
Setelah melihat suaminya naik pesawat ke Maldives, bersama seorang perempuan cantik. Syafa kemudian pulang kembali ke rumahnya. Syafa mencari Rasya yang sedang asyik nonton TV di ruang tengah.
"Sayang, Ayo antarkan Mama ke rumah yang biasa dikunjungi oleh Papahmu, kalau mengantarkan kamu ke sekolah!" ucap Syafa berusaha bersikap tenang di hadapan putranya yang semata wayang.
"Memangnya ada apa, Mah? Apakah ada masalah? Kok, Rasya perhatikan Mama tampaknya habis menangis ya? Mata Mama sembab, loh! Apa ada masalah, Mah? Ayo cerita sama Rasya, biar Rasya tahu masalah yang sedang Mama hadapi. Siapa tahu, Rasya bisa bantu Mama." anak laki-laki berusia 10 tahun itu, kemudian mendekati Mamahnya. Yang saat ini sedang meraup wajahnya, dengan kedua tangannya.
Tampak kesedihan diraut wajah sang Mama. Akhirnya, Syafa tidak bisa lagi untuk lebih lama mempertahankan ketegaran hatinya. Syafa menangis dalam pelukan sang anak. Rasya merasa sedih melihat Mamanya yang menangis.
"Rasya___tampaknya, Papahmu mempunyai wanita lain yang dia sembunyikan. Ayo! Kamu tunjukin sama Mamah, rumah yang selalu Papa kunjungi, sebelum berangkat ke sekolah bersama kamu!" pinta Syafa berusaha untuk kuat di hadapan putranya.
"Ayo, kita kesana, Mah! Gak jauh ko, rumahnya dari sini!" Rasya lalu mengantarkan Mamahnya ke rumahnya Laila.
"Tapi Mama janji ya, Mama nggak boleh ngamuk-ngamuk atau bikin malu Rasya! Kita bisa bicarakan semuanya baik-baik ya, Mah?" ucap Rasya mengelus tangan Mamanya yang tampak sangat kacau saat ini.
Syafa hanya menganggukkan kepala, tidak mampu untuk mengatakan hal yang lainnya. Saat ini, dadanya penuh sesak dengan berbagai kemungkinan. Segalanya terasa blank untuk Syafa. Syafa merasa hampir gila, memikirkan bahwa suaminya ternyata memiliki perempuan lain selain dirinya. Suaminya yang dia percaya, ternyata berkhianat.
Syafa kemudian meminta kepada sopirnya, untuk mengantarkan mereka berdua, ke tempat yang dimaksud oleh Rasya, yaitu rumahnya Laila. Rumah yang berada di ujung Kompleks perumahan tersebut. Perumahan Elit.
"Itu, Mah! Rumahnya!" tunjuk Rasya.
Tanpa berpikir panjang,Syafa langsung keluar dari mobilnya dan langsung menuju ke rumah yang ditunjukkan oleh putranya. Syafa sudah tidak bisa menahan gejolak yang ada di dalam dadanya saat ini. Syafa ingin segera mengetahui kebenaran di dalam pernikahannya.
Syafa membunyikan bel di pintu rumah tersebut, tetapi rumah tersebut tampaknya sepi. Tidak ada penghuninya. Tidak lama kemudian, pemilik rumah di sebelah rumahnya Laila keluar dan bertanya, mengenai keperluan Syafa yang datang ke rumahnya Laila.
"Maaf Bu, Ibu ada keperluan apa ya? Di rumahnya Bu Laila?" tanya wanita paruh baya yang masih cantik itu.
"Saya, Saya ingin menemui pemilik rumah ini, ke mana ya Bu? Kenapa tampaknya kok sepi sekali? Apa tidak ada orang di dalamnya?" tanya Syafa gugup.
"Saya lihat, kemarin pemilik rumah itu pergi, menggunakan taksi. Tapi saya tidak tahu, pergi ke mana. Memangnya ada apa ya, Bu?" tanya wanita itu kepo.
"Tidak apa-apa, Bu. Saya hanya ingin bersilaturahmi saja dengan pemilik rumah ini. Saya kira dia adalah kenalan lama saya. Kemarin, tidak sengaja, saya melihat dia masuk rumah ini. Saya ingin mengkonfirmasinya saja!" dusta Syafa. Ibu itu menggaruk kepalanya. Bingung.
