Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
105. Laila Ngambek



"Mas sih, enggak mau dengar, apa yang aku katakan. Kita jadi malu, kan?" ucap Laila kesal.


"Malu kepada siapa?" tanya Firman tampak cuek.


"Malu kepada siapa?" tanya Laila Seakan tidak percaya.


"Mas tadi nggak denger, dokter itu mengatakan tentang selingkuhan gitu? Aku ini di sini posisinya sebagai selingkuhan lo! Apa Mas pernah mengenalkan aku sama istrimu? Nggak pernah kan? Aku tuh seorang selingkuhan Mas, itu, itu, poinnya poin utamanya!" ucap Laila kesal bukan main.


Tetapi Firman tampaknya gak menganggap itu hal yang penting. Dia cuek saja dan masih bisa tersenyum. Laila makin kesal saja di buatnya.


"Udahlah sayang, lupakan saja! Mungkin Dokter itu, hanya bicara secara universal saja. Dan dia bukan sedang membicarakan tentang kita. Sudahlah, sayang! Kau jangan terlalu sensitif seperti itu. Nggak baik buat bayi kita, loh!" Ucap Firman sambil mencium perut Laila.


"Hentikan, Mas! Aku malu loh, diliatin orang! Kamu tuh lagi apa sih? Kalau ada orang yang kenal sama kamu di sini, apa coba yang akan kamu katakan?" sengit Laila, kalau masuk ke dalam mobil. Tidak peduli dengan panggilan Firman terhadap dirinya.


"Bawaan hormon kayaknya, ya? Kamu sekarang jadi sensitif sekali. Ya udah, kita pulang saja. Dari pada kita jadi gak nyaman kayak gini!" ucap Firman.


Laila hanya diam saja, tidak menolak maupun menerima apa yang dikatakan oleh suaminya. Saat ini, di hati Laila hanya ada rasa kesal dan sebel terhadap suaminya itu.


" Aku juga nggak tahu, sejak hamil rasanya emosiku nggak teratur begini. Rasanya sebel terus sama kamu, Mas! Rasanya pengen Jambak saja!" ucap Laila gemes.


"Jangan dong, Sayang! Sakit tahu di jambak! Ya udah! Ayo kita pulang aja! Daripada nanti kita ribut-ribut di sini, nanti malah bikin malu saja!" Firman lalu melajukan mobilnya ke rumah mereka berdua.


"Udah, dong! Jangan cemberut terus! kamu tuh harus happy sayang supaya anak kita juga happy!" ucap Firman.


"Gimana mau Happy, Coba? Kalau perasaan kesel kayak gini? Udah deh, Mas! Kamu diam aja, Mas! Kamu bicara, cuma bikin aku tambah sebal dan jengkel saja rasanya!" Firman akhirnya menurut juga. sepanjang perjalanan Firman hanya diam dan fokus menyetir. Firman tidak ingin mencari ribut dengan Laila, yang sejak kehamilannya memang sangat sensitif perasannya.


"Bawaan orok apa, ya? Bawanya benci sama kamu, Mas!" ucap Laila uring-uringan.


"Udah, gak apa-apa! Kamu santai saja! Mas baik-baik saja, kok!" Firman tersenyum, berusaha menenangkan Laila. Yang tampaknya merasa bersalah, karena sejak tadi selalu marah-marah saja kepadanya.


"Kalau lagi hamil tuh, memang begitu sayang! Perasaan tuh jadi kacau balau, gak jelas! Tapi nggak apa-apa, sih! Selama bayinya sehat dan kamu juga sehat. Mas pasti akan menahan semuanya demi anak kita!" ucap Firman.


"Tapi gimana nanti, kalau kamu jadi marah sama aku? Jadi sebel sama aku? Terus bosen sama aku! Terus kamu cari perempuan lain lagi, di luar sana! Aku gimana dong,Mas? Aku cuma punya kamu di sini!" tiba-tiba saja Laila menangis sedih sekali, sehingga Firman jadi kebingungan.


Firman menghentikan mobilnya di jalanan sepi. Untuk menghibur Laila dulu, supaya jangan menangis terus. Karena kasihan juga, sama bayinya. Kalau ibunya terus bersedih hatinya.


" Ya udah! Kita berhenti dulu di sini, ya? Sambil kamu menenangkan perasaan kamu. Nggak baik juga, kalau anak kita merasakan kesedihan ibunya. Kamu harus bahagia, sayang! Agar anak kita juga bahagia!" ucap Firman sambil mengelus perutnya Laila.


