
Setelah selesai makan malam, kemudian Kakek dan Neneknya Rasya, mengajak jalan-jalan keliling Amerika. Menikmati suasana malam di sana, Kakek dan Neneknya Rasya berusaha untuk menghibur hati cucunya yang saat ini sedang sedih, yang disebabkan oleh kelakuan putranya.
"Bagaimana perasaan Rasya sekarang? Apakah merasa lebih baik?" tanya Neneknya sambil merengkuh bahunya.
"Iya Nek! Rasya senang sekali! Pemandangan di sini indah sekali! Oh ya, Nek! Rasya besok ingin jalan-jalan ke cafe milik keluarga kita!" ucap bocah tampan itu.
"Tentu sayang! Kita akan jalan-jalan ke sana, supaya kamu bisa melihat Cafe tersebut, yang kelak akan menjadi milikmu, sayang! Karena kamu adalah pewaris satu-satunya keluarga kita!" ucap sang Kakek.
Hati Rasya senang sekali, mendapatkan kenyataan itu. Begitu juga dengan Syafa, yang merasa bahagia melihat kedekatan anaknya bersama kedua mertuanya.
"Syafa, kamu ingat ya! Kami berdua akan mewariskan semua harta kami kepada Rasya, apabila Firman tetap bersikukuh tidak mau meninggalkan perempuan itu!" ucap ibu mertuanya. Syafa sangat terharu dengan cinta kedua mertuanya kepada putranya.
"Tetapi kalau kamu menikah lagi, setelah bercerai dengan Firman, maka semua harta tersebut akan menjadi milik Rasya sendiri. Dan kamu tidak mempunyai hak apapun atasnya!" ucap Ayahnya Firman dengan tegas dan mantap.
Seketika Syafa mengalami kesulitan meneguk salivanya, mendengarkan ancaman tersebut. Bagaimanapun, saat ini Syafa belum memikirkan tentang perceraian. Shafa masih ingin berjuang untuk mempertahankan rumah tangganya bersama Firman, yang sudah dia jalani selama 12 Tahun lamanya.
"Mah, Pah! Syafa tidak pernah berpikir untuk bercerai dengan Mas Firman! Syafa akan berjuang untuk mempertahankan pernikahan ini!" ucap Syafa sendu.
"Tampaknya, perjuanganmu akan menemui kesulitan yang sangat besar, karena Mama tahu, Firman itu sangat mencintai Laila. Mama masih ingat, betapa besarnya kehancuran, frustasi, depresi dan rasa sakit hati, yang diterima Firman ketika Laila, begitu saja menghilang dalam hidupnya." ucap Ibunya Firman.
"Tapi kamu tenang saja Syafa, kami berdua pasti akan menolongmu, untuk membuat Firman kembali, setidaknya tidak membuat Firman benar-benar meninggalkan kalian berdua!" ucap ayahnya Firman agak ragu.
"Maksudnya Papa, gimana ya? Kok Syafa nggak ngerti?" tanya Syafa keheranan, Syafa seakan menangkap hal yang tidak menyenangkan baginya.
"Begini, Syafa! Firman Itu memang benar-benar mencintai Laila! Ya, kami sangat tahu itu! Karena dulu, Firman sampai menggunakan narkoba, mabuk-mabukan dan melakukan segala hal terburuk dalam hidupnya. Setelah kepergian Laila dari hidupnya. Jadi kami bisa memahami kenapa sampai saat ini Firman tidak bisa melupakan Laila. Bahkan sampai melakukan hal ini kepada kalian! Pasti karena dia merasa bahagia, akhirnya bisa bersama lagi dengan Laila lagi!" ucap ibunya Firman hati-hati, takut perkataannya menyakiti hati menantu dan cucunya.
"Apakah maksud Mama dan Papa, Syafa harus merelakan Mas Firman menikah lagi dan rela untuk dimadu?" tanya Syafa dengan mata berkaca-kaca.
"Yah! Itu adalah skenario terburuk, yang bisa kami pikirkan! Tetapi, tenang saja, kami pasti akan mengusahakan yang terbaik untuk rumah tangga kalian!" janji ayah mertuanya.
"Tapi Syafa tidak mau dimadu, Pah! Syafa tidak rela! Bagaimana mungkin? Syafa bisa berbagi suami Syafa dengan perempuan lain?" ucapnya dengan berlinang air mata. Rasya sampai ikut menangis juga, melihat Mamahnya yang begitu menderita karena perbuatan Papanya yang sudah berkhianat.
