Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
46. Ilham Memutuskan



Ilham bangun dari tidur, lalu memutuskan untuk sholat isya. Setelah makan, Ilham pergi ke depan, mau mendengarkan ceramah Abahnya.


"Maafkan saya, Gus! Apakah Gus sudah menikah?" tanya Laila tiba-tiba.


"Belum, kenapa memangnya?" tanya Ilham heran.


"Apakah, bisa kalau Gus meminang saya pada ayah saya?" tanya Laila ragu.


Ilham tersenyum lembut, merasa lucu dengan permintaan Laila. "Kenapa Gus menertawakan permintaan saya?" tanyanya.


"Tidak apa-apa, saya ke depan dulu!" Ilham lalu meninggalkan Laila seorang diri. Tidak baik berduaan dengan seorang gadis lajang. Ilham tidak mau nantinya timbul fitnah.


Saat Ilham sampai ke lokasi pengajian, Abah sudah naik ke panggung dan mulai ceramah. Ilham duduk di samping ayahnya Laila. Menyimak ceramah Abahnya.


"Para jama'ah, terkadang yang namanya jodoh itu misterius, kita kejar seseorang setengah mati karena cinta, tapi dia bukan jodoh kita, maka Allah jauhkan. Terkadang kalau jodoh kita, Allah mantapkan hati kita untuk menikahinya. Jodoh, maut, dan rejeki semua di tangan Allah, tetapi kita sebagai manusia, wajib untuk berusaha mendapatkan yang terbaik. Selebihnya kita serahkan kepada Allah, bertawakal dan bersabar." Tiba-tiba Abahnya Ilham terjatuh, saat ceramah. Ilham auto naik ke atas panggung, para jamaah heboh dengan kondisi Pak Kiai yang jatuh pingsan di atas panggung.


"Abah, Abah!" Ilham terus memanggil Abahnya, tapi tidak ada respon.


"Tolong panggil ambulans!" teriak Ilham panik.


"Iya, saya panggil ambulans!" ucap Laila panik juga. Semua jamaah sudah berkerumun di bawah panggung.


"Tolong jangan berkerumun! Abah saya perlu ruang, agar tidak sesak!" ucap Ilham khawatir.


"Gus, bawa Pak Kiai ke ruangan, biar bisa berbaring di sana. Sambil menunggu ambulans datang." ucap ayahnya Laila.


"Tidak usah, kita langsung bawa Abah ke rumah sakit. Tolong bantuannya, saya butuh orang untuk mendampingi saya ke rumah sakit. Saya harus nyetir soalnya." pinta Ilham dalam mode panik.


"Saya dan Laila akan ikut. Sebentar Gus! Saya mau berpesan dulu sama Om nya Laila untuk menghandle pesta pernikahan ini!" ayahnya Laila kemudian menemui adiknya, yang berdiri tak jauh dari panggung.


"Irwan, Mas titip acara di sini, Mas harus menemani Pak Kiai dan Gus Ilham, kalau menunggu ambulans pasti lama. Tadi ambulans juga sudah di batalkan oleh Laila. Mas harus bertanggung jawab. Pak Kiai sakit pasti karena kelelahan datang jauh-jauh ke sini!"


"Iya, Mas! Jangan khawatir, akan saya handle yang disini. Mas tenang saja. Saya dengar Pak Kiai Maulana memang mengidap kanker lambung. Pasti sangat berat bagi Pak Kiai untuk bisa sampai ke desa kita." ucap pamannya Laila.


"Iya, walaupun dalam keadaan sakit, Pak Kiai tetap semangat berdakwah. Semangat beliau memang luar biasa. Ya udah, Mas pergi dulu. Setiap detik amat berharga buat kita saat ini!" ujarnya.


Setelah itu mereka berempat pergi ke rumah sakit yang berjarak empat jam dari desa Laila.


Ilham memangku kepala Abahnya dengan air mata bercucuran. "Abah, bertahan ya! Ilham belum sempat bahagiakan Abah, jangan tinggalkan Ilham. Hiks hiks hiks!" Ilham terus menangis.


Laila yang duduk di kursi depan, hatinya sungguh tersentuh. Apalagi dirinya sudah jatuh hati kepada anak Kiai Maulana tersebut.


"Gus, yang sabar ya! Kita harus berdoa, agar Pak Kiai baik-baik saja." Laila menengok kebelakang.


