
Setelah kepulangan Amanda dari rumahnya tampak Mandar menangis di kamarnya.
" Kenapa kau menangis apa yang kau sesalkan?!" tanya suami Manda sambil menatapnya dengan tajam.
Manda menatap suaminya yang seperti merasa tidak senang dengan dirinya.
" Aku hanya tidak mengerti kenapa kau selalu membuat putriku merasa tidak nyaman setiap kali dia datang kemari. Padahal dia tidak datang setiap hari, juga tidak sampai setahun sekali dia datang. Kenapa kau bisa sekejam itu kepada putriku?" tanya Manda dengan suara gemetar kepada sang suami yang saat ini sedang menatapnya dengan tajam.
Suaminya Manda mendekati istrinya kemudian dia bicara apa yang dia rasakan selama ini kepada sang istri.
" Karena setiap kali aku melihat wajah putrimu aku selalu mengingat bahwa aku bukanlah laki-laki pertama yang menyentuhmu. Karena aku mengingat bahwa kau tidak seutuhnya milikku!" ucapnya dengan menatap tajam kepada sang istri.
Manda terkesiap mendengarkan Pengakuan dari Johan.
" Jadi seperti itu pikiranmu selama ini tentang putriku? Pantas saja kau tidak pernah menerimanya dengan baik. Kenapa sewaktu pertama kali kau melamarku kau mengatakan bahwa kau akan menerima putriku?" tanya Manda dengan suara tersekat di tenggorokannya.
Johan tampak berdiri kemudian dia mengitari ruangan tengah. Dia pun menatap lagi sang istri yang saat ini sedang menuntutnya sebuah jawaban dari pertanyaannya.
" Awalnya aku berpikir bahwa aku akan bisa menerimanya, aku pikir aku akan bisa menghadapinya. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu. Semakin aku mencintaimu semakin aku merasa tidak rela dengan kehadiran Amanda diantara kita!" ucap Johan sambil menatap sama istri dengan tatapan penuh iba.
Manda menggelengkan kepalanya tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh suaminya.
" Bukankah itu artinya selama ini kau telah menipuku? Kau mengatakan bahwa kau akan mencintaiku dan juga putriku. Tetapi lihatlah, apa yang sudah kau lakukan terhadapnya. Kau selalu menaburkan luka kepadanya setiap kali dia datang kemari. Padahal jauhnya dia datang dari Dubai, hanya ingin bertemu denganku. Hanya ingin bertutur sapa denganku. Tetapi kau selalu menabuh genderang perang untuk putriku. Sehingga dia selalu pergi dari rumah ini dengan rasa sakit hati!" ucap Manda dengan hati yang terasa sangat sakit melihat kelakuan suaminya.
Johan terduduk di sofa dengan lemas. Dia pun tidak mengerti kenapa sangat sulit untuk bisa menerima kehadiran Amanda di dalam kehidupan mereka berdua. Padahal dia tahu bahwa Amanda adalah anak yang baik dan selalu menghormatinya sebagai suami ibunya.
" Maafkan aku yang lemah yang sangat sulit untuk mengendalikan perasaanku sendiri. Lain kali kalau Amanda datang kemari aku tidak akan menemuinya lagi sehingga tidak akan menyakiti hatinya!" ucap Johan memohon maaf kepada Manda yang sekarang sedang menangis tersedu.
" Tidak perlu kau lakukan hal seperti itu. Entah kapan lagi Amanda akan datang kemari. Dia mengatakan, setelah kelulusannya dia akan langsung berangkat ke Prancis untuk melanjutkan kuliahnya di sana. Apa kau tahu hari ini adalah Hari terakhirnya untuk bertemu denganku tetapi kau telah memberikan luka yang lebih dalam lagi kepada putriku! Kau sungguh seorang lelaki yang keji!" ucap Manda yang kemudian pergi meninggalkan Johan sendirian di ruang itu.
" Aku benar-benar minta maaf!" ketika mereka sedang ribut itu putra mereka tampak menggeliat dalam tidurnya.
Johan kemudian mengangkat tubuh putranya yang terbangun. Dia tahu kalau saat ini Manda sedang marah kepadanya.