"Skenario terburuk apa, yang Mama maksud? Syafa benar-benar nggak ngerti, Mah!" ucap Syafa gemetar.
"Kemungkinan besar, Firman akan lebih memilih Laila dan menceraikan kamu!" ucap ibu mertuanya.
Seketika Syafa menjerit histeris, menangis dan mengaduh, hatinya begitu sakit, menerima skenario terburuk yang dikatakan oleh ibu mertuanya.
"Bagaimana mungkin? Syafa yang sudah selama 12 tahun, menjadi pendamping hidupnya, tetapi tidak berarti sama sekali untuk Mas Firman! Bagaimana mungkin Mas Firman tega melakukan hal seperti itu?" Syafa benar-benar terluka hatinya, air matanya terus menetes tanpa bisa dihentikan lagi. Rasya pun sudah menangis sejak tadi. Mendapatkan kenyataan terburuk yang akan terjadi dalam pernikahan kedua orang tuanya.
"Opa, Oma! Kami berdua datang jauh-jauh dari Indonesia ke Amerika, itu untuk meminta tolong kepada kalian berdua, agar bisa menyadarkan Papa, agar bisa berusaha untuk mengembalikan Papa ke sisi kami! Bukan untuk memberikan skenario-skenario, yang malah menyakiti hati Mama! Ini bukan yang ingin Raayaa cari!" Rasya kemudian pergi ke mobil, dan meninggalkan Kakek dan Neneknya serta mamanya yang kini masih menangis sedih.
"Ya sudah Syafa! Ayo kita kembali ke rumah! Mungkin, Rasya sudah lelah! Apalagi ini sudah beranjak malam, tidak baik juga untuk kesehatan kita!" mereka bertiga akhirnya kembali ke kediaman.
Mereka akhirnya memutuskan untuk langsung masuk ke kamar masing-masing. Mereka ingin menenangkan pikiran dan jiwa mereka masing-masing, yang saat ini diliputi begitu banyak masalah. Masalah pelik yang sangat sulit mencari penyelesaiannya.
"Pah, Mama tuh, agak-agak ragu untuk membuat Firman bisa meninggalkan Laila. Papa kan tahu sendiri, kalau Firman itu begitu tergila-gila dengan Laila!" ucap istrinya yang kini sedang memijit bahunya.
"Iya, Papa juga sama! Papa juga memiliki perasaan yang sama seperti Mama! Hanya saja, Kita sebagai orang tua, tetap harus berusaha untuk mengingatkan Putra kita. Setidaknya kita harus berjuang, agar Rasya tidak terluka dan menjadi korban dari semua ini!" ucap suaminya.
"Mama jadi Dilema loh, Pa! Bagaimanapun juga, bukankah kebahagiaan Firman juga itu penting? Kalau memang kehadiran Laila, itu bisa memberikan kebahagiaan untuk putra kita, lalu apa salahnya, kalau kita berusaha untukmenerima pernikahan itu?" ucap istrinya lagi.
"Yah, Mama benar! Kebahagiaan Putra kita memang sangat penting! Tetapi kita juga harus memikirkan perasaannya Syafa, kalau dia dimadu! Mama juga kan perempuan, masa tidak bisa mengerti perasaan menantu Mama sendiri?" cicit sang suami.
"Ya jelas Pah! Mama mengerti, Pah! Memangnya Papa pikir, Mama ini tidak punya perasaan gitu? Tapi kan sebagai seorang ibu, Mama juga harua berpikir untuk kebahagiaan Putra kita. Papa ingat sendiri kan? Dulu betapa hancurnya Firman ketika Laila menghilang dalam kehidupannya. Kita berdua sampai ke limpungan dan kebingungan. Bagaimana caranya untuk menyelamatkan Putra kita itu!" ucap ibunya Firman.
"Tentu saja Papa ingat! Bukankah hal itu yang menjadi alasan kita menjodohkan Firman dengan Syafa? Untuk membuat Firman bisa melupakan tentang Laila. Hanya saja, masalahnya sekarang, Laila sudah menjadi istrinya. Tidak mungkinlah, Firman begitu saja mau melepaskan wanita yang benar-benar dia cintai di masa lalunya. Wanita yang benar-benar ingin dia miliki di masa lalunya!" ucap ayahnya Firman.
Tanpa mereka sadari, pembicaraan mereka didengarkan oleh Rasya. Rasya merasa sedih menghadapi kenyataan, tentang kehidupan rumah tangga kedua orang tuanya. Yang bisa dipastikan 100% berada di ambang kehancuran.