Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
37. Permohonan Maaf Silvia



Pov Silvia


Hari ini aku dijadwalkan akan bertemu dengan Mas Ilham dan Kesya. Mas Ilham bersikeras untuk mempidanakan kasus kecelakaan yang terjadi beberapa tahun lalu. Cintaku kepada Mas Ilham sekarang menjadi Boomerang bagiku.


Keluargaku sudah membujuk dengan segala cara agar Mas Ilham menarik tuntutan terhadap diriku. Aku sedih sekali. Pria yang aku cintai sepenuh hati, sekarang membenciku dengan seluruh jiwa raganya. Aku bisa paham, memang aku memberikan banyak masalah kepadanya. Karena kecelakaan tersebut, pernikahan Mas Ilham dan Kesya batal dan menurut kabar, Kesya sudah menikah dengan seorang konglomerat yang memiliki banyak perusahaan di Indonesia dan Dubai. Sungguh beruntung hidup Kesya. Aku di sini malah harus merasakan dinginnya lantai penjara. Bukan hanya tidak mendapatkan cinta Mas Ilham, sekarang bahkan dia tidak sudi melihat wajahku lagi. Semuanya gara-gara mulutku yang keceplosan saat histeris mendengar bahwa dia akan menikahi wanita lain.


Cintaku membawa petaka bagi diriku sendiri.Aku sadar kalau cinta tidak bisa di paksaan. Tapi aku ingin berjuang demi cintaku. Tapi cara yang salah, malah membuat aku semakin hilang harapan dari mendapatkan cinta dari pujaan hatiku.


"Mas Ilham, aku sangat mencintaimu. Kenapa kamu tidak bisa melihat cintaku sedikit saja?" isakku sangat pedih rasanya.


"Itu bukan cinta! Tapi obsesi dan keegoisan kamu! Kamu harus belajar untuk bertanggung jawab dengan semua perbuatan buruk kamu!" aku melihat kilatan kebencian di mata Mas Ilham. Pedih rasanya. Aku ingin cintanya, bukan kebenciannya yang tak berujung itu.


"Silvia, kamu salah dalam mengapresiasi cinta kamu. Cinta kamu merugikan orang lain. Kami berdua adalah korban keegoisan cinta kamu. Apa kamu sadar? Gara-gara kamu, hidup kami berubah 100%!" Kesya tampak marah juga kepadaku.


"Bu Kesya, apa anda percaya dengan takdir?" tanya pengacara keluarga ku.


"Tentu saja." jawab Kesya pelan.


"Semua yang terjadi kepada manusia atas ijin dan kehendak Allah. Apa Bu Kesya percaya?"


"Saya percaya dengan takdir Allah! Tapi Silvia tetap harus bertanggung jawab dengan kejahatan yang sudah dia lakukan terhadap kami. Kami menderita karena kejahatan Silvia!" ucap Kesya masih dengan nada amarah.


"Kami berdua adalah korban kejahatan kamu secara langsung, Silvia!" Mas Ilham memusingkan telunjuknya ke wajahku.


Sedih rasanya melihat kebencian di matanya. Sebesar apapun penyesalan di hatiku, semua sudah terlambat. Semua tidak bisa diperbaiki lagi. Mas Ilham sangat terluka dengan pernikahan Kesya. Aku paham luka hatinya gara-gara perbuatan kami. Bahkan sampai sekarang Mas Ilham belum menikah, kabar yang aku terima, Mas Ilham masih belum bisa move on dari cintaku pada Kesya. Aku cemburu sekali, kenapa cinta itu bukan untuk diriku? Kenapa nasib Kesya bagus sekali? Lepas dari Mas Ilham, dia bahkan menikah dengan konglomerat tingkat Dunia.


"Saya atas nama istri saya, memaafkan Silvia. Pihak kami akan menarik tuntutan. Asal Silvia mau menandatangani perjanjian. Bahwa dia akan meninggalkan Indonesia, berjanji tidak akan meneror istri saya dan juga kehidupan saudara Ilham. Dia harus menandatangani perjanjian tersebut, kalau melanggar, dia akan otomatis masuk penjara selama 30 tahun!" Aku tersentak dengan keputusan yang di ambil oleh suaminya Kesya. Kesya dan Mas Ilham juga sama, tampak kaget dengan keputusan sepihak Andika.


"Mas, apa maksudnya kamu? Kamu tidak berhak mengambil keputusan apapun dalam kasus ini!" Kesya tampak protes kepada suaminya.


"Baiklah, kami akan menandatangani perjanjian tersebut. Kami akan mengirimkan Silvia ke Amerika, dan berjanji tidak akan pernah kembali ke Indonesia." ucap Papahku sangat senang karena melihat titik terang dari kasus yang bisa menyeretku dengan pasal berlapis.