"Maaf sebelumnya ya, Bu! Saya ingin bertanya, apakah wanita yang tinggal di rumah ini memiliki seorang suami?" tanya Syafa dengan suara bergetar.
"Apakah Mama baik-baik saja?" tanya Rasya khawatir.
"Papamu punya istri lagi, Rasya! Papamu sudah mengkianati Mama!" ucap Syafa sambil menangis.
Rasya mengelus punggung Mamahnya, berusaha menenangkan perasaan Mamanya, yang saat ini sedang sedih dan terluka. Mengetahui Papanya ternyata sudah menikah lagi dengan perempuan lain.
"Udah, Mah! Mama jangan nangis lagi. Nanti kalau Papa kembali, kita tanyakan ini semua sama Papa. Mama nggak boleh lemah,Mah! Mama harus yakin, Rasya akan selalu berada di pihak Mama!" ucap Rasya.
"Terimakasih, Nak!" ucap Syafa kepada Rasya yang kini tampak sedih juga. Rasya memeluk Mamahnya, menyalurkan kekuatan untuk Mamahnya yang sedang lemah dan sedih.
"Pak! Ayo kita kembali ke rumah, Mama, tampaknya butuh istirahat!" ucap Rasya memberikan perintah kepada supirnya. Yang tampak prihatin dengan keadaan majikannya.
"Yang sabar ya, Bu! Semoga saja nanti Bapak sadar dan Insaf. Dan mau kembali ke keluarganya!" ucap Supir itu.
Demi mendengar apa yang dikatakan oleh sopirnya, Syafa terdiam sesaat. Matanya nyalang, menatap pria paruh baya itu. Matanya menatap dengan penuh curiga.
"Apakah Bapak, selama ini tahu? Mengenai perselingkuhan suami saya ini? Kenapa Bapak tidak memberitahukannya kepada saya? Kenapa Bapak tega ngelakuin ini pada saya?" banyak pertanyaan yang berkecamuk di dalam hati siapa yang saat ini sedang sangat terluka dengan pengkhianatan suaminya.
"Bu, selama beberapa bulan ini ,Bapak tuh sudah tidak menggunakan jasa Saya lagi, untuk mengantarkan dia ke mana-mana. Selama ini, saya hanya mengantarkan ibu dan Mas Rasya. Jadi, saya tidak tahu sama sekali mengenai pernikahan baru Bapak! Saya juga baru tahu hari ini, Bu! Setelah melihat kejadian ini!" ucap supir paruh baya itu. Yang sudah mengabdikan dirinya di keluarga Syafa selama 10 tahun lebih.
"Apakah Bapak jujur terhadap saya? Lihat saja, kalau sampai saya mengetahui ternyata Bapak juga terlibat dalam perselingkuhan ini, saya tidak akan memaafkan Bapak seumur hidup saya!" ancam Syafa dengan amarah di hatinya. Rasya menyentuh tangan Mamanya.
"Mah, kalau marah, marah saja! Tapi tolonglah! Jangan melampiaskannya kepada orang yang tidak bersalah! Itu nggak baik, Mah! Udah, kita pulang aja ke rumah dan Mama istirahat. Semoga setelah pikiran Mama tenang, perasaan Mama juga akan jauh lebih baik!" Rasya berusaha menasehati Mamanya yang saat ini sedang sedih dan terluka.
"Maafkan!" hanya itu yang mampu keluar dari mulut Syafa.
"Bu, tidak apa-apa! Saya ngerti kok, perasaan ibu saat ini! Pasti rasanya sangat sedih dan terluka. Ibu tenang saja, pasti Bapak akan kembali lagi ke keluarganya. Pasti itu hanya perasaan sesaat Bapak saja! Ibu harus sabar ya!" supir itu berusaha menenangkan pikiran Syafa.
"Semoga saja, Pak! Semoga saja! Hiks hiks!" Syafa akhirnya menangis juga. Pertahanan dirinya jebol pada akhirnya. Tidak mampu membendung perasaan sakit di hatinya, mengetahui suaminya telah menikah lagi.
"Rasya, bagaimana kalau Papahmu, tidak mau kembali lagi sama kita? Bagaimana, kalau Papahmu, lebih memilih wanita itu daripada kita, Rasya? Apa yang akan terjadi pada kita? Hiks hiks!" Rasya terdiam memikirkan apa yang dikatakan oleh Mamahnya.