
Keesokan paginya Firman langsung mendatangi kediaman Syafa dan Rasya. Firman membawa kembali aplikasi pengajuan cerainya bersama Syafa.
"Ingat, Mas! Harus dingin kepala! Jangan terbawa emosi terus. Kasihan anakmu. Dia pasti merasa sedih kalau melihat orang tuanya berantem terus!" ucap Laila kembali mengingatkan Firman agar jangan selalu mengikuti hawa nafsunya dan amarahnya.
" Iya kamu tenang saja. Aku sekarang sudah bisa berkomunikasi dengan baik dengan Rasya. Jadi kau tidak usah khawatir!" Firman sambil mengelus rambut sang istri.
Sejak pulang dari rumah sakit, tubuh Laila memang sering sakit-sakitan. Badannya bahkan sekarang kurus, sehingga membuat Firman merasa khawatir dengan keadaan Bayi Mereka yang ada di dalam perut sang istri. Firman selalu menjaga Laila dengan ekstra hati-hati.
Dokter bilang, efek racun itu mungkin saja masih bekerja. Walaupun sudah disedot semua, mungkin saja masih ada yang tersisa di tubuh Laila. Sehingga Laila keadaannya masih cukup rawan.
"Sudah, masuk saja. Istirahatlah! Serahkan semua pekerjaan kepada pembantu.Aku ingin kamu untuk gegera sehat. Kasihan anak di dalam perutmu, kalau kamu sakit terus!" Firman kemudian mengecup kening Laila dengan penuh cinta. Sehingga membuat Laila merasa terharu dibuatnya.
"Mas berangkat dulu ya, khawatirnya nanti Rasya jadi terlambat ke sekolah. Oh. Ya. Terima kasih ya, untuk bekal dan sarapan yang sudah kamu siapkan untuk Rasya!" Firman sambil tersenyum manis kepada Laila. Laila hanya mengangguk saja, Laila Kemudian mencium tangan suaminya sebelum Firman meninggalkan kediaman mereka berdua.
Kehamilan Laila saat ini sudah masuk angka 5, sehingga sudah lumayan aman, jadi Firman bisa menurunkan tingkat kewaspadaannya terhadap sang istri dan bagi mereka.
Setelah sampai di kediamannya Syafa dan Rasya. Firman langsung mengetuk pintu mereka. Dan memberikan sarapan untuk Rasya. Rasya merasa senang sekali, karena mendapatkan perhatian itu dari sang ayah.
"Kenapa Ayah repot-repot seperti ini? Rasya bisa membeli sarapan di jalan, saat kita berangkat ke sekolah!" Rasya sambil memegang Tupperware yang dipersiapkan oleh Layla dari rumah ayahnya.
Tiba-tiba saja, Syafa muncul dari arah kamarnya. Syafa langsung merebut Tupperware tersebut dan melemparkannya ke tempat sampah.
"Jangan pernah kau memberikan makanan untuk Putraku dari tangan wanita kotor itu!" ucap Syafa dengan menatap tajam ke arah Firman. Firman tapak tidak senang dengan apa yang dilakukan oleh Syafa tadi.
"Kau betul-betul seorang perempuan yang tidak waras! Otakmu betul-betul tidak bekerja sama sekali!" Firman kemudian melemparkan map yang ada di tangannya ke wajah Syafa.
"Cepat kau tanda tangani surat itu! Karena aku sudah tidak sudi lagi untuk berhadapan denganmu!" ucap Firman dengan matanya yang berapi-api penuh dengan kebencian kepada Syafa.
Mata Rasya sekarang sudah berkaca-kaca. Ada kesedihan di hatinya saat ini, ketika tadi melihat mamanya yang telah melemparkan makanan yang dibawa oleh ayahnya, ke tempat sampah. Seakan tidak menghargai kebaikan ayahnya. Hal itu membuat ibunya terlihat sangat buruk di mata ayahnya.
Wajar kalau Ayahnya marah saat ini, itulah yang ada di dalam pikiran Rasya saat ini.
"Mah, Cepatlah di tandatangani agar semua beres dan tidak ada lagi waktu untuk kalian saling menyakiti lagi!" ucap Rasya dengan berlinangan air mata.
Dengan tangan gemetar akhirnya Syafa membuka lembaran demi lembaran gugatan perceraian itu. Yang di dalamnya terdapat juga beberapa perjanjian pasca perceraian, harta gono gini, tunjangan maupun segala sesuatu tentang hal tersebut. Syaga tampaj membacanya dengan tangan gemetar.