"Mas, peluk!"! tiba-tiba Laila merentangkan kedua tangannya, minta di peluk oleh Firman. Dengan senang hati, Firman pun mengabulkan permintaan itu. Firman memeluk Laila sambil mengelus-ngelus punggungnya, serta rambutnya. Agar Laila pikirannya jadi tenang lagi dan tidak bersedih lagi.


" Kita pulang saja ke rumah, atau kamu ingin kita pulang ke Jawa timur? Bertemu dengan Kedua Orang Tua kamu? Mungkin kamu rindu sama mereka? " tanya Firman.


"Tuh kan, Mas! Apa yang aku bilang tadi? Aku ngomong apa tadi? Belum apa-apa aja, Mas sudah mau membuang aku. Mas mau ngirimin aku ke Jawa Timur, untuk menyerahkan aku kembalikan orang tuaku kan? Biar Mas bisa kembali lagi sama istrimu. Iya kan? Betul kan, Mas? Mas mau ninggalin aku! Ya, kan?" Laila kemudian menangis semakin kencang.


Firman benar-benar kehilangan akal saat ini. Semua yang dilakukannya salah. 'Ya Tuhan! Apakah ada yang lebih membagongkan dari hal ini?' rutuk hati Firman.


"Bukan seperti itu, maksudnya Mas! Sayang! Mas cuma ingin menghibur kamu, siapa tahu kamu merindukan kedua orang tuamu. Makanya Mas bilang, Mas akan anterin kamu ke Jawa Timur. Kita berangkat sama-sama, dan nanti kita kembali lagi ke sini. Mas nggak mau buang kamu kok, Sayang!" ucap Firman sambil meremas tangan Laila. Laila kini sudah tenang kembali.


"Ya udah, kita berangkat sekarang aja ya? Biar nanti sampai Jawa Timur, nggak terlalu malam!" ucap Laila.


"Kamu mau kita naik mobil? Itu akan sangat melelahkan, sayang! Kita naik pesawat, aja. Ok?" Ucap Firman sendu. Mencoba bernegosiasi dengan istrinya.


"Gak mau! Aku maunya kita naik mobil saja. Sekarang juga!" rengek Laila gak bisa di tawar lagi.


"Tapi kan, kita nggak bawa pakaian kita juga. Kita nggak bawa apa-apa ini. Mas juga harus ke kantor dulu, ngurus segala sesuatunya. Agar bisa pergi dengan tenang. Harus melimpahkan beberapa tugas ke asisten dan sekretarisku. Kita nggak bisa pergi gitu aja, sayang!" ucap Firman.


"Aku nggak mau tahu! Pokoknya kita pergi sekarang! Titik!Atau nggak usah pergi sekalian!" ucap Laila Ngambek lagi.


Firman dibuat tidak bisa berkutik oleh Laila saat ini. Dalam seharian ini, Firman dibuat kelimpungan dan bingung dengan emosi Laila yang naik dan turun. Yang tiba-tiba marah, tiba-tiba nangis, tiba-tiba jengkelin, tiba-tiba gemesin, tiba-tiba manja, tiba-tiba ingin diberikan apapun yang dia mau, dan gak bisa di bantah sama sekali.


"Tampaknya, anak kita nanti kalau sudah lahir, akan mirip dengan Mas! Karena dia tampaknya sangat suka menyiksa ayahnya sendiri!" ucap Firman.


"Jadi, kamu merasa tersiksa, dengan permintaanku ini, Mas? Jadi, seharian ini, kamu merasa tersiksa gara-gara anak kita, ya? Begitu? Kalau ya, kamu sebaiknya ngaku saja!" Firman sungguh kehilangan akal.


"Ya udah, kalau kayak gitu! Digugurin aja anak ini! Lagian juga, Mas tersiksa kan, gara-gara dia? Kalau dia sudah nggak ada, pasti aku akan kembali normal lagi, seperti dulu. Nggak seperti ini. Menyiksa kamu, nyakitin kamu, udah! Kita yuk ke dokter aja! Kita gugurin aja! Nggak usah dilanjutkan lagi kehamilan ini!" ucap Laila tiba-tiba.


"Ya ampun! Jangan, sayang! Mas gak apa-apa! Beneran! Udah, ayo kita langsung ke Jawa timur kalau itu memang mau kamu!" akhirnya Firman pun mengikuti apa yang diinginkan oleh Laila, pergi ke Jawa Timur hari itu juga menggunakan mobil.