"Terima kasih, Laila! Saya janji, saat Abah sadar, saya akan meminang kamu pada ayah kamu. Kebetulan Abah memang sudah mendesak saya untuk segera menikah!" Laila sangat bahagia dengan janji Ilham, cinta nya bersambut. Tentu dia bahagia. Ayahnya Laila di kursi pengemudi terlihat syock. Beliau melirik pada Laila.


"Jadi gini, ayah! Tadi sebelum Gus Ilham ke depan, Laila minta sama beliau buat meminang Laila sama ayah!" ucap Laila sambil menunduk.


"Kamu ini, gak punya malu! Gadis kok minta di pinang sama laki-laki! Bikin ayah malu saja sama Gus Ilham!" ayahnya Laila menegur putrinya.


"Maaf, ya Gus! Anak saya ini, memang sejak dulu selalu semaunya saja." Ayahnya Laila tampaknya malu dengan kelakuan anaknya.


"Tidak apa-apa, Pak! Apa bapak keberatan, kalau saya meminang anak bapak, untuk menjadi istriku?" tanya Ilham pelan, sejujurnya, Ilham masih ragu. Tapi melihat kondisi Abahnya, hatinya mencelos, merasa sadar bahwa dirinya belum mengabulkan harapan Abahnya untuk melihat dirinya menikah dan membentuk rumah tangga.


"Saya tentu saja setuju! Siapa yang akan menolak Gus Ilham? Yang saya dengar malah Gus Ilham yang selalu menolak pinangan para gadis yang mencintai Gus Ilham. Entah saya ini punya amal apa, sehingga Gus Ilham mau menikah dengan anak saya yang slengean ini. Saya malah khawatir, apa anak saya ini cukup pantas untuk jadi istri Gus Ilham, putra Kiai Maulana, yang memiliki santri sampai puluhan ribu di Jawa Timur ini!" tiba-tiba Ayahnya Laila insecure dengan putrinya yang selalu membuat hatinya khawatir.


"Tidak apa-apa, Pak! Nanti saya yang akan membimbing istri saya, agar menjadi istri yang Sholehah!" ucap Ilham mantap.


Mendengar hal itu, Laila langsung menunduk, hatinya berbunga-bunga, karena akan menikah dengan laki-laki the most wanted di Jawa timur ini. Siapa gerangan, yang tidak kenal dengan Ilhamuddin El Fahrizi? Putra KH. Maulana?


Yang Laila dengar, banyak sudah keluarga kaya raya dan anak-anak Kiai rekan sejawat Kiai Maulana yang meminang, tapi selalu di tolak halus oleh Ilham. Makanya dirinya merasa sangat bahagia sekali. Serasa dapat durian runtuh.


Setelah sampai di rumah sakit, Ilham menelpon Uminya, mengabarkan keadaan Abahnya. Kiai Maulana langsung masuk ke ICU, dan ditangani oleh beberapa dokter.


Setengah jam kemudian, Umi datang dengan panik. "Ilham, bagaimana keadaan Abah kamu? Kemarin Umi sudah dapat firasat buruk, sudah melarang Abah buat ceramah, tapi Abah ngeyel terus!" ucap Umi Hasanah dengan berderai air mata. Ilham memeluk Uminya dengan penuh kasihsayang, menguatkan Uminya.


"Umi, semua sudah Allah catat dalam kitab Luhful Mahfuz. Semua ketentuan kalau bukan atas ijin Allah, tidak akan pernah terjadi. Abah justru bangga karena beliau hingga akhir masih berjuang dalam dakwah. Impian seorang prajurit adalah mati di Medan perang, begitu juga impian seorang Kiai, tidak ada bedanya. Yang penting kita banyak berdoa, agar Abah segera membaik!" ucap Ilham terus memberikan kekuatan pada Uminya.


Laila dan ayahnya mendengar apa yang diucapkan oleh Ilham auto makin cinta dan terpesona dengan Ilham. Di situasi saat ini, kalau orang lain, pasti akan marah-marah dan menyalahkan dirinya yang kemarin maksa-maksa Pak Kiai agar mau mengisi tausiah di walimah anaknya.


Tapi apa yang dikatakan oleh Ilham tadi, sungguh telah menyihir hati ayah dan anak tersebut dalam pesona Ilham yang tidak terbantahkan.