Dengan telaten Johan mengurusi semua keperluan Putra keduanya yang baru berumur sekitar 2 tahun.
Anak pertama mereka sekarang sedang sekolah di luar kota dan dititipkan kepada kedua orang tua Johan.
" Kamu makan sama papah ya nak?" tanya Johan kepada anaknya yang kini sedang senang setelah mandi bersamanya.
Sementara itu Manda di dalam kamar masih tampak menangis karena memikirkan Amanda yang pergi dari rumahnya dalam keadaan sedih melihat kelakuan suaminya yang selalu bersikap masam terhadapnya.
" Sepertinya rumah tangga ini dijalankan sepanjang apapun tidak akan pernah ada akhirnya. Tetap saja Mas Johan selalu berpikir bahwa aku adalah perempuan murahan dan tidak layak untuk dihargai. Tuhan ajarkanlah aku untuk ikhlas dalam menghadapi rumah tangga ini! Aku sungguh sangat lelah melihat penderitaan putriku setiap kali dia menginjakkan kakinya di rumahku!" ucap Manda berdoa dalam sendu.
Hatinya merasa teriris ketika melihat Amanda yang langsung pergi meninggalkan rumahnya ketika melihat Johan yang tidak senang dengan kehadirannya.
Amanda memang seorang gadis yang sangat perasa dan juga sensitif. sangat wajar kalau Amanda bisa merasakan ketidaksukaan seorang Johan dengan kehadirannya di rumah ibunya.
" Sudahlah Amanda tidak usah dipikirkan lagi. Sejak dulu kamu tahu kalau sikap Ayah tirimu seperti itu, tidak usah kau ambil hati ya? Kakek takut nanti malah membuatmu menjadi sakit!" ucap Farhan berusaha untuk membujuk Amanda agar tidak menangis lagi dan bisa kembali ceria seperti sebelumnya.
" Manda hanya heran kenapa Papa Johan Kek. Kenapa dia selalu membenciku? Padahal selama ini Aku selalu berusaha untuk menjadi anak tiri yang baik baginya. Tidak pernah melawannya ataupun membangkang kepadanya!" ucap Amanda dengan suara serak karena sejak kemarin dia terus menangis sedih.
Farhan menarik nafasnya dengan dalam terlihat bahwa dia pun merasa sedih apalagi dia melihat dengan mata kepala sendiri perlakuan Johan kepada cucunya.
" Kakek bisa membayangkan. Bagaimana perasaanmu ketika dulu kau tinggal dengan ibumu. Di situ ada Kakek pun Papa tirimu tidak memandang sama sekali. Apalagi ketika kau dulu tinggal di sana sendirian. Kakek bisa membayangkan apa yang dia lakukan kepadamu setiap harinya!" ucap Farhan sambil mengelus lembut kepala Amanda yang masih terisak di dalam tangisnya.
" Sudahlah saayng! Tidurlah! Bukankah besok kita akan berangkat ke Prancis? Jangan sampai nanti wajah cantikmu menjadi jelek gara-gara wajahmu yang sembab dan bengkak karena terlalu banyak menangis." ucap Farhan sambil tersenyum kepada Amanda.
Amanda kemudian menghapus air matanya dan menatap kepada kakeknya yang selama ini selalu menyayanginya.
" Terima kasih ya kek. Karena kakek dan nenek selalu menerima aku dan tidak pernah membuatku merasa sebagai anak yang tidak dihargai dan tidak diinginkan. Berkat kalian aku selalu merasa percaya diri dan merasa dicintai!" ucap Amanda sambil memeluk kakeknya.
Farhan hanya bisa tersenyum menanggapi semua perkataan Amanda.
" Sudahlah Ayo tidur karena Kakek pun ingin beristirahat sudah lelah sekali. kau tahu kan kalau kakek sekarang itu sudah tua dan sudah tidak memiliki tenaga seperti dulu lagi. Sekarang berjalan ke lantai dua saja sudah rasanya lelah sekali!" ucap Farhan sambil tersenyum kepada Amanda.
