
"Maafin Mama ya, Pah! Karena sudah teledor dalam mengurus Cakra Mama janji Mama tidak akan lagi membiarkan siapapun menyakiti Putra kita. Mama janji mulai sekarang, Mama akan fokus mengurus Cakra dan tidak akan melepaskan dia lagi dari pantauan Mama!" ucap Kesya menenangkan Andika yang masih kesal.
"Kenapa Mama yang meminta maaf? Itu bukan kesalahan Mama. Tetapi pengasuhnya Cakra yang kurang ajar itu! Papa pasti akan menuntut dia atas perbuatan dia yang tidak tahu diri itu. Papa tidak akan membiarkan hal ini!" ucap Andika. Kesya menatap Cakra yang saat ini sedang pulas. Tadi dokter telah memberikan obat dalam dan luar buat Cakra. Agar dia bisa tidur nyenyak.
"Papa tahu kalau Mama itu sibuk di luar. Banyak hal yang harus Mama urus. Dan Papa mengerti kesibukan Mama. Sudahlah, Mah! Ini bukan salahnya Mama. Kita akan segera mengumpulkan bukti-bukti tersebut dan kita akan menuntut pengasuhnya Cakra. Kalau memang dia yang melakukannya!" ucap Andika.
"Apakah kita akan menghadapi acara di rumah sakit hari ini, Pah?" tanya Kesya.
"Saat ini, perasaan Papa sedang tidak enak. Perasaan Papa betul-betul kacau balau. Kita hubungi Mama sama Papa saja, biarkan mereka yang menghandle semua itu. Papa rasanya ingin beristirahat dulu. Bagaimana kalau kita pergi ke hotel saja, menenangkan diri di sana. Sambil menunggu pekerjaan asisten Papa selesai!" usul Andika.
"Nggak usah ke hotel, Pah! Terlalu jauh dari sini! Di sini aja. Nih di ruangan Mama juga ada kamar. Kalau Papa mau istirahat, biar Mama bisa menyelesaikan beberapa pekerjaan dulu. Atau nanti, akan menumpuk dan malah menjadi beban ke depannya!" lirih Kesya.
Andika pun menurut dengan usul Kesya. Karena saat ini memang dirinya sangat-sangat terluka hatinya. Melihat keadaan putranya yang begitu mengenaskan. Sekujur tubuhnya penuh dengan luka. Oh Tuhan! Hati orang tua yang mana, yang bisa kuat menahan hal tersebut?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, pengasuhnya Cakra yang diberikan tugas oleh Kesya untuk membeli beberapa barang pun kini sudah berada di rumah dan sedang menata beberapa barang tersebut di kamarnya Kesya.
Para petugas yang diperintahkan untuk mengaktifkan kembali CCTV di seluruh ruangan pun, kini sudah selesai dan mereka sudah keluar dari rumah tersebut. Seluruh pelayan dan pekerja yang bertugas di kediaman itu pun kini sudah kembali lagi ke pos masing-masing. Setelah tadi selama 2 jam diungsikan oleh asistennya Andika, dengan alasan akan melakukan pembersihan di rumah tersebut. Mereka awalnya bertanya-tanya ada apa dengan rumah tersebut, sehingga mereka diungsikan tiba-tiba.
Setelah mendapatkan penjelasan dari asistennya Andika. Mereka pun akhirnya mencoba untuk mengerti dan kemudian menuruti apa yang diperintahkan oleh Surya, asistennya Andika itu.
Tanpa diketahui oleh pengasuhnya Andika tersebut, CCTV yang langsung koneksi ke ponselnya Andika. Saat ini sedang merekam apa saja yang dia lakukan di kamarnya Kesya dan Andika. Perempuan berusia 25 tahun itu saat ini sedang tidur di atas kasur mereka berdua.
Andika yang mendengarkan makian tersebut, tangannya sudah mengepal. Andika menahan amarah. Sementara Kesya hanya menatap dengan datar ketika mendengarkan apa yang diucapkan oleh pengasuhnya Cakra itu. Yang jelas-jelas dia tertarik dengan suaminya.
