Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
58. Adrian Nyantri Bersama Ilham



Pov Ilham


Setelah kepulangan Kesya ke Dubai, Ilham dan Adrian kembali ke pondok pesantren. Laila sudah menyambut kami berdua. Umy sangat senang dengan kehadiran Adrian. Beliau sangat ingin memiliki cucu, tapi belum kesampaian. Kehadiran Adrian sungguh suatu anugerah dalam hidup kami. Laila tampaknya biasa saja dengan kehadiran Adrian di antara kami.


Setiap bulan keluarga Abimana selalu mengirimkan uang donasi untuk pondok pesantren, sehingga pembangunan sarana pondok semakin cepat dan mudah. Keluarga Abimana menjadi donatur tetap kami sekarang.


Aku saat ini sedang mengajari Adrian mengaji. Aku menanamkan dasar-dasar untuk Adrian menjadi seorang hafidz. Itu yang dipesan oleh Kesya sebelum dia pergi ke Dubai.


Adrian anak yang sangat pintar dan cerdas. Sangat mudah diajari apapun. Aku jadi senang. Adrian selalu mengikuti kemanapun aku pergi. Setiap ada panggilan ceramah di luar kota, Adrian tidak pernah absen mengikutiku. Ya, Adrian adalah vitamin dalam hidupku. Perasaan cintaku untuk Kesya yang kandas, kini aku curahkan segalanya kepada Adrian. Anak dari wanita yang aku cintai.


Bagaimana pun aku berusaha, sampai detik ini aku belum mampu untuk mencintai Istriku. Aku tahu, aku sungguh kejam kepadanya. Tapi sungguh, aku sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi cinta sungguh tidak bisa di paksa. Kita tidak bisa mengatur kemana cinta kita berlabuh. Aku hanya berusaha agar tidak menyakiti hati istriku dengan selalu mencukupi semua kebutuhan dia, lahir bathin.


Tidak terasa pernikahan kami sudah masuk tahun pertama. Belum ada tanda-tanda kehamilan istriku. Tampaknya dia sudah mulai frustasi.


"Mas, ayo kita ke dokter spesialis kandungan. Kita konsultasi, buat program hamil. Aku ingin punya anak, memberikan keturunan buat Mas dan cucu buat Umy!" pinta Laila, istriku pagi ini.


"Sabarlah! Allah mungkin belum percaya pada kita. Pernikahan kita baru satu tahun, di luar sana banyak yang sampe 10 tahun pernikahan, tidak di karunia anak. Sudahlah, jangan menyiksa dirimu sendiri dengan hal itu. Bahagiakan hatimu, jadi kamu tidak stress. Kadang stress juga bisa menjadi pemicu sulitnya kehamilan." ucapku.


"Mas kayanya memang tidak menginginkan anak dariku. Mas sudah bahagia bersama Adrian! Anak dari wanita yang Mas cintai!" ucap Laila dengan emosinya yang meluap.


"Apa yang kamu katakan? Pria mana yang tidak mau punya keturunan sendiri? Adrian anak Kesya dan Andika. Suatu saat akan kembali ke sisi orang tuanya. Aku disini hanya di amanahi untuk mendidik Adrian agar menjadi seorang hafidz Qur'an, tidak lebih. Kasih sayangku untuknya tidak ada hubungannya dengan Kesya. Aku bahkan tidak pernah menghubungi Kesya. Kenapa kamu bisa tega sekali mengatakan hal buruk itu?" tanyaku masih dengan sabar.


"Aku tahu, kalau Mas masih mencintai Kesya, mamahnya Adrian. Aku bisa merasakan, kalau Mas tidak mencintaiku! Hiks hiks!" tiba-tiba istriku menangis tersedu-sedu. Hatiku rasanya tercubit.


"Aku selama ini setia sama kamu, gak pernah macam-macam di luar sana. Kurang apa lagi?" tanyaku mulai terbawa emosi.


"Ilham, ambil air wudhu, sholatlah! Jangan biarkan emosi menguasai hatimu, Nak!" tiba-tiba Umy dan Adrian masuk ke ruang tengah, tempat aku dan istriku sedang berdebat.


'Semoga Adrian tidak mendengarkan perdebatan kami tadi, aku tidak mau menyakiti hati bocah kecil itu. Adrian tidak berdosa, tidak tahu apapun. Bahkan masa laluku bersama mamah dan papahnya. Bagiku itu semua adalah masa lalu.


