
Rasyid sudan sampai ke pondoknya Ilham, saat ini sudah berada diruang tamu bersama dengan Ilham dan Kesya.
Perasaan bahagia tidak bisa di bendung lagi, Rasyid memeluk sang adik sangat erat, Kesya yang masih bingung hanya bisa diam, pasrah dengan keadaan sekarang.
"Akhirnya kamu kembali dek, Mas bahagia sekali," Rasyid lalu menuntun Kesya untuk duduk di sampingnya. Ilham menatap haru pertemuan kakak beradik itu. Kesya tampaknya masih belum ingat siapa Rasyid terlihat dari matanya yang bingung, Ilham menarik nafas berat.
"Maaf tapi aku sungguh tidak ingat dengan kalian," Kesya menatap Rasyid dengan lekat, berusaha mengingat tetapi gagal. Yang ada kepalanya terasa sakit dan tambah pusing.
"Bisa ceritakan pada kami, bagaimana hidupmu selama setahun ini?" Rasyid akhirnya meminta agar Kesya bercerita. Ilham tidak kepikiran untuk mencari tahu kehidupan Kesya selama menghilang, sungguh bodoh dirinya, pikirnya dalam hati.
Ilham hanya fokus pada kepastian bahwa wanita yang ada di hadapannya benar-benar Kesya. Tidak bisa memikirkan hal lainnya.
"Satu tahun lalu, Andika menemukan saya di semak-semak dalam keadaan pingsan, selama satu bulan saya koma di rumah sakit miliknya, setelah saya sadar, saya tidak ingat siapa saya. Tadinya Andika akan membawa saya ke Dubai, karena orang tuanya tinggal di sana, tetapi terhalang dengan identitas saya, saat saya ditemukan saya tidak membawa apapun. Hanya pakaian compang-camping saja yang melekat di badanku. Tadinya Andika pikir saya adalah gembel yang di buang, sehingga dia merasa kasihan ke pada saya. Dia memberikan pekerjaan agar saya bisa membayar sedikit demi sedikit apa yang sudah dia berikan padaku." Kesya diam sesaat, menarik nafas dan mengingat kembali kehidupan dia selama setahun belakangan ini.
"Jangan salah paham, Andika tidak pernah meminta saya mengembalikan apa yang dia berikan, tetapi saya yang merasa tidak enak, merepotkan dia terus. Makanya saya memaksa agar Andika menerima keputusan saya untuk kerja dan mengontrak rumah tidak jauh dari perusahaan dia, Andika selalu memberikan yang terbaik untuk saya," Kesya menerawang jauh. Mengingat begitu banyak Budi yang sudah di taburkan oleh Andika dalam hidupnya selama setahun ini.
"Andika orang yang baik. Mas akan menemui dia dan mengucapkan terima kasih. Berkat dia, kita bisa berkumpul kembali. Mamah pasti senang sekali dengar ini," Rasyid memang belum bercerita tentang Kesya yang sudah kembali, Rasyid ingin memastikan dahulu, takutnya nanti dirinya mengecewakan mamahnya kalau ternyata salah.
"Ayo kita temui Andika. Mas ingin mengucapkan terima kasih padanya," Rasyid sudah berdiri tetapi di tahan oleh Ilham.
"Mas sebaiknya istirahat saja dulu. Mas kan baru saja sampe dan pasti lelah, perjalanan Indramayu Kalimantan bukan perjalanan yang singkat mas, besok saya akan mengantarkan Mas Rasyid dan juga Kesya untuk bertemu dengan Andika," Kesya menatap Ilham dengan lekat mengagumi Ilham.
"Laki-laki ini selain bijaksana, wajahnya yang tampan juga mengeluarkan aura positif yang sangat menentramkan hati," bathin Kesya.
Ilham yang sadar sedang di pandang oleh Kesya, merasa salah tingkah. Dia memilih pergi ke kamar tamu. Kamarnya di tempati Kesya sekarang.
Rasyid sudah masuk ke kamarnya, masih belum percaya bahwa Kesya sudah kembali dalam keadaan sehat dan baik-baik saja.
Rasyid menelpon Zahra yang saat ini sedang mengandung 8 bulan, sebenarnya kemarin Zahra merengek minta ikut bersama Rasyid, tetapi di larang oleh Kiai Hamid, kwatir dengan kandungan dan juga bayi dalam perutnya, sangat berbahaya kalau melakukan perjalanan jauh.