Setelah Amanda tidur Farhan pun kemudian pergi ke kamarnya dan bersiap-siap untuk beristirahat.
Sementara itu Kesya dan Andika tampak sedang membicarakan tentang Amanda dan juga ibu kandungnya.
" Tampaknya kita tidak perlu mempertemukan lagi Amanda dengan ibunya deh. Setiap kali mereka bertemu, hasilnya pasti akan selalu melukai mental Amanda dengan kesedihan. Tampaknya suami Manda tidak bisa menerima kehadiran Amanda. Besok-besok kalau Amanda minta bertemu dengan ibunya, lebih baik kita larang saja ya? Mama tidak tega setiap kali melihat Amanda menangis gara-gara mereka!" ucap Kesya sambil menatap Andika.
Andika kemudian menutup ponselnya dan juga notebooknya. Tadi dia sedang mengerjakan tugas kantor yang tertunda. Memeriksa email-email dari klien dan juga sekretarisnya melalui notebook dan juga ponselnya yang memiliki banyak fungsi di dalam kehidupan Andika.
" Sebenarnya Papa pun tidak ingin kalau Amanda sampai bertemu dengan ibunya lagi. Karena bagaimanapun seorang laki-laki pasti tidak senang ketika melihat seorang anak dari istrinya yang telah lahir dari laki-laki lain. Pasti secara harga diri dia merasa terluka. Papa bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Johan suaminya Manda." ucap Andika sambil duduk di samping istrinya yang sedang fokus mendengarkan apa yang dia katakan.
Kesya mendekati sang suami kemudian memeluknya dengan lembut.
" Jadi Papa setuju ya? Kalau besok kita antarkan Amanda ke Prancis. Biarkanlah dia kuliah di sana sambil belajar untuk mengelola perusahaan kita yang ada di sana. Siapa tahu dia bisa membantu papa untuk memanage perusahaan suatu saat nanti," ucap Kesya.
" Papa setuju setuju aja sih sayang. Bagi Papa yang penting Amanda merasa nyaman dan tidak terganggu. Kalau misalkan dia diberi tanggung jawab untuk bekerja di perusahaan kita. Ya itung-itung belajarlah sebelum nanti dia betul-betul berkecimpung di dunia bisnis untuk membantu papa mengurus perusahaan keluarga kita. Kalau melihat Adrian yang lebih condong dengan ilmu agama, tampaknya Papah agak ragu kalau dia mau meneruskan untuk memanage Perusahaan kita." ucap Adrian sambil mengelus pipi sang istri.
" Kita kan masih punya Cakra Pah. Mama yakin kok kalau Cakra pasti bersedia untuk membantumu mengurus perusahaan. Ah sudahlah tidak usah membicarakan hal-hal yang belum pasti. Bagi mama yang penting, sekarang kita kirimkan Amanda untuk sekolah di Prancis supaya kemampuan bisnisnya semakin terasah. Sehingga suatu saat nanti dia akan siap untuk kita pasrahi perusahaan yang di Prancis itu untuk dia kelola!" ucap Kesya pelan.
" Ya udah kita tidur saja sudah malam Supaya besok kita bisa mengantarkan Amanda ke Perancis!" mereka berdua pun kemudian tidur dan beristirahat.
Sementara Cakra bersama dengan pengasuhnya masih tampak asik bermain di kamarnya. Sekarang Kesya sangat berhati-hati untuk mencari pengasuh bagi Cakra. Setelah Cakra pernah mengalami penganiayaan dari pengasuhnya yang dulu.
Di dalam kamar Cakra dipasang CCTV yang hanya diketahui oleh mereka berdua. Mereka berdua selalu mengawasi apa-apa yang dilakukan oleh pengasuhnya dalam mengurus chakra sehingga mereka bisa mendeteksi hal-hal yang tidak wajar dari pengasuh Cakra.
Cakra tampak bahagia. Walaupun tubuh kecil nya masih kelelahan. Setelah melakukan perjalanan jauh ke Indonesia mengantarkan Adrian dan juga berkunjung ke rumah saudara mereka yang ada di Indonesia tentunya.