"Iya, Umy! Maafkan Ilham!" ucapku lalu pergi ke kamar mandi. Aku akan sholat Dhuha saja. Agar hatiku kembali tenang.


Kalau emosi seorang suami lalu mengakibatkan hal yang tidak diinginkan, maka hanya ada penyesalan di kemudian hari. Untung tadi Umy datang dan mengingatkanku.


Adrian sangat mirip dengan Kesya. Perilaku maupun sikapnya. Sebulan sekali, Umy dan keluarga Mas Rasyid datang untuk menjenguk Adrian. Itu membuat Adrian sangat bahagia.


"Laila, kamu harus percaya bahwa suami kamu tidak pernah melakukan hal yang melanggar syariat agama. Bahkan sejak pernikahan mereka di batalkan dan Kesya menikah dengan Papahnya Adrian, Ilham dan Kesya tidak pernah bertemu secara pribadi. Kalau mereka bertemu selalu ada suaminya Kesya. Ilham bisa menjaga marwahnya sebagai seorang laki-laki. Kalau masalah hati, kita tidak bisa memilih hati kita berlabuh ke mana. Itu merupakan tugas kamu, Laila! Untuk merebut cinta Ilham, suami kamu. Percayalah, Umy bisa menjamin, Kesya dan Ilham tidak pernah ada hubungan seperti yang kamu pikirkan. Kasih sayang Ilham untuk Adrian, murni kasih sayang seorang guru terhadap muridnya. Tidak lebih. Kamu harus percaya dengan suamimu. Maka rumah tangga kalian akan selalu bahagia dan sejahtera." aku mendengar nasehat Umy untuk istriku. Aku juga bersedih kalau melihat istriku tidak bahagia. Tapi bagaimana lagi? Apakah aku mengembalikan Adrian kepada Kesya? Agar hati Istriku kembali bahagia?


Adrian sudah satu tahun berada di pondok. Mungkin ada baiknya memberikan liburan untuk Adrian. Aku lalu mengambil ponselku dan menghubungi Andika yang sekarang ada di Dubai.


"Assalamualaikum, Adrian sudah satu tahun di sini. Saya berniat memberi liburan untuk Adrian, apa kau bisa menjemput Adrian?" tanyaku.


"Bagaimana kalau Kiai Ilham yang mengantarkan ke sini? Akan saya kirimkan jet pribadi kami. Bawalah seluruh keluarga, kalian bisa berlibur juga disini bersama Adrian." tawaran Andika sungguh mengejutkan. Aku menatap Adrian yang tampak bahagia.


"Hore! Kita akan berlibur bersama ke rumah Adrian! Nenek, ayo kita siap-siap!" Adrian lalu menarik tangan Umy dengan bahagia.


"Adrian tampaknya sangat bahagia dengan rencana berlibur ini. Bersiaplah, Kiai dan Istri bisa sekaligus bulan madu ke dua. Nanti akan saya pesankan hotel untuk honey moon. Bersiaplah, akan saya kirimkan jet pribadi Abimana Group." setelah itu Andika menutup telponnya.


Aku masih terpaku di tempat. 'Honey moon?' kata sakti itu sukses membuat hatiku kalang kabut. Aku baru saja ingat, bahwa aku memang belum memberikan hal itu untuk istriku.


"Baiklah, anggap saja ini sebagai liburan! Ayo istriku, kita berlibur ke Dubai bersama Adrian. Cepatlah bersiap, mereka akan mengirimkan jet pribadi Abimana Group untuk menjemput kita." ucapku kepada istri ku yang masih berderai air mata. Masih sedih tampaknya.


"Ayolah, sayang! Kita bersiap, yah? Kita akan honey moon di Dubai, semoga sepulang dari sana, kita bisa memiliki seorang anak. Andika sudah menyiapkan hotel untuk kita. Jangan sedih lagi, Ok?" Aku berusaha menghibur hati Istriku yang sedang galau.


"Apa benar, Mas sayang sama aku?" tanya Laila.


"Tentu saja! Kau adalah wanita yang baik dan istri yang cantik. Kenapa Mas tidak sayang sama kamu?" jawabku dengan yakin.


"Apa Mas mencintai aku?" tanyanya.


Deg


Seketika jantungku rasanya mau copot, cinta? Apa yang harus aku jawab? "Ya, Mas cinta sama istri Mas yang cantik!" ucapku sambil mencium keningnya. Ya, mulai hari ini aku putuskan untuk berusaha lebih keras lagi untuk mencintai Istriku