
Ilham meminta supirnya untuk berhenti, Abah dan Umi tampak bingung melihat kelakuan anaknya itu
" Ada apa sayangnya Umi?" tanya Umi sambil memegang tangan Ilham.
" Umi, Ilham gak mau pulang ke Jawa timur, Ilham mau ke rumah nenek saja. Disana banyak hal yang bisa Ilham lakukan, mempersiapkan pembukaan pondok, mempersiapkan pernikahan Ilham. Banyak kesibukan Ilham disini Umi " Ilham menatap wajah Uminya dengan sendu . berharap Uminya mengerti kesulitan hatinya saat ini.
Walaupun aslinya karena gak mau berjauhan dengan Kesya terlalu lama. Ilham bisa gila menahan rindu kalau lama-lama tidak melihat wajah calon istrinya itu.
Abah Kiai hanya bisa mendesah melihat perilaku anak laki-laki nya itu. Lalu dia meminta sang sopir untuk berhenti, biar Ilham pulang naik taksi saja untuk pergi ke rumah neneknya yang di Tangerang
Ilham sangat senang, dia pun akhirnya keluar dan berpamitan pada Umi dan Abahnya. Langsung menyetop taksi yang melintas dan pergi ke rumah Neneknya di Tangerang.
Sementara itu Rasyid dan Kesya masih dalam perjalanan kembali ke rumahnya. Semua hanya sunyi saja. Si kembar ikut dengan mobil keluarga Kesya, karean pak de dan Bu denya telah kembali ke Jawa Timur. Tiba-tiba terdengar dering telpon dari ponselnya Alan. Bocah tampan itu merasa heran karena mendapatkan panggilan dari Ilham, kakak sepupunya yang sejak berangkat tadi selalu saja berdebat dengannya.
" Iya mas" jawabnya..
............
"Kami masih di jalan mas" Alan tampak mengerutkan dahinya
,........
" Mas emang gak jadi pulang ke Jawa timur gitu? kenapa?" Alan geleng-geleng kepala lalu menutup telepon.
" Siapa Lan?" tanya Kesya penasaran.
" Mas Ilham, katanya dia ga jadi kembali ke Jawa Timur, sekarang dia nunggu Alan sama Andin di rumah mas Rasyid " Kesya kaget mendengar itu.
"Kenapa mas Ilham tidak jadi pulang ke Jawa Timur?" pertanyaan itu terus berputar di kepala Kesya.
" Alah paling modus mas Ilham, maunya Deket Mulu sama mba Kesya. Sudah bucin akut tuh sama mba Kesya " Andin nyahut sambil melirik ke arah Kesya.
Demi mendengar ucapan Andin, seisi mobil semuanya tertawa, kecuali Kesya. walaupun ada desir bahagia karena di cintai pria hebat seperti Ilham, tetapi dia merasa malu karena calon suaminya itu terlalu agresif dan tampak tidak sabar untuk selalu bersama dengannya.
Walaupun Ilham bisa dibilang anak orang kaya, terhormat dan terpandang, mengingat Abahnya yang pimpinan pondok dengan ribuan santri. Tapi Ilham bukan pemuda yang pemalas. Selama dia kuliah di Mesir, dia bahkan menjadi pembimbing haji di KBRI dan menjadi ketua himpunan mahasiswa Indonesia yang ada di Mesir.
Nama Ilham terkenal di antara para mahasiswa Indonesia yang kuliah Mesir. Selain pintar dan cerdas, Ilham juga sering mengisi kajian dan seminar di KBRI, sering menjadi dosen tamu di almamater kampusnya dulu. Tapi tidak tahu kenapa, kalau sudah dekat dengan Kesya semua kesempurnaan dan kegemilangan itu ambyar begitu saja, yang tersisa, Ilham yang tampak di mabuk asmara terhadap dirinya.
Kesya masih ingat saat mereka bersiap untuk berangkat ke Indramayu, betapa kekeuhnya dia meminta agar Kesya satu mobil dengannya. meminta agar dia bisa duduk di sebelahnya. Tapi Ilham bisa mendengarkan nasehat Abahnya. Abahnya memang pawangnya Ilham.
Apa saja yang di katakan Abahnya, Ilham menurut tanpa syarat. Kiai Maulana berhasil mendidik anaknya sehingga menjadi anak yang mabut dengan orang tuanya.