Bagaimanapun pilihan itu memang tampak menggiurkan, tapi apa aku sanggup hidup tanpa melihat Mas Ilham selama sisa hidupku?


"Saya adalah suami Kesya. Saya punya hak untuk mengambil keputusan apapun dalam hidup dia. Saya tidak mau istri saya hidup dalam kebencian. Dengan perjanjian itu, semua pihak bisa hidup dengan tenang. Kalau Silvia di penjara, apa kamu bisa menjamin bahwa keluarga dia tidak akan balas dendam pada kalian? Orang tua mana yang rela melihat anaknya menderita di penjara?" ucap Andika dengan yakin.


Aku melihat Mas Ilham terdiam, tampak memikirkan apa yang disampaikan oleh suaminya Kesya. Andika memang luar biasa. Pantas dia menjadi seorang CEO dari perusahaan besar, logikanya dan pemikirannya tidak bisa dipikirkan oleh orang biasa seperti kami.


"Tapi Mas! Kalau tidak diberikan pelajaran, dia pasti jadi berpikir bahwa dia bisa bermain dengan hidup orang lain!" Kesya masih tidak setuju.


"Jangan katakan sama Mas, kalau kamu masih ada rasa dan harapan bersama mantan calon suami kamu itu!" Andika menatap tajam pada Kesya. Kesya tampak gelagapan.


" Bukan seperti itu maksudnya Mas!" Kesya hilang kata-kata berdebat dengan suaminya.


"Pak pengacara, pihak saya akan menarik tuntutan dengan catatan Silvia harus menandatangani perjanjian yang tadi saya sebutan. Kami permisi!" Andika langsung pergi dari ruangan dengan menyeret tangan Kesya. Kesya yang tidak puas dengan keputusan sepihak suaminya akhirnya menyerah dan pergi dari kantor polisi.


"Ilham, Umi pikir, apa yang disampaikan oleh suaminya Kesya ada benarnya juga. Lebih bagus membuat surat perjanjian saja. Kasihan juga dengan Silvia dan keluarga nya. Dia masih muda. Masih panjang masa depannya. Kita beri dia kesempatan untuk berubah. Semoga dari kasus ini, Silvia bisa berubah dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi!" nasehat Uminya Mas Ilham.


"Tapi Umi. Perempuan keji itu harus mendapatkan hukuman atas kejahatan dia!" Mas Ilham masih tidak rela melepaskan perbuatan ku di masa lalu.


"Memaafkan itu akan membuat hidup kamu lebih tenang sayang!" Umi mengelus telapak tangan Mas Ilham. Mas Ilham meraup wajahnya dengan kasar. Tampak sangat frustasi.


"Baiklah Umi! Ilham akan nurut dengan nasehat Umi!" Aku merasa sangat bersyukur dan berterima kasih dengan kebaikan mereka berdua yang telah aku rugikan dengan perbuatan ku di masa lalu. Tanpa terasa air mataku mengalir.


"Terima kasih Nak Ilham, terima kasih Bu Nyai!" Mamahku serta Merta memuluk Bu Nyai di tempat aku mondok dulu. Beliau sangat terharu dengan keputusan Mas Ilham dan Suaminya Kesya.


"Tapi saya ada point yang ingin di tambahkan dalam surat perjanjian tersebut. Saya mau sebelum Silvia pergi dari Indonesia, dia harus menikah dengan seorang pria. Saya tidak mau kalau dia masih menteror hidup saya dengan cinta gila dia terhadap saya!" Mas Ilham menatapku dengan penuh amarah. Masih belum rela melepaskan kasus ini.


"Akan kami pastikan pernikahan Silvia. Percayalah kepada kami. Terima kasih atas kebaikan hati Nak Ilham!" berkali-kali papahku menundukkan kepalanya kepada Mas Ilham.


Aku memang anak yang buruk, di usia ku saat ini, aku masih memberikan beban buat kedua orang tuaku. Sehingga mereka harus merendahkan diri mereka dihadapan Mas Ilham dan keluarganya. Cinta mereka sungguh luar biasa untukku. Aku berjanji mulai saat ini akan menjadi anak yang baik dan tidak memberikan masalah untuk mereka lagi. Aku berjanji akan menurut dengan semua pengaturan orang tuaku demi masa depanku.


Terima kasih papah dan mamah. Kalian adalah orang tua terbaik yang selalu menemani aku dalam semua kondisi. Kalian menerima semua keburukan dan kebaikan anakmu ini. Cinta kalian sungguh luar biasa. Semoga kalian selalu diberikan kesehatan dan umur panjang. Agar aku diberikan kesempatan untuk bahagia kan kalian.