Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
110. Keinginan Syafa



"Mas, buka pintunya!" Laila terus berteriak-teriak minta agar di bukakan pintu kamarnya. Tetapi Firman sama sekali tidak mau perduli. Dia terus turun ke bawah. Menemui semua orang yang ada di sana.


"Pah, Mah. Ayo masuk! Kalian pasti lelah, setelah perjalanan yang jauh. Istirahatlah! Sebentar, Firman siapakan kamar dulu untuk kalian!" Firman seperti orang hilang akal saja. Dia berlari kesana kemari. Seperti orang kebingungan. Kedua orang tuanya, sampai menggenggam karena marah.


"Firman! Duduk, kamu!" perintah ayahnya emosi,sehingga menyadarkan Firman yang tampak seperti hilang akal saat ini. "Pah, Firman mencintai Laila. Kenapa Papah dan Mamah tidak bisa mengerti juga?" kedua orang tua Laila menatap Firman dengan iba.


"Firman, sebaiknya diskusikan semuanya dengan keluarga kamu dulu. Papah akan membawa pulang Laila bersama kami!" ucap Ayahnya Laila.


Ayahnya Laila tahu, kalau Firman memang mencintai Laila. Hanya saja, memang saat ini hatinya tidak bisa tahan melihat Laila dihina dan dicaci maki. Oleh seluruh keluarganya Firman. Oleh karena itu, dirinya sudah bertekad akan membawa Laila kembali ke Jawa Timur, bersama dengannya. Tetapi Firman malah mengamuk dan tidak mengizinkan dirinya Untuk membawa Laila. Bahkan sekarang, Laila telah dikurung oleh Firman di dalam kamarnya mereka berdua.


Kedua orangtuanya Laila sungguh telah hilang akal. Bagaimana harus menyikapi perbuatan menantu mereka itu. Yang ternyata memang mencintai anaknya dengan tulus. Hanya saja, keluarga Firman yang membuat hatinya merasa sakit hati. Apalagi istri pertama dan juga anaknya, tampaknya sangat membenci Laila, anak mereka.


Wajar sih memang. Apabila mereka membenci Laila. Hati perempuan mana? Yang akan rela melihat suaminya bermain api di belakangnya. Dan bahkan, sekarang sedang hamil Ayahnya. Ayahnya Laila bisa memahami semua situasi yang terjadi di dalam rumah itu. Yang tadi dilihat dan disaksikannya secara langsung. Ketika mereka baru saja sampai di teraa rumahnya Laila. Tetapi beliau benar-benar tidak bisa melakukan apapun. Karena beliau tahu, bahwa putrinya memang telah salah, karena menerima lamaran Firman saat itu.


"Pak! Kenapa Anda dulu membiarkan Putri anda untuk menikahi Firman? Saya yakin anda saat itu tahu kalau Firman ini sudah punya istri betul atau tidak?" sengit ayahnya Firman bertanya kepada ayahnya Laila.


"Pah, Papa jangan seperti itu! Ini bukan salah Ayahnya Laila! Ini semuanya, murni adalah kesalahannya Firman. Firman yang merencanakan semuanya. Sehingga Laila bisa menjadi istrinya Firman. Mereka tidak salah sama sekali. Firman yang telah menjebak Laila, sehingga akhirnya Laila setuju untuk menikah dengan Firman. Jadi, kalau Papa, Mama dan Syafa ingin marah-marah. Marahlah pada saya! Jangan kepada mereka. Mereka bertiga tidak tahu apa-apa." ucap Firman pelan.


Kedua orang tua Firman sudah tampak marah mendengar semua pengakuan putranya. Ibunya Firman bahkan sekarang sudah memeluk Syafa yang telah menangis terus. Ketika mendengar pengakuan itu.


"Kamu betul-betul sudah gila Firman! Kamu betul-betul sudah dibutakan oleh cinta. Papa betul-betul tidak habis pikir dengan kamu!" Papahnya tampak kecewa dengan Firman. Namun Firman menatap ayahnya dengan pandangan penuh dengan makna kemudian dengan lantang Firman mengatakan sesuatu yang benar-benar mengejutkan seisi rumah itu.


