
Saat ini ibunya Firman sedang sibuk di kantor, memeriksa semua berkas-berkas yang membutuhkan tanda tangannya.
"Maaf Nyonya, di lobi ada seorang pemuda yang mencari!" ucap sekretaris nya.
"Persilakan dia untuk masuk!" ucapnya.
Ketika mendengar suara ketukan pintu, ibunya Firman segera meninggalkan semua pekerjaannya dan langsung duduk di sofa yang disediakan untuk tamu.
" Silakan masuk!" ucapnya dengan suara lantang.
Kemudian masuklah seorang pemuda tampan yang langsung menundukkan kepalanya di hadapan ibunya Firman.
"Nyonya Saya hanya ingin memberikan undangan kepada anda. Bahwa besok saya akan segera wisuda semoga Nyonya bersedia untuk hadir!" ucap pemuda itu. sambil menyerahkan sebuah kartu undangan wisuda kepada ibunya Firman.
"Wah tidak terasa ya, cepat sekali waktu berlalu. Ketika dulu aku menemukanmu di jalanan. Kamu masih SD dan sekarang kamu sudah selesai dengan kuliahmu!" ucap ibunya Firman den bangga.
"Semuanya adalah berkat kebaikan anda Nyonya! Saya sampai sejauh ini." ucap Pemuda itu lagi.
"Semuanya berkat kerja kerasmu juga. Kalau kamu tidak mau berusaha. Sebanyak apapun bantuan yang saya berikan tidak akan ada gunanya!" ucap ibunya Firman.
"Oh iya untuk wisudamu. Sepertinya saya tidak bisa hadir. Saya akan mengirimkan sekertaris saya, untuk mewakili saya!" ucapnya.
Pemuda tersebut tampak kecewa karena penolongnya tidak bisa hadir di wisudanya.
"Apakah Anda ada kesibukan nyony" tanyanya.
"Ya, saya ada rapat penting besok. Dan tidak bisa saya tinggalkan. Jangan khawatir, sekretaris saya dengan saya itu sama saja!" ucapnya sambil tersenyum.
"Baiklah Nyonya! Saya mengerti kesibukan Anda. Baiklah saya pulang dulu, karena saya harus bersiap-siap untuk besok!" ucapnya.
"Tunggu Arman!" pemuda bernama Arman itu pun kembali ke tempatnya semula. Sementara ibunya Firman berdiri menuju meja kebesarannya dan mengambil sesuatu di sana.
"Ambillah uang ini, untuk kamu membeli pakaian bagus dan makanan enak. Ajaklah teman-temanmu untuk berpesta merayakan wisudamu!" ucapnya. "Dan satu lagi, setelah kamu wisuda. Datanglah kembali ke sini, saya akan memberikan posisi untukmu. Agar kau bisa bekerja di perusahaan ini!" ucapnya lagi.
Pemuda tampan itu sampai berderai air matanya, menerima begitu banyak kebaikan dari ibunya Firman. Sejak dia SD dan mulai mengingat sesuatu, wanita ini tidak pernah berhenti memberikan ribuan kebaikan kepadanya.
Saat Ibunya Firrman dan ayahnya memutuskan untuk tinggal di Amerika. Semua kebutuhannya dicukupi oleh sekretaris yang telah dia tugaskan untuk mengurus pemuda itu. Sehingga dia lulus dari kuliahnya.
Siapakah pemuda itu pasti Anda penasaran!
Yah pemuda itu adalah anak dari perempuan yang bernama Sintia. Yang kini tinggal di rumah sakit jiwa.
Perempuan bernama Sintia itu, mengalami gangguan jiwa. Karena dia merasa frustasi ditinggalkan oleh ayahnya Firman. Tanpa kabar dan berita. Yang lebih mengenaskan lagi, dia dipisahkan dengan anaknya yang saat itu masih berusia dua bulan.
Yah orang yang mengambil anak dari perempuan itu, adalah ibunya Firman. Yang kemudian menaruh anak tersebut di sebuah panti asuhan. Ibunya Firman membiayai semua kebutuhan Arman sampai usianya 10 tahun.
Tetapi tiba-tiba saja Arman diculik oleh seseorang yang tidak di kenal dan akhirnya dia menghilang dan ditemukan kembali oleh ibunya Firman di jalanan.