"Tampaknya dia tertarik untuk menjadi istrimu, Pah!" ucap Kesya mencoba menggoda suaminya.
"Siapa sudi menjadi suami dari seorang perempuan berhati culas seperti dia. Berani-beraninya dia, lancang sekali! Memimpikan aku sebagai suaminya. Aku akan pastikan dia akan masuk penjara dan membusuk di sana!" mereka berdua pun kembali fokus, memperhatikan Apa yang dilakukan oleh pengasuhnya Cakra yang bernama Maria tersebut.
"Wah! Lihatlah pakaian dan barang-barang Nyonya Abimana grup! Bahkan pakaian-pakaianku lebih bagus daripada dia. Ngapain aja dia, selama ini? Ketika dia jadi istri seorang konglomerat sekelas Andika Abimana. Pakaiannya tidak lebih dari pakaian seorang pelayan!" gunanya lagi, ketika membuka jajaran koleksi pakaian milik Kesya yang rata-rata adalah gamis berbahan tebal dan panjang. Pakaian-pakaian penutup aurat yang akan menutupi tubuh Kesya secara sempurna dari pandangan pria-pria asing yang menatapnya.
"Haduh! Kasihan sekali Pak Andika! Mempunyai istri sepertimu, Kesya! Benar-benar istri yang tidak punya selera sama sekali. Apakah bisa, Pak Andika hidupnya bahagia bersama perempuan semacam dia?" ucapnya lagi. Dengan begitu lancang, perempuan itu pun mencoba beberapa perhiasan milik Kesya yang tersimpan rapi di walk closed miliknya.
"Sayang! Perhatikan semua barang-barang yang perempuan gila itu sentuh! Aku tidak sudi barang-barang itu masih ada di dalan kamar kita. Sumbangkan semua itu kepada Panti Asuhan maupun orang-orang yang membutuhkan. Jual semua perhiasan-perhiasan itu! Aku akan mengganti semuanya dengan yang baru!" Andika benar-benar marah, dengan kelancangan perempuan itu dalam menyentuh barang-barang milik istrinya.
"Sudahlah, Pah! Nggak usah berlebihan seperti itu! Oh ya, ini baru satu hari loh, kita memperhatikan Dia. Mungkin pegawai-pegawai lain pun sama seperti dia. Kita akan menyeleksi para pelajar di rumah kita. Agar steril dan memberikan tempat positif untuk Cakra bisa tumbuh dengan baik di rumah kita!" ucap Kesya dan Andika hanya menyetujui apapun keputusan Kesya.
"Kau lakukan saja semua yang menurutmu baik, sayang! Aku percaya apapun yang kau putuskan! Yang jelas, aku pasti akan memberikan hukuman kepada perempuan itu. Yang sudah berani berbuat macam-macam terhadap puta kita. Dan dia juga telah berani menyentuh barang-barang milikmu, sayang! Aku akan kupastikan dia mendapatkan hukumannya yang setimpal!" ya selama ini memang Andika sangat sensitif, apabila berhubungan segala hal tentang Kesya dan putranya. Semua itu sanggup membuat Andika murka tanpa bisa mengampuni siapapun.
"Ya udah, Sayang! Ayo kita pulang aja! Rasanya Papa tidak tahan, kamar kita diacak-acak seperti itu. Papa rasanya ingin sekali cepat-cepat mengusir dia dan memasukkan dia ke penjara. Agar tidak banyak tingkah lagi di rumah kita!" ucap Andika.
"Sabar, Pah! Kan Mama sudah bilang, Papa nggak boleh bersikap gegabah. Kita harus mendapatkan bukti bahwa dia yang sudah menganiaya Putra kita. Sehingga Cakra mengalami banyak cedera di tubuhnya. Kita harus mendapatkan bukti-bukti yang cukup, Pah! Untuk bisa menjerat dia secara hukum. Papa harus ingat! Jangan berbuat gegabah!" Kesya kembali mengingatkan suaminya. Dan akhirnya Andika pun menuruti apa yang dikatakan oleh Kesya.