadaan adiknya kini sudah mulai membaik. Kesya tidak mempercayakan lagi pengasuhan Cakra kepada siapapun. Sekarang Kesya terus mengawasi Cakra 24 jam. Kemanapun pergi, Kesya selalu membawa Cakra bersamanya.
"Mah, Mama kan juga butuh istirahat! Biarkan Cakra bersama Papa, tidak apa-apa!" ucap Andika siang itu.
"Bukankah Papa bilang, kalau Papa ada meeting siang ini? Sudahlah! Biarkan saja, Cakra ikut bersama Mama! Toh, Mama juga di sana kegiatannya tidak terlalu banyak. Mama sudah mengambil asisten, untuk bisa membantu pekerjaan Mama di rumah sakit. Jadi Mama bisa mengawasi Cakra dengan lebih baik lagi! ucap Kesya berusaha meyakinkan suaminya agar bisa bekerja dengan tenang. Agar tidak perlu memikirkan keadaan Cakra saat ini. Karena dirinya pasti akan mengurus Cakra sebaik mungkin.