Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
19.Obsesi Andika



"Tolong antarkan saya menemui Andika. Saya harus bertanya kepadanya. Apa yang sedang terjadi saat ini, karena saya sangat bingung saat ini. Tolong mengertilah," Kesya akhirnya memberi penjelasan kepada Ilham.


"Tunggulah kakakmu datang, setelah Mas Rasyid bertemu denganmu, aku akan mengantarkan kamu bertemu dengan Andika," Ilham sudah bisa menguasai dirinya kembali. Duduk tenang di hadapan Kesya yang saat ini berdiri dengan tatapan nyalang menatap Ilham.


Maunya Kesya dia pergi sekarang juga, tidak nyaman rasanya berdua saja dengan seorang lelaki yang baru dia lihat hari ini, terlepas dari cerita Ilham bahwa dia adalah tunangan dirinya.


"Apa benar dia tunanganku? Cukup tampan sih, lebih tampan dari Andika, tidak heran kalau dulu aku mau menerima dia sebagai calon suamiku," bathin Kesya tanpa sadar.


Hati Kesya ingin mengingkari bahwa Ilham adalah tunangan dia, tetapi pikirannya tidak mengatakan itu, pikiran Kesya malah sibuk memikirkan segala kemungkinan yang mungkin terjadi


"Kalau benar dia adalah calon suamiku. Lalu bagaimana dengan Andika? aku tahu selama ini Andika juga mencintai diriku. Terlihat jelas di matanya," Kesya terus bermonolog dalam hatinya.


Seharian Ilham mengurung Kesya dalam kamar, makanan untuk mereka di kirimkan oleh santrinya. Ilham tengah menunggu kedatangan Rasyid. Mereka dalam perjalanan, biarkan kakaknya yang menjelaskan semuanya. Bathin Ilham mulai tenang dan tidak main emosi lagi seperti tadi.


Kesya juga sudah mulai tenang, tidak bringas lagi seperti tadi. Dia mau memakan makanan yang di kirimkan oleh santrinya Ilham. Mereka makan dalam diam. Sesekali Kesya melirik ke arah Ilham yang sangat tampan dan elegan.


Wajah Ilham memang termasuk kategori tampan maksimal, dengan hidung mancung dan ketegasan yang tercetak di wajahnya membuat dia sangat rupawan. Dalam sekejap hati Kesya mulai tertawan pada lelaki yang mengaku sebagai tunangannya itu. Ada rasa bahagia yang hadir sebenarnya, tetapi Kesya harus mendengarkan penjelasan dari Andika.


Ada rasa geram di hatinya, kalau benar Andika sengaja menyembunyikan fakta siapa dirinya, apa dirinya bisa memaafkan Andika? Begitu banyak Budi yang sudah diberikan oleh Andika kepada dirinya selama satu tahun ini.


Hati Kesya mulai gamang dan juga galau memikirkan Andika. Bagaimanapun juga Andika sudah menyelamatkan dirinya, terlepas dia melakukan hal buruk itu atau tidak, Kesya tidak mampu membenci Andhika.


"Ilham bagaimana kamu yakin,kalau aku adalah calon istri kamu?" Kesya mulai mau bicara dengan Ilham, Ilham mendekati Kesya dengan hati-hati, takut Kesya menjadi ilfell padanya.


"Aku tadi membuka cadarku dan juga kaus kaki kamu, jadi aku yakin bahwa kamu adalah calon istriku," Kesya kaget mendengar pengakuan Ilham yang sudah membuka kaus kakinya, tanpa sadar dia melihat kakinya yang memang tidak mengenakan kaus kaki. Kesya geram dengan ketidaksopanan Ilham padanya.


"Maafkan aku, aku hanya ingin mengidentifikasi identitas kamu, setelah aku membuka cadarku aku semakin yakin bahwa kamu adalah Kesya, calon istriku. ada tanda lahir berwarna kebiru-biruan di telapak kaki kamu, buktikanlah," tanpa sadar, Kesya melihat ke arah telapak kakinya, memang ada tanda yang Ilham sebutkan tadi.


Kesya menarik nafas dengan kasar. Mulai tidak sabar, sudah sejak lama mereka berada di kamar itu. Untung di sana ada kamar mandi, jadi mereka bisa sholat dan juga melakukan hal lainnya.


Makanan selalu di kirimkan oleh santrinya Ilham jadi mereka tidak sampai kelaparan. Ilham hanya ingin Kesya bertemu dengan kakaknya. Itu saja..