Setelah itu, Syafapun menandatangani surat gugatan cerai itu, setelah Syafa membaca semuanya dengan seksama.
" Ayo Rasya, Papa akan mengantarkanmu ke sekolah. Biarkan ibumu, sekarang ditemani oleh pembantu saja!" ucap Firman sambil menarik tangan Rasya.
Tetapi Rasya langsung menepiskan tangan ayahnya dan menatap tajam kepada sang ayah. " Rasya tidak mau berangkat sekolah, Pah! Rasya akan menamaini Mamah. Rasya takut kalau Mana akan melakukan hal yang bodoh. Rasya tidak mau menyesali sesuatu yang terlambat!" Rasya dengan suara gemetar dan juga tangis yang tidak berhenti.
Pembantu Mereka pun kini ikut menangis, melihat drama rumah tangga majikan mereka yang telah dibangun lebih dari 14 tahun lebih, kini hancur berantakan begitu saja.
"Den Rasya, Ayo kita antarkan Nyonya ke kamarnya. Biarkan dia berbaring, kasihan kalau seperti itu terus!" pembantu itu pun kemudian membantu Rasya untuk membimbing Syafa ke dalam kamarnya.
Sementara itu Firman yang hatinya sedang sangat marah, langsung pergi ke pengadilan agama dan mendaftarkan gugatan perceraian itu. Mereka langsung mendapatkan jadwal sidang untuk segera membahas tentang perceraian mereka berdua.
Karena tidak ada banyak tuntutan di dalam gugatan tersebut, dan semuanya sudah saling sama mengerti. Akhirnya perceraian itu pun diputuskan dengan hanya dua kali sidang, tanpa mediasi lagi. Karena mereka semua sudah sepakat untuk bercerai.
Firman memberikan banyak tunjangan untuk Syafa maupun Rasya. Rumah, mobil, 10% saham di perusahaan miliknya, serta uang tunai di dalam nomor rekening yang sengaja di buat oleh Firman untuk kehidupan mereka berdua pasca bercerai dengan dirinya.
Rasya tampak lemas tubuhnya, ketika melihat keputusan sidang. Yang menyatakan bahwa kedua orang tuanya telah resmi bercerai . Rasya langsung menangis sehari-jadinya, ketika melihat ibunya langsung pingsan.
Syafa langsung dibawa ke rumah sakit, karena tubuhnya yang drop seketika. Syafa selama ini memang selalu banyak mengkonsumsi minuman beralkohol. Sehingga hal itu telah banyak mengganggu kesehatannya.
Puncaknya adalah hari ini, disaat penyampaian keputusan sidang tentang perceraiannya mereka. Syafa sudah tidak mampu lagi menopang dirinya sendiri dan akhirnya jatuh pingsan.
Syafapun kemudian dirawat di rumah sakit selama beberapa hari. Untuk memulihkan kesehatannya yang terganggu karena minuman beralkohol.
Beberapa kali ayahnya Firman menengok mantan menantunya. Merasa prihatin dengan keadaan Syafa saat ini yang begitu terpuruk setelah bercerai dengan sang putra.
"Kamu harus kuat Syafa! Demi putramu, kamu harus kuat dan berjuang. Untuk kembali bangkit dan memberikan kebahagiaan untuk putramu. Jangan sampai kalah dalam berperang Syafa!" ayahnya Firman terus berusaha memberikan semangat kepada Syafa. Syafa hanya bisa menangis saat ini.
"Maafkan Syafa, pah! Syafa telah gagal menjadi seorang istri dan mungkin juga telah gagal menjadi seorang ibu untuk Rasya. Rasanya hidup Syafa sudah tidak ada gunanya lagi. Lebih baik biarkan Syafa mati saja, Pah! Syafa sudah tidak sanggup lagi menahan ini semua!" ucap Syafa dengan berderai Air Mata.
"Bodoh kamu! Kau kira hidupmu hanya untuk dirimu sendiri? Kau tidak pernah berpikir bagaimana keadaan putramu?" bentak Ayahnya Firman kepada Syafa.
Rasya yang saat itu sedang melihat di pintu pun, tidak sanggup lagi melihat ibunya yang begitu terpuruk dan terjatuh. Setelah perceraian diputuskan oleh pengadilan agama. Hati Rasya sangat hancur saat itu.
Rasya sudah beberapa hari tidak berangkat ke sekolah. Karena Rasya yang harus menjaga ibunya. Rasya khawatir kalau ibunya berbuat hal yang nekat dan bodoh melihat kondisinya yang sangat tidak stabil.