"Assalamualaikum sayang, Alhamdulillah Mas sudah sampai dan juga sudah bertemu dengan Kesya, dia baik-baik saja," Rasyid menghela nafas berat, dan itu tertangkap oleh Zahra.
"Ada apa mas? apa terjadi masalah?" tanya Zahra kwatir pada suaminya.
"Sabar Mas, semua ada prosesnya. Selama Kesya sehat dan baik-baik saja, kita semua tetap harus bersyukur," Zahra mencoba menguatkan suaminya.
"Astagfirullah, maafkan Mas sayanf, kelelahan membuat Mas jadi tidak bersyukur karena sudah bertemu dengan Kesya," Zahra tersenyum di sebrang sana mendengar ucapan suaminya.
"Ya sudah mas,istirahat yah, besok kita bicara lagi. Ini dedek bayinya dari tadi nendang terus, kangen Aby nya kayanya, padahal baru satu hari di tinggalkan," Rasyid terkekeh mendengar ucapan istrinya tercinta .
"Sayang, coba taruh ponselnya di perutmu, Biar Mas bicara sama dedek bayinya," pinta Rasyid yang langsung di turuti oleh Zahra.
"Sayang, sudah malam, bobok yah, kasihan mamah, besok Aby pulang bersama Tante Kesya dan Om Ilham, kamu jangan nakal sama mamah," Rasyid lalu menutup ponselnya setelah berpamitan pada Zahra.
"Mamah pasti sangat bahagia kalau tahu Kesya sudah di ketemukan," Rasyid akhirnya terlelap saat malam semakin larut.
Dikediaman Andika.
"Kenapa Mas tidak jujur masalah saya?" itu adalah suara Kesya, tampaknya Kesya sedang menelpon Andika. Dengan berat hati Andika hanya bisa mendesah pelan.
"Mas juga baru tahu Mel, maafkan," tidak ada pilihan lain, selain mengikuti saran asistennya. Andika akan berpura-pura tidak tahu saja, lebih aman, dari pada ngaku sengaja menyembunyikan Kesya dari keluarganya. Bisa-bisa Kesya tidak akan pernah memaafkan dirinya.
"Aku hanya kecewa aja sih. Kenapa Mas kemarin seperti berusaha menghalangi pertemuan aku dengan Mas Ilham, fellingku, Mas Dika tahu masalah hubungan aku sama dia, jangan bohong Mas, aku hanya ingin kejujuran dari kamu," Kesya mulai menangis, mendengarkan Kesya yang terisak di sebrang sana, membuat Andika jadi pilu hatinya. Padahal dia sudah berjanji akan membahagiakan Kesya. sekarang dirinya malah menjadi sebab kesedihan bagi Kesya.
"Kita bicara langsung saja, hal seperti ini tidak bisa dibicarakan di telpon," akhirnya Andika meminta agar bisa bertemu dengan Kesya.
"Besok Kesya ke kantor Mas Dika, kita ketemu pas jam makan siang aja, biar gak ganggu jadwal kerja Mas Dika," ucap Kesya sambil merebahkan badannya di ranjang.
"Baiklah, Mas akan menunggu kamu, kamu istirahat yah,hari ini adalah hari terberat dalam hidup kamu, maafkan Mas sekali lagi," Andika lalu menutup telponnya.
Ilham yang saat itu akan memberikan makan malam buat Kesya. Tanpa sengaja mendengar pembicaraan Kesya dan Andika, ada rasa sakit di relung hatinya, melihat Kesya bicara akrab dengan lelaki lain.
"Ya Allah, ampuni hamba-Mu yang lemah hati ini. Harusnya aku ngerti kondisi Kesya, bagaimana pun juga, Andika sudah menyelamatkan hidupnya, entah berapa banyak uang dan waktu yang sudah di korbankan oleh Andika demi menyelamatkan Kesya," Ilham mengurungkan niatnya untuk menemui Kesya. Dia meminta santrinya yang mengirimkan makan malam untuk Kesya.
Malam itu Ilham habiskan dengan mengaji dan dzikir. Memohon pada Allah agar diberikan petunjuk. Apa yang kiranya dapat dia lakukan. Dia sangat mencintai Kesya, tetapi dia sadar, cinta tidak bisa dipaksakan. Hatinya harus siap, apabila Kesya lebih memilih Andika dari pada dirinya.