" Assalamualaikum " ucap mereka serempak dan membuat Ilham terbangun karena kaget.
" Kalian sudah sampai? " Ilham tampak gugup melihat Kesya yang melihat ke arahnya dengan tatapan penuh iba.
" Maaf, aku gak bisa jauh dari kamu, makanya Aku minta ijin sama Abah untuk dibiarkan tinggal disini" Kesya jadi salah tingkah menanggapi kelakuan Ilham yang menurutnya berlebihan dalam menyikapi hubungan mereka.
Kesya langsung masuk ke rumah, tak menghiraukan Ilham yang masih ingin berlama-lama menatap wajahnya. Kesya sangat lelah, dan ingin segera istirahat.
Rasyid hanya menggeleng melihat kelakuan calon iparnya itu, dia menepuk bahu Ilham dan berlalu ke rumahnya juga. Ilham masih bengong sendiri di teras. Mamahnya Kesya merasa kasihan melihat Ilham di cuekin kedua anaknya. Menyuruh masuk dan dia pergi ke dapur untuk membuat teh dan menyiapkan beberapa kue.
" Kesya sayang, ini teh nya Nak Ilham suguhkan sayang" pinta sang mamah pada anaknya.
" Mah, Kesya cape banget. Pengen istirahat, suruh pulang ajah si kenapa mah?" sahut Kesya dalam kamar .
" Ya sudah, mamah saja yang suguhkan, kamu istirahat saja" mamah menemukan Ilham yang tertidur di sofa merasa kasihan dan menyuruhnya untuk istirahat di kamarnya Rasyid saja.
" Nak Ilham, tidurnya di kamar Rasyid saja, tampaknya sangat lelah" pinta mamahnya Kesya.
" Terima kasih mah, saya pulang saja. gak baik kalau saya menginap di sini" Ilham berniat pergi dari rumahnya Kesya tapi dicegah sang calon mertuanya.
" Biar di antar sama Rasyid Nak, ini sudah malam loh" bujuk mamah Lastri lagi.
" Jangan mah, mas Rasyid pasti lelah juga, saya pulang naik taksi saja, jangan kwatir, saya pamit mah" Ilham langsung pergi tanpa menunggu jawaban mamah Lastri.
Setelah kepergian Ilham, beliau langsung mengunci pintu dan masuk kamarnya. Hari yang sangat melelahkan sekali. Tapi beliau merasa senang karena urusan anak-anak semua beres tanpa halangan.
Sementara itu di kamarnya Ilham, dia tampak menatap ponselnya, menatap foto Kesya, yang dia ambil secara diam-diam tadi siang. Sampai sekarang Ilham tidak punya nomor ponsel calon istrinya itu
"Ah.. benar-benar bodoh, kenapa tadi tidak minta nomor Kesya sama mamahnya " Ilham berusaha untuk tidur, tapi rasa rindu itu kembali datang menyayat hatinya dalam sepi.
" Ala kabar sayang? Aku sangat rindu padamu" sekali lagi Ilham mengelus foto Kesya di ponselnya. seakan-akan Kesya ada di hadapannya saat ini. Sampai akhirnya Ilham lelap dalam tidurnya.
Sementara itu di kamarnya Silvia, dia mulai mau makan dan minum obat yang diberikan oleh dokternya kemarin. Sekarang pikirannya mulai tenang dan dia mulai bisa berpikir jernih. Mamah papahnya sangat senang, melihat perkembangan sang putri tersayang.
Mereka tidak tahu apa yang sedang di rencanakan oleh sang putri dalam rangka mewujudkan impiannya menjadi istrinya Ilham. Hanya Silvia yang tahu dan itu akan menjadi rahasianya sampai nanti waktunya tiba.
" Aku tidak akan pernah rela, Mas Ilham menjadi suami kamu Kesya, hanya aku yang boleh menjadi istrinya " ucapnya sambil menciumi foto Ilham di ponselnya. Banyak sekali foto Ilham yang dia ambil secara diam-diam tanpa sepengetahuan Ilham. Obsesi Silvia sudah di luar nalar dan akal sehat. Cintanya yang berlebihan kelak yang akan menghancurkan banyak kebahagiaan orang lain dan menjerumuskan dirinya ke jurang kehancuran tanpa tepi.