Ayahnya Firman seakan kena scakmat! Beliau kini tidak bisa berkutik lagi. Akhirnya, dia hanya bisa diam. Malu terhadap dirinya sendiri. Apalagi, di situ ada Rasya. Cucunya! Hilang sudah mukanya, dihadapan Rasya.


Keadaan Firman saat ini. Benar-benar sama, seperti ketika dahulu di zaman SMA. Laila pernah meninggalkannya. Firman melakukan hal yang sama dengan saat ini. Firman hilang kendali dan tampak tidak bisa berpikir dengan jernih. Ibunya Firman menatap putranya dangan sendu. Hatinya sebagai seorang ibu tersentuh. Ibunya Firman tidak sanggup melihat penderitaan putranya sekali lagi.


"Syafa! Apakah kau tidak bisa menerima Laila sebagai istrinya Firman? Mama betul-betul, tidak sanggup kalau harus melihat Firman seperti dulu lagi. Firman yang kehilangan arah dan hidup dalam kegelapan lagi.Tolonglah Syafa! Bukalah keikhlasan di hati kamu. Untuk menerima Laila sebagai istri Firman. Mama betul-betul akan berterima kasih kepadamu!" Syafa menggelengkan kepalanya, tidak menyangka, ibu mertuanya akan melakukan hal itu terhadap dirinya.


"Kenapa Mama sekarang melakukan hal ini kepada Syafa, Mah? Mama kan tahu, gimana rasanya. Syafa tidak sanggup, Mah! Untuk berbagi Mas Firman dengan siapapun. Syafa tidak bisa menerima hal seperti ini. Mas Firman harus memilih. Syafa atau Laila!" tegas Syafa dengan mata nyalang menarap Firman, sang suami.


"Syafa! Asalkan kamu mau menerima Laila, sebagai istriku. Dan menerima anaknya sebagai anakku. Aku akan memberikan apapun yang kamu inginkan. Aku akan memberikan APAPUN! Kau ingat itu, APAPUN! Aku berjanji tidak akan pernah menceraikan kamu. Kalau kamu bisa menerima keadaan ini secara ikhlas dan lapang hati!" Ucap Firman sambil memegang tangan Syafa dan bersimpuh di hadapannya.


"Kau bilang, kau akan memenuhi apapun yang kuinginkan? Maka, tinggalkan dia Mas! Kembalilah Padaku dan juga Rasya. Maka aku akan menerimamu kembali seperti dulu. Aku akan menganggap ini semua hanya mimpi. Aku mohon Mas! Kembalilah dan tinggalkanlah dia. Bukankah, Laila juga bersedia untuk kamu tinggalkan? Di sini, masalahnya adalah kamu, Mas! Kamu yang tidak bisa melepaskan Layla, Mas!" ucap Syafa.


"Aku tidak akan pernah bisa, melepaskan Laila lagi! Laila adalah hidupku, Syafa! Aku tidak akan pernah bisa untuk meninggalkannya. Kalau yang kamu pinta adalah untuk meninggalkan Laila. Aku tidak akan bisa. Maafkan Aku!" ucap Firman kini bangkit dari duduknya.


"Maka kamu harus menceraikan aku, Mas! Karena aku tidak rela untuk dimadu. Apalagi kamu yang tidak akan pernah bisa adil terhadap kami berdua!" ucap Syafa dengan berderai air matanya.


Semua yang hadir di sana, tampak bingung dan kaget. Mendengarkan keinginan Syafa tersebut. Khusunya Rasya. Yang saat ini tengah menangis dalam diamnya. Rasya benar-benar tidak bisa menyaksikan kesedihan Mamanya itu, yang sangat dia sayangi.


"Apa kau yakin, Syafa? Pikirkanlah lagi, bagaimana dengan Rasya?" tanya ibu mertuanya. Beliau pun kini menangis. Syafa menangis tambah kencang. Kesedihan di hatinya telah benar-benar teramat dalam.