Begitulah sepenggal rumit kisah adik tirinya Firman, yang lahir dari wanita selingkuhan ayahnya yang ditinggalkan begitu saja.
Ibunya Firman membiayai semua pembiayaan di rumah sakit jiwa. Dalam rangka merawat selingkuhan suaminya. Bagaimanapun dia tidak bisa begitu saja melepaskan tanggung jawab terhadap perempuan itu.
Hanya sekretarisnya yang mengetahui semua rahasia besar itu. Tidak ada yang mengetahui selain mereka berdua. Dan rahasia itu akan dia bawa sampai mati.
Arman kemudian meninggalkan kantor tersebut. Tetapi ketika dia hendak meninggalkan kantor itu, dia berpapasan dengan ayahnya Firman. Keduanya tampak terpesona dengan masing-masing. Karena memiliki wajah yang hampir mirip satu sama lain. Darah memang tidak akan pernah bisa berbohong.
"Sebentar anak muda, kamu habis dari mana?" tanya ayahnya Firman kebingungan.
"Saya habis bertemu dengan Bu Nindya!" ucap Arman dengan gugup. Nindya adalah nama sekretaris dari ibunya Firman.
"Kau apanya Nindya?" tanyanya.
"Saya keponakannya tuan!" jawabnya Arman.
Jawabannya Arman memang sudah disiapkan oleh ibunya Firman. Apabila seseorang bertanya tentang identitas Arman di kantor itu. Ibunya Firman sudah mempersiapkan segalanya dengan matang dan sempurna. Sehingga tidak ada yang curiga.
"Ya sudah, silakan kau tinggalkan kantor ini!" ucap ayahnya Firman, masih terpesona dengan pemuda tampan itu.
Ayahnya Firman kemudian masuk ke kantor istrinya. Niatnya ingin bertanya tentang pemuda tadi. Tetapi dia urungkan karena takut istrinya nanti berpikir yang tidak tidak.
"Mah, ayo kita ke rumahnya Syafa. Papa khawatir kalau terjadi apa-apa dengan dia setelah mengetahui panggilan dari pengadilan itu!" ucap ayahnya Firman.
"Sebentar dulu, Pah! Mama sedang mengerjakan berkas ini dulu. Papa tunggu aja dulu di sofa!" ucapnya berusaha santai.
Padahal aslinya ibunya Firman itu gugup sekali. Takut kalau suaminya bertemu dengan Arman. Tetapi dia berusaha menutupi kegugupan itu dengan sibuk bekerja sehingga suaminya tidak curiga dengan dirinya.
Setelah menunggu sekitar 45 menit akhirnya mereka berdua pun pergi ke rumahnya Syafa. Benar saja, di sana terjadi keributan besar antara Shafa dan Firman.
"Apa kamu lupa, kalau kamu sendiri yang meminta untuk bercerai? Kenapa setelah aku mengurusnya kau malah mengamuk seperti ini,,Syafa? Kau sungguh aneh!" ucap Firman dengan nada tinggi.
"Maksudku adalah agar kamu meninggalkan perempuan itu bukan menceraikan aku, Mas!" ucap Syafa dengan berderai air mata.
"Kemarin kamu tidak mengatakan hal seperti itu. Yang kamu katakan adalah kamu meminta untuk diceraikan oleh saya dan mengancam untuk bunuh diri. Kalau saya tidak mengabulkannya!" ucap Firman.
"Tapi bukan itu maksudnya, Mas! Aku ingin kamu meninggalkan dia bukan aku!" ucap Syafa kembali menangis.
"Aku tidak mengerti dengan teka-teki mu. Dan aku juga tidak peduli. Yang jelas sekarang, kau tinggal tanda tangani surat ini. Dan kita selesaikan urusan rumah tangga kita sampai di sini!" ucap Firman tegas.
Laila yang mengikuti suaminya, kini hanya bisa menatap mereka berdua. Yang masih belum menemukan kata sepakat, untuk menyelesaikan perihal rumah tangga mereka.
"Semua ini gara-gara kamu! Sejak kehadiran kamu, rumah tanggaku jadi kacau seperti ini!" tunjuk Syafa ke arah Laila.
Firman terus berdiri di hadapan Laila. Untuk melindunginya dari Syafa yang sedang mangamuk. Karena bagaimanapun, saat ini Laila sedang hamil. Sangat berbahaya kalau Syafa tiba-tiba berbuat nekat terhadap Laila.