"Jangan takut, aku akan mengantarkan kamu untuk bertemu dengan Andika, tapi setelah kamu bertemu dengan Kakakmu, tadi dia menelpon, dia sudah sampai bandara dan dalam perjalanan ke mari, santriku sedang menjemput dia," Ilham menjelaskan situasi saat ini sehingga Kesya bisa tenang sekarang.


Andika sangat kesal sekali karena tidak bisa menemui Kesya di pondoknya Ilham. Saat ini Andika sedang menghubungi anak buahnya yang ada di Jakarta. Meminta mereka segera datang ke Kalimantan, Andika merasa bahwa posisinya saat ini dalam keadaan berbahaya, hal yang dia takutkan sekarang terjadi. Keluarga Kesya telah menemukan Kesya.


Andika seharian ini tidak bisa fokus bekerja, hatinya sangat risau, apa yang harus dia katakan kepada Kesya nanti? Andika sungguh tidak ingin kehilangan Kesya. Tetapi apabila Kesya telah bertemu dengan keluarganya, dia tidak bisa menahan Kesya lagi untuk berada di sisinya.


"Brengsek!!!" Andika melemparkan semua dokumen yang ada di atas mejanya. Hatinya saat ini sangat kesal dan jengkel setengah mati. Menyesal kenapa Kesya tidak dia bawa ke Dubai saja, malah di bawa ke Kalimantan, dan sialnya malah bertemu dengan Ilham.


"Kenapa aku sangat ceroboh sekali, aku harus memecat resepsionis sialan itu yang sudah membiarkan Ilham masuk ke perusahaanku sehingga dia bisa menemukan Kesya ku," Andika benar-benar dalam keadaan tidak sadar saat ini, dalam hatinya hanya kesal dan harus melampiaskan kekesalannya itu.


Dia langsung menelpon bagian HRD dan menyuruh untuk memecat semua reception yang bertugas kemarin, saat Ilham datang ke perusahaan dia.


Apa yang dilakukan Andika membuat perusahaan heboh dan kalang kabut. Bertanya-tanya apa gerangan yang sedang terjadi. Kenapa sampai tega memecat karyawan yang selama ini bekerja dengan baik dan tidak membuat masalah.


"Tenangkan dirimu, katakan saja kalau kamu tidak tahu identitas Kesya yang sebenarnya," asistennya mencoba menenangkan Andika.


Bisa gawat kalau bos besarnya ini marah-marah terus, kasihan karyawan yang tidak berdosa itu, menjadi korban kemarahan Andika.


"Kenapa kamu ceroboh sekali huh? Membiarkan Ilham masuk ke perusahaanku huh? Seharusnya kamu juga saya pecat, kamu paham tidak?" Ilham melemparkan pulpen yang saat ini dia pegang, ke arah asistennya yang sudah berwajah merah.


Kadang Andika memang menyebalkan kalau sudah marah, tetapi melawan Andika hanya akan berakibat buruk pada dirinya. Dia paham kenapa Andika sangat marah sekarang, kehilangan Kesya membuat Andika seakan kehilangan hidupnya.


"Sabarlah, Kesya pasti akan kembali ke padamu, Tenanglah jangan melakukan sesuatu yang nantinya akan kamu sesali," Andika menatap tajam pada asistennya itu.


"Sudah tidak becus bekerja, masih punya nyali juga kau menasehati huh? Dasar brengsek!!" Andika melemparkan asbak yang ada tepat dihadapannya, Untung saja asistennya mempunyai repleks badan yang bagus. Jadi dia selamat dari asbak yang bernasib malang itu.


"Pergi dari hadapanku!!! Melihat kamu rasanya darahku makin mendidih saja," Usir Andika sambil melemparkan pas bunga yang ada dekat tangan kirinya, tapi perasaan Andika masih belum puas juga malah semakin marah rasanya.


"Kesya, aku tidak akan pernah melepaskan kamu, akan aku pastikan bahwa kamu hanya akan menjadi milikku. Andika Hutama!!" Ada pancaran obsesi di mata Andika. Kalau orang lain melihat itu pasti merasa merinding.


Mata yang sama dengan Silvia apabila menatap Ilham. Cinta sepihak yang tak terbalas memang menyakitkan, kalau tidak kuat mental akan menjerumuskan pelakunya. Sungguh kasihan Andika.